
Di sore menjelang petang itu, di sepanjang jalan yang berada di pinggir sungai, terjadi sedikit kegemparan.
Senopati Kerajaan Kaling Pura yang menemukan sepotong kulit kayu yang ada tulisannya, menyerahkan potongan kulit kayu itu pada Roro Nastiti.
Ketika membaca tulisan di sepotong kulit kayu itu, yang walaupun tidak menyebutkan nama, namun Roro Nastiti sangat yakin itu tulisan Puguh, Roro Nastiti terlihat gelisah dan mondar mandir seperti orang yang kehilangan sesuatu.
Melihat hal itu, Pangeran Kanaya Wijaya berusaha menenangkan Roro Nastiti.
"Roro Nastiti, tenangkan dulu hatimu. Semua bisa dibicarakan," kata Pangeran Kanaya Wijaya.
"Tetapi Pangeran, Puguh pergi sendirian ... " jawab Roro Nastiti.
"Roro Nastiti !" kata Pangeran Kanaya Wijaya sambil mendekat dan memegang kedua tangan Roro Nastiti, "Kamu bersabar dan tetap di sini dulu. Kamu menemaniku dulu, pulang ke Kerajaan Kaling Pura. Kamu bantu aku untuk mengatur semuanya, sekalian untuk memastikan, kalau situasi Kerajaan Kaling Pura sudah benar benar aman. Setelah itu, kita berangkat bersama sama untuk bergabung dengan para pendekar yang lainnya guna mengusir pasukan perang Kerajaan Menara Langit ! Pendekar Puguh pasti berada di sana !"
Mendengar penjelasan Pangeran Kanaya Wijaya, akhirnya Roro Nastiti mengikuti rombongan Pangeran Kanaya Wijaya, menuju ke Istana Kerajaan Kaling Pura.
----- * -----
Sebelumnya, di medan pertempuran. Kedatangan Rengganis dan Aswa Muka serta Aswa Kudana, membuat Roro Nastiti dan Pangeran Kanaya Wijaya di tempat yang berbeda, kehilangan lawan berat. Sehingga membuat mereka bisa membantu para prajurit yang sudah sangat kewalahan menghadapi pasukan perang Kerajaan Menara Langit yang berjumlah lebih banyak.
Setelah pasukan perang yang Pangeran Kanaya Wijaya hadapi habis, entah kenapa, Pangeran Kanaya Wijaya langsung teringat pada Roro Nastiti. Segera saja Pangeran Kanaya Wijaya melesat untuk mencari Roro Nastiti.
Bersamaan dengan itu, Roro Nastiti yang ikut bertempur bersama para prajuritnya, akhirnya memberikan andil yang besar bagi kemenangan pasukan perang Kerajaan Kaling Pura.
Setelah pertempuran usai, Roro Nastiti melesat pergi mencari Pangeran Kanaya Wijaya, untuk memastikan keselamatannya.
Akhirnya Pangeran Kanaya Wijaya dan Roro Nastiti bisa bertemu di tengah tengah jalan sepanjang tepi sungai. Tanpa mereka sadari, mereka saling berpegangan tangan saat saling berbincang. Bahkan tatapan mata mereka sempat saling menatap dalam waktu yang cukup lama.
----- * -----
Di lain tempat di waktu yang tidak berselisih terlalu lama. Puguh sedang melesat dengan sangat cepat ke arah kotaraja Kerajaan Kisma Pura. Arah yang kebetulan sama dengan arah perginya Rengganis.
Namun, hingga menjelang tengah malam, Puguh yang terus mencari keberadaan Rengganis, tidak bisa merasakan keberadaan getaran kekuatan Rengganis.
Tanpa disadarinya, Puguh terus berlari hingga hari menjelang pagi. Untuk melihat keadaan di sekitarnya, Puguh melesat ke atas, dan sambil melayang melihat ke sekelilingnya.
"Ternyata aku sudah cukup dekat dengan kotaraja Kerajaan Kisma Pura. Apa yang sudah terjadi dengan kota itu ?" gumam Puguh.
Akhirnya Puguh memutuskan untuk masuk ke kotaraja Kerajaan Kisma Pura terlebih dahulu, sebelum mencari Rengganis.
Namun, ketika mendekati perbatasan kotaraja, Puguh merasakan keanehan di sepanjang perbatasan kotaraja. Jalan masuk ke kotaraja bahkan hingga ke gerbang masuk kota terlihat sepi, bahkan jumlah prajurit penjaga pintu gerbang hanya sedikit, tidak sebanyak biasanya.
Melihat hal itu, Puguh teringat dengan Ki Prana Jiwa yang pernah mengatakan, kalau ingin menemuinya, bisa masuk ke kotaraja. Seringnya Ki Prana Jiwa berada di sekitar Istana Kerajaan Kisma Pura.
Tetapi, baru saja Puguh hendak mencari orang yang bisa ditanya , tiba tiba muncul di depannya seorang pendekar yang berpakaian ala pengemis.
