
Sementara itu di pertarungan Puguh melawan Kala Caraka, sudah mencapai tingkat yang sangat tinggi. Pertarungan yang terjadi di udara itu berlangsung dalam kecepatan yang sangat tinggi.
Walaupun ukuran badannya sangat besar, tidak membuat kecepatannya berkurang sedikitpun.
Dialiri tenaga dalam yang dikeluarkannya hingga hampir mencapai puncaknya, membuat gada Kala Caraka mengeluarkan suara menderu yang sangat mengerikan.
Benturan senjata gada dan senjata pedang yang terjadi berkali kali menimbulkan suara ledakan yang sangat keras.
Jdammm ! Jdammm ! Jdammm !
Hingga pertarungan memasuki seratusan jurus, Kala Caraka yang belum bisa mendesak lawannya, mulai merasa tidak sabar.
Puguh yang bertarung dengan duduk di punggung siluman elang juga sudah mengeluarkan tenaga dalamnya hingga jumlah yang sangat besar.
Senjata pedangnya yang teraliri tenaga dalam hingga dalam jumlah yang sangat besar, mengeluarkan sinar hijau yang sangat terang dan suara dengungan yang mampu mengimbangi suara menderu yang keluar dari senjata gada Kala Caraka.
Hingga pada suatu saat, dengan kemarahannya yang sudah memuncak karena tidak terima ada manusia yang bisa mengimbangi kekuatannya, Kala Caraka mengeluarkan tenaga dalam hingga meencapai puncaknya. Tubuhnya terlihat menjadi lebih besar. Seluruh tubuhnya mulai dipenuhi dengan garis garis berwarna hijau tua. Garis garis otot yang penuh dengan kekuatan siluman. Kedua bola matanya sudah sepenuhnya berwarna merah menyala.
Kemudian, tubuhnya yang melayang, melesat dengan sangat cepat ke arah Puguh. Senjata gada di tangan kanannya mengeluarkan suara menderu bergemuruh yang siap dihantamkan ke tubuh lawannya.
Sementara itu Puguh yang duduk di punggung siluman elang, segera berdiri di atas punggung siluman elang yang terbang melayang pelan. Melihat Kala Caraka melesat ke arahnya, sambil meningkatkan lagi aliran tenaga dalamnya hingga hampir mendekati puncaknya, Puguh segera memberi aba aba pada siluman elang melalui pikirannya.
"Siluman elang ! Terbanglah dengan kecepatan yang kau miliki dan terjanglah tubuhnya. Biar aku yang menahan senjata gadanya !"
Dengan mengepakkan sayapnya tiga kali, siluman elang itu melesat sangat cepat ke arah datangnya Kala Caraka. Saat mereka berdua sudah dekat dengan Kala Caraka, dengan gerakan yang lebih cepat lagi, Puguh melompat dari punggung siluman elang untuk menghadang datangnya hantaman senjata gada.
Benturan kedua senjata itu menimbulkan suara yang sangat dahsyat.
Dbaaammm !
Sesaat kemudian disusul dengan ledakan yang sangat keras yang hampir bersamaan, saat tubuh siluman elang menerjang tubuh Kala Caraka yang terhuyung mundur akibat benturan senjata.
Blaaannnggg !
Tubuh Kala Caraka terdorong ke belakang semakin jauh saat membentur tubuh siluman elang. Sementara tubuh siluman elang juga terdorong kembali ke belakang.
Kala Caraka belum sempat memperbaiki posisi kuda kudanya, ketika Puguh kembali melesat ke arahnya kemudian menebaskan senjata pedangnya berkali kali.
Tebasan pedang Puguh itu berhasil ditangkis Kala Caraka beberapa kali. Hingga kemudian berhasil mengenai tubuh Kala Caraka.
Klang ! Klang ! Klang !
Srattt ! Srattt ! Srattt ! Craaakkk !
Sesaat kemudian, tubuh Kala Caraka melayang jatuh terhempas ke bawah dengan banyak luka sayatan yang menghiasi tubuhnya dan kepala yang terpisah dari tubuhnya.
Daaammm ! Daaammm !
Selama beberapa saat Puguh dan siluman elang melayang dalam diam. Namun begitu melihat ke arah siluman elang kemudian melihat ke arah bawah, Puguh segera berkata dalam pikirannya.
"Siluman elang ! Istirahatlah dan masuk ke dalam senjata pedang !"
Tanoa menjawab, siluman elang langsung melesat. Perlahan wujud tubuhnya memudar dan kembali menjadi sinar hijau terang yang segera masuk ke dalam pedang di tangan kanannya.
----- * -----
Getaran kekuatan milik siluman serigala mata biru yang sudah dalam tingkat sangat tinggi, menjadi bertambah kuat lagi ketika menyatu dengan kekuatan tenaga dalam Mahawiku Nuraga.
