
Setelah nafasnya cukup stabil, Iswara Dhatu perlahan bangkit dan berjalan ke arah deretan bangunan kemudian memasuki ruangan perpustakaan.
Di ruangan perpustakaan itu, Iswara Dhatu berusaha mengobati luka lukanya dan kemudian bersemedi, hingga akhirnya ditemukan oleh Kartika Dhatu.
Sementara itu, sisa sisa pasukan siluman manusia yang tadinya menyerang, tiba tiba pergi meninggalkan pertarungan, karena mereka semua mendengar teriakan kemenangan dari pasukan siluman manusia yang menyerang bukit tempat tinggal Trah Keluarga Asmara Dhatu.
Mendengar semua penuturan Iswara Dhatu neneknya, Kartika Dhatu tidak tega bila langsung menceritakan nasib bukit tempat Trah Keluarga Asmara Dhatu.
Begitu selesai bercerita, Iswara Dhatu meminta Kartika Dhatu untuk mendekat, karena ada hal penting yang hendak dia sampaikan.
"Cucuku Kartika Dhatu, selagi engkau berada di sini, secepatnya, segera kau pelajari kitab ini. Kemudian gabungkan dengan tehnik Tarian Dewi Kematian. Itu akan meningkatkan kemampuan dan variasi seranganmu !" kata Iswara Dhatu sambil mengeluarkan Kitab Naga Pijana dari kantong bajunya dan memberikannya pada Kartika Dhatu cucunya.
"Sebenarnya nenek juga sudah mempelajarinya walaupun baru bisa mencapai setengahnya. Bahkan nenek sudah memakainya untuk melawan siluman siluman itu. Andaikata nenek sudah bisa menguasai semuanya, nenek tidak akan mengalami nasib seperti ini dan semua siluman itu akan tewas di tangan nenek !" sambung Iswara Dhatu.
Dengan perasaan heran, Kartika Dhatu menerima kitab yang diberikan kepadanya. Namun dirinya tidak sempat bertanya lebih jauh lagi, karena neneknya menyuruhnya untuk segera mempelajarinya.
Akhirnya Kartika Dhatu keluar dari ruangan perpustakaan dan membiarkan neneknya melanjutkan kembali semedinya.
Kemudian, Kartika Dhatu mencari cari ruangan yang tenang untuk membaca kitab itu dan sekaligus mempraktekkannya.
----- * -----
Sementara itu di tempat lain, sambil berjalan pelan meninggalkan wilayah Rawa Jingga, Puguh sempat terpikir dua hal, untuk masuk ke wilayah Rawa Jingga melalui udara, atau segera pergi dari sini dan kembali melacak keberadaan Rengganis.
Namun, baru saja Puguh keluar dari daerah perbukitan yang yang menjadi wilayah Rawa Jingga, tiba tiba cukup jauh di depannya, berdiri menghadang tiga sosok tubuh yang berdiri di tengah jalan.
Ketiga orang yang berpakaian ringkas dan berwarna putih semua itu ternyata ketiganya laki laki dan terlihat masih muda muda, hanya beberapa tahun lebih tua dari Puguh. Model pakaian yang mereka kenakan terlihat cukup aneh dan berbeda dari yang biasa para pendekar kenakan.
Dalam jarak sekitar lima belas meter, Puguh berhenti dan menatap tajam ketiga orang yang menghadang di tengah jalan itu. Puguh sedikit terkesiap, saat merasakan getaran kekuatan ketiga orang itu, yang masing masing berada pada tingkat yang sangat tinggi.
Melihat Puguh terdiam sambil menatap tajam, ketiga orang itupun juga melihat ke sekujur tubuh Puguh, seolah hendak memeriksa seluruh tubuh Puguh.
Diam diam ketiga laki laki muda itu terkejut, sehingga tangan kiri ketiga orang laki laki itu, reflek secara bersamaan memegang sarung pedang yang menggantung di pinggang sebelah kiri mereka, saat mereka bertiga merasakan getaran kekuatan dari tubuh Puguh.
"Kisanak, maaf mengganggu perjalananmu. Benarkah kami sedang berhadapan dengan pewaris ilmu dari Pendekar Penunggang Elang ?" tanya laki laki muda yang berdiri di tengah.
"Ah, aku hanya beruntung mendapatkan kesempatan bisa mempelajari ilmu peninggalan Pendekar Penunggang Elang yang kebetulan kami temukan," jawab Puguh yang diam diam heran, bagaimana mereka bertiga bisa mengenalnya, sedangkan mereka belum pernah bertemu sebelumnya.
