Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Menolong Ki Bajraseta


Di puncak bukit yang membentang di atas tebing yang sangat tinggi, terdapat rumah kecil yang terlihat bersih.


Didalam rumah itu, terlihat seorang kakek yang sedang sibuk membuat ramuan obat.


Di dekat kakek tua itu, tergeletak tubuh seorang gadis yang pingsan dengan nafas yang tidak teratur.


Sebelum membuat ramuan, kakek tua tadi memeriksa dulu, luka yang diderita oleh anak gadis yang ditolongnya tadi.


Ternyata anak gadis itu hanya menderita kelelahan dan dada serta nafasnya sesak karena kedua tangannya menahan benturan benturan keras berkali kali.


----- * -----


Di tempat lain, pengembaraan Puguh bersama Rengganis sudah melewati beberapa kampung dan hutan.


Hingga pada suatu pagi, mereka mulai memasuki sebuah hutan yang seingat Rengganis menjadi tempat tinggal kakeknya.


Walaupun tinggal di hutan ini hanya beberapa pekan, namun, Rengganis yang terbiasa hidup di hutan, bisa membedakan dan cepat sekali hafal dengan hutan tempat mereka tinggal.


Puguh dan Rengganis masuk ke hutan dengan berjalan biasa. Ketika mereka berdua masuk ke bagian hutan yang lebih dalam lagi, tiba tiba Puguh menarik tangan Rengganis memintanya berhenti namun tatapan mata Puguh melihat jauh ke depan.


"Adik Rengganis, gurumu tinggal dengan siapa ?" tanya Puguh tanpa melihat ke arah Rengganis.


"Guru tinggal di hutan ini sendirian, kakang," jawab Rengganis.


"Berarti benar, ada yang datang bertamu," kata Puguh lagi.


Karena penasaran, Rengganis mencoba lebih konsentrasi lagi untuk merasakan getaran tenaga dalam, terutama yang dari arah tempat tinggal kakeknya.


Benar. Rengganis merasakan secara samar, ada lima getaran tenaga dalam termasuk milik gurunya.


"Kakang, ayo cepat ke sana. Aku khawatir dengan keadaan kakek," kata Rengganis sambil kemudian berlari cepat ke arah tempat tinggal kakeknya.


Namun, baru menempuh separuh jarak, mereka sudah merasakan adanya energi yang besar yang melesat cepat ke arahnya.


"Berhenti !" teriak orang yang baru datang itu, dan langsung menyerang ke arah Puguh.


Mengetahui ada serangan, Puguh pun segera memapaki serangan lawan yang baru datang, dengan ilmu tangan kosong Bantala Wreksa.


Plak plak plak !


Dengan kecepatan yang sulit untuk dilihat, Puguh menangkis dan kemudian melakukan serangan pukulan yang beruntun.


Plak plak ! Buuuggghhh !


Orang yang baru datang itu terdorong mundur hingga beberapa langkah.


"Owhh ! Ternyata kamu ! Kebetulan, aku akan menghabisimu !" ucap Puguh sembari mendekati orang yang menyerangnya tadi. Dia adalah Gogor Gora.


Sementara Gogor Gora yang baru datang dan langsung menyerang, terkejut bukan kepalang, melihat yang jadi lawannya ternyata anak muda yang dulu mengalahkannya dengan mudah.


Gogor Gora sedikit bingung. Dia terlanjur langsung main gempur. Melanjutkan bertarung, jelas dia akan kalah. Namun, mau mundur juga tidak mungkin. Anak muda di depannya ini tidak mungkin mau melepaskannya. Maka dia berpikir keras mencari jalan keluarnya.


Sementara itu, melihat yang menghadang mereka hanya satu orang, Rengganis menatap ke arah tempat tinggal kakeknya.


"Kakang Puguh, tolong kau bereskan orang itu ! Aku akan terus menuju ke tempat tinggal kakek," kata Rengganis.


"Serahkan pada kakang, adik. Hati hati, sepertinya di sana masih ada beberapa orang !" jawab Puguh.


Mendengar jawaban Puguh, Rengganis segera melesat ke arah tempat kakeknya tinggal.


Sementara itu, Puguh langsung menghadang arah gerak Gogor Gora.


Melihat hal itu, Gogor Gora merasa tidak punya pilihan lain. Maka, dengan nekad tubuhnya melesat ke arah Puguh, kemudian melayangkan serangan serangan dengan kedua cakarnya.


Dengan tehnik ilmu Bantala Wreksa, kedua tangan Puguh menghadapi serangan cakaran Gogor Gora, hingga berkali kali terdengar benturan pukulan.


Plak plak plak ! Plak plak !


