Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Menyusul Rengganis


Setelah melayang bergulingan hingga cukup jauh, akhirnya Aswa Muka dan Aswa Kudana berhenti dengan tetap dalam keadaan melayang.


"Kwa kwa kwa kwa ! Tingkat kekuatan anak muda ini sudah sulit diukur !" gumam Aswa Muka.


"Kwa kwaaa ! Aswa Muka, bukankah dia yang mewarisi ilmu silat peninggalan Pendekar Penunggang Elang, seperti yang diceritakan oleh murid kita itu ?" sahut Aswa Kudana.


"Ahh iya .... Kwa kwa kwa kwa !" kata Aswa Muka yang kemudian melesat dan segera mendekat lagi ke arah Puguh, diikuti oleh Aswa Kudana.


Aswa Muka dan Aswa Kudana memang hanya berniat menguji, seberapa tinggi kekuatan dan ilmu kesaktian anak muda yang diceritakan oleh muridnya, sebagai temannya. Tetapi, baru beberapa kali berbenturan tenaga dalam, mereka berdua menghentikan serangannya. Karena diluar dugaan mereka, kekuatan anak muda yang mereka serang itu, jauh melampaui perkiraan mereka berdua.


----- * -----


Beberapa hari sebelumnya, setelah sepekan lebih berada di dalam goa di tebing pantai, saat air laut sedikit surut, sehingga pintu masuk ke dalam goa tidak tertutup air laut, Aswa Muka dan Aswa Kudana mengajak Rengganis keluar dari dalam goa di tebing laut itu.


Tetapi, begitu terkena sedikit sinar, Rengganis sangat terkejut, ketika melihat seluruh permukaan kulitnya menjadi berwarna hitam.


Aswa Muka dan Aswa Kudana yang sebenarnya juga merasa heran dengan kejadian ini, segera menenangkan Rengganis.


"Kwa kwa kwa kwa ! Nduk, Rengganis. Apa yang terjadi pada tubuhmu itu adalah akibat dari tehnik latihan penyerapan tenaga dalam yang kau miliki. Kau gadis yang sangat beruntung, bisa mewarisi kekuatan dan tehnik Dewi Kehidupan. Sumber tenaga dalammu berasal dari segala jenis tumbuh tumbuhan, yang bisa kau serap dari daun, batang dan ranting ataupun melalui akarnya. Selama di dalam goa ini, setiap kau melakukan semedi untuk menghilangkan sisa sisa pengaruh sihir di dalam tubuhmu, secara tidak sengaja kau menyerap kekuatan tumbuh tumbuhan yang hidup di atas goa ini, yang akarnya tembus ke dalam goa ini. Tetapi jangan khawatir, tubuhmu yang menghitam itu bisa pulih dengan menyerap kekuatan tumbuhan tertentu yang tumbuh di dataran tinggi !" kata Aswa Muka mencoba menjelaskan.


"Kwa kwaaa ! Kalau begitu, ayo kita keluar dari goa ini dan mencari tumbuhan itu !" ajak Aswa Kudana.


Kemudian, setelah menyiapkan apa apa yang perlu dibawa, Rengganis bersama dengan Aswa Muka dan Aswa Kudana keluar dari goa yang telah mereka tempati selama lebih dari sepekan.


Selama beberapa waktu, Aswa Muka dan Aswa Kudana mengajak Rengganis menyusuri garis pantai, untuk membiasakan diri dengan keadaan udara luar. Kemudian, sambil melayang pelan, mereka bertiga mulai meninggalkan pantai. Saat mereka bertiga baru saja meninggalkan pantai dan memasuki wilayah Kerajaan Kaling Pura, mereka bertiga mendengar suara suara pertempuran.


Karena penasaran, mereka bertiga pun mendekat ke sumber suara pertempuran. Hingga akhirnya mereka melihat pertempuran di atas tebing yang menjulang di tepi sungai, serta di sepanjang jalan di pinggir sungai.


Begitu melihat pakaian yang dikenakan oleh Para prajurit pasukan perang Kerajaan Menara Langit, serta busana yang dikenakan para panglima perangnya, dengan cepat Aswa Muka dan Aswa Kudana melesat ke arah pasukan perang Kerajaan Menara langit dan menerjang untuk menyerang, siapapun yang menjadi panglima perangnya.


Hingga akhirnya kedatangan merska bertiga merupakan bantuan yang tidak disangka sangka dan membuat pasukan perang dadi Kerajaan Menara Langit mengalami kekalahan. Semua panglima perangnya dan sebagian besar pasukan perangnya tewas dan sebagian kecil prajuritnya berhasil ditahan.


----- * -----


"Anak muda, muridku pernah bercerita, kalau kau merupakan pewaris ilmu kesaktian Pendekar Penunggang Elang. Namamu Puguh, bukan ? Coba perlihatkan sedikit bukti pada kami !" kata Aswa Muka setelah tiba di depan Puguh dan Rengganis yang masih melayang di udara.


