
Setelah menghabisi keempat lawannya, Puguh segera melesat ke arah pertempuran yang lain.
Namun, begitu melihat pertempuran yang lainnya itu, Puguh terkejut. Karena jumlah lawan yang menyerang istana semakin bertambah banyak. Untuk itu, dalam beberapa saat Puguh memperhatikan jalannya pertarungan.
Puguh menyaksikan, setiap terluka terkena senjata, tubuh tubuh Tangan Iblis itu segera bisa menyembuhkan diri dengan mengeluarkan asap dari telapak tangannya.
Setiap tubuhnya tertebas senjata tajam hingga putus, bagian tubuh yang putus itu justru berubah menjadi tubuh baru lagi sementara tubuh yang lama dengan cepat muncul lagi bagian tubuh yang terluka atau terpotong.
Maka Puguh pun segera ikut terjun ke dalam pertarungan. Pedangnya yang mengeluarkan sinar hijau terang, berkelebat cepat mengejar setiap tubuh Tangan Iblis yang terdekat. Gerakan tebasan pedang Puguh yang sangat cepat, tidak mampu dihindari oleh tubuh tubuh Tangan Iblis. Sehingga, kemanapun pedang Puguh berkelebat, selalu memakan korban. Dan setiap tubuh Tangan Iblis terkena pedang Puguh, menjadi hancur seperti meledak dan menjadi butiran butiran sinar kuning yang kemudian hilang bercampur dengan udara.
Tidak sampai dua puluh lima jurus, Puguh berhasil memusnahkan semua tubuh Tangan Iblis. Hal itu bisa berlangsung cepat, karena Puguh dibantu oleh Ki Dwijo dan yang lainnya. Mereka yang menyerang dan mendesak, hingga Puguh tinggal memusnahkannya dengan menebaskan pedangnya yang mengandung kekuatan sinar rembulan.
Berakhir sudah pertarungan di depan gerbang Kerajaan Banjaran Pura. Senopati Cakrayuda yang masih bisa berdiri walaupun terluka segera memerintahkan para prajurit untuk membersihkan sisa sisa pertarungan.
Sementara itu, Puguh dan Rengganis berbincang dengan Ki Dwijo dan yang lainnya setelah cukup lama tidak berjumpa dengan gurunya dan tokoh tokoh persilatan yang menjadi sahabat gurunya.
"Guru, sebenarnya Puguh masih penasaran dengan pertarungan tadi. Puguh tidak merasakan getaran kekuatan jiwa yang terpancar dari pemilik ilmu memecah raga yang asli !" kata Puguh.
"Itu berarti, raga asli pemilik ilmu itu belum ikut musnah ?" tanya Ki Dwijo.
"Kemungkinan besar masih hidup, guru !" jawab Puguh yang berhasil membuat lenyap perasaan lega semua orang yang berada disitu.
"Atau jangan jangan, Ki Kama Catra yang asli berhasil melewati kita dan menuju istana ?" kata Ki Bhanujiwo yang membuat semua orang terkejut.
Mendengar hal itu, Ki Dwijo dan Senopati Cakrayuda segera mengajak semua yang berada disitu untuk kembali ke istana.
Akhirnya mereka semua kembali ke istana dengan Ki Dwijo dan para pendekar yang lainnya lebih dahulu melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka.
Suasana di gerbang kembali hening. Hanya ada Puguh dan Rengganis yang masih berada di situ ditemani prajurit yang berjaga di pintu gerbang.
Pandangan Puguh tajam ke arah jauh, luar pintu gerbang, seperti ada yang ditunggu.
"Kakang Puguh menunggu seseorang ?" tanya Rengganis sambil mendekat dan memegang tangan kiri Puguh.
Puguh menoleh ke arah Rengganis dan memegang punggung telapak tangan Rengganis, kemudian tersenyum.
"Ayo kita susul guru," kata Puguh.
Kemudian, Puguh dan Rengganis melesat dengan tidak terlalu cepat ke arah istana.
Setelah Puguh dan Rengganis sudah cukup jauh meninggalkan pintu gerbang, dari arah salah satu pohon di luar gerbang istana kerajaan Banjaran Pura, muncul sebuah bayangan yang tinggi besar. Bayangan yang hanya terlihat seperti siluet itu, terlihat menggerak gerakkan kedua tangannya yang sangat besar ke arah langit di atas tempat pertarungan tadi. Beberapa saat kemudian, dari arah langit, terlihat melesat turun sekumpulan butiran sinar kuning yang dengan cepat masuk ke dada sosok bayangan tadi.
Begitu sudah tidak ada lagi butiran sinar kuning yang meluncur, bayangan tinggi besar itu menghentikan gerakan kedua tangannya, dan tiba tiba, bayangan itu hilang di antara rerimbunan pohon.
----- * -----
Sementara itu, begitu tiba di depan istana kerajaan, Puguh dan Rengganis mendapati, Ki Dwijo gurunya dan semua sahabatnya sedang mengurung sesosok tubuh yang sangat mirip dengan semua musuh yang telah dia musnahkan.
