Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Kematian Mahawiku Nuraga


Melihat orang yang baru datang itu melesat ke arahnya, Mahawiku Nuraga segera menyambutnya dengan melompat ke depan sambil menghantamkan senjata tongkatnya.


Sesaat kemudian terjadi benturan senjata pedang dengan senjata tongkat yang menimbulkan suara yang keras.


Twaaannnggg !


Dalam benturan senjata itu, tubuh Puguh tertolak mundur dua depa dengan kuda kuda yang tidak berubah. Sementara itu, tubuh Mahawiku Nuraga terdorong mundur terhuyung huyung hingga beberapa langkah.


Setelah benturan senjata itu, untuk sesaat mereka terdiam. Mahawiku Nuraga yang terkejut, sedikit mengangkat mukanya. Kedua bola matanya yang menyala merah, agak mengecil. Tarikan bibirnya menggambarkan senyuman yang samar.


Kemudian, dengan sekali menarik nafas yang panjang, Mahawiku Nuraga kembali melesat ke arah Puguh dengan tongkat yang siap untuk menyerang.


Sementara dalam benturan senjata itu, Puguh juga terkejut dengan tingkat kekuatan lawan.


"Sepertinya biksu ini mengalami peningkatan kekuatan dengan tidak wajar. Dan sepertinya sudah bukan pikirannya yang mengendalikan tubuhnya !" kata Puguh dalam hati.


Tiba tiba terngiang dipikirannya, suara siluman elang seperti menjawab perkataan hatinya.


"Puguh, tubuhnya sudah dikuasai oleh sifat jahat siluman serigala mata biru ! Seperti halnya manusia, siluman juga mempunyai sifat baik dan sifat jahat sekaligus !"


"Bukankah dulunya tidak sifat ini yang ditunjukkan oleh siluman serigala mata biru ?" tanya Puguh dalam pikirannya.


"Benar ! Itu kemungkinan pengaruh dari sihir pemilik tubuh itu, sihir yang membangkitkan sifat jahatnya, hingga menjadi lebih kuat dari sifat baik yang dimiliki oleh siluman serigala mata biru itu !" jawab siluman elang mengiang di pikirannya.


"Sebenarnya, setiap siluman yang menyatu dan dikendalikan manusia, mengikuti sifat apa yang dominan pada diri manusia yang mengendalikannya !" kata siluman elang terngiang pelan di pikiran Puguh.


Namun, percakapan yang terjadi di pikiran Puguh itu harus terhenti, karena Mahawiku Nuraga sudah kembali melesat ke arahnya dan bersiap melakukan serangan.


Maka dengan cepat, sambil menambah lagi aliran tenaga dalamnya, Puguh juga melenting ke depan, menyambut serangan Mahawiku Nuraga.


Dua tubuh yang bergerak dengan sangat cepat itu, seolah saling berbenturan. Yang terlihat hanyalah kilatan kilatan warna hitam bercampur dengan kikatan kilatan sinar hijau terang.


Akhirnya, kembali terdengar suara berdentangan berkali kali yang ditimbulkan oleh benturan senjata mereka berdua.


Twang ! Twang ! Twang ! Twang !


Dengan kecepatan gerakan mereka berdua yang sudah tidak bisa diikuti dengan mata, membuat tubuh mereka berdua perlahan melayang dan pertarungan mereka menjadi lebih banyak berlangsung di udara.


Suara dentangan bertemunya kedua senjata pun terdengar semakin keras.


Dalam gerakan bertarung yang sangat cepat itu, perlahan terjadi perubahan lagi pada tubuh Mahawiku Nuraga. Tubuhnya mulai diselimuti pendaran sinar merah. Ukuran tubuhnya semakin membesar bahkan lebih besar dari ukuran tubuh Kala Caraka yang telah tewas. Hingga akhirnya tubuh besar Mahawiku Nuraga berubah bentuk menjadi siluman serigala yang tubuhnya menyala merah dan berdiri dengan dua kaki seperti manusia serta ekornya yang menyala merah. Kedua tangannya melengkung dengan tangan kanan yang masih menggenggam senjata tongkat.


Setiap perubahan yang terjadi pada pertarungan Puguh melawan Mahawiku Nuraga tidak pernah terlepas dari mengamatan Ki Dwijo dan Resi Wismaya. Sedangkan sejak Iswara Dhatu, begitu pertarungan melawan Mahawiku Nuraga diambil alih Puguh, segera berpindah ke pertarungan lain untuk membantu Kartika Dhatu cucunya.


"Ki Dwijo, sepertinya sifat jahat siluman serigala mata biru menjadi sangat dominan, akibat sihir Mahawiku Nuraga !" kata Resi Wismaya.


"Apakah artinya, Rengganis harus kehilangan siluman serigala mata biru ?" sahut Ki Dwijo dengan pertanyaan.


