
Selama beberapa saat, Puguh menatap tubuh Palvagasura, Pemimpin Tertinggi bangsa kera, yang tergeletak di samping kera raksasa berbulu putih.
"Jangan pikirkan dia. Dia akan baik baik saja," kata kera raksasa berbulu putih.
"Anak muda bangsa manusia, coba kamu ingat, apa yang kamu rasakan sesaat sebelum kau tiba tiba berpindah tempat ke Negeri Tanah Dewa ?" tanya kera raksasa berbulu putih.
"Aku hanya ingat, saat itu keadaan membuatku harus mengeluarkan hampir seluruh kekuatanku," jawab Puguh.
"Saat kamu mengeluarkan hampir semua kekuatanmu, apa yang terjadi padamu ?" tanya kera raksasa berbulu putih lagi.
"Saat itu aku tidak sudah tidak memikirkan apa apa yang ada hanya berbuat semampuku untuk melindungi yang ada saat itu," jawab Puguh.
"Nah itu ! Saat itu kamu dalam keadaan kekuatanmu atau tubuhmu, dengan pikiran dan hatimu, menyatu pada satu hal, sehingga, secara tidak sengaja, kau bisa menembus ruang dan waktu, menjadikanmu berpindah ke Negeri Tanah Dewa !" kata kera raksasa berbulu putih menjelaskan.
"Bukankah itu hal yang kita lakukan saat bersemedi ?" tanya Puguh.
"Tepat sekali. Fokus dan menyatunya tiga unsur dalam diri kita, sama. Yang membedakan hanya cara atau sarananya. Kalau semedi, dengan cara duduk bersila, sedangkan saat itu kau dalam situasi bertarung. Kalau dalam semedi, itu dinamakan mencapai tahap muksa !" jawab kera raksasa berbulu putih.
Mendengar penjelasan itu, akhirnya Puguh mendapatkan pemahaman.
"Kau sudah bisa menangkap yang dimaksud, anak muda ?" tanya kera raksasa berbulu putih.
"Sepertinya sudah !" jawab Puguh.
"Bagus !" sahut kera raksasa berbulu putih itu, "Ayo kita lakukan sekarang !"
Mendengar perkataan kera raksasa berbulu putih itu, Puguh terkejut.
"E .. Tunggu. Sebenarnya juga ada temanku yang ikut berpindah ke Negeri Tanah Dewa ini !" kata Puguh.
"Apa dia yang kau maksudkan ?" tanya kera raksasa berbulu putih sambil tangan kanannya menunjuk ke arah belakang Puguh.
Puguh pun menoleh ke belakang dan terkejut sekaligus senang saat melihat Rengganis sudah berdiri agak jauh di belakangnya. Sedangkan tubuh siluman kera raksasa sudah tergeletak di gundukan awan yang membentuk meja besar.
"Bagaimana mereka bisa tiba tiba berada disini ?" tanya Puguh.
"Hal itu tidak usah dipikirkan, anak muda. Yang penting, temanmu sudah ada di sini," kata kera raksasa berbulu putih, "Ayo, aku antar kalian pulang !"
Kemudian, kera raksasa berbulu putih itu menyuruh Puguh dan Rengganis saling mendekat. Kemudian, kera raksasa berbulu putih itu meminta untuk bersiap mengeluarkan tenaga dalamnya setinggi tingginya disertai hati dan pikiran yang fokus tentang benturan dua kekuatan yang akan terjadi.
"Kalau perlu, kalian bisa sambil memejamkan mata kalian !" kata kera raksasa berbulu putih itu.
Kemudian, kera raksasa berbulu putih itu sedikit mundur untuk mengambil jarak.
"Anak muda ! Bersiaplah ! Jangan sampai ada perasaan ragu di hati dan pikiranmu ! Keluarkan kekuatanmu semaksimal mungkin !" kata kera raksasa sambil mengangkat tangan kanannya ke atas kepalanya.
Beberapa saat kemudian, dari segala penjuru berhembus angin yang masuk ke telapak tangan kanan kera raksasa berbulu putih.
"Anak muda ! Ayo kita mulai !" kata kera raksasa berbulu putih. Kemudian, dalam posisi melayang, kera raksasa berbulu putih melesat ke arah Puguh.
Sementara itu, Puguh juga mengambil kuda kuda dan posisi tangan yang hampir mirip dengan kera raksasa berbulu putih.