Setiap kali terjadi benturan pukulan, tubuh Gogor Gora selalu terdorong mundur beberapa langkah. Membuat diam diam Gogor Gora menjadi jerih menghadapi Puguh.


Namun, Puguh yang sudah mengetahui kelicikan Gogor Gora, tidak memberi kesempatan pada Gogor Gora untuk lolos lagi. Dengan menggunakan jurus Bantala Wreksa, Puguh terus mendesak Gogor Gora. Hingga akhirnya, pada suatu serangan beruntun, dua pukulan Puguh dengan telak mengenai dada dan kepala Gogor Gora.


Duuuggghhh !


Plaaakkk !


Tubuh Gogor Gora terlempar cukup jauh dan jatuh terbanting di tanah dengan darah keluar dari lubang mulut, hidung dan telinganya.


Tanpa memperdulikan lagi keadaan lawannya, Puguh segera melesat menyusul Rengganis. Karena telinganya yang sangat peka dan sudah terlatih saat tinggal di dasar jurang, mendengar suara pertarungan, walaupun masih cukup jauh.


Setelah memasuki hutan yang lebih dalam lagi, Puguh menemukan Rengganis sedang bertarung melawan seorang perempuan berbaju serba putih.


Untuk beberapa saat, Puguh mengamati jalannya pertarungan Rengganis. Terlihat Rengganis bisa mengimbangi lawannya.


Pada pertarungan kali ini, Puguh bisa mengetahui, ternyata tingkat ilmu silat dan tingkat tenaga dalam Rengganis, sudah termasuk sangat tinggi dalam usianya yang masih sangat muda.


"Kakang Puguh, tolong kau bantu kakek di sebelah sana ! Aku bisa menghadapi ini !" teriak Rengganis meminta bantuan Puguh.


Mendengar permintaan Rengganis, Puguh segera menatap ke arah yang ditunjuk oleh Rengganis.


Puguh merasakan ada tiga getaran tenaga dalam dadi arah yang ditunjukkan oleh Rengganis.


Maka Puguh pun segera melesat ke arah tiga getaran energi yang dia rasakan, dengan sebelumnya berpesan pada Rengganis.


"Adik, hati hati dengan serangan senjata rahasianya !" teriak Puguh mengingatkan Rengganis.


"Kakang jangan khawatir. Bantu saja kakek !" jawab Rengganis.


Puguh melesat dengan sangat cepat. Hanya dalam beberapa saat, Puguh telah sampai di suatu pertempuran yang tidak seimbang.


Seorang kakek tua berkulit putih dalam balutan pakaian yang serba putih, dikeroyok oleh dua orang yang juga sudah kakek kakek berpakaian serba putih.


Kakek tua berkulit putih itu terlihat sangat terdesak, walaupun belum mendapatkan luka luka yang serius. Namun beberapa pukulan lawannya sudah beberapa kali mengenainya. Dan terlihat, kakek tua berkulit putih itu hanya mampu bertahan dalam beberapa jurus lagi saja.


"Adi Lawang Kori, ayo segera kita ringkus dia sekalian cucunya !" kata seorang yang lebih tua.


"Baik kakang Lawang Badra !" jawab pengeroyok yang lebih muda.


Mereka berdua berasal dari Gunung Lawang. Karena kehebatan ilmu silatnya yang mereka mainkan secara bersama sama, mereka memdapatkan julukan Sepasang Pendekar Dari Gunung Lawang.


Semakin lama, pertarungan mereka berjalan dengan sangat cepat, hingga hanya terlihat kelebatan warna putih. Namun, Puguh tetap bisa mengikuti jalannya pertarungan. Namun, dalam sejenak, Puguh masih belum tahu, siapa yang harus dia bantu.


Namun, Puguh teringat dengan perkataan Rengganis, bahwasanya kakeknya tinggal di hutan ini sendirian, akhirnya Puguh segera melesat masuk ke dalam pertarungan untuk membantu kakek tua berkulit putih itu. Puguh ikut berkelebat sambil kedua tangannya menangkis serangan keduanya.


Plak plak ! Plak plak plak !


Deeesss ! Deeesss !


Dalam dua kali benturan tenaga dalam itu, Puguh dan kedua kakek tua yang berjuluk Sepasang Pendekar Dari Gunung Lawang itu sama sama terdorong mundur satu langkah.


Namun Puguh tidak berhenti di situ. Tubuhnya segera melesat menyerang Lawang Badra yang kebetulan berdiri lebih dekat.


Dengan Jurus Bantala Wreksa, Puguh mengurung Lawang Badra dengan serangan beruntun, hingga Lawang Badra merasakan seolah diserang dari berbagai arah.


__________ ◇ __________