
"Kita kejar pasukan itu, Ki Dwijo. Kita dahului dan kita hadang di depannya !" kata Resi Wismaya.
"Ayo kita beritahu Dewi Laksita !" jawab Ki Dwijo.
Kemudian, Ki Dwijo dan Resi Wismaya segera melesat kembali ke bawah. Tetapi, baru saja mereka berdua melesat turun, tiba tiba ada beberapa getaran energi yang sangat kuat yang melesat dengan sangat cepat ke arah mereka dan langsung menerjang ke arah mereka berdua.
Blaaammm ! Blaaammm ! Blaaammm ! Blaaammm !
Terkena terjangan yang sangat cepat dan bertubi tubi, tubuh Ki Dwijo dan Resi Wismaya, terdorong ke bawah kemudian jatuh terhempas di tanah dalam posisi masih berdiri.
Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita segera mendekati mereka berdua. Kemudian, Dewi Laksita baru saja hendak bertanya, saat Ki Dwijo dan Resi Wismaya mendongakkan kepala dan melihat, dari arah atas, melesat turun dengan sangat cepat ke arah mereka berdua, sekitar tiga belas sosok tubuh yang memiliki getaran kekuatan sangat tinggi.
Sesaat kemudian, ketiga belas sosok tubuh itu mendarat di tanah, tidak terlalu jauh dari tempat mereka berempat berdiri.
Dbummm ! Dbummm ! Dbummm !
"Haahhh ha ha ha ha ! Sungguh tidak mengira ! Ternyata di tanah Jawadwipa ini, banyak sekali pendekar pendekar berkekuatan sangat tinggi !" kata sosok yang baru mendarat dan yang berdiri paling depan.
Ki Dwijo, Resi Wismaya dan Dewi Laksita serta Putri Cinde Puspita melihat laki laki paruh baya dengan postur tubuh yang tinggi besar, mengenakan pakaian panglima perang yang seluruhnya berwarna kuning keemasan. Sementara itu di belakangnya, berdiri dua belas laki laki dengan berbagai usia. Kedua belas laki laki itu, juga berpakaian panglima perang berwarna hitam kuning biasa.
"Siapa kalian semua ! Dari mana kalian berasal dan apa tujuan kalian memasuki tanah Jawadwipa dengan pasukan yang sangat besar ?" tanya Ki Dwijo.
"Haahhh ha ha ha ha ! Perkenalkan, aku adalah Panglima Jaladra, Panglima Perang Armada ke Empat Kerajaan Kaling Pura ! Kami mengantarkan Pangeran Langit Barat yang sedang berusaha memperluas persahabatan dengan negeri negeri lain ?" jawab panglima perang bernama Jaladra.
"Persahabatan ? Apakah persahabatan yang kalian maksudkan adalah membantai warga perkampungan dan membakar seluruh bangunan di perkampungan itu ?" tanya Resi Wismaya.
Mendengar pertanyaan Resi Wismaya, sejenak Panglima Jaladra terdiam sambil kedua memicingkan kedua matanya menatap ke arah Resi Wismaya, Ki Dwijo dan Dewi Laksita serta Putri Cinde Puspita.
"Kalian sudah melihatnya ?" tanya Panglima Jaladra pelan.
"Jadi betul, kalian semua yang melakukan kekejian itu !" sahut Ki Dwijo.
"Itu bukan urusan kalian, para pendekar. Kalian tidak usah ikut campur ! Biar diurus oleh pemerintahan negeri kalian !" jawab Panglima Jaladra.
"Kami memang bukan pejabat kerajaan ! Tetapi, apabila ada yang menyengsarakan rakyat, kami yang akan menjadi benteng rakyat, melawan segala kekejaman !" kata Resi Wismaya.
"Haahhh ! Sayangnya, kami tidak memiliki banyak waktu untuk berdiskusi dengan kalian para pendekar liar !" kata Panglima Jaladra sambil dagunya memberi tanda pada dua belas panglima yang mengikutinya, "Bungkam mulut mereka, agar berita itu tidak menyebar kemana mana !"
Kemudian, tanpa berkata kata lagi, kedua belas panglima perang itu mencabut senjata mereka masing masing. Ada yang bersenjata pedang, golok dan tombak.
Sesaat kemudian, empat orang panglima perang melesat cepat menyerang ke arah Ki Dwijo, Resi Wismaya, Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita. Sedangkan delapan panglima perang lainnya hanya berdiri mengepung.
