
Puguh dan Roro Nastiti melakukan perjalanan dengan berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh, menyusuri wilayah daratan. Terkadang, pada malam hari, mereka berdua melesat ke atas, terbang untuk mempercepat perjalanan.
Walau tingkat tenaga dalam dan ilmu silatnya masih dibawah Rengganis, namun tenaga dalam Roro Nastiti sudah bisa digunakan untuk terbang, walaupun belum bisa dalam waktu yang lama. Apabila Roro Nastiti sudah terlihat kelelahan, Puguh mengajaknya turun ke daratan untuk istirahat sebentar, kemudian melanjutkan perjalanan.dengan melesat di daratan. Maka seringnya, perjalanan mereka lakukan melalui darat.
Walaupun perjalanan ini sangat berat, namun Roro Nastiti menjalaninya dengan perasaan senang. Karena, selama dalam perjalanan itu, Roro Nastiti banyak mendapatkan bimbingan dari Puguh. Sehingga kekuatan tenaga dalam dan kemampuannya berkembang pesat. Selain itu, Roro Nastiti tidak merasakan beratnya perjalanan, karena tertutup oleh rasa senangnya bisa melakukan perjalanan bersama Puguh.
Tanpa terasa, tiga hari sudah, Puguh dan Roro Nastiti melakukan perjalanan. Hingga pada suatu sore, mereka mulai memasuki wilayah pesisir.
Di suatu dataran yang cukjp luas yang terlindung oleh deretan bukit karang, dari kejauhan, Puguh dan Roro Nastiti menyaksikan suatu kesibukan yang sangat luar biasa.
Terlihat, sekumpulan pasukan perang yang sangat besar, sedang berkemas kemas membongkar tenda dan bersiap untuk melakukan perjalanan.
Pasukan yang berjumlah sekitar sepuluh ribu prajurit itu memiliki persenjataan yang lengkap dan terbagi menjadi berbagai kelompok pasukan.
Ada kelompok pasukan bersenjata panah, ada kelompok pasukan bersenjata pedang dan tombak, bahkan ada kelompok pasukan yang menggunakan bola api.
"Itu pasukan dari negeri seberang, yang kemaren aku ceritakan Roro !" kata Puguh, setelah mereka mencari tempat yang cukup tersembunyi.
"Itu adalah jumlah pasukan yang sangat besar, Puguh !" jawab Roro Nastiti.
"Roro, kamu bisa merasakan rembesan getaran kekuatan di antara ribuan pasukan itu ?" tanya Puguh.
Mendengar pertanyaan Puguh, Roro Nastiti hanya mengangguk setelah menoleh sekilas ke arah Puguh. Karena sebenarnya, Roro Nastiti merasakan sedikit tercekat, melihat begitu besarnya pasukan yang ada di depannya.
Namun yang membuat Roro Nastiti diam diam menelan ludah adalah, di antara ribuan pasukan itu, ada banyak sekali getaran energi yang tingkatannya sangat tinggi, bahkan tidak bisa diukur lagi tingkatannya olehnya. Yang berarti, itu adalah getaran energi yang tingkatannya sudah jauh di atasnya.
"Roro, pasukan perang itu memiliki banyak panglima dengan tingkat kekuatan yang sangat tinggi. Kita butuh banyak pendekar berkekuatan sangat tinggi, andaikata harus melawan pasukan perang itu !" kata Puguh.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Puguh ?" tanya Roro Nastiti.
"Kita harus meminta bantuan kepada sebanyak mungkin pendekar yang berkekuatan sangat tinggi. Kalau perlu, meminta bantuan pendekar dari negeri negeri di sekitar Kerajaan Banjaran Pura yang bersedia !" jawab Puguh.
"Kemudian, apa yang harus kita lakukan sekarang ini ?" tanya Roro Nastiti lagi.
"Tidak ada. Kita tidak mungkin melawan ribuan pasukan dengan kekuatan kita saja. Pastinya banyak panglima di perang pasukan itu yang bisa terbang melayang. Kita harus menemui sebanyak mungkin tokoh tokoh dunia persilatan !" jawab Puguh.
"Kita kembali dulu. Sambil mengawasi pergerakan pasukan negeri seberang itu, kita berusaha menemui pendekar pendekar yang kemungkinan besar bisa kita mintai bantuan !" lanjut Puguh.
Kemudian, dengan perlahan dan hati hati, Puguh dan Roro Nastiti mundur meninggalkan tempat itu.