Telapak tangan Puguh samar samar mengeluarkan sinar hijau terang. Tidak berapa lama, dari sekitar tempat Puguh berdiri, bermunculan pendaran sinar kuning yang entah datang dari mana. Pendaran sinar kuning itu mengarah ke telapak tangan kanan Puguh.
Ketika melihat kera raksasa berbulu putih melesat maju, Puguh pun juga meloncat ke depan dan kemudian melesat memapaki datangnya pukulan kera raksasa berbulu putih.
Benturan pukulan itu menimbulkan ledakan yang sangat dahsyat.
Jdaaammm !
Dalam ledakan dahsyat itu, ada dua berkas sinar putih yang selama beberapa saat berkedip kedip kemudian lenyap.
----- * -----
Puguh dan Rengganis mengalami perpindahan tempat dengan sangat cepat, yang memakan waktu hanya sekitar lima detik.
Beberapa saat sebelum benar benar sudah berada di tempat yang baru, Puguh dan Rengganis mendengar suara riuh benturan senjata.
Saat kaki mereka sudah menapak di tempat yang baru, Puguh dan Rengganis ternyata berdiri di pinggir sebuah peperangan yang berlangsung di tanah yang cukup lapang. Suara teriakan hiruk pikuk bersautan.
"Perkuat sayap kanan ! Bantu dengan tim panah !" terdengar teriakan suara perempuan.
"Senopati Widura ! Pindah ke kanan ! Bantu Senopati Roro Nastiti !" perintah suara laki laki yang nampaknya sebagai senopati senior.
"Baik.Senopati Cakrayuda !" jawab seorang laki laki gagah tegap yang dipanggil dengan nama Senopati Widura.
"Heehhh he he hehhh ! Senopati cantik ! Kamu menyerah saja ! Sayang kalau kulitmu yang halus, terkena senjata !" kata seorang laki laki yang menjadi lawan Senopati Roro Nastiti.
"Jangan mimpi untuk bisa menangkap aku !" jawab Senopati Roro Nastito.
"Heehhh he he hehhh ! Kalau aku bisa mengalahkan dan menangkapmu, kau harus jadi istriku !" kata laki laki itu sambil tubuhnya melenting ke arah Senopati Roro Nastiti dan kemudian melakukan serangan. Kedua telapak tangannya membentuk cakar hingga berwarna hitam serta lengannya dibalut sarung lengan dari baja.
Melihat lawannya yang juga seorang senopati, sudah mulai melakukan serangan, Senopati Roro Nastiti langsung mengeluarkan senjata andalannya yaitu sepasang pedang pendek. Kemudian, dengan kedua pedang pendeknya, dimainkannya jurus Cakar Jatayu, sebuah ilmu yang menjadi andalannya dan yang telah melambungkan namanya menjadi Senopati kerajaan Banjaran Pura.
Senopati Roro Nastiti sama sama ahli dalam serangan jarak pendek. Sehingga membuat senjata mereka berdua sering bertemu dan berbenturan dan menimbulkan suara logam beradu.
Traaannnggg ! Tang !
Traaannnggg ! Tang !
Selain berusaha menghadapi serangan lawannya, Senopati Roro Nastiti juga masih menyempatkan diri memperhatikan kondisi prajuritnya.
Dilihatnya, para prajuritnya nampak kewalahan menghadapi lawannya yang berjumlah lebih banyak, sehingga sedikit demi sedikit, pasukannya mulai terdesak.
Saat itulah, Senopati Roro Nastiti mulai meminta bantuan untuk para prajuritnya.
Namun, Situasi yang dialami Senopati Roro Nastiti, juga dialami senopati lainnya. Mereka semua lambat laun terdesak karena jumlah lawan yang lebih banyak.
Sementara itu, mendengar teriakan teriakan serta perkataan mereka yang di medan pertempuran, Puguh dan Rengganis akhirnya menyadari, dimana mereka berpindah tempat.
"Kakang Puguh, sepertinya kita berhasil kembali pulang ! Kita berada di Kerajaan Banjaran Pura !" kata Rengganis, "Tetapi kenapa mereka berperang ? Dan melawan pasukan dari kerajaan mana ?"
Puguh tidak menjawab, tetapi justru langsung masuk ke dalam pertempuran.
"Tunda dulu pertanyaanmu, Adik Rengganis ! Kita bantu dulu mereka !" jawab Puguh sambil merangsek ke arah prajurit lawan.
Mendengar jawaban Puguh, tanpa bertanya lagi, Rengganis juga langsung masuk ke dalam pertempuran.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_