
"Kena kau !" kata laki laki gemuk itu dalam hati. Karena merasa yakin sekali menyerang langsung kena sasaran, laki laki gemuk itu tidak menyambung dengan serangan berikutnya.
Namun, Saat dayung besar itu kurang dari satu jengkal, tubuh Rengganis dengan lenturnya meliuk ke belakang sehingga senjata dayung besar itu hanya lewat di atas tubuhnya dan kemudian dilanjutkan dengan melompat ke belakang.
Laki laki gemuk yang juga termasuk pendekar terkenal dari Kerajaan Kisma Pura pendekar dengan tingkat ilmunya yang sangat tinggi itu, sejenak tertegun.
Dia tidak mengira, serangan yang dia lakukan secara mendadak dan dengan tenaga dalam yang cukup besar, bisa dihindari oleh gadis muda yang tidak dia rasakan tingkat tenaga dalamnya.
"Gadis muda, ternyata kau punya kemampuan juga ya ? Ayo tunjukkan padaku !" kata laki laki gemuk itu.
"Ki Jala Seta, jangan terlalu telengas, terhadap anak muda !" ucap kakek tua berambut putih yang telah berdiri di belakang Rengganis.
"Kalau kau tetap tidak mau, anak gadis itu yang akan aku jadikan sasaran !" sahut laki laki gemuk yang bernama Ki Jala Seta.
"Kakek tenanglah. Biar aku yang menghadapinya !" kata Rengganis sambil memasang kuda kuda.
Mendengar perkataan gadis muda itu, Ki Jala Seta mendengus dan memasang senyum meremehkan. Kemudian, tangan kanan Ki Jala Seta memutar senjata dayung besar itu. Putaran yang awalnya pelan, namun lambat laun menjadi semakin cepat.
Lalu, dengan tanpa menimbulkan suara, kaki kiri Ki Jala Seta menotol ke tanah yang membuat tubuhnya melesat dengan sangat cepat ke arah Rengganis.
Melihat laki laki gemuk yang menjadi lawannya itu kembali menyerang, sambil meningkatkan aliran tenaga dalamnya, Rengganis memperingatkan kakek tua berambut putih itu.
"Kakek ! Minggir dulu !" teriak Rengganis sambil tubuhnya melenting tinggi ke atas, yang membuat Ki Jala Seta mengarahkan serangannya ke atas, sehingga tidak salah sasaran mengenai kakek tua itu.
Dengan ringannya, Rengganis bersalto bergulingan diudara, menghindari terjangan dayung besar yang berputar sangat cepat.
Melihat pertarungan itu, Puguh berjalan mendekat.
"Paman gendut ! Bagaimana kalau aku yang meladeni paman ?" kata Puguh sambil tubuhnya melesat menghadang arah gerakan Ki Jala Seta.
Melihat hal itu, Ki Jala Seta menambah cepat putaran dayung besarnya. Kemudian, diawali dengan mengangkat tangan kanannya ke atas, Ki Jala Seta mengayunkan senjata dayung besarnya ke arah Puguh dengan gerakan yang sangat cepat.
Melihat senjata dayung besar meluncur sangat cepat ke arahnya, Puguh segera menotolkan ujung jari kakinya. Tubuhnya meluncur cepat memapaki datangnya serangan sambil mencabut senjata pedangnya dan kemudian menangkis senjata dayung besar yang berputar itu.
Terdengar suara benturan senjata yang sangat keras, saat pedang di tangan Puguh berbenturan beberapa kali dengan dayung besar yang berputar.
Trang ! Trang ! Trang ! Trang !
Sesaat setelah benturan itu, terlihat kedua tubuh melesat menjauh.
Sementara itu, Ki Jala Seta, terkejut melihat pedang di tangan lawannya. Namun, tanpa bertanya lagi, tubuh Ki Jala Seta seperti menghilang, melesat ke arah Puguh.
Dengan memegang gagang dayung besar menggunakan kedua tangannya, Ki Jala Seta mengarahkan senjata dayung besarnya ke kepala Puguh.
Melihat serangan yang sangat cepat dan berbahaya itu, sambil menambah aliran tenaga dalamnya yang membuat bilah pedangnya mengeluarkan sinar hijau terang, Puguh menghalau datangnya senjata dayung besar dengan sabetan pedangnya, hingga terjadi lagi benturan kedua senjata beberapa kali.
Tang ! Tang ! Tang ! Tang !
Benturan senjata itu berhenti, saat Puguh dan Ki Jala Seta mengakhiri serangannya dengan pukulan tangan kiri yang mengandung tenaga dalam sangat tinggi. Benturan pukulan mereka itu menimbulkan suara ledakan yang sangat keras.
Jdaaammm !
Kembali tuhuh Puguh dan Ki Jala Seta tersurut mundur hingga beberapa langkah.
Dalam benturan itu, Puguh merasakan pedangnya bergetar keras dan dadanya terasa sedikit sesak.
Sementara Ki Jala Seta, kedua tangannya terasa sangat kebas dan kuda kudanya sedikit bergeser.
Bersamaan dengan itu, kakek tua yang berdiri di belakang Rengganis juga merasa terkejut saat melihat senjata pedang yang dibawa Puguh.
