
Melihat mereka berdua masih nekat menyerang, dengan gerakan yang sangat cepat, tiba tiba tangan kanan Ki Dwijo sudah memegang tongkat butut.
Sesaat kemudian, terdengar suara benturan senjata berkali kali saat Ki Dwijo menangkis serangan golok Ki Jalu dan Ki Janu.
Tang ! Trang !
Tang ! Trang !
Selama beberapa waktu, Ki Dwijo masih terus menangkis setiap serangan Ki Jalu dan Ki Janu,sambil mempelajari jurus yang dimainkan oleh mereka berdua.
Ki Dwijo semakin yakin dengan dugaannya. Kalau mereka berdua pasti ada hubungannya dengan Ki Naga Gringsing.
Kemudian, dengan kecepatan yang tidak diduga oleh Ki Jalu dan Ki Janu, tongkat Ki Dwijo menotok pergelangan tangan kanan mereka sehingga golok yang mereka pegang terlepas.
Tuuuukkk ! Tuuukkk !
Dilanjutkan dengan totokan tongkat ke arah dada mereka sehingga mereka berdua terdorong dan terjengkang hingga jatuh ke belakang.
Ki Jalu dan Ki Janu mencoba bangkit lagi. Mereka terduduk, namun sesaat kemudian, mereka berdua memuntahkan darah yang memenuhi mulut mereka.
Mereka berdua merasakan dada mereka panas, nafas mereka sesak dan seperti ada yang menyumbat tenaga dalam mereka.
Ki Dwijo mendekat sambil kembali bertanya pada mereka berdua.
"Apa hubungan kalian dengan Ki Naga Gringsing ?" tanya Ki Dwijo.
"Heeehhh he .... ka ... u ... tak akan bisa menangkap ka ... mi !" kata Ki Jalu yang disertai gerakan tangannya menusukkan sesuatu ke lehernya sendiri dan diikuti oleh Ki Janu yang melakukan hal serupa.
Hanya butuh waktu dua tarikan nafas, mereka berdua tewas dengan kulit kepala menghitam.
Di leher mereka tertancam sejenis senjata keris kecil yang masuk ke leher mereka separuh lebih. Bilah keris kecil yang masih terlihat itu tampak berwarna hitam pekat.
Ki Dwijo yang tidak menyangka perbuatan nekat mereka, terkejut karena tidak sempat mencegah kejadian itu.
Sementara itu, di saat yang bersamaan dengan tewasnya Ki Jalu dan Ki Janu. Melihat rekannya tewas, Ki Klawu Carma dan Ni Srayu langsung melesat pergi dari tempat pertandingan beladiri itu. Sedangkan murid mereka berdua sudah sejak tadi menghilang dari tempat itu.
"Jangan dikejar. Biarkan mereka melarikan diri," kata Ki Dwijo yang melihatKi Bajrapadsa dan Senopati utama Wiguna hendak mengejar.
Kemudian Ki Dwijo segera memeriksa jasad mereka. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan, ada pada tubuh mereka. Namun kembali Ki Dwijo menatap tajam lambang awan dengan sulaman gambar awan dengan benang kuning.
Beberapa saat Ki Dwijo memeriksa lambang awan kuning di dada Ki Jalu dan Ki Janu sambil berjongkok.
Sejenak matanya menatap ke arah jauh, seperti ada yang dia ingat dan bayangkan.
"Dari gerakan jurus golok mereka berdua, mirip dengan jurus golok yang pernah dimainkan oleh Ki Naga Gringsing, walaupun mereka berdua masih sangat mentah. Namun mereka memakai pakaian dengan lambang ini. Apa hubungan Ki Naga Gringsing dengan Perkumpulan Jaladara Langking ?" kata Ki Dwijo dalam hati sambil berdiri lagi.
Kemudian Ki Dwijo berjalan mendekati senopati utama Wiguna.
"Senopati, tolong tingkatkan keamanan. Kalau bisa, minta bantuan atau bekerja sama dengan padepokan yang berada di wilayah ini," kata Ki Dwijo.
Tanpa menunggu jawaban dari senopati utama Wiguna, Ki Dwijo sudah melayang ke bawah dan mendekati Puguh.
"Ngger Puguh, ayo kita pergi dari sini dulu. Nanti malam kita kesini lagi untuk melihat keadaan," kata Ki Dwijo.
"Baik guru," jawab Puguh cepat.
Sesaat kemudian, mereka sudah melesat melewati pepohonan dan melompati semak belukar menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Ki Dwijo mengajak Puguh ke suatu cerukan luas yang dikepung tebing sehingga seperti dasar jurang. Jalan masuk ke dasar jurang itu hanya satu, yaitu yang dilalui oleh Ki Dwijo dan Puguh.
