
Selain membantu peningkatan kekuatan Kala Caraka, Mahawiku Nuraga juga memberi saran pada Bantala Yaksa, jika ingin mengalahkan Puguh, sebaiknya menangkap pendekar wanita bernama Rengganis yang menjadi teman Puguh, yang sudah terkena sihirnya.
Selain nanti bisa merebut siluman serigala mata biru yang ada pada diri Rengganis untuk menambah kekuatan, juga nantinya dengan menyandera pendekar wanita itu, bisa memaksa Puguh untuk menyerahkan senjata pedangnya.
Bantala Yaksa yang sangat tertarik dengan saran Mahawiku Nuraga, segera mengirim beberapa kelompok anggota Padepokan Wukir Candrasa untuk mencari keberadaan Rengganis.
Beberapa kelompok pencari berita Pandepokan Wukir Candrasa memang sudah sangat terkenal keahliannya dalam mencari informasi.
Hanya dalam beberapa hari mereka berhasil mendapatkan informasi keberadaan Rengganis, yang terkenal di daerah pesisir yang masih menjadi bagian dari Kerajaan Kisma Pura.
Bantala Yaksa dan Kala Caraka serta Mahawiku Nuraga, diiringi dua puluh tokoh utama Padepokan Wukir Candrasa, segera menuju ke tempat Rengganis.
Rengganis yang masih terkena sihir dari Mahawiku Nuraga, begitu melihat Mahawiku Nuraga yang dalam pandangan matanya terlihat seperti 'Puguh', menurut saja saat diajak ke Gunung Pedang tempat Padepokan Wukir Candrasa berada. Walau dalam hati kecilnya merasakan keanehan, Puguh bersama orang orang dari Padepokan itu.
Sesampainya di Padepokan Wukir Candrasa, Rengganis tidak bersedia saat diminta untuk melepaskan siluman serigala mata biru yang menyatu dengan dirinya.
Hingga akhirnya, terjadi pertarungan Rengganis melawan keroyokan Bantala Yaksa, Kala Caraka dan Mahawiku Nuraga yang dibantu oleh tokoh tokoh utama Padepokan Wukir Candrasa.
Pertarungan itu memang sudah direncanakan secara matang oleh Bantala Yaksa atas saran saran dari Mahawiku Nuraga. Sehingga menghadapi keroyokan Kala Caraka dan Bantala Yaksa serta Mahawiku Nuraga serta masih dibantu oleh tokoh tokoh utama Padepokan Wukir Candrasa yang memiliki tingkat kekuatan sangat tinggi, Rengganis pontang panting bertahan. Bahkan hingga menggunakan kekuatan siluman serigala mata biru, Rengganis tetap saja terdesak.
Setelah bertarung selama hampir satu hari penuh, akhirnya Rengganis dapat dilumpuhkan oleh Bantala Yaksa dan yang lainnya.
Kemudian, Rengganis dikurung di ruangan khusus setelah sebelumnya diikat dengan tali sihir.
Di dalam kurungan itu, Rengganis mendapatkan berbagai macam siksaan agar mau melepaskan siluman serigala mata biru.
Akhirnya setelah menggunakan sihir pada siluman serigala mata biru juga, yang disertai dengan menggunakan kekuatan siluman yang dimiliki oleh Kala Caraka, siluman serigala mata biru berhasil dikeluarkan secara paksa oleh Bantala Yaksa dan Kala Caraka serta Mahawiku Nuraga.
----- * -----
Bersamaan dengan itu, di tempat lain. Puguh yang melakukan perjalanan dalam mencari Rengganis, bersama dengan Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita.
Selama beberapa hari terus bersama sama, menjadikan Puguh dan Putri Cinde Puspita semakin akrab.
Setelah beberapa hari mencari, akhirnya Puguh, Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita mendengar kabar, jikalau ada seorang pendekar wanita yang ditangkap dan disekap di Padepokan Wukir Candrasa.
"Bibi Dewi Laksita, demi keamanan, biar aku sendirian yang naik ke Padepokan Wukir Candrasa. Bibi dan Putri Cinde Puspita menunggu di kaki gunung ini saja," kata Puguh.
"Hati hati Puguh. Apabila kau ketahuan dan kau perkirakan terlalu banyak lawan yang kau hadapi, kau lari saja ke bawah. Kami akan membantumu !" kata Dewi Laksita yang menyadari, apabila mereka berdua ikut ke Padepokan, kemungkinan hanya akan membuat Puguh tidak bisa fokus pada pencarian Rengganis, karena juga akan memikirkan keselamatan mereka berdua, mengingat di Padepokan Wukir Candrasa tidak sedikit yang mempunyai tingkat kekuatan sangat tinggi.
