
Kemudian, selama beberapa hari berikutnya, Rengganis diobati oleh Aswa Kudana dan Aswa Muka.
Rengganis semakin percaya kepada keduanya, karena mereka berdua tidak pernah menunjukkan gelagat hendak berbuat jahat kepadanya.
Jika berdiri secara normal, tinggi tubuh Aswa Kudana dan Aswa Muka hanya setinggi pinggang Rengganis, tetapi tubuhnya melebar ke samping dan kedepan serta ke belakang. Sehingga tubuhnya menjadi bulat seperti bola yang besar.
Dibalik bentuk tubuh Aswa Kudana dan Aswa Muka yang sangat aneh dan menakutkan, bahkan setiap orang yang bertemu dengan mereka, tidak akan mengira kalau mereka berdua itu juga manusia, keduanya memperlakukan Rengganis dengan sangat baik.
Selain terus bersemedi dan melatih pernapasannya untuk meningkatkan jumlah tenaga dalamnya, beberapa kali Rengganis mendapatkan pengobatan dengan aliran tenaga dalam untuk membersihkan sisa sisa racun yang masih mengendap di dalam simpul simpul syaraf dan pembuluh darahnya.
Terkadang, untuk menghilangkan kejenuhan, Rengganis diajak berlatih tanding.
Dalam latih tanding itu, Rengganis terkejut sekaligus kagum dengan kecepatan gerak Aswa Kudana dan Aswa Muka. Dengan tubuh mereka berdua yang bulat pendek dan besar, ternyata mereka berdua bisa bergerak dengan sangat cepat.
Karena selama berlatih tanding, Rengganis selalu berusaha bisa mengimbangi kecepatan Aswa Kudana dan Aswa Muka, tanpa Rengganis sadari kecepatannya mengalami peningkatan yang cukup pesat.
Selain itu, seiring dengan hilangnya endapan racun dan pengaruh sihir pada simpul simpul syaraf dan pembuluh darahnya, ditambah dengan keadaan jumlah tenaga dalamnya yang masih sedikit, membuat Rengganis secara tidak langsung melatih tehnik menyatukan kekuatannya dengan kekuatan yang dia serap dari tumbuhan yang serabut akar ataupun akar akar kecilnya menembus dinding atas goa, sejak dari awal atau dasar. Hal itu membuat tingkat kekuatan Rengganis naik pesat.
Kekuatan tumbuhan yang keluar dari serabut akar ataupun akar akar kecil yang menjuntai di dinding atas goa, yang diserap oleh Rengganis itulah yang membuat munculnya suara gemuruh angin, setiap Rengganis melakukan semedi.
Satu hal yang membuat Rengganis heran namun juga senang adalah, Aswa Kudana dan Aswa Muka tidak pernah sekalipun menanyakan, dari mana Rengganis mendapatkan ilmunya atau siapa yang menjadi gurunya.
Selain itu, Rengganis juga merasa kagum dengan dua manusia bulat itu. Walaupun sekilas tehnik dan jurus jurus ilmu bela diri mereka terlihat sederhana, tetapi karena sudah disesuaikan dengan bentuk postur tubuh mereka, ditambah dengan kecepatan yang mereka miliki, membuat serangan serangan mereka berdua sangat berbahaya dan sulit untuk ditebak.
Tanpa terasa, sudah berhari hari Rengganis ditemani oleh Aswa Kudana dan Aswa Muka, tinggal dan berlatih di dalam goa di dinding tebing yang terletak di bawah permukaan air laut.
Seluruh simpul simpul syaraf dan pembuluh darah Rengganis, sudah bersih dari racun dan sihir. Sehingga Rengganis terlihat sangat sehat. Kecantikan alami yang khas sudah kembali terlihat di wajahnya.
Hari demi hari menemani Rengganis berlatih, ada satu hal yang sangat menarik perhatian Aswa Kudana dan Aswa Muka.
"Gadis manusia ini memiliki tehnik pernapasan dan tehnik penyerapan kekuatan, dari kekuatan tumbuhan. Gadis manusia yang sangat beruntung, mewarisi tehnik penyerapan kekuatan, dan sepertinya juga mewarisi kekuatan dari Dewi Kehidupan !" gumam Aswa Kudana.
"Sebenarnya akan lebih cepat memulihkan tenaga dalamnya, kalau gadis manusia itu berlatih di hutan atau di tempat yang ada pohon pohon besarnya !" kata Aswa Muka menimpali ucapan Aswa Kudana.
"Memang benar. Tetapi, biarlah dia berlatih di tempat ini dulu, tempat yang sangat minim dengan sumber kekuatan yang dia butuhkan. Agar landasan kekuatannya benar benar kokoh dulu, ditempa dalam kondisi hanya sedikit tenaga dalam yang dia miliki. Kalau dasarnya sangat kokoh, seberapapun sumber kekuatan yang dia serap, akan mudah masuk ke tubuhnya dan mudah dikendalikannya !" jawab Aswa Kudana.