"Pendekar Puguh, sudah ditunggu Ki Prana Jiwa dan yang lainnya di markas !" kata pendekar berpakaian pengemis itu.
Puguh baru saja akan menanyakan di mana bisa menemui mereka semua, tetapi pendekar berpakaian pengemis itu sudah lebih dahulu melesat pergi meninggalkannya.
Akhirnya Puguh sambil mencoba mengingat ingat, berjalan mengelilingi bangunan istana.
Ketika sampai di suatu sudut jalan, Puguh segera melesat ke suatu arah dan sempat berbelok arah beberapa kali.
Beberapa waktu kemudian, Puguh tiba di depan sebuah bangunan sederhana namun terlihat cukup rapi. Sesaat kemudian, pintu depan bangunan itu dibuka dari dalam dan keluarlah Ki Prana Jiwa.
"Silahkan masuk Pendekar Puguh !" kata Ki Prana Jiwa yang terlihat tersenyum gembira dengan kedatangan Puguh.
Puguh pun segera masuk ke dalam bangunan sederhana itu dan kemudian duduk di depan Ki Prana Jiwa. Puguh melihat, di dalam bangunan itu hanya ada Ki Prana Jiwa.
"Ki Prana Jiwa, kenapa tidak ada pendekar lainnya yang menemani Ki Prana Jiwa di sini ? Dan kenapa kotaraja terasa lebih sepi, sejak dari jalan menuju ke gerbang kotaraja ini ?" tanya Puguh.
"Pendekar Puguh, sebelum aku menjawab pertanyaanmu, bolehkah aku meminta pendapat Pendekar Puguh terlebih dahulu ?" jawab Ki Prana Jiwa dengan pertanyaan.
"Ki Prana Jiwa hendak meminta pendapat tentang apa ?" tanya Puguh.
"Pendekar Puguh, aku sudah tahu, kalau kau pernah bertarung melawan Prabu Girindra Nata, raja dari Kerajaan Kisma Pura ini dan mengalahkannya. Apa pendapatmu tentang Prabu Girindra Nata dan tentang pemerintahan Kerajaan Kisma Pura ini ?" tanya Ki Prana Jiwa.
"Kalau tentang urusan pemerintahan Kerajaan Kisma Pura, aku tidak begitu paham, tetapi selama pemerintahan Kerajaan Kisma Pura itu memperhatikan dan memenuhi kebutuhan rakyatnya, aku pikir itu baik baik saja. Sedangkan untuk.Prabu Girindra Nata, dia hanyalah orang yang terobsesi dengan ilmu silat. Selama tidak mengganggu tugasnya melayani rakyat dan tidak bertindak kejam pada rakyatnya, itu hal yang biasa bagi seorang yang menyukai ilmu silat !" jawab Puguh.
Mendengar jawaban itu, Ki Prana Jiwa tersenyum lebar, seolah merasa lega dengan jawaban Puguh.
"Terimakasih Pendekar Puguh. Terimakasih juga sudah membantu dan membebaskan Kerajaan Kaling Pura yang tadinya diduduki oleh pasukan perang Kerajaan Menara Langit. Aku sudah mendengarnya dari anggota kami yang ikut membantu bertempur di sana. Para pendekar yang berpakaian pengemis itu adalah anggota kami, Padepokan Kuwanda Brastha dari perkotaan. Sedangkan anggota Padepokan Kuwanda Brastha yang dari daerah pesisir banyak yang tewas dalam pertempuran melawan pasukan perang Kerajaan Menara Langit, sedangkan sebagian kecil tertangkap dan dijebloskan ke dalam penjara !" kata Ki Prana Jiwa sambil berdiri dan kedua tangannya menjura.
"Pendekar Puguh, aku sebenarnya adalah Putra Mahkota Kerajaan Kisma Pura. Namaku yang sebenarnya adalah Pangeran Indra Prana. Hanya orang orang yang aku percaya, yang tahu tentang hal ini !" sambung Ki Prana Jiwa atau Pangeran Indra Prana sambil tangan kanannya membuka topeng tipis yang menutupi wajahnya. Ternyata wajah Ki Prana Jiwa atau Pangeran Indra Prana, tampan dan gagah.
Kemudian, sambil mengenakan lagi topengnya, Pangeran Indra Prana mulai bercerita.
Begitu mendapatkan laporan ada pasukan perang dari Kerajaan Menara Langit yang memasuki wilayah Kerajaan Kisma Pura dan menuju ke kotaraja Kerajaan Kisma Pura, Prabu Girindra Nata segera menyiapkan seluruh pasukan perangnya dan membawa seluruh pasukannya ke perbatasan kotaraja.
Di perbatasan kotaraja, tiba tiba mendekat sekitar seratus perajurit pilihan pasukan perang Kerajaan Menara Langit yang dipimpin oleh salah seorang Panglima Perang Kerajaan Menara Langit.
Panglima Perang itu memberikan tantangan pada Prabu Girindra Nata untuk duel dengan Pangeran Langit Barat.
---------- ◇ ----------