Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Ilmu Pedang Cakar Jatayu


Selama beberapa hari, Rengganis dan Puguh tinggal di tempat tinggal Ki Bajraseta. Namun, selama itu pula, merasakan keresahan. Hatinya selalu tidak tenang setiap dia teringat saat tinggal di dasar jurang. Ingatan itu selalu menumbuhkan kebenciannya pada Ki Bajraseta.


Selain itu, Puguh selalu memikirkan satu hal, perkataan Ki Bajraseta tentang Ki Bhanujiwo. Puguh ingin sekali mengabarkan hal ini pada Ki Dwijo gurunya dan juga ingin sekali mengetahui keberadaan Ki Bhanujiwo.


Untungnya, tidak lama kemudian, Rengganis mengajak Puguh untuk mengembara lagi.


Setelah berpamitan dengan Ki Bajraseta, Rengganis dan Puguh kembali melakukan perjalanan untuk mengembara. Namun kali ini Puguh yang mengajak Rengganis untuk menemui gurunya. Selain itu, Puguh juga ingin mencari Ki Bhanujiwo.


----- * -----


Jauh dari tempat tinggal Ki Bajraseta. Di atas tebing yang membentuk sebuah bukit. Terlihat seorang gadis sedang berlatih ilmu silat sendirian di sebuah rumah kecil yang menghadap tanah lapang yang cukup luas.


Dengan dua pedang pendek di kedua tangannya, gadis itu mengulang ulang jurus pedang yang terlihat halus gerakannya namun sangat dahsyat hasil serangannya.


Setiap selesai mempraktekkan seluruh rangkaian jurus pedangnya, kemudian gadis itu maju agak jauh dan memeriksa batu sebesar kepalan tangannya yang tergeletak di tanah di depannya dalam jarak sekitar sepuluh meter. Namun setiap kali pula, kepalanya menggeleng geleng dan kemudian mengulang semua gerakan jurusnya dari awal.


Dengan membelakangi sinar matahari, dalam setiap gerakan jurusannya, terlihat lekuk lekuk tubuhnya yang sangat indah laksana bunga yang sedang mekar.


Titik titik keringat kecil menghiasi hidungnya yang cukup mancung, yang bertengger di wajahnya yang cantik.


Kecantikannya itu diperjelas lagi dengan kulit wajah dan tubuhnya yang cukup putih.


Dialah Den Roro, yang sekarang menjelma menjadi gadis perkasa berkat bimbingan dan didikan Ki Bhanujiwo yang telah menyelamatkannya.


Dalam didikan Ki Bhanujiwo, Den Roro menggunakan senjata dua pedang pendek. Hal ini dimaksudkan Ki Bhanujiwo, karena dua pedang pendek jika dimainkan, lebih ringan daripada pedang panjang, sehingga lebih cocok bagi Den Roro yang postur tubuhnya tidak terlalu besar.


Dan juga, digunakan untuk memainkan jurus ilmu pedang yang diciptakan oleh Ki Bhanujiwo khusus untuk Den Roro yaitu ilmu pedang Cakar Jatayu.


Sebagai gadis yang cukup cerdas, Den Roro dengan cepat dapat memahami dan menguasai semua yang diajarkan oleh Ki Bhanujiwo.


Selain itu, ternyata Den Roro sangat berbakat dalam hal ilmu obat dan pengobatan. Membuat Ki Bhanujiwo bersemangat untuk mewariskan semua ilmu yang ada padanya.


"Sudahlah nduk, istirahat dulu. Jangan terlalu bersemangat. Latihan dilanjutkan dan diulang besok lagi," kata Ki Bhanujiwo yang duduk di teras tempat tinggalnya.


"Iya guru. Tapi masih penasaran, hasilnya belum sempurna seperti guru," jawab Den Roro, "Roro ke belakang dulu guru."


Ki Bhanujiwo hanya tersenyum, melihat semangat muridnya.


Kemudian Ki Bhanujiwo berjalan ke tanah lapang tempat Den Roro tadi latihan. Dilihatnya dari dekat batu sebesar kepalan tangan yang tadi digunakan untuk sasaran latihan Den Roro. Melihat keadaan batu itu, Ki Bhanujiwo menggeleng gelengkan kepalanya.


"Anak itu mengatakan latihannya belum sempurna. Tetapi keadaan batu ini sudah teriris tipis tipis semua. Dia sudah berhasil menguasai ilmu pedang Cakar Jatayu dengan sempurna. Berarti ilmu pedang itu memang tepat dengan karakternya," gumam Ki Bhanujiwo pelan sambil mengambil batu yang sudah teriris tipis tipis itu. Begitu diangkat, batu itu hancur di dalam genggaman Ki Bhanujiwo.