"Kalau memang benar, kamilah yang beruntung, bisa bertemu denganmu !" jawab laki laki muda yang berdiri di tengah itu dengan cepat.
Sesaat suasana senyap, tidak ada seorangpun yang mengeluarkan suara.
"Kami harap kau bersedia mengeluarkan senjata pedangmu barang sebentar !" sambung laki laki yang di tengah.
Baru saja laki laki itu berhenti berbicara, tubuhnya sudah melesat dengan sangat cepat ke arah Puguh dengan tangan kiri memegang sarung pedang dan tangan kanan memegang gagang pedang.
Bersamaan dengan itu, melihat serangan yang berlangsung dengan sangat cepat, sebuah serangan yang lugas dan tanpa basa basi, membuat Puguh mau tidak mau harus menghadapinya dengan tangkisan senjatanya.
Dengan kewaspadaannya yang sangat tinggi, Puguh menarik keluar pedangnya dan segera menghadang kemanapun arah pedang lawan berkelebat, dengan tangkisan. Nuansa udara di sekitar tempat pertarungan pun seketika berubah menjadi hijau terang.
Terdengar lima kali benturan bilah pedang.
Traaang ! Traaang !
Trang ! Trang ! Trang !
Dalam benturan senjata pedang yang terakhir itu, laki laki muda itu kembali segera melompat ke tempatnya semula, dengan bilah pedang yang sudah kembali masuk ke dalam sarungnya.
Sesaat kemudian, disusul dengan melesatnya dua laki laki muda yang berdiri di samping kiri dan kanan, menuju ke arah Puguh. Dengan sangat cepat, mereka berdua juga menyerang dan melakukan tebasan ke tubuh Puguh.
Sesaat kemudian, terdengar lagi benturan senjata pedang beberapa kali, saat Puguh menangkis setiap kelebatan pedang yang mengarah ke tubuhnya.
Trang ! Trang ! Trang ! Trang !
Lalu dengan cepat, mereka berdua melompat kembali ke tempat mereka berdiri dengan pedang yang sudah kembali masuk ke dalam sarung pedangnya.
Melihat lawannya sudah tidak memegang senjata, Puguh pun segera memasukkan senjata pedangnya ke dalam sarungnya.
Diam diam, ketiga laki laki muda yang menyerang tadi, merasakan tangan kanannya bergetar sangat kuat hingga ke pangkal bahunya. Bersamaan dengan itu, ketiga laki laki muda itu terkejut dan merasa senang, sempat melihat pancaran sinar hijau yang sangat terang, yang keluar dari senjata pedang di tangan Puguh.
Kemudian, dengan senyum yang agak dipaksakan, laki laki muda yang berdiri di tengah itu berkata, "Terimakasih, telah memantapkan hati kami, bahwa dugaan kami tidak keliru ! Kami harap kau segera kembali ke negerimu, karena Tuan Muda kami akan menunggumu di sana untuk mengadu ilmu ! Kami permisi !"
Dengan gerakan yang sangat cepat, ketiga laki laki muda itu segera melesat pergi meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Puguh yang seketika hati dan pikirannya teringat pada negerinya, Kerajaan Banjaran Pura.
Dalam larinya, laki laki muda yang berada di tengah itu berkata pelan, "Anak muda dengan tingkat kemampuan dan tenaga dalam yang sangat sangat tinggi. Akan menjadi lawan yang sangat berat bagi Tuan Muda !"
"Ada apa dengan Kerajaan Banjaran Pura ? Bahaya apa yang sedang mengancam negeri itu ? Siapakah mereka dan Tuan Muda mereka ? Berasal dari manakah mereka ?" kata Puguh dalam hati dengan berbagai pertanyaan.
"Guru sekalian, semoga kalian juga segera kembali ke Kerajaan Banjaran Pura !" gumam Puguh yang dalam hatinya, sudah memutuskan hendak kembali Ke Kerajaan Banjaran Pura.
Kemudian, dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, Puguh melesat melayang terbang di udara, menuju ke arah Kerajaan Banjaran Pura.
Setelah melewati hamparan daratan yang sangat luas dari Kerajaan Kisma Pura, akhirnya Puguh sampai di Hutan Perbatasan.
Puguh melesat turun dan mendarat tepat di pinggir Hutan Perbatasan. Puguh memilih melintasi Hutan Perbatasan melalui darat, karena ingin menemui siluman siluman penghuni Hutan Perbatasan untuk mengucapkan terimakasih atas bantuan mereka.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_