Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Serigala Mata Biru


Puguh yang terkena tendangan Ki Bajraseta tepat pada perutnya, langsung pingsan saat tubuhnya melayang terlempar ke jurang.


Untungnya, jurang yang sangat dalam itu, pada kedua dindingnya banyak ditumbuhi pohon pohon yang cabang cabangnya sampai menjorok ke tengah jurang. Sehingga, saat tubuh Puguh terjatuh berkali kali mengenai dahan dan dedaunan sehingga bisa memperlambat luncuran tubuh Puguh ke bawah hingga ke dasar jurang.


Beberapa saat setelah terjatuh, ada sebuah tongkat kayu yang mengangkat tubuhnya. Kemudian tubuh Puguh diletakkan di atas pundaknya, kemudian dibawa berjalan dengan tongkatnya menuju ke pinggir dasar jurang. Dialah Ki Dwijo, guru Puguh.


Ki Dwijo yang juga terluka parah, sempat tidak sadarkan diri. Tubuhnya tersangkut di dahan pohon.


Setelah sadar, Ki Dwijo segera teringat nasib Puguh muridnya.


Dengan sisa sisa tenaga dalamnya, Ki Dwijo, dalam gelapnya jurang, turun dari satu dahan ke dahan di bawahnya hingga sampai ke dasar jurang.


Kemudian dicarinya Puguh dengan merasakan getaran tenaga dalamnya. Walaupun sangat lemah, Ki Dwijo bisa menemukan Puguh tergeletak di dasar jurang yang airnya mengalir pelan setinggi mata kaki. Kemudian Ki Dwijo berjalan dalam kegelapan dasar jurang dengan sangat hati hati, berusaha membawa Puguh ke pinggir dasar jurang.


Sesampainya di pinggiran dasar jurang, tubuh Puguh diletakkan terlentang di tanah. Kemudian Ki Dwijo duduk dengan bersandarkan dinding jurang.


Belum sempat memeriksa keadaan Puguh, Ki Dwijo merasakan tubuh bagian atasnya bergetar hebat dan memudian pingsan.


Tubuh Puguh yang pingsan, tergeletak di pinggiran dasar jurang hampir setengah hari.


Setelah siuman, hal pertama yang Puguh rasakan adalah rasa panas di kulit perutnya. Perutnya juga terasa mual seperti ingin muntah, namun tidak bisa muntah.


Kemudian Puguh berusaha bangun dan duduk. Dirasakannya semua pakaiannya basah. Mata Puguh yang sudah terbiasa melihat dalam penerangan yang sangat kurang, segera bisa melihat keadaan sekelilingnya.


Di sebelah kanannya terlihat kilatan kilatan yang memanjang dengan suaranya yang bergemericik pelan.


"Aliran air di dasar jurang," kata Puguh dalam hati.


Kemudian, ketika menoleh ke kiri, terlihat tubuh gurunya tersandar di dinding jurang. Dinding jurang yang sangat tinggi hingga saat melihat ke atas, hampir tidak ada sinar yang masuk yang bisa sebagai penanda ketinggian tebing.


Puguh memperkirakan, kedalaman jurang ini hampir dua kali tinggi pohon kayu hitam tempat dia terjebak di dalam ruangan di dalam batangnya.


Sambil menahan rasa sakit dan perih di bagian perutnya, Puguh mencoba mendekati gurunya.


Baru saja menyentuh tangan gurunya yang berada di samping tubuh menyangga tubuhnya, Puguh melihat kilatan kilatan sinar berwarna biru yang kadang dalam sekejap hilang, kemudian ada lagi. Anehnya kilatan kilatan sinar itu tidak bergerak dan seperti berpasang pasangan.


Puguh mencoba berkonsentrasi untuk merasakan apapun tanda tanda yang bisa dia rasakan.


Bau amis. Hembusan udara yang pendek. Suara geraman.


Seketika Puguh terkejut. Itu adalah serigala mata biru. Sebangsa serigala yang hidup di tebing tebing yang gelap. Serigala itu hidup dengan berkelompok dipimpin seekor serigala jantan yang paling besar badannya yang sekaligus sebagai rajanya. Tingginya bisa mencapai sepundak orang dewasa atau setinggi tubuh Puguh. Bisa berlari dengan sangat kencang melebihi pendekar dengan ilmu meringankan tubuh tingkat menengah.


Merasakan keadaan yang sangat berbahaya,tanpa memperdulikan rasa sakit di tubuhnya, Puguh segera membawa tubuh gurunya semampu yang dia bisa.


