Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Pendekar Penyebar Cinta


Terkena hantaman dayung pada pinggang kirinya, Puguh terlempar ke kanan cukup jauh dalam posisi masih melayang.


Sedangkan Ki Jala Seta, sesaat setelah suara ledakan itu tubuhnya terpental ke belakang akibat daya tolak tenaga dalam Puguh yang sangat kuat. Senjata dayung besarnya pun terlepas dari tangannya dan melayang jatuh di depan kakek tua berambut putih yang berdiri di bawah.


Sementara itu, melihat Puguh terkena sabetan senjata dayung besar, Rengganis sudah tidak bisa menahan diri. Amarahnya yang memuncak karena melihat Puguh terluka, membuat tubuhnya melesat dengan sangat cepat mengejar Ki Jala Seta yang terpental.


Ki Jala Seta melihat, gadis muda yang tadi di bawah melihat pertarungan, melesat ke arahnya. Namun Ki Jala Seta tidak mengira, jika kecepatan gadis muda itu bisa secepat sekarang ini.


Merasa tidak bisa menghindar lagi, Ki Jala Seta berusaha memutar senjata dayung besarnya untuk melindungi tubuhnya.


Namun lagi lagi Ki Jala seta terkejut. Senjata dayung besarnya belum sempat mengangkat dayung besar itu ke depan tubuhnya, telapak tangan Rengganis sudah mengenai dadanya.


Pukulan Rengganis terlihat pelan bahkan tidak menimbulkan suara. Namun akibatnya, tubuh Ki Jala Seta terlempar jauh ke belakang kemudian meluncur ke bawah dan jatuh terhempas di tanah.


Sesaat tubuh besar Ki Jala seta tidak bergerak. Kemudian, Ki Jala Seta berusaha bangkit lagi. Namun baru saja terduduk, Ki Jala Seta harus memuntahkan darah segar hingga dua kali.


Sementara itu, masih dalam keadaan melayang, Rengganis segera menghampiri Puguh.


Namun Rengganis dibuat terkejut saat melihat Puguh melayang dengan jubah hijau yang melambai lambai terkena sedikit angin.


"Kakang Puguh ? Kakang Puguh tidak terluka ?" tanya Rengganis yang heran Puguh terlihat sehat sehat saja.


"Kakang tidak apa apa adik Rengganis !" jawab Puguh sambil tersenyum, "Kakang baru saja tahu cara memunculkan jubah ini dan kegunaannya."


Memang. Saat Puguh ingin melindungi pinggang kirinya dari hantaman senjata dayung besar, Puguh mengeluarkan banyak sekali tenaga dalam yang kemudian di sebarkan ke seluruh tubuhnya terutama ke pinggang kirinya.


Saat tubuhnya diselimuti tenaga dalam tingkat sangat tinggi hingga dalam jumlah yang sangat besar, membuat jubah hijau yang Puguh warisi dari Pendekar Penunggang Elang, akhirnya keluar dan aktif.


Keluarnya jubah itu bertepatan dengan saat senjata dayung besar hampir mengenai pinggangnya, sehingga Puguh terlindungi oleh senjata pusaka dan akhirnya selamat karena hanya terlempar terdorong hantaman senjata dayung besar itu.


Bersamaan dengan itu, di bawah, kakek tua berambut putih itu dibuat terkejut lagi dengan tehnik tenaga dalam dari Rengganis.


"Gadis muda itu, ... Memiliki tehnik yang langka itu. Sungguh menarik !" gumam kakek tua berambut putih itu.


Kemudian, begitu melihat Ki Jala Seta terhempas di tanah, kakek tua berambut putih itu segera berjalan menghampiri Ki Jala Seta yang duduk berlutut dan diam tak bergerak dengan muka yang sangat pucat. Nafasnya terlihat sangat berat. Di kedua ujung bibirnya masih terlihat sisa sisa darah.


Kemudian, dengan telapak tangan kanannya, kakek tua berambut putih itu memeriksa dada dan seluruh tubuh Ki Jala Seta. Seluruh pembuluh darah di tubuh Ki Jala Seta terlihat berwarna hijau dan menonjol di bawah kulit tubuhnya.


Betapa terkejutnya kakek tua berambut putih itu, saat mengetahui luka yang diderita oleh Ki Jala Seta.