"Tidak Ki Dwijo. Rengganis tidak akan kehilangan siluman serigala mata biru. Setelah Mahawiku Nuraga dan siluman serigala mata biru terbunuh, kita harus segera menangkap jiwa siluman serigala mata biru, untuk kemudian dilakukan penyatuan kekuatan jiwa dengan kekuatan jiwa Rengganis. Seperti yang terjadi pada Puguh, karena siluman elang yang hanya tinggal wujud jiwanya !" jawab Resi Wismaya.


"Kalau begitu kita harus segera memperingatkan pada Puguh !" kata Ki Dwijo.


Kemudian, dengan sedikit menotolkan ujung jari kakinya, Ki Dwijo melesat ke atas lalu melayang mendekati pertarungan Puguh melawan Mahawiku Nuraga.


"Le ngger Puguh, tidak.ada cara lain, kamu harus menusuk tepat pada jantungnya, agar saat Mahawiku Nuraga tewas, siluman serigala mata biru juga tewas. Untuk kemudian kita tangkap jiwanya !" kata Ki Dwijo.


"Baik guru !" jawab Puguh dan kemudian tubuhnya semakin melesat naik, untuk memancing Mahawiku Nuraga melayang semakin tinggi.


"Siluman elang, bisakah kau membantuku ?" kata Puguh dalam pikirannya.


"Baiklah ! Alirkan seluruh kekuatanmu ke senjata pedang dan ke seluruh tubuhku !" kata Puguh.


Beberapa saat kemudian, terjadi luapan getaran kekuatan di seluruh tubuh Puguh. Dan tanpa membuang waktu lagi, Puguh segera melesat dengan sangat cepat ke arah Mahawiku Nuraga yang melayang di depannya.


Sementara itu, Mahawiku Nuraga yang tubuhnya telah berubah seluruhnya, mengeluarkan geraman dan kemudian bergerak dengan cepat memapaki datangnya serangan manusia yang melesat ke arahnya.


Ggrrrggghhh !


Untuk bisa memenuhi pesan gurunya, tangan kanan Puguh memainkan jurus jurus pedang warisan dari Pendekar Penunggang Elang. Sementara tangan kirinya memainkan jurus Bantala Wreksa yang diajarkan oleh Ki Dwijo gurunya.


Dimainkan oleh Puguh yang memiliki tingkat kekuatan dan tenaga dalam yang sangat tinggi, membuat Jurus Bantala Wreksa semakin cepat dan semakin berbahaya.


Sesaat kemudian, terjadi lagi benturan senjata dan benturan pukulan ataupun tendangan yang menimbulkan suara yang keras.


Twang ! Twang !


Plak ! Plak ! Plak !


Tanpa disadari, lima puluh jurus berlalu dengan adu senjata ataupun adu pukulan yang tidak pernah berhenti.


Semakin lama, dalam setiap benturan senjata ataupun pukulan, Mahawiku Nuraga mulai merasakan kedua lengannya kebas dan bergetar.


Bahkan setelah mendekati seratus jurus, Mahawiku Nuraga mulai terdorong mundur sedikit demi sedikit.


Keadaan itu membuat Puguh semakin bersemangat dan tidak pernah mengendorkan serangannya.


Mengetahui lawannya semakin keteter, Puguh mulai mencari kesempatan untuk menghujamkan pedangnya di jantung lawan.


Namun, seperti bisa mengetahui apa yang diincar oleh Puguh, Mahawiku Nuraga selalu memutar dan mengarahkan senjata tongkatnya di sekitaran dada. Sehingga membuat Puguh sedikit kesulitan.


Melihat lawannya merubah cara bertahannya, Puguh pun merubah cara menyerangnya.


Tebasan dan tusukan pedang Puguh, kembali mengarah ke senjata tongkat. Hal itu membuat beberapa kali tongkat Mahawiku Nuraga terpental ke belakang.


Hingga suatu saat, Puguh menebaskan senjata pedangnya dari arah kanan yang langsung ditangkis oleh Mahawiku Nuraga dengan senjata tongkatnya.


Twaaannnggg !


Tangkisan itu memebuat tongkat Mahawiku Nuraga, kembali terpental ke belakang. Melihat lawannya masih mencoba mempertahankan senjatanya, Puguh menyusuli serangannya dengan pukulan tapak tangan kiri yang tepat mengenai dada Mahawiku Nuraga.


Plaaakkk !


Terkena pukulan tepat di dadanya, tubuh Mahawiku Nuraga terdorong ke belakang hingga dua depa.


Saat Mahawiku Nuraga masih terhuyung huyung, Puguh segera melenting ke atas lalu meluncur deras ke arah Mahawiku Nuraga dan kemudian pedangnya mengarah ke dada Mahawiku Nuraga tepat pada jantungnya.


Dengan posisi kuda kuda yang belum sempurna, Mahawiku Nuraga memutar senjata tongkatnya untuk mencoba menepis senjata pedang yang meluncur sangat cepat ke arah dadanya. Namun, baru saja senjata tongkat itu berputar pelan, tiba tiba senjata pedang Puguh sudah menghujam ke dada Mahawiku Nuraga tepat pada jantungnya.


Jleeebbb !


Seketika Mahawiku Nuraga menggeram dengan keras.


Ggrrrhhhaaawww !


__________ ◇ __________