
Pada pagi hari berikutnya, berita tentang gugurnya Nyi Jinten dan Ki Klewang Klewung segera menyebar dan didengar oleh para sahabatnya, setelah ada beberapa orang yang kebetulan lewat dan melihat jasad mereka yang telah menghitam, dan kemudian melaporkan ke kampung yang letaknya di pinggir kotaraja.
Ki Pande yang mendengar itu, langsung menemui Ki Tanggul Alas dan Ki Kebo Ranu dan mengajaknya untuk mencari dan menangkap Tangan Iblis.
Atas kerjasama mereka bertiga yang apik, membuat Ki Pande, Ki Tanggul Alas dan Ki Kebo Ranu bisa dengan cepat menemukan Tangan Iblis, yang saat itu baru saja memasuki sebuah kampung di sisi yang lain yang dekat dengan kotaraja.
Tangan Iblis yang belum sempat mendapatkan korbannya itu langsung dikepung oleh mereka bertiga.
"Berhenti kau ! Menyerahlah atau kau kami lumpuhkan dan kami tangkap !" teriak Ki Pande.
Tangan Iblis atau Ki Kama Catra tidak menjawab. Tatapan matanya kosong. Kedua cumping hidungnya bergerak gerak seolah sedang membaui sesuatu.
Setelah beberapa saat memperhatikan wajah dan postur tubuh Tangan Iblis, Ki Pande dalam hati terkejut.
"Bukankah dia ...ahhh ...aku seperti pernah bertemu dengannya sebelumnya !" kata Ki Pande dalam hati.
Tangan Iblis tidak menjawab pertanyaan Ki Pande, justru menatap dengan tajam mereka bertiga. Sinar matanya berkilat, seakan ada yang menarik perhatiannya.
Kemudian, tanpa menggunakan basa basi, Tangan Iblis melesat sangat cepat ke arah Ki Pande dan langsung melayangkan beberapa kali serangan.
Ki Pande yang sudah bersiap karena telah mempunyai gambaran akan tingkat kekuatan lawannya, walau belum ingat persis siapa lawannya, segera menyambut serangan Tangan Iblis. Sehingga dalam waktu yang singkat, terjadi benturan serangan yang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi.
Plak ! Plak !
Duuuggghhh !
Dalam benturan serangan itu, keduanya sama sama terdorong mundur tiga langkah dengan cukup keras.
Ki Pande yang terkejut karena dalam sesaat tangannya seperti ditarik lawannya. Untungnya tadi Ki Pande langsung mengeluarkan tenaga dalam dalam jumlah yang cukup besar. Ki Pande juga sedikit terkejut, karena lawannya bisa mengimbangi tenaga dalamnya, yang membuatjya jadi teringat tentang siapa lawannya.
"Aku ingat sekarang ! Dia Ki Kama Catra ! Bukankah dia tinggal di kotaraja ?" kata Ki Pande dalam hati.
"Ki Kama Catra ! Ilmu apa yang kau ciptakan, sehingga kau menjadi seperti binatang buas ?" tanya Ki Pande. Pertanyaan yang juga membuat Ki Tanggul Alas dan Ki Kebo Ranu terkejut.
"Ki Pande ! Benarkah dia Ki Kama Catra ?" tanya Ki Tanggul Alas.
"Tidak salah lagi ! Hati hati Ki Tanggul Alas, Ki Kebo Ranu ! Sepertinya Ki Kama Catra telah mengembangkan ilmu iblis !" kata Ki Pande, "Ayo kita tangkap dia ! Kita serang terus menerus ! Langsung gunakan tenaga dalam tingkat tinggi, agar kekuatan dan tenaga dalam kita tidak diserap olehnya. Jangan berikan kesempatan padanya untuk memulai ilmu iblisnya !"
Ki Pande yang pernah mendengar adanya ilmu iblis, atau ilmu yang didasari dari pemujaan terhadap iblis, pernah mendengar kisah kisah cara menghadapinya.
Segera saja, Ki Pande, Ki Tanggul Alas dan Ki Kebo Ranu mengurung Tangan Iblis atau yang mereka kenal. sebagai Ki Kama Catra.
Dikeroyok tiga orang tokoh persilatan yang kemampuannya nyaris setingkat dengannya, menjadi hal yang sangat berat bagi Tangan Iblis. Bahkan kekuatan iblis yang menambah tingkat kekuatan dan tenaga dalamnya, masih juga tidak mampu mengimbangi keroyokan tiga tokoh senior dunia persilatan itu.
Pertarungan baru memasuki jurus ke lima puluh, namun Tangan Iblis sudah keteter dan perlahan lahan terdesak. Berkali kali tongkat Ki Tanggul Alas dan sabit bergagang panjang Ki Kebo Ranu berhasil mengenai tubuhnya.
Untung bagi Tangan Iblis, dengan kekuatan iblis yang memasuki tubuhnya, semua luka luka yang didapatnya tidak terasa dan sepertinya tidak mengganggu gerakannya.
