
Puguh menceritakan sejak awal pertemuannya dengan kera raksasa yang kemudian memberikan ilmu pada Puguh yang dititipkan padanya. Hingga pertemuannya kembali dengan Putri Mahatariti, yang memberitahukan padanya tentang sifat kera raksasa yang jahat.
Mendengar cerita itu, kakek renta itu menarik nafas panjang dan tertawa pendek.
"Hehhh ... Ha ha ha "
"Puguh, apa yang dikatakan oleh perempuan yang bernama Putri Mahatariti itu tidak salah. Namun, kera raksasa itu juga tidak benar benar jahat !" kata kakek renta itu.
Kemudian kakek renta itu bercerita, dahulu kala saat dia masih muda, bertemu dengan seorang pendekar perempuan yang bernama Dewi Kilagni.
Saat pertama bertemu, Dewi Kilagni yang sangat mengagungkan ilmu beladiri, menantangnya untuk mengadu ilmu.
Sebenarnya dia sudah tidak mau meladeni dan selalu menolak tantangan Dewi Kilagni.
Namun karena Dewi Kilagni selalu memaksa, akhirnya terpaksa dia menanggapi tantangan Dewi Kilagni, tetapi hanya sekedar mencoba ilmu, tidak untuk saling mengalahkan.
Baruna dan Dewi Kilagni beradu ilmu hingga ratusan jurus, namun Dewi Kilagni tidak bisa menjatuhkan, apalagi mengalahkan Baruna.
Karena tenaga dalam mereka yang terkuras habis, akhirnya mereka menghentikan pertandingan adu ilmu.
Kemudian, mulai saat itu, mereka mengembara bersama sama dan lama kelamaan tumbuh rasa cinta di dalam hati mereka.
Hingga suatu saat, pengembaraan mereka tiba di hutan yang masih dikuasai para makhluk iblis.
Pada suatu hari, tanpa sepengetahuan Baruna, Dewi Kilagni ditemui oleh raja iblis. Pada Dewi Kilagni, raja iblis itu menawarkan kekuatan hingga menjadi tidak terkalahkan. Raja iblis itu hanya meminta ganti, dibantu mendirikan kerajaan, di tengah hutan itu.
Dewi Kilagni yang menerima tawaran raja iblis itu, segera mendapatkan kekuatan yang sangat tinggi, pemberian dari raja iblis. Kemudian, Dewi Kilagni membantu raja iblis itu membangun sebuah istana di tengah tengah hutan angker Setra Jenggala.
Setelah mendapatkan kekuatan iblis, Dewi Kilagni kembali menantang Baruna untuk mengadu ilmu. Walaupun mereka saling mencintai, namun Dewi Kilagni tetap memaksakan diri untuk mengajak Baruna bertarung.
Akhirnya, demi tidak menyakiti hati kekasihnya, Baruna menyambut tantangan Dewi Kilagni.
Mereka kembali bertarung dan kali ini mereka sama sama terkejut.
Baruna sangat terkejut dengan pesatnya peningkatan kemampuan dan tenaga dalam Dewi Kilagni. Selain itu, Baruna juga terkejut, kali ini Dewi Kilagni bertarung seperti iblis, seperti tidak punya hati dan seperti tidak mengenal kalau dia adalah kekasihnya.
Maka Baruna pun meningkatkan kembali aliran tenaga dalamnya untuk mengimbangi dan meredam keganasan Dewi Kilagni kekasihnya.
"Dewi Kilagni kekasihku ! Mari kita hentikan pertarungan yang tidak berguna ini !" bujuk Baruna.
"Hehhh ! Ternyata kakang Baruna menipu aku selama ini ! Kakang Baruna menyembunyikan kesaktian kakang dariku selama ini !" jawab Dewi Kilagni sambil terus menyerang.
"Kakang tidak bermaksud menipu adik Dewi ! Kakang hanya tidak mau membuat kecewa dan menyakiti hati adik Dewi !" jawab Baruna.
Dewi Kilagni yang sangat terkejut dengan kesaktian yang sebenarnya dari Baruna kekasihnya, menjadi semakin murka dan menyerang dengan penuh kemarahan.
Maka akhirnya Baruna menggunakan ilmu simpanannya, untuk menundukkan Dewi Kilagni, agar pertarungan ini segera berakhir. Karena bila pertarungan ini sampai hari gelap, kekuatan iblis yang diberikan pada Dewi Kilagni akan semakin kuat.
Maka, pada suatu kesempatan, dengan jurus simpanannya, jurus Telapak Penjerat Jiwa, yang mendarat tepat di dada Dewi Kilagni, Baruna berhasil menjatuhkan Dewi Kilagni, dengan maksud mendorong keluar jiwa iblis yang memberi kekuatan pada Dewi Kilagni dan berada di dalam tubuh Dewi Kilagni.