Walau sudah dikepung dari tiga arah oleh Ki Dwijo, Resi Wismaya dan Iswara Dhatu, namun Mahawiku Nuraga belum juga bisa didesak.
Bahkan dalam setiap benturan senjata ataupun benturan serangan, tubuh Ki Dwijo, Resi Wismaya dan Iswara Dhatu selalu terpental kembali ke belakang.
Namun hal itu sebenarnya tidak menjadi kendala bagi mereka bertiga. Karena, mereka masih bisa mengatasi tubuh mereka yang terpental dengan bersalto ataupun melayangkan tubuh mereka.
Justru ada satu hal yang tidak mereka duga sebelumnya. Setiap terluka terkena hantaman ataupun tusukan tongkat, tubuh Mahawiku Nuraga dengan cepat pulih kembali seperti tidak terjadi apa apa.
Selain itu, kuku kuku jari tangan dan kaki Mahawiku Nuraga yang menebal dan menghitam serta sedikit memanjang, membuat hangus apapun yang terkena goresan kukunya.
Beberapa kali, baju Ki Dwijo dan Resi Wismaya menghitam dan berlobang setiap terkena kuku tangan kiri Mahawiku Nuraga.
"Resi Wismaya ! Iswara Dhatu ! Mungkin kita harus menyerangnya dengan serentak !" kata Ki Dwijo.
Seolah sudah sepakat dengan perkataan Ki Dwijo, mereka bertiga serentak meningkatkan aliran tenaga dalamnya hingga mendekati puncak kemampuan mereka.
Kemudian secara bersamaan, Ki Dwijo dan Resi Wismaya serta Iswara Dhatu melesat ke arah Mahawiku Nuraga dengan posisi siap menyerang. Dan sesaat kemudian, terdengar suara suara benturan senjata, saat hantaman tongkat Resi Wismaya dan luncuran selendang Iswara Dhatu bisa ditangkis Mahawiku Nuraga dengan menggunakan tongkatnya.
Trang ! Trang !
Pada serangan serentak itu, tongkat Ki Dwijo berhasil menghantam bahu kiri Mahawiku Nuraga, hingga membuat tubuh Mahawiku Nuraga terdorong ke kanan hingga beberapa langkah. Sementara tubuh Ki Dwijo terpental kembali ke belakang.
Buuuggghhh !
Sesaat kemudian, mereka bertiga melesat lagi ke arah Mahawiku Nuraga untuk melakukan serangan secara bersamaan. Giliran senjata selendang Iswara Dhatu yang berhasil menembus perut Mahawiku Nuraga.
Hal itu terjadi berulang ulang. Senjata mereka bertiga bergantian mengenai dan melukai tubuh Mahawiku Nuraga. Bahkan walaupun tubuh mereka bertiga masih tetap terpental setiap berbenturan serangan, namun mereka bertiga mampu melukai dan mendesak mundur tubuh Mahawiku Nuraga.
Walaupun terdesak mundur dan tubuh penuh luka, tetapi Mahawiku Nuraga seperti tidak merasakannya, karena luka luka itu hanya dalam beberapa saat, pulih kembali.
Hingga pada suatu kesempatan, saat diserang dari tiga arah, Mahawiku Nuraga memutar dengan cepat senjata tongkatnya untuk melindungi tubuhnya dari tiga serangan yang dilakukan secara serentak.
Tiga kali benturan senjata itu menimbulkan suara yang cukup keras dan juga membuat tubuh Ki Dwijo, Resi Wismaya dan Iswara Dhatu kembali terpental ke belakang hingga cukup jauh.
Trang ! Trang ! Trang !
Mahawiku Nuraga baru saja hendak bergerak melakukan serangan lagi, saat tiba tiba Puguh turun dari atas dan berdiri di depannya.
Melihat Puguh sudah turun, Ki Dwijo segera memberi peringatan.
"Puguh, hati hati ! Ternyata tubuhnya bisa dengan cepat memulihkan setiap lukanya !" kata Ki Dwijo.
"Terimakasih atas peringatannya, guru !" jawab Puguh sambil kemudian menatap tajam ke arah Mahawiku Nuraga.
"Getaran kekuatannya saat ini sangat luar biasa tinggi ! Hanya dalam beberapa hari kekuatannya meningkat dengan pesat !" kata puguh dalam hati.
Merasakan hal itu, Puguh segera meningkatkan aliran tenaga dalamnya hingga dalam tingkat yang sama dengan yang digunakan saat melawan Kala Caraka.
Kemudian, dengan bilah pedang yang bergetar dan mengeluarkan suara dengungan, Puguh melesat dengan sangat cepat ke arah Mahawiku Nuraga sambil menyiapkan serangan.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_