Sementara itu, melihat ada empat panglima perang yang melesat ke arah mereka, Ki Dwijo, Resi Wismaya, Dewi Laksita serta Putri Cinde Puspita segera bersiap dan mengeluarkan senjata mereka.
Hanya dalam waktu yang singkat, terjadi empat pertarungan yang sangat sengit.
Dengan kecepatan gerakan yang sudah tidak bisa diikuti dengan mata, pedang mereka berempat terus mencecar lawan mereka masing masing.
Resi Wismaya yang sudah mengeluarkan senjata tongkatnya, dengan tenang menggerakkan dan memutar senjata tongkatnya untuk menghalau dan menangkis setiap datangnya serangan lawan.
Sementara Ki Dwijo yang juga sudah menggunakan senjata tongkat, tidak pernah memberi kesempatan pada salah satu panglima perang yang menjadi lawannya, untuk mengembangkan jurus jurus serangannya. Setiap terjadi benturan senjata, tongkat Ki Dwijo selalu membuat pedang lawannya terpental kembali.
Tidak jauh dari pertarungan Ki Dwijo dan Resi Wismaya dengan masing masing lawannya, dua senjata dwisula kecil Dewi Laksita, selalu menangkis dan menghalau setiap kelebatan serangan pedang lawannya, hingga menimbulkan dentangan yang cukup keras.
Twang ! Twang ! Twang ! Twang !
Bahkan, semakin sering terjadi benturan senjata, membuat lawannya semakin terganggu. Karena, setiap membentur senjata pedang lawannya, dua senjata dwisula kecil itu selalu mengeluarkan getaran dan bunyi yang diam diam menyerang pendengaran lawan dan mengganggu konsentrasi dan gerakan lawan.
Sementara itu, apa yang terjadi pada Putri Cinde Puspita, tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Dewi Laksita, gurunya.
Bahkan, senjata dwisula yang digunakannya, yang merupakan salah satu senjata pusaka Kerajaan Banjaran Pura, walaupun hanya satu, ternyata diam diam ketajaman dan bahayanya melebihi senjata dwisula milik gurunya.
Senjata dwisula ditangan Putri Cinde Puspita, walaupun tidak berbenturan dengan senjata lawan, namun setiap digerakkan dan mendapatkan aliran tenaga dalam, selalu mengeluarkan dengungan. Dimana dengungan itu tidak hanya menyerang pendengaran lawan, namun juga mampu menyerang jantung dan isi kepala setiap lawannya.
Lima puluh jurus berlalu. Ki Dwijo, Resi Wismaya, Dewi Laksita serta Putri Cinde Puspita, perlahan mulai mendesak lawan lawannya. Bahkan senjata mereka mulai bisa mengenai lawan lawan mereka dan berhasil membuat luka luka di tubuh lawannya.
Melihat hal itu, Panglima Jaladra segera memerintahkan empat panglima perang yang lainnya untuk masuk ke dalam pertarungan, membantu keempat rekannya yang sudah bertarung terlebih dahulu.
Namun, para panglima perang Kerajaan Kaling Pura itu, belum menyadari, yang mereka hadapi adalah tokoh tokoh dunia persilatan yang sudah sangat matang dan banyak pengalamannya.
Mendapati jumlah lawannya bertambah, Ki Dwijo dan yang lainnya segera meningkatkan aliran tenaga dalamnya dan menambah kecepatannya, untuk menangkis dan menghindari serangan keroyokan mereka.
Tetapi, delapan orang panglima perang itu masih juga belum bisa mendesak Ki Dwijo, Resi Wismaya, Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita.
Hingga akhirnya, kedua belas panglima perang itu melakukan pengeroyokan pada keempat pendekar itu.
Setelah pertarungan melewati seratus jurus lebih, menghadapi keroyokan dua belas panglima perang yang memiliki tingkat kekuatan sangat tinggi, perlahan lahan, Ki Dwijo, Resi Wismaya, Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita mulai terdesak.
Walaupun masih bisa bertahan dan menghindari serangan, bahkan membuat luka luka di tubuh lawannya, namun mereka berempat juga sudah mulai mendapatkan beberapa luka.
Pakaian keempat pendekar itu, sudah mulai koyak koyak dan terkena noda darah mereka.
Saat Ki Dwijo, Resi Wismaya, Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita dalam situasi yang sangat sulit dan berbahaya, tiba tiba terdengar suara yang sangat mereka kenal dan membuat mereka berempat seperti mendapatkan suntikan tenaga dan semangat.
"Guru ! Bertahanlah ! Kita lawan bersama sama !"
---------- ◇ ----------