
Puguh melihat, kera raksasa itu tidak setinggi dan sebesar saat mereka berjumpa puncak kayu hitam raksasa.
Kera raksasa itu membenturkan kedua telapak tangannya didepan dadanya beberapa kali, seakan sedang bertepuk tangan, walau suara yang ditimbulkan sangat jelek.
Bog ! Bog ! Bog ! Bog !
"Sepertinya kau sudah berhasil meningkatkan kekuatanmu. Tetapi, sebelumnya, kau panggil dulu teman perempuanmu yang sudah dengan setia menungguimu, walaupun selalu dalam keadaan ketakutan !" kata kera raksasa itu dengan suara berat.
Mendengar perkataan kera raksasa itu, Puguh tersentak.
"Gara gara melihat muka jelek kera raksasa ini, aku jadi melupakan Rengganis !" kata Puguh dalam hati.
Kemudian, Puguh segera kembali melesat ke tempat dia bersemedi tadi. Sesampainya di tempat semedi, dilihatnya, Rengganis sudah berdiri sambil memasang muka cemberut.
"Selama sebulan lebih aku menemani dan menjaga kakang, saat kakang sedang bersemedi. Sekarang, begitu kakang berhasil, kakang pergi begitu saja meninggalkan aku !" kata Rengganis.
"Maafkan kakang, adik Rengganis," jawab Puguh sambil menyeringai dan tangan kanannya menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Adik Rengganis, ayo ikut kakang menemui kera raksasa itu. Adik Rengganis tidak usah takut, karena kera raksasa itu tidak jahat," kata Puguh lagi.
Akhirnya, walaupun dengan perasaan takut, Rengganis mengikuti Puguh, kembali ke tempat kera raksasa itu menunggu.
Saat Puguh tiba, kera raksasa yang kembali terlihat lebih kecil dan lebih pendek lagi itu, tiba tiba mengayunkan tangan kanannya ke arah Puguh.
Puguh yang mengetahui kalau kera raksasa itu hanya mengujinya, dengan tenang memapaki datangnya serangan tangan kanan kera raksasa itu dengan telapak tangan kanannya juga.
Blaaammm !
Terdengar suara ledakan yang sangat keras, saat kedua telapak tangan berbenturan. Terlihat tubuh kera raksasa yang masih seukuran dua kali tubuh Puguh itu terdorong mundur hingga dua langkah.
Namun, seperti seolah tidak terpengaruh, kera raksasa itu kembali melenting. Tubuh besarnya melambung tinggi dan kemudian dengan sangat cepat meluncur ke arah Puguh dengan kaki yang siap menjejak.
Melihat hal itu, Puguh segera menarik ke belakang sedikit kaki kirinya, kemudian kedua telapak tangannya didorongkan ke arah atas depan untuk menghadang datangnya jejakan kaki.
Kembali terjadi ledakan yang lebih keras lagi, saat dua kaki besar yang menjejak dengan sangat kuatnya ke arah tubuh Puguh, bertemu dengan dua telapak tangan Puguh yang berisi tenaga dalam tingkat tinggi.
Dredaaammm !
Sesaat setelah benturan itu, terlihat sesosok tubuh sangat besar terlempar cukup jauh dan kemudian jatuh mendarat dengan kakinya terlebih dahulu.
Segurat senyuman menghiasi muka kera raksasa yang tubuhnya terlempar karena benturan tadi.
"Sekarang, ayo kita naikkan tingkat tenaga dalam yang kita gunakan !" kata kera raksasa itu.
Ucapannya belum selesai, namun tubuh kera raksasa itu sudah melesat dengan cepat ke arah Puguh dan melayangkan serangkaian serangan.
Terjadi saling melayangkan pukulan dan tendangan antara Puguh dan kera raksasa itu.
Paacck ! Paacck ! Paacck ! Buuummm ! Buuummm !
Begitu cepatnya gerakan mereka, hingga hanya terlihat kelebatan tubuh mereka berdua. Apalagi setelah debu mengepul di tempat mereka bertarung.
"Cukup Puguh. Sudah saatnya kau melatih ilmu yang dititipkan padaku !" kata kera raksasa itu sambil sekali lagi melayangkan pukulan yang sangat keras ke arah Puguh.
Blaaammm !
Dalam beberapa saat, nafas mereka terlihat sedikit terengah, namun sebentar kemudian, dengan mengalirkan tenaga dalam mereka ke organ dalam mereka, menjadikan pernafasan mereka pulih dengan cepat.
"Ngger Puguh. Kutunggu di tempat ini, sehari sebelum purnama. Bersiaplah, waktu kita tidak banyak !" kata kera raksasa itu. Kemudian, dengan sekali menghentakkan kakinya, kera raksasa itu melesat ke atas dengan sangat cepat dan sesaat kemudian terlihat jauh dan kemudian menghilang tidak terlihat lagi, dan getaran kekuatannya tidak terasa lagi.
