
Di angkasa, naga raksasa hitam keemasan itu dikepung oleh empat naga yang ukuran wujudnya lebih kecil. Berkali kali, serangan hantaman kepala ataupun kibasan ekor naga raksasa itu bertemu dengan serangan dari empat naga yang mempunyai warna merah, putih, biru dan kuning.
Benturan benturan serangan itu menimbulkan suara ledakan keras di angkasa.
Jdaaarrr ! Jdaaarrr ! Jdaaarrr ! Jdaaarrr !
Benturan serangan para naga itu, juga membuat tubuh Pangeran Langit Barat yang mengendalikan naga raksasa hitam keemasan itu bergetar. Demikian juga dengan Kartika Dhatu. Tubuhnya juga tergetar, walaupun tidak sampai menggeser kuda kudanya.
Pada satu kesempatan, Pangeran Langit Barat meningkatkan lagi aliran tenaga dalamnya. Kedua tangannya pun bergerak lebih cepat lagi, sehingga naga raksasa yang di angkasa juga bergerak dan meliuk liuk menyerang lebih cepat lagi.
Menghadapi serangan itu, Kartika Dhatu juga mengeluarkan tenaga dalam yang lebih besar lagi ke kedua tangannya yang memegang empat ujung selendang. Hal itu membuat keempat naga yang berbeda beda warna juga bergerak semakin cepat.
Namun, saat Kartika Dhatu sedang fokus pada gerakan keempat selendangnya, tiba tiba sebuah tombak yang mengeluarkan percikan petir meluncur dari arah belakangnya dan mengenai punggung Kartika Dhatu yang saat itu seluruh tubuhnya sedang dipenuhi dengan selimut tenaga dalam.
Benturan mata tombak itu dengan punggung Kartika Dhatu, menimbulkan kilatan cahaya putih yang sangat terang dan suara yang sangat keras.
Blaaappp !
Blaaarrr !
Melihat hal itu, Pangeran Langit Barat sangat terkejut dan seketika menunda serangannya.
"Panglima Perang Jaladra ! Apa yang kau lakukan !" teriak Pangeran Langit Barat dengan geram.
Tombak yang seluruh permukaannya mengeluarkan kilatan petir dan yang mengenai punggung Kartika Dhatu, adalah tombak yang dilesatkan oleh Panglima Perang Jaladra yang sekarang hanya memiliki tangan kiri.
Karena dendamnya pada Puguh, maka Panglima Jaladra diperintahkan oleh Pangeran Langit Barat untuk menunggu di kaki perbukitan, nekat naik ke atas bukit dan mencampuri pertarungan Pangeran Langit Barat.
Panglima Perang Jaladra berniat, suatu saat ada kesempatan, akan memancing kedatangan Puguh dan menjebaknya.
"Maaf Pangeran ! Dengan menyandera perempuan muda cucu dari Iswara Dhatu, kita bisa memetik beberapa keuntungan ! Kita bisa meminta tebusan dengan Bunga Hitam pada Iswara Dhatu. Dan juga kita bisa memancing dan menjebak anak muda pewaris ilmu ilmu Pendekar Penunggang Elang !" jawab Panglima Perang Jaladra yang telah membokong Kartika Dhatu.
"Persetan dengan itu semua ! Aku sedang menikmati pertarungan ! Aku hanya menyuruhmu untuk menunggu dan menjaga di kaki perbukitan ! Tidak menyuruhmu untuk membantuku ! Aku tidak butuh bantuanmu !" teriak Pangeran Langit Barat.
Kemudian, dengan sangat cepat Pangeran Langit Barat menyambar tubuh Kartika Dhatu yang terdiam tak bergerak dalam keadaan tetap melayang. Seluruh tubuh Kartika Dhatu diselimuti cahaya putih yang sangat terang.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Pangeran Langit Barat segera melesat pergi ke arah permukiman tempat tinggal Trah Keluarga Asmara Dhatu.
Walaupun telah mengobrak abrik semua rumah yang ada di permukiman Trah Keluarga Asmara Dhatu, Pangeran Langit Barat tetap tidak menemukan barang yang dia inginkan yaitu Bunga Hitam.
Akhirnya, karena kecewa tidak menemukan Bunga Hitam, dengan penuh kemurkaan, Pangeran Langit Barat menghancurkan permukiman tempat tinggal Trah Keluarga Asmara Dhatu.
Setelah puas melampiaskan kemarahannya, Pangeran Langit Barat kembali turun dan menemui Panglima Perang Jaladra yang masih menunggu di kaki perbukitan.