"Rupanya dia, pemilik tubuh yang asli dari Ki Kama Catra atau Tangan Iblis !" kata Puguh pelan sambil mendekat ke arah kepungan.
Melihat kedatangan Puguh dan Rengganis, Ki Dwijo segera berteriak, "Puguh, kemungkinan dialah pemilik tubuh Tangan Iblis yang sebenarnya !"
"Tidak salah lagi, guru ! Puguh rasakan dari getaran kekuatan jiwanya yang terpancar sangat kuat !" jawab Puguh sambil kemudian tubuhnya melenting dan kemudian mendarat di tengah tengah kepungan, menghadap ke arah Tangan Iblis atau Ki Kama Catra.
"Orang ini harus dimusnahkan ilmunya, agar tidak menyusahkan umat manusia !" kata Puguh dalam hati.
Pada suatu kesempatan, dengan kecepatan yang tidak bisa lagi diimbangi oleh Ki Kama Catra, Puguh melayangkan pukulan tangan kanannya dan mendarat telak di dada Ki Kama Catra.
Duuuggghhh !
Begitu terkena pukulan Puguh di dadanya, tubuh Ki Kama Catra terlempar ke belakang, namun masih bisa mendarat di kedua kakinya.
Puguh merasakan, getaran kekuatan tenaga dalam yang sangat besar keluar dari tubuh Ki Kama Catra yang disertai dengan getaran kekuatan jiwa.
Maka, sambil meningkatkan aliran tenaga dalam yang telah mengandung energi sinar rembulan, dan mengalirkan ke seluruh tubuhnya, Puguh melesat ke arah Ki Kama Catra. Kedua tangannya yang telah membentuk cakar, telah siap melakukan serangan.
Ki Kama Catra yang juga melesat ke arah Puguh, segera melepaskan serangkaian pukulan, ketika tubuh mereka berdua telah mendekat.
Sesaat kemudian, terjadi benturan pukulan berkali kali yang menimbulkan suara yang nyaring.
Plak ! Plak ! Plak ! Plak !
Dalam waktu yang relatif singkat, Puguh dan Ki Kama Catra terus bertukar serangan.
Kedua tangan Puguh yang biasanya mengeluarkan serangan pukulan, kali ini sengaja Puguh ganti dengan cakaran.
Puguh memang tidak menggunakan senjata pedangnya, karena agar kedua tangannya bisa dengan segera merasakan getaran kekuatan jiwa lawannya.
Kedua tangan Puguh yang membentuk cakar, berkelebatan mengarah ke bagian bagian tubuh Ki Kama Catra.
Hingga pada suatu kesempatan, beberapa kali cakaran Puguh berhasil mengenai tubuh dan lengan Ki Kama Catra.
Sreeettt ! Sreeettt ! Sreeettt !
Craaakkk ! Craaakkk !
Terlihat, lengan kiri Ki Kama Catra robek membentuk tiga garis memanjang. Kemudian, bahu kanan, dada dan wajah Ki Kama Catra juga tidak luput dari cakaran Puguh.
Mendapatkan luka di beberapa bagian tubuhnya, dari kedua telapak tangan Ki Kama Catra keluar asap tipis.
Namun, asap tipis itu baru akan merambat di tubuhnya, saat Puguh sudah melesat dan memdekat lagi, kemudian kembali melakukan serangan.
Merasa caranya berhasil, diam diam Puguh meningkatkan lagi aliran tenaga dalam ke seluruh tubuhnya. Kecepatan Puguh pun bertambah. Sehingga Ki Kama Catra, semakin tidak bisa mengimbangi kecepatan dan kekuatan Puguh.
Ketika tubuh Ki Kama Catra terhuyung mundur, Puguh mengejarnya dengan melenting dan kemudian, dengan kekuatan yang telah bertambah tinggi, dua kali cakarannya mendarat telak di dada dan perut Ki Kama Catra.
Mengalami luka yang cukup parah, msmbuat Ki Kama Catra jatuh terduduk bertumpu kedua lututnya. Pada saat itulah, cakar tangan kanan nya menempel di ubun ubun Ki Kama Catra. Segera saja, aliran tenaga dalam yang sangat besar yang mengandung kekuatan sinar rembulan membanjir keluar dan masuk ke kepala.
Seperti ingin berontak, Ki Kama Catra berteriak yang terdengar seperti lengkingan.
Setelah beberapa waktu, akhirnya terdengar suara ledakan, saat tubuh dan kepala Ki Kama Catra tidak mampu menahan derasnya energi sinar rembulan yang telah menyatu dengan tenaga dalam Puguh.
Blaaannnggg !!!
Tidak ada percikan darah ataupun daging Ki Kama Catra sedikitpun, karena seluruh tubuh Ki Kama Catra telah terbakar oleh energi sinar rembulan didalam tenaga dalam Puguh.
__________ ◇ __________