"Aahhh ! Sepertinya Ki Jala Seta sudah terluka saat senjatanya membentur tubuh anak muda itu !" kata kakek tua berambut putih itu dalam hati.


Kemudian, dengan cepat disambarnya senjata dayung besar yang tergeletak dan diraihnya tubuh Ki Jala Seta dan diletakkan di pundak kecilnya seolah barang yang ringan tidak ada bobotnya.


Kakek tua berambut putih dan Ki Jala Seta, sudah tidak ada di tepi danau itu, saat Puguh dan Rengganis turun lagi ke tanah.


"Kenapa mereka berdua pergi ?" gumam Rengganis dengan heran. Puguh juga terheran.


"Memang benar, cerita Ki Sugih Brana. Di Kerajaan Kisma Pura ini banyak pendekar yang sulit diukur kesaktiannya !" kata Puguh dalam hati.


Kemudian, Puguh dan Rengganis kembali ke jalan dan meneruskan perjalanan. Setelah melewati satu bukit lagi, akhirnya mereka tiba di sebuah kota yang cukup besar. Kota yang cukup sering dikunjungi para pendekar yang sedang berkelana ataupun melakukan perjalanan.


Seperti biasanya, Puguh dan Rengganis selalu mencari warung makan yang ada pengunjungnya, namun belum terlalu ramai, untuk sekedar mencuri dengar orang orang bercerita tentang dunia persilatan.


Saat mereka berdua hendak menuju ke sebuah warung makan yang cukup besar, Puguh dan Rengganis melihat keributan di halaman warung makan itu.


Terlihat seorang laki laki dengan pakaian yang mewah seperti seorang pembesar sedang dikepung oleh tiga orang gadis dewasa yang berpakaian sama.


"Pendekar cabul ! Dimana kau sembunyikan saudara kami ! Kembalikan, atau kami terpaksa menghajarmu !" kata salah satu dari tiga gadis itu.


"Haahhh ha ha ha ! Aku bukan Pendekar cabul. Namaku Pendekar Penyebar Cinta. Mari adik adik cantik, kalian bertiga ikut aku, nanti akan aku tunjukkan dimana saudaramu itu !" jawab laki laki yang mengaku bernama Pendekar Penyebar Cinta itu.


"Ciihhh ! Tidak sudi kami menjadi korbanmu ! Hari ini, kami akan menghentikan petualangan cabulmu !" sahut salah seorang gadis itu.


"Ayo kita hajar penjahat cabul ini !" teriak gadis yang satunya lagi.


Kemudian, tiga orang gadis itu mulai menyerang laki laki yang berjuluk Pendekar Penyebar Cinta.


Sementara pengunjung warung makan yang lainnya memilih menyingkir dan pergi meninggalkan warung makan itu.


Sedangkan para pendekar yang lain, yang kebetulan sedang makan di warung makan itu, semuanya tergesa gesa menghabiskan makanan mereka dan segera pergi dari warung makan itu. Karena begitu mereka melihat gambar simbol yang terdapat di dada kiri ketiga gadis itu, mereka tidak mau berurusan dengan gadis gadis itu.


Pada pakaian yang dikenakan oleh ketiga gadis itu, di dada kirinya terdapat simbol hati berwarna hitam. Simbol hati berwarna hitam itu, dimiliki oleh Trah Keluarga Asmara Dhatu.


Semua anggota keluarga Trah Asmara Dhatu sangat disegani kawan dan ditakuti lawan.


Hal itu, karena semua anggota keluarga Trah Asmara Dhatu sangat kejam dan tegas kepada siapapun yang melakukan kejahatan.


Selain itu, banyak dari anggota keluarga Trah Asmara Dhatu yang berilmu sangat tinggi.


Namun, yang dihadapi oleh ketiga gadis dari Trah Asmara Dhatu kali ini adalah Pendekar Penyebar Cinta. Seorang pendekar yang berilmu sangat tinggi, setingkat dengan Ki Jala Seta.


Walaupun sudah mengeroyok tiga, setelah pertarungan berjalan sekitar sepuluh jurus, ketiga gadis itu jutru terdesak dan kewalahan menghadapi Pendekar Penyebar Cinta itu.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_