
Tubuh Puguh sedikit menjauh dari para lawannya, karena terlempar akibat serangan lawan yang tertangkis oleh jubah hijau tua yang akhirnya keluar melindungi tubuhnya.
Dengan posisi melayang yang hanya berjarak dua depa dari tanah, Puguh menatap tajam lawan lawannya.
Tepat di atas Puguh, terlihat siluet siluman elang yang sangat besar, berdiri di belakang Puguh. Getaran kekuatan yang sangat besar, merembes keluar dari tubuhnya.
"Mereka masih banyak juga !" gumam Puguh, "Siluman elang, ayo kita beri pelajaran pada orang orang tamak itu !"
"Kraakkk ! Serahkan sebagian padaku !" jawab siluman elang sambil sedikit membuka kedua sayapnya.
Kemudian, dengan sangat cepatnya, Puguh melesat ke arah lawan yang melayang di depannya, diikuti oleh siluman elang yang terbang rendah di atasnya.
Sementara itu, Nyi Riwut Parijatha dan para pendekar yang lainnya, terkejut. Saat saat terakhir senjata mereka hampir mengenai tubuh lawan, tiba tiba tubuh lawannya terlindungi oleh jubah yang tahan terhadap senjata.
Selain itu mereka juga dikejutkan oleh kemunculan siluman elang yang berdiri di belakang Puguh.
Walaupun mereka ingin merebut senjata dan siluman elang itu, namun mereka tetap terkejut bercampur kagum dengan getaran kekuatan yang dimiliki oleh siluman elang.
"Teman teman, ayo kita akhiri perlawanannya dan kita rebut senjatanya !" kata Nyi Riwut Parijatha sambil melayang agak ke depan.
Bersamaan dengan melesatnya tubuh Puguh, Nyi Riwut Parijatha dan puluhan pendekar yang lainnya, segera melesat maju sambil meningkatkan aliran tenaga dalamnya hingga hampir mencapai puncaknya.
Sesaat kemudian, terdengar kembali suara benturan benturan senjata berulang ulang, disertai dengan suara gemuruh angin yang berhembus cukup kencang. Angin yang berputar mengelilingi tubuh Puguh ataupun angin yang keluar dari hempasan kedua sayap siluman elang.
Jurus demi jurus berlalu. Tanpa terasa sepuluh jurus sudah terlewatkan.
"Puguh, naiklah ke punggungku !" kata siluman elang pelan namun terdengar jelas seperti sangat dekat i telinga Puguh.
Mendengar ucapan siluman elang itu, Puguh segera sedikit menambah kecepatannya. Setelah pedangnya berhasil menghalau beberapa senjata lawan yang mendekat, Puguh segera melenting ke atas dan hinggap di punggung siluman elang.
Kemudian, dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti dengan pandangan mata, siluman elang itu bersama dengan Puguh di punggungnya, melesat ke arah lawan lawan yang terdekat.
Setiap gerakan pedang Puguh bertemu dengan senjata lawan, menbuat senjata lawan terpental ke belakang. Bahkan beberapa ada yang patah bilah senjatanya. Dan kemanapun pedang Puguh bergerak, selalu terdengar teriakan kesakitan lawan yang terluka bahkan meregang nyawa.
Didahului dengan sepasang cakar dan sepasang sayap serta paruh besar siluman elang yang menghadang dan menghalau setiap serangan lawan, Puguh dengan leluasa melakukan serangan.
Hanya dalam belasan jurus, dua puluh lawan sudah berjatuhan dan tidak bisa melanjutkan pertarungan. Sebagian dari mereka terpaksa tewas di tangan Puguh.
Hingga akhirnya pada suatu saat, Puguh berhadapan dengan Nyi Riwut Parijatha. Dengan senjata tongkat kecilnya, Nyi Riwut Parijatha melesat berusaha menerjang ke arah Puguh. Tongkatnya yang berputar, membuat kedua ujung tongkat kecil itu menyasar ke tubuh siluman elang ataupun tubuh Puguh.
Selain itu, yang paling berbahaya adalah adanya bulatan merah menyala di salah satu ujung tongkat kecil itu. Bulatan merah menyala itu, terkadang berkedip cepat. Nyala merah yang berkedip itu mengandung kekuatan mistis yang apabila ditangkap oleh mata, membuat gerakan lawannya sesaat terhambat.
"Siluman elang ! Hati hati dengan bulatan merah di ujung tongkat itu !" kata Puguh.
"Kraaakkk !"
"Siluman elang ! Usahakan mendekat ke tongkat itu !" kata Puguh dalam pikirannya.
Kali ini, tanpa menjawab, siluman elang itu langsung melesat ke arah Nyi Riwut Parijatha. Kepakan kedua sayapnya yang mengandung kekuatan yang lebih besar lagi dari kekuatan yang dimilikinya, mampu menghempaskan beberapa pendekar yang kebetulan berada di dekatnya.