Selama beberapa hari ini, Den Roro memang sangat bersemangat dalam melakukan latihan.


Dalam mempelajari ilmu yang diajarkan oleh Ki Bhanujiwo, Den Roro termasuk sangat cepat menguasainya. Karena sudah mempelajari dasar dasar ilmu silat saat belajar di Padepokan Macan Kumbang, Den Roro juga sangat cepat dalam pemahamannya.


Selain itu, ada hal yang membuat Den Roro ingin segera bisa menyelesaikan latihannya. Gurunya menjanjikan, kalau Den Roro sudah bisa menyelesaikan latihannya secara sempurna, akan mengajak Den Roro melakukan pengembaraan.


Dalam beberapa hari ini, Den Roro terus mengulang ulang latihannya dan selalu merasa hasilnya kurang sempurna.


Melihat hal itu, Ki Bhanujiwo mendekati Den Roro.


"Tetapi guru ... " jawab Den Roro.


"Coba kamu ambil batu yang engkau pakai sebagai sasaran," perintah Ki Bhanujiwo, "Bawalah kesini."


Den Roro segera melakukan apa yang diminta oleh Ki Bhanujiwo gurunya. Namun ketika batu itu diambil, batu itu menjadi kepingan kepingan tipis. Dan ketika akan dibawa untuk diperlihatkan pada gurunya, kepingan kepingan batu itu hancur.


"Guru ... " ucap Den Roro setengah bertanya.


"Iya. Benar muridku. Penguasaan ilmumu sudah sempurna," jawab Ki Bhanujiwo.


Mendengar hal itu, betapa bahagianya Den Roro. Dan kebahagiaannya semakin bertambah lagi saat Ki Bhanujiwo mengajaknya melakukan perjalanan pengembaraan.


Kemudian pada hari berikutnya, Ki Bhanujiwo bersama Den Roro meninggalkan bukit tempat selama ini mereka tinggal.


----- * -----


Setelah selama berpekan pekan melakukan perjalanan, Puguh dan Rengganis sampai di sebuah kota Kadipaten bernama Kadipaten Randu Beteng. Dinamakan Kadipaten Randu Beteng, dikarenakan di pinggir alun alun kadipaten, tumbuh sebatang pohon randu yang luar biasa besar dan tingginya. Sebegitu tingginya pohon randu itu sehingga mirip dengan menara beteng.


Sambil beristirahat, Puguh dan Rengganis mampir di sebuah warung makan yang tidak terlalu besar namun cukup ramai pengunjung.


Mereka berdua sengaja pergi ke warung makan karena sekalian ingin mendapatkan kabar tentang perkembangan dunia persilatan.


Sudah menjadi kebiasaan orang orang dunia persilatan, warung makan adalah tempat yang paling tepat untuk mendapatkan kabar berita tentang perkembangan dunia persilatan, termasuk kejadian kejadian yang terjadi di dunia persilatan.


Saat Puguh dan Rengganis sedang makan, tiba tiba di jalan di depan warung makan itu lewat serombongan orang yang menaiki kuda. Di barisan paling depan, seorang gadis cantik berpakaian serba putih. Di belakang gadis itu, sekitar enam orang laki laki paruh baya yang juga berpakaian serba putih.


Begitu sampai di tengah tengah deretan rumah penduduk yang sebagian besar dijadikan tempat usaha, seperti warung makan tempat Puguh dan Rengganis makan di situ, gadis cantik itu menghentikan kudanya diikuti enam orang laki laki di belakangnya.


Kemudian gadis cantik itu melihat ke kiri dan ke kanan.


"Periksa semua tempat di sekitar sini !" kata gadis cantik itu.


Segera saja keenam orang itu menyebar ke enam arah.


Ada satu orang laki laki paruh baya yang mengarah ke warung makan tempat Puguh dan Rengganis makan. Dia langsung masuk dan berdiri di tengah tengah ruangan. Kemudian pandangannya diedarkan ke sekeliling sambil menatap tajam satu persatu wajah para pengunjung warung makan.


Tiba tiba pandangannya berhenti pada seorang pemuda kurus berbaju sangat sederhana, yang duduknya kebetulan cukup dekat dengan yang ditempati Puguh dan Rengganis.


Pemuda itu mengenakan caping seperti yang biasa dipakai oleh pengembala atau petani.


"Heiii kau ! Cepat kau buka capingmu !" teriak laki laki paruh baya itu.


Pemuda yang sejak tadi makan sambil menunduk, perlahan mengangkat wajahnya. Kemudian perlahan melepas capingnya.


"Haaah ha ha ha ! Akhirnya ketemu juga kau. Tidak ada seorangpun yang bisa bersembunyi dari kejaran Perkumpulan Jaladara Langking !" teriak laki laki paruh baya itu.


__________ ◇ __________