Puguh dan Roro Nastiti melesat pergi dengan tidak terlalu cepat, karena, selain tempat itu adalah wilayah negeri lain yang belum pernah mereka lewati sebelumnya, juga mereka ingin mengetahui pendekar pendekar di wilayah itu.
Hingga, ketika sampai di suatu bukit kecil yang tidak terlalu gersang, Puguh dan Roro Nastiti mendengar dentangan senjata orang bertarung.
Sesaat kemudian, Puguh dan Roro Nastiti melihat pertarungan yang melibatkan beberapa orang. Terlihat, sepuluh orang berpakaian compang camping, sedang mengeroyok lima orang berpakaian mirip dengan panglima pasukan perang yang mendarat di pesisir.
Walaupun mengeroyok, tetapi justru sepuluh orang yang bersenjatakan tongkat itu sedang terdesak.
"Tidak akan, aku meninggalkan kalian ! Apalagi kalian dalam keadaan terdesak !" jawab laki laki yang dipanggil Ketua Muda.
Pada saat yang bersamaan, Puguh dan Roro Nastiti perlahan mendekati tempat pertarungan. Begitu dekat, Puguh sedikit terkejut, saat melihat, salah seorang berpakaian compang camping itu adalah pengemis yang dulu pernah beberapa kali membantunya dalam beberapa pertarungan.
"Roro, ayo kita bantu orang orang berbaju compang camping itu !" kata Puguh sambil segera melesat masuk ke dalam pertarungan.
Melihat Puguh masuk ke dalam pertarungan, sejenak Roro Nastiti terdiam. Namun segera menyusul Puguh dan ikut menyerang salah satu orang yang berpakaian panglima perang.
Diam diam, Puguh memperhatikan apa yang dilakukan oleh Roro Nastiti.
"Mungkin itu yang menjadi kelebihan Roro. Sejak dulu selalu bersikap hati hati tapi berpikir cepat. Membuat setiap tindakannya penuh dengan perhitungan !" kata Puguh dalam hati.
Sementara itu, dengan masuknya Puguh dan Roro Nastiti ke dalam pertarungan, membuat situasi pertarungan berbalik drastis.
Kelima orang berpakaian panglima perang, yang awalnya sudah sedikit unggul, tiba tiba menjadi terdesak setelah masuknya dua orang asing yang tidak mereka kenal.
Bersamaan dengan itu, melihat kehadiran Puguh dan Roro Nastiti, sepuluh orang pengemis itu merasa lega.
Puguh yang menyerang seorang berpakaian panglima perang, segera menggunakan jurus Bantala Wreksa. Kecepatan gerakan tangannya membuat lawannya perlahan kewalahaan.
Lawannya yang berpakaian panglima perang itu, memutar pedangnya untuk menangkis atau sebisa mungkin membenturkannya dengan tangan Puguh yang menyerang.
Namun, jurus Bantala Wreksa itu menjadi istimewa dan membuat Ki Dwijo gurunya disegani kawan dan ditakuti lawan, karena mengandalkan kecepatan gerakannya.
Dalam sepuluh jurus pertama, pukulan Puguh sudah mengenai tubuh lawannya beberapa kali. Memasuki jurus ke dua puluh, pukulan tangan kiri Puguh tepat mengenai bahu kanan lawannya yang membuat pedang lawannya terlepas dari genggaman tangan kanannya.
Buuukkk !
Sesaat kemudian, disusul dengan pukulan tangan kanannya yang mwnyelinap masuk dan mengenai dada lawannya dengan telak.
Bwuuukkk !
Terkena pukulan di dadanya, laki laki berpakaian panglima itu terdorong ke belakang beberapa langkah dan kemudian jatuh berlutut. Isi dadanya terasa panas. Nafasnya berat. Sesaat kemudian, laki laki berpakaian panglima perang itu memuntahkan darah segar.
Saat lawannya memuntahkan darah segar, tiba tiba sebatang tongkat melesat ke arahnya dan ujungnya membentur kepalanya, hingga membuat kepalanya retak dan menjadikannya tewas seketika.
Melihat hal itu, Puguh menatap pengemis yang dulu membantunya dan sekarang membunuh salah seorang lawannya dengan tongkatnya.
Merasakan keheranan Puguh, laki laki pengsmis itu menjelaskan.
"Kita harus membunuhnya untuk mengurangi kekuatan musuh sebisa mungkin !" kata laki laki pengemis itu.
Namun, Puguh tidak ada kesempatan untuk menjawab, saat ada dua lawan yang melesat ke arah mereka. Satu orang menyerang Puguh dan seorang lagi menyerang laki laki pengemis itu.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_