
Di tanah lapang yang cukup luas itu, Puguh terlihat berdiri sendirian. Cukup jauh di depannya serta di sebelah kanan dan kirinya, terlihat berderet pepohonan yang membentuk seperti garis hijau.
"Di mana aku ? Tempat yang seperti perbatasan hutan Setra Jenggala, namun ini lebih luas lagi !" kata Puguh dalam hati.
Puguh belum selesai memperhatikan sekitarnya, ketika tiba tiba telinganya sayup sayup menangkap pembicaraan dan suara tertawa cekikikan beberapa perempuan dari arah belakangnya. Puguh pun pelan pelan memutar tubuhnya hingga menghadap ke belakang.
Saat suara tertawa beberapa perempuan itu sudah terdengar cukup dekat, tiba tiba suara tawa itu berhenti digantikan oleh suara bisik bisik.
"Aduhhh !"
"Sssttt ! Ada ksatria di depan kita !"
"Sepertinya dia ksatria tanah seberang !"
"Ternyata dia tampan juga !"
Saat suara itu berhenti, Puguh melihat empat sosok tubuh perempuan yang berjalan pelan, namun seperti berlompatan cepat sekali dan kemudian melompati dan melewatinya. Tidak berapa lama keempat sosok tubuh itu sudah terlihat jauh dan masuk ke deretan pepohonan.
Sambil memutar tubuhnya lagi, sekilas, pandangan Puguh yang sangat tajam melihat, empat perempuan yang lewat itu masih sangat muda dan semuanya cantik cantik. Dengan pakaian mereka yang warna warni.
"Jagad Dewa Bathara ! Aku terlempar ke negeri mana ini ?" tanya Puguh dalam hati.
Kemudian Puguh kembali memutar tubuhnya ke arah tempat datangnya empat perempuan cantik tadi.
Cukup di depannya, Puguh melihat banyak rumah berdiri berderet.
"Sepertinya itu perkampungan. Sebaiknya aku ke sana untuk bertanya tentang tempat ini !" kata Puguh dalam hati lagi.
Puguh baru saja hendak melangkah ke arah perkampungan, saat tiba tiba merasakan adanya beberapa getaran kekuatan dari arah hutan atau arah yang dituju keempat perempuan tadi.
Akhirnya Puguh tidak jadi menuju perkampungan, karena penasaran dengan yang terjadi di hutan.
Kemudian dengan cepat Puguh melesat ke arah hutan, tempat yang tadi dilewati oleh empat perempuan tadi.
Ketika sampai di pinggir hutan, Puguh mendengar desiran angin dan getaran kekuatan pertarungan. Segera saja Puguh masuk lebih dalam ke hutan.
Di bagian hutan yang cukup lapang, Puguh melihat, empat perempuan tadi sedang bertarung menghadapi keroyokan manusia setengah kera yang semuanya juga perempuan. Dikatakan manusia setengah kera, karena postur tubuh dan warna kulitnya manusia serta ada juga yang cantik, tetapi memiliki ekor dan wajahnya berbulu cukup lebat seperti kera.
Ketika Puguh mendekat, tiba tiba mereka menoleh dan menghentikan pertarungan.
"Kesatria tanah seberang bodoh ! Kenapa kau mendekat ke sini ? Cepat pergi ! Masuk ke perkampungan itu !" teriak salah satu perempuan yang berbaju merah.
Puguh yang belum tahu apa maksud mereka, masih terdiam, ketika tiba tiba sekelompok perempuan manusia setengah kera mengepungnya.
"Manusia daratan ! Kami yang akan mendapatkan kesatria tanah seberang itu, karena kalian sudah tidak bisa menguasainya !" kata salah satu perempuan muda manusia setengah kera yang menjadi pemimpinnya.
"Bawa kesatria itu !" perintah perempuan muda manusia setengah kera tadi.
Mendengar perintah itu, empat perempuan manusia setengah kera yang mengepung Puguh segera bergerak menyerang Puguh. Mereka melompat dengan sangat cepat sambil melayangkan serangan yang bertujuan untuk melumpuhkan.
Puguh yang terkejut dengan kecepatan melompat mereka, beberapa kali menghindar. Namun serangan empat perempuan manusia setengah kera yang beruntun dan bergantian itu membuat Puguh tidak bisa menghindar terus, hingga akhirnya sambil meningkatkan sedikit tenaga dalamnya, Puguh menangkis serangan mereka hingga menimbulkan suara yang cukup keras.
Plakkk ! Plakkk !
Terlihat dua perempuan manusia setengah kera yang serangannya ditangkis oleh Puguh, terdorong mundur dua langkah.
Suara tangkisan itu, untuk beberapa saat membuat pertarungan yang lain terhenti.
Melihat Puguh bisa menghadapi empat lawannya, keempat perempuan muda yang berpakaian warna warni itu, menjadi bersemangat.
Akhirnya terjadi lagi pertarungan empat perempuan muda melawan enam perempuan muda manusia setengah kera.