Sesampai di dasar jurang, Ki Dwijo menatap ke sekeliling terutama ke permukaan dinding tebing sambil berjalan agak ke tengah dasar jurang.
Dahulu, di dasar jurang inilah Ki Naga Gringsing tinggal, setelah sama sama mengundurkan diri dari dunia persilatan.
Saat masih sama sama muda, Ki Dwijo dan Ki Naga Gringsing cukup sering bertemu, walaupun mereka bukan teman. Mereka berdua juga sama sama tidak masuk golongan putih, namun juga tidak bisa dimasukkan sebagai golongan sesat.
Tiba tiba Ki Dwijo membalikkan badannya sambil menarik tubuh Puguh ke belakangnya.
"Kamu diam dulu di belakang guru, ngger !" kata Ki Dwijo sambil menatap ke arah jalan masuk.
Sesaat kemudian, terdengar suara orang tertawa.
"He he he he ..... ada teman lama yang bertamu !"
Begitu suara itu berhenti, di depan Ki Dwijo telah berdiri dua orang tua seusia dengan Ki Dwijo.
"Ki Naga Gringsing, kukira kau sudah meninggalkan tempat tinggalmu yang sudah kau tinggali puluhan tahun !" kata Ki Dwijo.
"He he he he ..... hanya kutinggal sebentar untuk menemui kakak seperguruanku," sahut Ki Naga Gringsing, "Ki Dwijo, perkenalkan, ini kakak seperguruanku, Ki Naga Wiru."
Ki Dwijo sedikit terkejut ketika mendengar nama Ki Naga Wiru yang ternyata kakak seperguruan Ki Naga Gringsing.
Walaupun belum pernah bertemu, namun Ki Dwijo pernah mendengar sepak terjang Ki Naga Wiru.
"Ki Dwijo, sebenarnya kami ingin mencarimu, tapi kebetulan, kita bertemu di sini !" kata Ki Naga Gringsing.
"Ada keperluan apa Ki Naga Gringsing mencariku ?" tanya Ki Dwijo.
"Aku hanya ingin memberikan undangan dari Perkumpulan !" jawab Ki Naga Gringsing sambil melemparkan sebuah gulungan kulit kayu yang permukaan dalamnya ada tulisannya.
"Apakah yang kalian maksud, Perkumpulan Jaladara Langking ?" kata Ki Dwijo lagi, "Kalau memang undangan dari Perkumpulan Jaladara Langking, aku pastikan, aku tidak akan datang."
"He he he he .... apa Ki Dwijo tidak takut dengan Perkumpulan ?" tanya Ki Naga Gringsing.
"Selama ini tidak ada yang bisa membuatku takut !" jawab Ki Dwijo.
Mendengar jawaban Ki Dwijo itu, tanpa mengeluarkan kata, Ki Naga Wiru langsung melesat ke arah Ki Dwijo sambil melayangkan serangan rentetan pukulan.
Menghadapi pukulan beruntun itu, Ki Dwijo menangkis sambil menggerakkan tubuhnya sedikit maju agar Puguh yang berdiri di belakangnya tidak terkena imbasnya.
Plak ! Plak ! Plak ! Plak ! Plaaakkk !!!
Begitu pukulannya bisa ditangkis semuanya oleh Ki Dwijo, Ki Naga Wiru menyambung serangannya dengan tendangan yang juga ditangkis Ki Dwijo dengan tendangan.
Duuukkk ! Duuukkk !
Tiba tiba Ki Naga Gringsing melesat mendekati Ki Dwijo.
"Ki Dwijo ! Baiklah kalau kau mengajak kami bermain main dahulu !" kata Ki Naga Gringsing.
Melihat Ki Naga Gringsing mendekat, Ki Dwijo segera menyahut tubuh Puguh kemudian membawanya berlari menyusuri dinding tebing sehingga seolah mengelilingi dasar jurang itu.
Akhirnya Ki Naga Gringsing mengikuti ke mana arah lari Ki Dwijo.
Ki Dwijo sendiri, melihat dirinya hendak dikeroyok, segera mempercepat larinya ke arah atas. Sesampainya atas, dilemparkannya tubuh Puguh ke atas sambil berkata, "Ngger Puguh, berlarilah secepat yang bisa. Kembalilah ke Kadipaten Langitan."
Saat tubuh Puguh masih meluncur di udara, Ki Dwijo sudah kembali ke bawah untuk menghadang serangan kedua lawannya.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_