Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Kematian Dengan Luka Menghitam


Pada pertempuran di sepanjang jalan di tepi sungai itu, Roro Nastiti menanggung beban yang paling berat. Selain harus berusaha selalu mengawasi para prajurit pasukan perang Kerajaan Kaling Pura, juga harus melawan salah satu wakil panglima perang Kerajaan Menara Langit yang turun membantu pasukan perangnya.


Walaupun dibantu oleh beberapa pendekar anggota Padepokan Kuwanda Brastha, namun karena tingkat ilmu silat para pendekar itu masih di bawahnya semua, justru menambah berat beban tugasnya.


Sementara itu, dua senopati Kerajaan Kaling Pura, juga tidak bisa diharapkan bantuannya, karena mereka berdua juga sedang terdesak oleh salah satu wakil panglima perang yang turun membantu para pasukan perangnya.


Walaupun kedua tangannya bergetar hebat, tetapi Roro Nastiti tetap berusaha mempertahankan pedangnya agar tidak terlepas dari genggamannya. Beberapa luka sayatan sudah menghiasi tubuhnya.


Hingga pada suatu waktu, benturan senjata membuat Roro Nastiti terdorong ke belakang dan jatuh ke tanah.


Melihat lawannya terjatuh, wakil panglima perang itu langsung memburunya sambil menebaskan pedangnya.


"Mati kau !" teriak wakil panglima perang itu.


Namun, saat wakil panglima perang itu mengarahkan tebasan pedangnya pada Roro Nastiti, tiba tiba berkelebat dua sosok tubuh masuk ke dalam pertarungan dengan salah satunya menangkis serangannya.


Traaannnggg !


"Kwa kwa kwa kwa ! Kalian memang keji dan harus dihentikan ! Rasakan pembalasanku !" teriak sosok tubuh itu.


Merasa ada yang menghalangi kemenangannya, wakil panglima perang itu tidak terima dan kembali menyerang sosok yang menangkis serangan pedangnya.


"Kau berani muncul lagi, setelah diceburkan ke dalam lautan ?" tanya wakil panglima perang itu dengan nada mengejek, sambil mengarahkan serangannya pada sosok yang menangkis serangan pedangnya itu.


"Kwa kwa kwa kwa ! Kalian semua memang pengecut yang hanya mengandalkan jumlah banyak. Kami tidak akan lari jika kalian tidak mengeroyok kami !" sahut sosok yang baru datang itu.


"Kali ini aku akan melemparkan tubuh cebolmu ke dalam sungai !" kata wakil panglima perang itu.


"Kwa kwa kwa kwa ! Jangan panggil aku Aswa Muka, kalau aku tidak bisa menggebukmu seperti mengusir anjing !" bentak sosok itu.


Bersamaan dengan itu, satu sosok lagi langsung menggempur wakil panglima perang yang sedang mendesak dua senopati Kerajaan Kaling Pura.


"Kwa kwaaa ! Ternyata kedatangan kalian, hendak membuat rusuh di Tanah Jawadwipa ini !" kata sosok yang satunya lagi sambil melayangkan serangan ke arah wakil panglima perang yang bertarung melawan dua senopati Kerajaan Kaling Pura.


Sementara itu, melihat siapa yang datang membantu, kedua senopati Kerajaan Kaling Pura itu terkejut sekaligus merasa senang.


"Paman Aswa Kudana, Paman Aswa Muka ! Ternyata kalian masih hidup !Terimakasih atas bantuannya !" teriak salah satu senopati Kerajaan Kaling Pura.


Mendengar teriakan itu, kedua sosok yang baru datang, yang ternyata adalah Aswa Muka dan Aswa Kudana, tidak menjawab. Karena mereka berdua sedang bertarung sengit dan sedang mendesak wakil panglima perang wakilnya.


Setelah bertarung selama lima puluh jurus, dua wakil panglima perang yang belum tandingannya Aswa Kudana dan Aswa Muka jika bertarung satu lawan satu, akhirnya kalah dan tewas di tangan Aswa Muka dan Aswa Kudana dengan tubuh yang penuh luka luka menghitam.


"Kwa kwa kwa kwa ! Aswa Kudana ! Ayo kita cari yang lainnya, untuk membalaskan kematian saudara saudara kita !" kata Aswa Kudana.


"Kwa Kwaaaa ! Aswa Muka ! Ayo kita menyusul murid kita !" jawab Aswa Kudana.