Mendengar permintaan Aswa Muka, Puguh segera mencabut pedangnya sambil sengaja mengalirkan tenaga dalamnya cukup besar ke dalam pedang.


Seketika, langit di atas tebing yang menjulang di tepi sungai dipenuhi pendaran sinar hijau terang, yang keluar dari bilah pedang ditangan Puguh.


"Apakah ini cukup, paman ?" tanya Puguh sambil mengacungkan pedangnya ke atas depan.


Melihat pedang yang memendarkan sinar hijau terang itu, serta merasakan getaran kekuatan yang keluar dari tubuh Puguh, Aswa Muka dan Aswa Kudana tanpa sengaja membelalakkan kedua matanya selama beberapa saat.


Puguh pun segera menarik kembali tenaga dalamnya, kemudian memasukkan pedang ke dalam sarungnya.


Kemudian, Aswa Muka dan Aswa Kudana melayang maju beberapa langkah.


"Nduk muridku. Kita harus segera ke daerah pegunungan, untuk mencari obat untuk kulitmu !" kata Aswa Kudana sambil menatap Rengganis.


Mendengar perkataan Aswa Kudana, Puguh segera menatap Aswa Kudana.


"Obat untuk kulit adik Rengganis ? Apakah itu paman ?" tanya Puguh.


"Tepatnya tanaman apa, kami belum tahu. Tetapi, kami akan meminta Rengganis untuk mencoba menyerap kekuatan tumbuh tumbuhan yang ada.di pegunungan, sampai ketemu obatnya !" jawab Aswa Kudana.


Mendengar jawaban itu, Puguh mencoba menawarkan pada Rengganis dan kedua gurunya. Puguh akan mengantarkan Rengganis ke salah seorang tokoh dunia persilatan yang sangat ahli tentang ramuan obat, yaitu Ki Bhanujiwo.


"Ki Bhanujiwo ? Dia masih hidup ?" sahut Aswa Muka.


"Masih paman. Ohh ya, bahkan muridnya ada di sini !" jawab Puguh yang kemudian menatap Rengganis.


"Adik Rengganis, ayo kita turun, kita temui Roro Nastiti !" sambung Puguh lagi.


"Aku tidak akan menemuinya dan tidak akan meminta pertolongan darinya !" sahut Rengganis cepat, dan kemudian melesat ke arah pedalaman.


"Paman ... " kata Puguh pelan dengan perasaan bingung.


"Kwa kwa kwa kwa ! Anak muda ! Terimakasih atas tawaran bantuannya. Kami akan menemani murid kami dulu, untuk mencari tumbuhan yang bisa digunakan untuk memulihkan warna kulitnya !" sahut Aswa Muka.


Kemudian, tanpa memperdulikan Puguh yang sedang kebingungan, kedua orang bertubuh bulat itu segera melesat pergi menyusul Rengganis.


Sementara itu, Puguh yang masih melayang di udara sendirian, akhirnya melesat turun untuk mencari Roro Nastiti yang akan diajaknya pergi menyusul Rengganis.


Namun, ketika sampai di atas tebing dan melihat ke bawah, ke jalan di pinggir sungai, Puguh tiba tiba menghentikan langkah kakinya, ketika melihat, Roro Nastiti berjalan beriringan dengan Pangeran Kanaya Wijaya. Terlihat, tangan mereka saling bergandengan. Dan terlihat pula, Roro Nastiti sangat akrab dengan Pangeran Kanaya Wijaya. Maka, dengan cepat, Puguh kembali melesat ke atas.


"Aahhh ... Rupanya keadaan berubah dan berkembang begitu cepat ! Roro Nastiti terlihat sangat bahagia, bersama dengan Pangeran Kanaya Wijaya. Aku khawatir mengganggu kebahagiaannya, jika aku tetap menemuinya. Kerajaan Kaling Pura sudah aman dan terbebas dari pendudukan pasukan perang Kerajaan Menara Langit. Sudah saatnya aku pergi meninggalkan Kerajaan Kaling Pura. Aku akan ke wilayah Kerajaan Kisma Pura yang kebetulan searah dengan arah perginya Rengganis," kata Puguh dalam hati.


Kemudian, dengan menggunakan sepotong kulit kayu yang sudah diambilnya saat turun lagi, Puguh menulis pesan untuk Roro Nastiti. Dengan cepat, Puguh menuliskan serangkaian kalimat di kulit kayu yang dia gores dengan ujung jari telunjuknya.


"Roro, maaf aku pergi dulu untuk mencari Rengganis. Kuharap di sini, di Kerajaan Kali Pura ini, menjadi tempat yang nyaman bagimu !"


Kemudian, dengan menggunakan tenaga dalamnya, jauh dari atas, Puguh melemparkan sepotong kulit kayu yang sudah dia isi tulisan, dan jatuh tepat didepan dua Senopati Kerajaan Kaling Pura yang saat itu, sedang berjalan berkeliling mengontrol keadaan para prajuritnya.


---------- ◇ ----------