"Anak muda ! Dari mana kau peroleh senjata pedang itu ?" tanya Ki Jala Seta.
"Tidak mungkin ! Aku belum pernah mendengar kisah, dia mengangkat seorang murid !" sahut Ki Jala Seta lagi, "Tunjukkan kalau kau memang pewaris ilmunya !"
Kemudian, dengan cara memegang senjata dayung besar itu yang agak berbeda, Ki Jala Seta menaikkan aliran tenaga dalamnya.
Terlihat getaran dan terdengar suara dengungan saat senjata dayung itu terkena aliran tenaga dalam.
Kemudian, karena begitu cepatnya Ki Jala Seta melenting ke atas, sehingga tubuhnya seperti menghilang dan tiba tiba tubuhnya sudah dari atas meluncur ke arah Puguh.
Sementara itu, Puguh terkejut melihat senjata dayung di tangan laki laki gemuk yang menjadi lawannya itu bergetar dan berdengung.
Namun karena dulu juga pernah mengalami hal seperti itu, tidak membuat Puguh merasa panik.
Segera ditingkatkannya aliran tenaga dalamnya dalam jumlah yang besar sehingga membuat bilah pedangnya yang mengeluarkan nyala hijau terang, bergetar dan mengeluarkan suara dengungan juga.
Saat tubuh Ki Jala Seta menghilang, dengan pandangannya yang tajam, Puguh melihat lawannya itu melesat ke atas.
Segera saja Puguh menotolkan ujung jari kakinya, sehingga tubuhnya melesat terbang ke atas ke arah datangnya serangan Ki Jala Seta.
Melihat anak muda yang menjadi lawannya bisa melesat secepat dirinya, Ki Jala Seta sebenarnya terkejut. Namun karena sudah dalam posisi meluncur menyerang, Ki Jala Seta segera mengayunkan senjata dayung besarnya dari arah samping kanan.
Bersamaan dengan itu, senjata pedang Puguh juga terayun dengan cepat menghadang arah laju senjata dayung besar Ki Jala Seta.
Terdengar suara ledakan hebat di udara saat terjadi benturan senjata pedang dengan senjata dayung besar.
Klang ! Klang !
Dbaaammm ! Dbaaammm !
Begitu cepatnya gerakan mereka berdua, sehingga hanya terlihat kelebatan tubuh mereka yang kadang saling mendekat berbenturan, kadang saling menjauh.
Merasa belum bisa mendesak lawannya yang masih muda, Ki Jala Seta terus menambah aliran tenaga dalamnya yang seperti tidak ada habisnya. Membuat tubuhnya yang penuh dengan getaran tenaga dalam tingkat sangat tinggi, seperti mengeluarkan uap tipis.
Sementara Puguh yang berusaha mengimbangi kekuatan lawannya, juga mengeluarkan tenaga dalam sampai pada tingkat yang belum pernah dia keluarkan.
Aliran tenaga dalam yang sangat besar itu tidak hanya membuat bilah pedangnya mengeluarkan sinar hijau terang, tetapi tubuhnya juga mulai diselimuti uap hijau terang.
Benturan dua senjata itu kembali terjadi berulang kali.
Sementara itu di bawah, kakek tua yang berdiri di belakang Rengganis, menyaksikan pertarungan itu dengan mata yang terbelalak dan berbinar.
"Apakah anak muda itu benar benar mewarisi ilmu kesaktian pendekar yang telah lama lenyap dari dunia persilatan ? Atau Pendekar Penunggang Elang itu bereinkarnasi dalam tubuh anak muda itu ?" kata kakek tua itu dalam hati.
Bersamaan dengan itu, Rengganis yang berdiri di depan kakek tua itu, tidak pernah terlepas pandangannya pada pertarungan Puguh dengan perasaan penuh kecemasan.
Tanpa Rengganis sadari, dari rasa cemas itu membuat tubuhnya ikut bersiaga. Aliran tenaga dalamnya memenuhi dan menyelimuti seluruh tubuhnya, hingga muncul getaran aneh di sekeliling tubuhnya dan juga sinar tipis yang membentuk pola pola aneh di seluruh tubuhnya.
Hingga suatu saat pada pertarungan Puguh melawan Ki Jala Seta. Ki Jala Seta mengayunkan senjata dayung besarnya berkali kali ke arah Puguh dengan menggunakan jurus yang belum pernah dia mainkan sebelumnya. Karena jurus itu sebenarnya hendak dia gunakan untuk melawan kakek tua berambut putih tadi.
Setelah mencecar dengan ayunan senjata dayung besar hingga puluhan atau mungkin ratusan kali, ujung dayung besar itu berhasil menghindari tangkisan Puguh dan melesat cepat ke arah pinggang kiri Puguh.
Dalam posisi pedang yang tidak memungkinkan lagi bagi Puguh untuk menangkis, Puguh menambah aliran tenaga dalamnya dalam jumlah yang dangat besar ke arah pinggang kiri dan sekitarnya.
Dan tidak terhindarkan lagi, senjata dayung besar itu menghantam pinggang kiri Puguh hingga menimbulkan suara ledakan yang sangat keras.
Blaaannnggg !
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_