"Munculnya kekuatan Dewi Kehidupan, biasanya diawali dengan banyaknya kematian yang disebabkan oleh munculnya kekuatan siluman manusia !" kata Aswa Muka.
"Bukankah kekuatan siluman manusia sudah muncul ? Termasuk dua getaran kekuatan yang menguntit di belakang kita kemaren lusa, saat kita menuju ke sini !" tanya Aswa Kudana.
"Benar. Maka biarlah gadis manusia ini memiliki dasar penyatuan kekuatan yang kokoh dulu !" jawab Aswa Muka.
Sementara itu, sebelum Puguh tiba di Rawa Jingga. Di belakang Nyi Riwut Parijatha dan bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh Nyi Riwut Parijatha. Di dunia siluman, Kala Rekta menyebar kekuatan siluman manusia ke segala arah.
Tujuan utama siluman manusia itu adalah mencari anak manusia yang membunuh Kala Caraka, anak dari Kala Rekta. Namun, yang terjadi kemudian adalah, para siluman manusia itu, selalu berbuat kerusuhan dan kejahatan di dunia manusia.
Selain Kala Dupa dan Kala Soca, masih ada beberapa lagi siluman siluman manusia yang tingkat kekuatannya setara dengan kekuatan mereka berdua dan Kala Rekta.
Saat Puguh tiba di Rawa Jingga dan bertemu dengan Nyi Riwut Parijatha, Kala Dupa dan Kala Soca sudah pergi lagi melalui alam siluman dengan membawa sepasukan siluman manusia, menuju ke bukit, tempat tinggal Trah Keluarga Asmara Dhatu.
Sesampai di pintu gerbang menuju ke komplek bangunan tempat tinggal anggota Trah Keluarga Asmara Dhatu, rombongan siluman manusia Kala Dupa dan Kala Soca dihadang oleh anggota inti Trah Keluarga Asmara Dhatu, yang dipimpin langsung oleh Kartika Dhatu.
"Grrwww ! Siapa yang menjadi pemimpin kalian !" tanya Kala Dupa dengan tidak memakai kesopanan sama sekali.
"Kalian siapa, datang datang langsung menanyakan pemimpin kami ?" tanya salah seorang anggota inti Trah Keluarga Asmara Dhatu.
"Grrwww ! Kami pasukan yang akan memberikan hukuman pada siapapun yang ikut dalam pertarungan di Padepokan Wukir Candrasa yang menyebabkan kematian saudara kami !" sahut Kala Soca.
"Jadi kalian hendak membalas dendam atas kematian manusia setengah siluman Kala Caraka pada pertarungan itu ?" tanya Kartika Dhatu sambil maju dua langkah ke depan.
"Grrwww ! Jadi kalian semua ikut dalam pertarungan itu ?" sahut Kala Soca lagi sambil menghentakkan senjata gada yang sudah digenggam di tangan kanannya ke tanah. Gerakan yang diikuti oleh seluruh pasukan siluman manusia, sehingga menimbulkan suara hentakan ke tanah berkali kali.
Jdammm ! Jdammm ! Jdammm !
"Grrwww ! Kalau begitu, bersiaplah untuk menerima pembalasannya !" teriak Kala Soca yang kemudian memberi aba aba pada pasukannya untuk menyerang.
Akhirnya, tanpa bisa dihindari lagi, terjadi pertarungan yang terlihat tidak seimbang dan sangat timpang.
Anggota Trah Keluarga Asmara Dhatu yang seluruhnya wanita, dengan tubuh yang kecil kecil dan terlihat lemah, yang hanya bersenjatakan selendang, berhadapan dengan sepasukan siluman manusia yang tingginya mencapai dua kali tinggi tubuh manusia dewasa dan semuanya menggenggam senjata gada yang besar besar dan panjang.
"Buat formasi pertahanan ! Jangan biarkan satupun dari mereka bisa memasuki tempat tinggal kita !" teriak Kartika Dhatu sambil mengeluarkan dua senjata selendang.
Kala Soca yang berdiri paling dekat dengan Kartika Dhatu, langsung melenting sangat cepat ke arah Kartika Dhatu dan langsung melakukan serangan pada Kartika Dhatu.
Melihat sabetan senjata gada yang berbahaya dan mengandung tenaga dalam yang sangat kuat, Kartika Dhatu segera memutar dua buah senjata selendangnya, untuk menahan serangan senjata gada.
Sesaat kemudian terjadilah pertarungan yang diiringi oleh suara benturan senjata berulang kali.
Ctakkk ! Ctakkk ! Ctakkk ! Ctakkk !
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_