Jiwa iblis yang berada di dalam tubuh Dewi Kilagni hanya berhasil diusir keluar dari tubuh Dewi Kilagni namun belum bisa dimusnahkan.
Jiwa iblis yang telah keluar dari tubuhnya itu ternyata tidak membuat Dewi Kilagni sadar diri, namun justru membuat Dewi Kilagni semakin marah.
Kemudian, dengan perasaan marah yang sudah menguasai hatinya, Dewi Kilagni pergi berlari meninggalkan Baruna dan menuju ke tengah hutan, hingga tanpa disadarinya menuju ke istana Setra Jenggala.
Di istana Setra Jenggala, oleh jiwa iblis yang sebenarnya telah melemah kekuatannya itu, diangkat menjadi ratu dan diberi kekuasaan yang besar atas pasukan iblis.
Sementara Dewi Kilagni menjadi ratu di istana Setra Jenggala, dalam saat yang bersamaan, karena berbagai perasaan yang dirasakannya termasuk rasa cintanya pada Dewi Kilagni, akhirnya Baruna memutuskan untuk bertapa dan menjadi seorang resi.
Dalam perjalanannya sebagai ratu di istana Setra Jenggala, Dewi Kilagni berlaku sangat kejam dan bertindak semena mena tidak hanya pada penduduk sekitar perbatasan hutan yang semakin angker itu, namun juga pada semua makhluk di wilayah hutan Setra Jenggala, seperti binatang dan tumbuh tumbuhan.
Banyak terjadi kerusakan pada makhluk hewan dan tumbuhan dan juga pada tanah tempat mereka hidup.
Selama berpuluh puluh tahun mendengar semua yang dilakukan oleh Dewi Kilagni, akhirnya Baruna yang sudah menjadi seorang resi turun dari pertapaannya dan kemudian mengajak sebuah kerajaan untuk bekerja sama menggempur istana Setra Jenggala.
Kerajaan yang bernama Banjaran Pura itu dijanjikan akan diberi istana Setra Jenggala, jika bersedia membantunya.
Akhirnya, dengan bantuan Kerajaan Banjaran Pura yang pasukan perangnya digunakan untuk melawan pasukan iblis, Baruna berhasil mengusir semua pasukan Iblis dan mendesaknya hingga masuk kembali ke alam Iblis.
Namun, sebelum lari ke alam iblis, Dewi Kilagni sempat bersumpah pada Baruna.
"Resi Baruna ! Karena kesalahanku, aku tidak akan keluar dari alam iblis ! Tetapi aku bersumpah ! Suatu saat, selubung gaib yang kau buat akan rusak oleh getaran suara teriakan kesedihan kekecewaan sekaligus kemarahan seorang anak manusia ! Pada saat itulah aku akan keluar untuk menuntut balas !" teriak Dewi Kilagni yang hanya bisa terdengar oleh resi Baruna.
Mendengar sumpah yang diteriakkan oleh Dewi Kilagni, Resi Baruna menjawab dengan ucapan yang sangat pelan, "Dewi Kilagni, demi rasa cintaku padamu, aku akan menjaga selubung gaib ini sampai kapanpun hingga selubung gaib ini terbuka lagi. Saat selubung gaib ini rusak, akan ada seorang anak manusia yang akan mengalahkan dan membunuh kita. Setelah kita mati, saat itulah, jiwa kita akan disatukan kembali oleh rasa cinta kita, walaupun tubuh kita sudah rusak karena termakan usia !"
Setelah semua pasukan iblis itu bisa digiring masuk ke alam iblis, resi Baruna membuat selubung gaib dengan menggunakan tenaga dalamnya, dibantu oleh beberapa pendekar tingkat tinggi dari Kerajaan Banjaran Pura.
Hari berganti hari, tahun berganti tahun dan masa berganti masa. Tanpa terasa, selubung gaib yang dibuat oleh resi Baruna sudah bertahan hingga ratusan tahun.
Karena janjinya pada Dewi Kilagni yang juga sebagai sumpahnya, jiwa resi Baruna tetap bertahan hidup. Namun tidak demikian dengan raganya yang tetap harus rusak bila tiba saatnya.
Saat merasakan raganya sudah tidak bisa dipertahankan lagi, membuat jiwa resi Baruna terpaksa berpindah ke sebuah pohon yang bisa bertahan hingga usia ratusan tahun.
Kebetulan, pohon yang dipilih oleh jiwa resi Baruna, sudah menjadi tempat tinggal kera raksasa terlebih dahulu.
Karena waktu yang sudah tidak bisa ditunda, jiwa resi Baruna akhirnya berpindah ke pohon kayu hitam raksasa yang sebelumnya telah menjadi rumah dari kera raksasa. Walaupun resi Baruna terpaksa harus meluluskan permintaan kera raksasa untuk menjadi muridnya.
__________ ◇ __________