Dengan tingkat kekuatan dan tenag dalamnya yang sudah sangat sangat tinggi, Puguh menekan serendah mungkin getaran kekuatan dari tubuhnya agar tidak bisa dirasakan orang orang yang ada disekitarnya. Kemudian dengan melewati jalur yang bertebing tebing, yang belum pernah dilewati manusia sebelumnya, Puguh naik ke lereng Gunung Pedang. Tempat yang dia tuju adalah bangunan di sudut halaman belakang, yang dulu menjadi tempat latihan pribadi Ki Dahana Yaksa.
Setelah mengendap endap cukup lama dengan sangat hati hati, Puguh sampai di lereng yang sejajar dengan bangunan yang menjadi tempat latihan pribadi Ki Dahana Yaksa.
Tetapi hingga beberapa lama, Puguh tidak bisa merasakan adanya getaran kekuatan.
"Apa mungkin bukan adik Rengganis yang mereka tangkap ? Atau mereka tidak mengurungnya di dalam bangunan yang berdiri terpisah itu ?" kata Puguh dalam hati.
Kemudian, saat hari mulai gelap, Puguh mencoba turun untuk melihat deretan bangunan bagian belakang, yang menjadi rangkaian gedung gedung Padepokan Wukir Candrasa.
Dengan kemampuan matanya yang sudah terlatih melihat di tempat yang gelap, dan dari kejauhan dengan menaiki salah satu pohon yang tinggi yang banyak tumbuh di luar benteng Padepokan Wukir Candrasa, Puguh melihat banyak sekali anak murid anggota Padepokan Wukir Candrasa di rangkaian gedung bagian belakang itu.
Dengan sabar dan hati hati, walaupun dari jarak yang cukup jauh, Puguh mencoba merasakan adanya getaran kekuatan di tiap tiap bangunan dalam rangkaian bangunan bagian belakang Padepokan.
Namun, sampai pagi kembali menjelang, Puguh tetap belum bisa mendapatkan satupun petunjuk.
Puguh pun berencana untuk kembali turun ke kaki gunung untuk sekedar beristirahat untuk memulihkan kekuatannya.
Tetapi tiba tiba, dari arah deretan bangunan yang menjadi bagian dari rangkaian bangunan bagian tengah Padepokan, terdengar suara teriakan bercampur dengan geraman. Teriakan yang mengandung getaran energi yang sangat besar.
Ggrrraaawww !
"Apakah itu suara siluman serigala mata biru ?" tanya Puguh dalam hati, "Jadi mereka mengurungnya di tengah tengah bangunan padepokan ? Sungguh sikap yang sangat hati hati."
Kemudian dalam pikirannya, Puguh berkata, "Siluman elang, apakah kau bisa merasakan getaran kekuatan siluman serigala mata biru ?"
"Kraaakkk ! Sepertinya itu getaran kekuatan siluman namun terasa kacau !" jawab siluman elang yang langsung terngiang ke dalam pikiran Puguh.
"Sebwlum engkau mendekat ke sana, sebaiknya kau cari dan kau rasakan dulu getaran kekuatan temanmu itu !" kata siluman elang lagi di benak Puguh.
"Baiklah ! Aku akan mencoba mendekat ke deretan gedung gedung yang di depan ! Kalau perlu, akan aku kelilingi tempat ini !" jawab Puguh dalam pikirannya.
Kemudian, dengan hati hati Puguh kembali menuruni lereng Gunung Pedang, untuk mencari keberadaan Rengganis, di deretan bangunan yang menjadi bagian depan Padepokan Wukir Candrasa.
Setelah sampai di deretan gedung bagian depan Padepokan Wukir Candrasa, Puguh kembali mencoba merasakan adanya getaran getaran kekuatan.
Namun, pada pagi menjelang siang itu, deretan gedung gedung bagian depan Padepokan Wukir Candrasa justru sepi. Hanya ada beberapa penjaga di dekat gerbang masuk bagian dalam, selain yang menjaga gerbang luar.
Melihat keadaan yang sepi itu, Puguh segera mencari tempat yang agak gelap, kemudian meloncati tembok benteng dan mendarat di kebun kecil di samping benteng dalam.
Setelah mencari celah yang aman di benteng bagian dalam, Puguh segera meloncati tembok benteng dalam. Kemudian, dengan gerakan yang sangat cepat, Puguh menyelinap ke tempat tempat yang tidak terlalu sering diawasi oleh para penjaga.
Namun, setelah memeriksa beberapa ruangan, deretan bangunan bagian depan itu sepi tidak ada orang.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_