
Dari jarak yang tidak begitu jauh, Putri Cinde Puspita, Pangeran Indra Prana, Prabu Pandu Kawiswara serta para pendekar yang lainnya, menyaksikan dua pertarungan itu.
Melihat senjata pusaka yang diambil oleh Ki Naga Langit dari gedung pusaka Istana Kerajaan Banjaran Pura kini berjatuhan, Pangeran Indra Prana segera melesat untuk mengambil dan mengamankannya.
Sementara itu, empat siluman binatang masih keluar dari punggung dan kepala Ki Naga Kecil. Terlihat Ki Naga Kecil dengan nafas yang sedikit memburu.
"Heehhh heh heh heh heh ! Anak muda ! Sayangnya waktu sudah menjelang pagi ! Aku sangat ingin, kita bisa bertarung sampai tuntas ! Semoga nanti malam kita bisa bertemu lagi !" kata Ki Naga Kecil.
Kemudian, tanpa menunggu jawaban Puguh, Ki Naga Kecil melesat ke atas dengan sangat cepat. Sesaat kemudian, tubuhnya menghilang di ketinggian langit.
Melihat lawannya pergi meninggalkan pertarungan, Puguh segera bergerak mengejar. Namun, baru saja hendak melesat, terdengar suara perempuan muda yang tidak asing baginya.
"Pendekar Puguh ! Tunggu dulu !" kata Putri Cinde Puspita yang sudah melangkah mendekat ke arah Puguh.
Mendengar hal itu, Puguh mengurungkan gerakannya, dan menghadap ke arah datangnya Putri Cinde Puspita.
"Ada apakah Putri Cinde Puspita ? Adakah sesuatu yang saya lakukan salah ?" jawab Puguh.
"Pendekar Puguh, sebelumnya, aku ucapkan selamat. Baru beberapa pekan kita tidak berjumpa, ilmu kesaktianmu semakin tinggi saja !" kata Putri Cinde Puspita.
"Owhh, terimakasih Putri," jawab Puguh sekenanya.
"Pendekar Puguh ! Mungkin kita bisa berbincang di istana. Ada yang hendak aku sampaikan dan aku kembalikan padamu !" kata Putri Cinde Puspita lagi.
"Terimakasih atas undangannya, Putri Cinde Puspita. Secepatnya aku akan menemuimu di istana," jawab Puguh.
"Baiklah ! Aku tunggu kedatanganmu !" kata Putri Cinde Puspita sambil membalikkan tubuh, kemudian melesat pergi ke arah istana.
Sepeninggal Putri Cinde Puspita, Puguh segera melesat ke bagian depan bangunan Istana Kerajaan Banjaran Pura. Karena sejak tadi, Puguh merasakan dan samar samar mendengar adanya pertarungan lain dari arah depan.
Baru saja sampai di halaman depan, Puguh dikejutkan dengan terlemparnya tubuh Iswara Dhatu ke arahnya.
Segera saja Puguh menangkap tubuh Iswara Dhatu dan meletakkannya di tanah.
"Bibi Iswara Dhatu !" kata Puguh dalam terkejutnya.
Sesaat Puguh memperhatikan jalannya pertarungan. Dilihatnya, Rengganis dan Kartika Dhatu sedang melawan sosok yang penampilannya seperti Pangeran Langit Barat.
Tidak berapa lama, terdengar dua kali suara ledakan dari arah pertarungan.
Dbaaammm ! Dbaaammm !
Sesaat setelah suara ledakan itu, terlihat tubuh Rengganis dan Kartika Dhatu, terdorong hingga turun ke tanah. Sedangkan wujud tubuh Pangeran Langit Barat terlempar ke atas, yang kemudian tubuh itu, disambar oleh sosok bertubuh kecil, dan dibawa melesat pergi.
Segera saja setelah menginjak tanah, Rengganis dan Kartika Dhatu kembali melesat untuk mengejar sosok Pangeran Langit Barat.
Melihat Rengganis dan Kartika Dhatu sudah melesat mengejar sosok Pangeran Langit Barat, Puguh segera memeriksa keadaan Iswara Dhatu. Dilihatnya Iswara Dhatu mengalami luka dalam dan dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Segera saja Puguh menyalurkan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan Iswara Dhatu. Untuk sesaat Puguh terkejut saat merasakan aliran tenaga Iswara Dhatu kacau dan tercerai berai.
"Bibi Iswara Dhatu terkena pukulan yang menggunakan tehnik memantulkan tenaga dalam, sehingga aliran tenaga dalamnya terbalik balik dan tidak menyatu. Semoga belum mengenai isi dada dan isi perutnya !" kata Puguh dalam hati.
Sesaat kemudian Iswara Dhatu sadar dan bisa membuka kelopak matanya. Sebenarnya Iswara Dhatu merasakan sakit yang luar biasa pada seluruh tubuhnya. Tetapi, begitu tatapan matanya melihat Puguh yang duduk disampingnya, Iswara Dhatu memaksakan diri untuk tersenyum.