Hanya saja, dirinya terpaksa harus selalu bergerak, untuk menghindari serangan senjata lawan, terutama sepasang palu besi di tangan Ki Pande.
Saat pertarungan berjalan sekitar seratus jurus, keadaan Tangan Iblis semakin payah. Banyak luka menghiasi tubuhnya.
Hingga pada suatu saat, punggung Tangan Iblis terkena tongkat Ki Tanggul alas, yang membuat tubuhnya tersentak dan terdorong ke depan.
Duuuggghhh !
Saat tubuh Tangan Iblis sempoyongan ke depan, tiba tiba dengan gerakan yang sangat cepat, sabit bergagang panjang milik Ki Kebo Ranu berhasil menyobek perutnya.
Sraaattt !
Pada saat itulah, palu besi di tangan kanan Ki Pande melesat dan tepat mengenai dada Tangan Iblis.
Buuuggghhh !
Terkena hantaman palu besi yang besarnya seukuran kepala manusia, tubuh Tangan Iblis terhempas ke belakang dan akhirnya jatuh terlentang dengan dada yang hancur.
Tubuh Tangan Iblis tergeletak dan tidak bergerak lagi.
Untuk sesaat, Ki Pande menatap tajam tubuh Tangan Iblis. Kemudian perlahan mendekat dan berjongkok di samping tubuh Tangan Iblis untuk memeriksanya.
Namun, belum sempat Ki Pande memeriksa tubuh Tangan Iblis, tiba tiba terdengar suara ledakan beberapa kali disertai munculnya sinar berkeredepan di langit dari arah kotaraja.
Ki Pande pun mengurungkan niatnya untuk memeriksa tubuh Tangan Iblis. Sambil menatap ke arah munculnya sinar berkeredapan, Ki Pande berdiri lagi.
"Ki Tanggul Alas, Ki Kebo Ranu, kelihatannya, istana kerajaan mendapatkan serangan !" kata Ki Pande.
"Ayo kita ke kotaraja. Siapa tahu, tenaga kita dibutuhkan di sana !" sambung Ki Pande.
Sesaat kemudian, terlihat tiga tubuh melesat dengan sangat cepat ke arah kotaraja, tepatnya ke arah istana kerajaan.
Tempat pertarungan seketika menjadi senyap. Hanya suara desir angin yang menjamah dan menggerakkan dedaunan.
Setelah beberapa waktu tergeletak terdiam, tiba tiba, dari telapak tangan kanan Tangan Iblis, keluar gumpalan asap tipis dalam jumlah yang cukup banyak.
Asap tipis itu bergerak perlahan menyusuri tubuh Tangan Iblis dan kembali meresap ke dalam luka luka di tubuh Tangan Iblis
Setelah beberapa waktu, terlihat luka luka di sekujur tubuh Tangan Iblis, menutup dan pulih kembali. Bahkan luka menganga di perut Tangan Iblis pun perlahan menutup lagi.
----- * -----
Di pinggiran kotaraja, di sisi yang lain, dalam waktu yang bersamaan.
Setelah mendengar kabar tentang kematian Ki Klewang Klewung dan Nyi Jinten, Ki Dwijo yang saat itu masih bersama dengan Ki Bhanujiwo dan Den Roro, berjaga dengan penuh kewaspadaan, setelah mereka merasakan getaran kekuatan yang sangat besar yang mengarah ke tempat mereka.
Mereka sengaja datang ke sisi pinggiran kotaraja yang masih belum didatangi oleh Tangan Iblis.
Namun, baru saja mereka tiba di pinggiran kotaraja, tiba tiba mereka di kejutkan dengan adanya getaran kekuatan yang mengarah ke tempat mereka bertiga.
Belum juga mereka menyusun rencana, muncul tepat di depan mereka, sesosok tubuh yang membuat Ki Dwijo dan Ki Bhanujiwo terkejut.
Kemunculan Ki Kama Catra di tempat itu, dengan sikapnya yang aneh membuat Ki Dwijo dan Ki Bhanujiwo heran sekaligus terkejut.
Karena sepengetahuan Ki Dwijo dan Ki Bhanujiwo, Ki Kama Catra berada di kotaraja, setelah mengundurkan diri dari dunia persilatan.
"Ki Kama Catra ! Kenapa kau bisa sampai di tempat ini ?" tanya Ki Dwijo.
Ki Kama Catra seolah tidak mendengar apa yang di ucapkan oleh Ki Bhanujiwo.
Ki Kama Catra menatap wajah ketiga orang yang menghadang jalannya. Kemudian setelah itu, tubuh Ki Kama Catra melesat dengan sangat cepat ke arah mereka bertiga.
Sesaat kemudian, terdengar suara ledakan berkali kali, ketika serangan mereka saling berbenturan.
Plak ! Plak ! Plak !
Blaaammm ! Blaaammm !
__________ ◇ __________