Serigala mata biru yang berdiri berderet deret itu, terlihat bergerak maju pelan pelan.


Karena panik dan karena tenaganya yang tinggal sedikit, Puguh hanya bisa membawa tubuh gurunya berjalan menyamping sambil punggungnya terus menempel dinding jurang. Sementara kedua matanya terus menatap ke arah gerombolan serigala mata biru yang terus mendekatinya.


Pada saat jaraknya tinggal lima meter, raja serigala itu melompat kecil dan kemudian berhenti melangkah.


Sementara itu, saat melihat raja serigala itu melompat, Puguh mengira serigala itu akan bergerak menerkamnya. Maka saat tubuhnya terus bergeser dengan punggungnya menempel di dinding jurang, ada serumpun perdu yang menghalanginya, Puguh nekat menerobosnya.


Saat menerobos rumpun perdu itu, punggungnya dirasakan tidak menempel di dinding jurang, sehingga tubuhnya dan tubuh gurunya terperosok masuk ke dalam lubang yang cukup besar, hingga terjengkang ke belakang. Rupanya Puguh dan gurunya terperosok masuk kedalam sebuah goa.


Dengan sekuat tenaganya, Puguh berusaha untuk duduk kembali. Dalam posisi duduk menghadap ke luar, Puguh merasakan hawa sangat dingin ďi punggung dan tengkuknya.


Perlahan Puguh membalikkan badan sambil kedua tangannya berusaha mencari dan menggapai tubuh gurunya.


Begitu tubuhnya menghadap ke arah goa, rasa panas di kulit perutnya tiba tiba terasa kembali. Begitu panasnya sehingga Puguh merasakan kulit perutnya seperti terbakar.


Puguh mencoba menahan rasa panas itu sampai seluruh tubuhnya berkeringat. Namun akhirnya, rasa panas di kulit perutnya, dan terpaan hawa sangat dingin dari dalam goa membuat Puguh kembali tidak sadarkan diri.


Entah sudah berapa lama Puguh dan gurunya pingsan. Namun setelah beberapa lama, Ki Dwijo mulai sadar dari pingsannya.


Ki Dwijo merasakan seluruh tubuhnya dingin. Ketika hendak menggerakkan tangan kanannya untuk meraba tubuhnya, Ki Dwijo terkejut, ketika mendapati, tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali. Hanya leher ke atas yang masih bisa bergerak.


Kemudian Ki Dwijo mencoba melihat ke sekelilingnya dengan melirik ke kanan dan ke kiri. Saat melihat tubuh Puguh tergeletak di samping kirinya, Ki Dwijo mencoba membangunkan Puguh dengan memanggil manggil namanya berulang ulang.


"Ngger ..... Puguh ..." bisik Ki Dwijo pelan.


Setelah memanggil manggil nama Puguh berkali kali hingga tidak terhitung jumlahnya, tubuh Puguh mulai terlihat bergerak gerak.


Sayup sayup, Puguh mendengar seperti ada yang memanggilnya. Perlahan kesadarannya mulai kembali. Puguh merasakan kulit perutnya sudah tidak terasa panas lagi. Dan rasa mualnya sudahntidak muncul lagi. Karena penasaran, dirabanya perutnya.


Saat meraba perutnya itu, Puguh baru menyadari, kalau ada yang memanggil manggil namanya.


Seketika Puguh menoleh ke arah sumber suara.


Betapa Puguh terkejut sekaligus senang, mendengar suara dan melihat tubuh gurunya.


Dengan cepat Puguh mendekat ke arah gurunya. Ketika kedua tangannya menyentuh tubuh gurunya, Puguh merasakan, tubuh gurunya sangat dingin.


"Ngger Puguh, dengarkan. Tubuh guru, sekarang sudah lumpuh semuanya. Maafkan guru yang tidak bisa membantu dan menyelamatkan kamu," kata Ki Dwijo.


"Guru, .... guru sudah menyelamatkan Puguh berkali kali. Puguh akan merawat guru sepenuh kemampuan Puguh," jawab Puguh.


Setelah mengangkat dan meletakkan tubuh gurunya di tempat yang cukup nyaman, Puguh mulai mengamati dan mempelajari setiap sudut dan setiap bagian ruangan goa.


Puguh belum menyadari, betapa luka luka dan tenaga dalamnya sudah pulih seolah tidak pernah terjadi apa apa.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_