Selama beberapa waktu, di tanah lapang yang ada di tengah hutan itu terjadi dua pertarungan yang berdekatan.
Hingga akhirnya, saat pertarungan berlangsung sekitar dua puluh jurus, keempat perempuan muda itu mulai terdesak dan beberapa kali terkena serangan.
"Kembalilah manusia daratan ! Kesatria akan menjadi tamu kami !" kata pemimpin manusia setengah kera.
"Kami tidak akan membiarkan kalian menangkap kesatria dari bangsa kami, walau dia berasal dari tanah seberang !" jawab perempuan muda berbaju merah.
"Kalau begitu, terpaksa kami akan membunuh kalian !" sahut perempuan muda pemimpin manusia setengah kera.
Kemudian, keenam manusia setengah kera itu meningkatkan kekuatan serangan mereka, yang membuat empat perempuan muda menjadi semakin terdesak dan hanya bisa bertahan.
Pada saat yang kritis itu, Puguh menaikkan tingkat tenaga dalamnya dan menambah kecepatannya. Hingga dalam beberapa jurus, keempat perempuan manusia setengah kera yang mengeroyoknya terkena serangan pukulan Puguh di dadanya yang membuat mereka terpental ke belakang kemudian terjatuh dan merasa lemas tidak bisa bergerak.
Bukkk ! Bukkk ! Bukkk ! Bukkk !
Kemudian tanpa membuang waktu, Puguh segera melesat masuk ke pertarungan yang satunya. Kedatangan Puguh yang masuk dalam pertarungan itu, mengacaukan segalanya. Enam perempuan manusia setengah kera yang sudah di atas angin itu, harus menerima kenyataan, mereka semua terpelanting dan kemudian jatuh terduduk tidak mampu bangkit lagi, saat pukulan Puguh mengenai dada mereka.
Packkk ! Packkk ! Packkk !
Packkk ! Packkk ! Packkk !
Keempat perempuan cantik yang berpakaian warna warni itu hanya termangu menyaksikan perubahan yang sangat cepat pada pertarungan mereka.
Namun akhirnya mereka seperti tersadar saat mendengar suara Puguh.
"Nona berempat ! Apakah kalian bersedia mengantar aku masuk ke perkampungan sana ? Aku orang asing yang tersesat !" ucap Puguh.
Mendengar ucapan Puguh, mereka kembali terkejut. Namun sesaat kemudian, mereka saling pandang dan muncul senyum merekah di raut wajah mereka.
"Ayo cepat ikuti kami !" teriak perempuan muda berbaju merah yang sudah melesat meninggalkan tempat pertarungan dan kemudian diikuti oleh ketiga temannya.
Melihat empat perempuan cantik itu sudah melesat pergi, Puguh pun segera menyusul melesat meninggalkan hutan itu, sambil meninggalkan pesan.
"Maafkan aku ! Tubuh kalian hanya akan lemas selama seperempat hari !" teriak Puguh yang tubuhnya sudah melesat jauh.
Sesaat kemudian, keempat perempuan muda yang berpakaian warna warni itu, serta Puguh yang tepat di belakangnya, tiba di perkampungan.
Di gerbang perkampungan itu, mereka sudah disambut banyak sekali penduduk perkampungan yang sebagian besar perempuan. Seluruh penduduk perkampungan itu, perhatiannya tertuju pada Puguh yang berjalan paling belakang.
"Ayo ! Kita langsung menemui pemimpin !" kata perempuan berbaju merah yang terus berjalan dan tidak memperdulikan orang orang perkampungan yang bertanya padanya.
Tidak berapa lama, mereka berlima tiba di sebuah rumah yang sangat besar. Terus saja mereka masuk dan.melewati teras menuju ke ruang tengah yang cukup luas.
Di ruang tengah itu, telah menunggu dua orang perempuan. Yang satu perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik. Yang satu lagi, seorang perempuan berbaju hijau yang masih sangat muda yang mukanya selalu menunduk.
"Ibu ! Kami membawa tamu, seorang kesatria dari tanah seberang !" kata perempuan muda berbaju merah.
"Kalian berempat memang anak anakku yang sangat hebat !" sahut perempuan paruh baya itu.
"Kemarilah anak muda ! Perkenalkan namaku Arcamanik. Mereka berlima adalah anak anakku yang bernama, Arcapita, Arcakalpika, Arcacandra dan Arcakartika sedangkan yang bungsu ini Arcaganis," kata perempuan paruh baya yang bernama Arcamanik.
Mendengar semua perkataan Arcamanik itu, Puguh hanya terdiam saja. Karena, sejak pertama masuk ruang tengah rumah besar itu, perhatiannya hanya tertuju pada perempuan muda yang duduk disamping Arcamanik, yang wajahnya sangat mirip dengan Rengganis."
"Aa ... dik Rengganis ?!" ucap Puguh sangat pelan.
__________ ◇ __________