Bersamaan dengan itu, kehilangan lawannya karena telah diambil alih oleh Aswa Muka dan Aswa Kudana, Roro Nastiti dan dua senopati Kerajaan Kaling Pura, segera bergabung untuk membantu para prajurit pasukan perang Kerajaan Kaling Pura.


Akhirnya, situasi pertempuran di sepanjang jalan di tepi sungai itu berubah drastis. Pasukan perang Kerajaan Kaling Pura yang tadinya terdesak hebat, kembali di atas angin dan berganti mendesak pasukan perang Kerajaan Menara Langit. Perlahan, banyak prajurit Kerajaan Menara Langit yang tewas berjatuhan. Hal itu semakin membangkitkan semangat bertempur para prajurit Kerajaan Kaling Pura.


----- * -----


Sementara itu, situasi di atas tebing. Pangeran Kanaya Wijaya yang dibantu oleh dua belas pendekar dari Padepokan Kundana Brastha, belumlah lawan yang sepadan bagi empat wakil panglima perang.


Pertarungan baru saja berjalan dua puluh lima jurus, Pangeran Kanaya Wijaya dan kedua belas pendekar dari Padepokan Kuwanda Brastha sudah terdesak. Bahkan, setelah memasuki jurus ke lima puluh, separoh dari para pendekar itu harus meregang nyawa di tangan empat wakil panglima perang itu.


"Biar aku tangkap Pangeran pembuat kekacauan itu ! Yang lainnya langsung habisi, biar tidsk terjadi kekacauan lagi !" kata salah seorang wakil panglima perang.


Kemudian, wakil panglima perang yang berkata tadi, segera melesat dengan sangat cepat ke arah Pangeran Kanaya Wijaya dengan senjata pedang yang ditebaskan untuk menyapok senjata pedang Pangeran Kanaya Wijaya dan tangan kiri yang bersiap untuk melumpuhkan sang pangeran.


Saat gerakan wakil panglima perang itu sudah dekat dan yakin bisa menangkap pangeran itu, tiba tiba ada kelebatan bayangan yang menangkis pedangnya dan memapaki serangan tangan kirinya, hingga membuat tubuhnya terpelanting.


Traaannnggg !


Plaaakkk !


Wakil panglima perang yang tadi menyerang Pangeran Kanaya Wijaya terlempar ke belakang dan jatuh bergulingan.


Hal itu membuat tiga wakil panglima perang yang lainnya terkejut dan langsung memperhatikan orang yang baru datang itu.


Mereka semua melihat, ada sesosok manusia yang seluruh permukaan tubuhnya dan seluruh pakaiannya berwarna hitam, sehingga sulit untuk dipastikan apakah orang itu laki laki atau perempuan.


Namun, keempat wakil panglima perang itu harus menepis dahulu pertanyaan pertanyaan di pikiran mereka tentang siapa sosok orang itu, karena, tanpa mengatakan apapun, sosok bertubuh hitam itu sudah melesat dengan sangat cepatnya dan melakukan serangan pada wakil panglima perang yang paling dekat dengannya.


Senjata pedangnya yang juga berwarna hitam legam berkelebat cepat, mencecar wakil panglima perang itu.


Menerima serangan yang sangat cepat itu, wakil panglima perang itu segera memutar senjata pedangnya untuk menangkis. Tetapi, betapa terkejutnya wakil panglima perang itu, saat merasakan, setiap tangkisannya membuat telapak tangannya yang memegang pedang menjadi kebas dan lengannya bergetar hebat.


Bersamaan dengan itu, saat tiga wakil panglima perang yang lainnya hendak bergerak membantu rekannya, mereka dikejutkan dengan munculnya dua sosok tubuh yang membuat mereka bertiga terkejut.


"Heeiii ! Kalian belum mampus juga setelah diceburkan ke dalam lautan ?" teriak salah satu wakil panglima perang itu.


Namun, para wakil panglima perang itu, harus terdiam, karena dua sosok yang baru datang itu, Aswa Muka dan Aswa Kudana, langsung merangsek dan menyerang mereka.


Tidak sampai lima puluh jurus, satu wakil panglima perang yang melawan sosok orang yang seluruh tubuh dan pakaiannya menghitam, akhirnya tewas dengan seluruh tubuh penuh luka luka menghitam.


Tidak berapa lama, disusul dengan teriakan teriakan kematian dari ketiga wakil panglima pedang, yang dibantai tanpa ampun oleh Aswa Muka dan Aswa Kudana.


---------- ◇ ----------