Setelah beberapa kali berusaha mendekat, akhirnya Puguh bisa berhadapan langsung dengan Nyi Riwut Parijatha.
Dengan tusukan tusukan pedangnya, Puguh mencecar Nyi Riwut Parijatha dengan serangan yang bertubi tubi untuk memaksa Nyi Riwut menangkis sersngannya dengan menggunakan tongkat kecilnya.
Setelah berkali kali pedang Puguh berbenturan dengan tongkat kecil Nyi Riwut Parijatha, pada suatu saat, dengan tusukan yang sangat cepat, ujuny pedang Puguh berhasil mengenai bulatan merah menyala di ujung tongkat kecil Nyi Riwut Parijatha. Benturan dua ujung senjata itu menimbulkan ledakan yang sangat kuat disertai berkilatnya cahaya merah menyala dan hijau terang.
Blaaarrr !
Setelah suara ledakan itu, laju gerakan Puguh dan siluman elang sesaat terhenti. Sementara itu, tubuh Nyi Riwut Parijatha terlempar jauh kemudian jatuh ke tanah dan kemudian terdiam dalam posisi tertelungkup, setelah tersurut di tanah beberapa depa.
Tangan kanan Nyi Riwut Parijatha masih memegang senjata tongkat kecilnya. Bulatan merah menyala yang terdapat di salah satu ujung tongkat kecil itu hancur berkeping keping dan hanya menyisakan sedikit nyala merah di ujung tongkat kecil itu.
Sementara itu, melihat Nyi Riwut Parijatha terkapar dan separuh lebih pendekar pendekar yang lain terluka dan tewas, para pendekar sisanya yang masih bertahan hanya terdiam dan tidak berniat menyerang lagi.
Mereka hanya menatap Puguh dan siluman elang dengan tatapan resah.
"Kalian semua ! Yang masih ingin melanjutkan pertarungan, silahkan maju. Sedangkan yang sudah menyadari kemampuan kalian, cepat silahkan pergi dari sini !" kata Puguh sambil melompat turun dari punggung siluman elang. Kemudian menatap wajah sisa lawannya satu persatu.
Sejenak suasana menjadi sunyi. Lalu perlahan para pendekar itu mundur dan kemudian melompat pergi meninggalkan tempat pertarungan. Tempat pertarungan yang sekarang menjadi sepi. Hanya ada Puguh dan siluman elang.
Setelah mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat itu, Puguh segera teringat pada Rengganis. Segera saja Puguh melesat ke arah terakhir Rengganis terlihat bertarung, sedangkan wujud siluet siluman elang itu berubah lagi menjadi sinar hijau terang yang kemudian masuk ke dalam senjata pedang di tangan Puguh.
Sesampai di tempat pertarungan Rengganis yang banyak ditumbuhi pepohonan, Puguh sudah tidak mendapati Rengganis berada di situ. Hanya terdapat sekitar dua puluhan tubuh pendekar yang terluka ataupun tewas.
Saat Puguh menanyakan pada salah seorang pendekar yang terluka dan masih bisa diajak berbicara, pendekar itu menunjuk jauh ke arah luar benteng, daerah yang berwujud perbukitan. Segera saja Puguh melesat ke arah tempat yang ditunjuk oleh pendekar tadi.
----- * -----
Malam hari, angin berhembus pelan di sekitar benteng kotaraja, tempat yang sejak siang hingga beberapa saat yang lalu menjadi ajang pertarungan banyak pendekar tingkat sangat tinggi.
Sudah banyak tubuh tubuh terluka ataupun tewas yang diambil oleh kerabat, teman ataupun saudara seperguruan mereka. Hanya tinggal beberapa tubuh yang masih tergeletak, yang salah satunya adalah tubuh Nyi Riwut Parijatha.
Tiba tiba terdengar suara keras hentakan di tanah beberapa kali.
Jdaaammm ! Jdaaammm ! Jdaaammm !
Sesaat kemudian, tiba di tempat itu sesosok tubuh manusia yang sangat besar.
Manusia raksasa yang kepalanya pelontos dan dada yang terbuka tanpa baju dan tangan kanan memegang senjata gada dari kayu pohon hitam itu segera meloncat ke arah tubuh Nyi Riwut Parijatha.
"Maafkan Kala Caraka yang terlambat datang untuk memenuhi panggilanmu ibu !" kata manusia raksasa yang bernama Kala Caraka.
Kemudian, sambil menahan tangis, Kala Caraka mengangkat pelan tubuh Nyi Riwut Parijatha, kemudian memanggulnya di pundak kirinya yang sangat lebar.
Sesaat kemudian, tubuh raksasa Kala Caraka yang membawa tubuh Nyi Riwut Parijatha, melesat dengan sangat ringan menuju ke luar kotaraja dengan arah yang lain dari arah yang dituju oleh Puguh.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_