"Panglima Perang Jaladra, segera susul Panglima Perang Sada. Perintahkan menarik seluruh pasukan perangnya. Aku tunggu di hutan tempat guru menunggu !" perintah Pangeran Langit Barat pada Panglima Perang Jaladra.
Sementara itu, Pangeran Langit Barat segera melesat ke arah Hutan Perbatasan.
----- * -----
Di tempat yang lain, di kotaraja Kerajaan Kisma Pura.
Iswara Dhatu yang mencari Kartika Dhatu cucunya, tiba di markas darurat Padepokan Kuwanda Brastha. Di sana, Iswara Dhatu akhirnya bisa bertemu dengan Puguh, Rengganis, Resi Wismaya, Ki Dwijo, Ki Prana Jiwa dan para pendekar yang lainnya.
"Maafkan aku, yang baru hari ini bisa bergabung di sini !" kata Iswara Dhatu.
"Tidak mengapa bibi. Justru kami sangat berterima kasih, bibi Iswara Dhatu ada waktu untuk bergabung dengan kami !" jawab Ki Prana Jiwa atau Pangeran Indra Prana.
Iswara Dhatu menyempatkan berbincang bincang dengan mereka semua yang telah di kenal sebelumnya. Terkadang tanpa sengaja, Iswara Dhatu menatap tajam ke arah Puguh, seolah ada yang hendak disampaikan.
Namun, setelah hampir setengah hari berada di markas darurat Padepokan Kuwanda Brastha, Iswara Dhatu tidak menemukan tanda tanda Kartika Dhatu ikut berada di tempat ini. Akhirnya Iswara Dhatu pun menyampaikan maksud sesungguhnya dia datang ke situ.
Iswara Dhatu menceritakan semua yang telah dialaminya dan juga keadaan permukiman Trah Keluarga Asmara Dhatu.
"Ngger Puguh, bibi berharap kau bisa membantu mencari keberadaan Kartika Dhatu cucuku !" kata Iswara Dhatu.
"Kami semua ikut prihatin dengan apa yang terjadi pada bibi Iswara Dhatu dan seluruh Trah Keluarga Asmara Dhatu. Aku akan berusaha sesegera mungkin menemukan adik Kartika Dhatu, bibi. Maafkan kami dan guru guru semua, yang tidak segera mengabarkan keadaan bibi Iswara Dhatu dan seluruh Trah Keluarga Asmara Dhatu !" jawab Puguh.
"Terimakasih Puguh !" kata Iswara Dhatu dengan penuh kelegaan, karena Puguh bersedia membantu mencari keberadaan Kartika Dhatu.
----- * -----
Pada pagi berikutnya, seluruh pendekar kembali diajak berkumpul dan berbincang.
Pada kesempatan itu, Ki Prana Jiwa menyampaikan pada semua pendekar yang hadir.
"Selesai pertempuran dimana kita berhasil menewaskan tiga Panglima Perang Kerajaan Menara Langit yang bernama : Panglima Perang Sada, Panglima Pedang Anggaraksa, dan Panglima Perang Gardapati, aku segera mengirimkan mata mata untuk selalu memantau. Akhirnya kita bisa mengetahui, kenapa beberapa hari ini pasukan perang Kerajaan Menara Langit tidak menyerang kita ! Ternyata, menurut berita dari mata mata terpercaya yang aku kirim, seluruh pasukan perang Kerajaan Menara Langit telah ditarik kembali oleh Pangeran Langit Barat, menuju ke arah Hutan Perbatasan !" kata Ki Prana Jiwa panjang lebar.
"Apapun yang terjadi, paling tidak, peperangan yang terjadi di wilayah Kerajaan Kisma Pura, sudah berhenti !" jawab Resi Wismaya, "Hanya yang menjadi pertanyaan, kenapa Pangeran Langit Barat menarik pasukan perangnya ke arah Hutan Perbatasan".
"Ki Prana Jiwa ! Aku berharap, kita tetap membantu pasukan kerajaan, walaupun Kerajaan Kisma Pura sudah aman untuk sementara waktu !" kata Puguh.
"Tentu pendekar Puguh ! Kita semua tetap akan memerangi mereka sampai mereka benar benar meninggalkan Tanah Jawadwipa ini !" jawab Ki Prana Jiwa.
Akhirnya, disepakati mereka akan menuju ke Hutan Perbatasan. Ki Prana Jiwa atau Pangeran Indra Prana juga akan ikut ke Hutan Perbatasan bersama seluruh anggota Padepokan Kuwanda Brastha.
Sedangkan Puguh dan Rengganis, bersama Iswara Dhatu, hari itu juga akan menuju Hutan Perbatasan, untuk mencari Kartika Dhatu.
---------- ◇ ----------