"Puguh, terimakasih telah menolong bibi. Bibi yakin, kau sudah tahu, kalau luka dalam bibi sulit untuk dipulihkan !" kata Iswara Dhatu.
"Bibi bisa pulih. Kita semua akan berusaha mengobati Bibi," jawab Puguh.
Masih dengan senyuman yang dipaksakan, perlahan tangan kanan Iswara Dhatu mencoba meraih telapak tangan Puguh.
"Bibi Iswara Dhatu telah menyelamatkan aku. Apapun akan aku lakukan untuk menyelamatkan Bibi !" jawab Puguh.
"Puguh, Bibi hanya ingin kau membantu Bibi. Berjanjilah pada Bibi, kau mau membantu Bibi untuk menjaga Kartika Dhatu. Jagalah cucuku dengan menjadikannya istrimu !" kata Iswara Dhatu.
Mendengar perkataan Iswara Dhatu yang tidak dia perkirakan sebelumnya, Puguh sangat terkejut. Namun, melihat wajah Iswara Dhatu, Puguh merasa tidak enak untuk menampakkan keterkejutannya.
"Bibi, urusan itu bisa kita bicarakan kalau Bibi Iswara Dhatu sudah pulih," jawab Puguh sambil mencoba tersenyum.
"Uhuuk uhuuk uhuukkk ! Anak muda, lekaslah kau jawab permintaanku ! Usiaku hanya tinggal sebentar lagi !" kata Iswara Dhatu mendesak Puguh.
"Baiklah Bibi, aku akan menjaga keselamatan adik Kartika Dhatu !" jawab Puguh.
"Dengan menjadikannya istrimu !" sahut Iswara Dhatu.
Puguh kembali tersentak, ketika menyahut kalimatnya dengan penekanan.
"Ayo ucapkan ! Sebelum .... aku .... " kata Iswara Dhatu.
Melihat Iswara Dhatu berkata dengan terputus putus dan dengan mata yang semakin meredup, Puguh menjadi tidak tega. Akhirnya dwngan cepat, Puguh mengucapkan kalimat yang diminta oleh Iswara Dhatu.
"Dengan menjadikannya istriku !" kata Puguh dengan cepat.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Puguh, Iswara Dhatu membuka matanya lebar lebar sambil tersenyum.
"Aahhh ! Aku sudah lega sekarang. Terimakasih Puguh, Bibi harap kau akan menepati janjimu. Kalau tidak, aku akan menghantuimu selama hidupmu ! Sekarang, bantu aku untuk duduk. Aku akan bersemedi untuk mencoba mengumpulkan kembali tenaga dalamku !" kata Iswara Dhatu sambil mengangsurkan lengannya ke arah Puguh.
Baru saja Iswara Dhatu terduduk dan mulai bersemedi, Rengganis dan Kartika Dhatu tiba kembali di tempat Iswara Dhatu.
"Kakang Puguh ! Bagaimana keadaan nenek ?" tanya Kartika Dhatu.
"Owhh ! Bibi Iswara Dhatu sudah sadar, sekarang sedang bersemedi !" jawab Puguh.
Bersamaan dengan itu, begitu mendengar kedatangan Kartika Dhatu dan Rengganis, Iswara Dhatu kembali membuka kedua matanya.
"Kartika Dhatu cucuku, tolong bawa nenek ke ruangan untuk nenek bersemedi," kata Iswara Dhatu pelan.
"Baik nenek !" jawab Kartika Dhatu sambil kemudian membopong Iswara Dhatu neneknya. Saat dibopong oleh Kartika Dhatu cucunya, Iswara Dhatu sempat mengatakan sesuatu pada Puguh.
"Puguh ! Jangan lupa dengan janjimu !" kata Iswara Dhatu sambil sekilas memperlihatkan senyum kemenangan.
----- * -----
Di pagi harinya, Puguh mengajak Rengganis menemui Putri Cinde Puspita. Ternyata, Putri Cinde Puspita tidak sendirian, tetapi ditemani juga oleh Prabu Pandu Kawiswara dan Pangeran Indra Prana.
Di samping mereka ada dua orang lagi yang Puguh kenal. Mereka berdua adalah Roro Nastiti dan Pangeran Kanaya Wijaya.
"Pendekar Puguh ! Terimakasih telah memenuhi undanganku !" sambut Putri Cinde Puspita.
Akhirnya, di tempat itu, terjadi pembicaraan yang membahas tentang kondisi pasukan perang Kerajaan Menara Langit dan tentang Pangeran Langit Barat.
Pada kesempatan itu, Putri Cinde Puspita menyerahkan Inti Jiwa Siluman Serigala Mata Biru pada Puguh yang kemudian oleh Puguh diserahkan pada Rengganis.
"Dahulu dititipkan padaku oleh gurumu, Ki Dwijo," kata Putri Cinde Puspita.
---------- ◇ ----------