Kemudian, karena purnama masih beberapa hari lagi, Puguh dan Rengganis berniat pergi ke perkampungan. Selain untuk mencari perbekalan, juga untuk mendapatkan kabar berita yang mungkin menarik bagi mereka berdua.
----- * -----
Di hari berikutnya, pada pagi hari, terlihat sepasang manusia, laki laki dan perempuan, berjalan di jalan kampung yang lengang.
Mereka adalah Puguh dan Rengganis. Keduanya berjalan pelan menyusuri jalan kampung itu, dengan perasaan heran atas sepinya kampung itu. Bahkan, hingga samoai di ujung jalan, tidak satupun warga kampung yang mereka temui. Hal itu membuat Puguh dan Rengganis menjadi penasaran dengan keadaan kampung itu.
Hingga siang harinya, Puguh dan Rengganis menemukan keadaan yang sama di kampung berikutnya yang mereka lewati. Sampai akhirnya di salah satu kampung, mereka bertemu dengan beberapa warga yang selamat dan mengetahui tentang keadaan beberapa kampung yang dilewati Puguh dan Rengganis.
Awalnya mereka ketakutan bertemu dengan orang asing seperti Puguh dan Rengganis. Namun akhirnya, Puguh dan Rengganis berhasil meyakinkan warga kampung itu dan mendapatkan cerita tentang adanya pembunuh keji yang mengakibatkan banyaknya kematian di banyak kampung.
Mendengar penuturan beberapa warga kampung itu, Puguh dalam hati terkejut, kenapa dia tidak merasakan kehadiran getaran kekuatan orang yang melakukan banyak pembunuhan itu.
Akhirnya, setelah mempelajari keadaan beberapa kampung yang sudah mereka berdua lewati, Puguh mempunyai gambaran harus mengejar ke arah mana, untuk bisa menemukan pembunuh itu.
Setelah selama dua hari mereka melanjutkan perjalanan, Puguh dan Rengganis tiba di suatu kampung yang masih belum terjamah oleh pembunuh yang mereka kejar.
Puguh dan Rengganis belum merencanakan apa yang akan mereka lakukan, saat Puguh tiba tiba merasakan getaran kekuatan yang sangat kuat, walaupun masih jauh.
"Adik Rengganis, hati hati. Sepertinya sesuatu yang sangat kuat sedang menuju ke sini !" kata Puguh.
Puguh belum mengetahui secara pasti, tentang getaran kekuatan yang sangat besar yang menuju ke sini. Maka Puguh mengajak Rengganis untuk menunggunya di pinggir kampung. Selain itu, untuk menghindari jatuhnya korban para warga kampung, apabila kekuatan besar yang akan datang ini, memang benar penjahat yang sudah banyak mendatangkan kematian.
Begitu mereka berdua tiba di pinggir kampung, Puguh dan Rengganis melihat seorang laki laki tua yang berjalan pelan sendirian.
Secara samar, Puguh merasakan adanya getaran tenaga dalam dari laki laki tua itu. Puguh juga melihat ada sesuatu yang aneh dari raut wajahnya terutama dari sorot matanya.
Tiba tiba, laki laki tua itu melesat mendekati mereka berdua. Laki laki tua itu terus menerus menatap wajah Rengganis sambil bibirnya sedikit tersenyum. Cuping hidungnya terlihat bergerak gerak seolah sedang membaui sesuatu.
Laki laki tua atau Ki Kama Catra atau yang lebih dikenal dengan julukan Tangan Iblis itu, merasa tertarik karena merasakan getaran tenaga dalam yang tinggi dari diri Rengganis. Selama ini, para korbannya adalah penduduk kampung biasa yang tidak mengenal ilmu silat dan tidak memiliki tenaga dalam. Sempat beberapa kali, Tangan Iblis mendapatkan korban yang memiliki tenaga dalam yang juga masuk dalam tataran tinggi. Namun, baru kali ini dia merasakan getaran tenaga dalam setinggi yang keluar dari diri Rengganis.
Karena jengah ditatap terus oleh laki laki tua di depannya, Rengganis menjadi sedikit emosi.
"Kakek tua, kenapa kau menatapku begitu ?" tanya Rengganis.
Tangan Iblis yang dipanggil Rengganis dengan kakek tua itu berjalan mendekati Rengganis dan hanya terdiam.
Tiba tiba Puguh merasakan luapan kekuatan yang sangat besar, saat tangan kanan kakek tua itu bergerak dengan sangat cepat ke arah Rengganis dan melakukan gerakan menangkap.
Rengganis yang terkejut dengan gerakan kakek tua di depannya itu, segera menepis gerakan tangan kakek tua itu dengan lengannya.
Plaaakkk !
Rengganis sangat terkejut saat tangan kakek tua itu tidak terpental ke belakang. Bahkan justru Rengganis merasakan, tenaga dalamnya seperti terserap keluar saat berbenturan dengan tangan kakek tua itu.
Maka Rengganis pun segera melompat dan kembali ke samping Puguh.
_________ ◇ __________