
Setelah memastikan situasi di Padepokan Wukir Candrasa terkendali, Ki Dwijo dan Resi Wismaya serta Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita berniat segera meninggalkan tempat itu.
Namun tidak dengan Iswara Dhatu dan Kartika Dhatu. Mereka merasa menyayangkan kalau Padepokan Wukir Candrasa nantinya jatuh ke tangan orang orang jahat. Maka, Iswara Dhatu ingin memastikan dulu, siapa yang akan datang ke padepokan, setelah kejadian ini. Iswara Dhatu berharap bisa bertemu dengan Nyi Riwut Parijatha yang merupakan kakak kandung dari Ki Dahana Yaksa yang sudah tewas.
"Baiklah Iswara Dhatu. Kami sangat berterimakasih, kamu mau memikirkan nasib Padepokan Wukir Candrasa kedepannya. Kami pergi dulu !" kata Resi Wismaya berpamitan.
Kemudian ketiga tokoh tua dunia persilatan itu, serta Putri Cinde Puspita melesat menuruni lereng Gunung Pedang.
Sesampainya di kaki Gunung Pedang, Dewi Laksita melambatkan larinya.
"Resi Wismaya, kenapa kekuatan jiwa siluman serigala mata biru, tidak kau titipkan pada Iswara Dhatu ?" tanya Dewi Laksita.
"Heehhh he he he he ! Dewi Laksita, kau menanyakan sesuatu yang kau sudah tahu jawabannya !" jawab Resi Wismaya.
"Kau jelaskan ! Agar muridku bisa paham dengan maksudmu !" kata Dewi Laksita.
"Heehhh he he he he ! Dewi Laksita, kekuatan jiwa siluman serigala mata biru, kekuatannya berunsur panas. Kau tentunya sudah tahu, tehnik tenaga dalam dan jurus 'Tarian Dewi Kematian' milik Iswara Dhatu unsurnya juga api. Bahkan, tehnik tenaga dalam dan jurus 'Tarian Dewi Kematian' menjadi lebih dahsyat lagi, jika dimainkan oleh Kartika Dhatu cucunya. Maka, kekuatan jiwa siluman serigala mata biru akan aman, di tangan muridmu, yang mewarisi kekuatan istimewa 'Dewi Kasih Sayang' yang memiliki sifat unsur air !" Jawab Resi Wismaya.
Mendengar pernyataan Resi Wismaya, Dewi Laksita sekilas melirik ke arah Putri Cinde Laksita.
"Putri Cinde Puspita, kau sudah paham, apa tugasmu kan ?" tanya Dewi Laksita.
"Sudah guru !" jawab Putri Cinde Puspita.
"Nah, sudah jelas semua sekarang !" kata Dewi Laksita lagi, "Ayo kita lanjutkan mengejar Puguh !"
"Kita hendak ambil arah mana ?" tanya Resi Wismaya.
Mendengar perkataan Resi Wismaya, seketika semuanya berhenti bergerak dan menatap Dewi Laksita semuanya.
"Kenapa kalian semua menatapku seperti itu ?" tanya Dewi Laksita terlihat bingung.
Namun semuanya terdiam dan menunggu Dewi Laksita mengatakan sesuatu.
"Kita ke arah pesisir jauh sana !" kata Dewi Laksita.
Kemudian keempat orang itu segera melesat ke arah yang ditunjuk oleh Dewi Laksita.
----- * -----
Sementara itu, saat Ki Dwijo dan Resi Wismaya serta Dewi Laksita dan Putri Cinde Puspita pergi menuruni lereng Gunung Pedang meninggalkan Padepokan Wukir Candrasa, Iswara Dhatu yang mengantarnya sampai ke pintu gerbang, masih termenung sendirian walaupun bayangan tubuh keempat orang itu sudah hilang dari penglihatannya.
"Ki Dwijo, kenapa kekuatan jiwa siluman serigala mata biru, tidak langsung kau titipkan pada cucuku ? Sedangkan kau sudah tahu, saat ini, cucuku masih lebih kuat daripada gadis keraton itu !" kata Iswara Dhatu dalam hati.
"Jangan remehkan Trah Keluarga Asmara Dhatu. Akan aku buktikan, hanya cucuku, Kartika Dhatu, yang pantas mendampingi pewaris Pendekar Penunggang Elang yang menjadi muridmu itu !" lanjut Iswara Dhatu dalam batin.
Setelah beberapa waktu hanya terdiam, Iswara Dhatu kembali ke dalam bangunan utama Padepokan Wukir Candrasa.
Padepokan Wukir Candrasa, yang dulunya sangat disegani dan sangat kuat pengaruhnya di dunia persilatan Kerajaan Kisma Pura, kini kekuatannya tinggal tidak lebih dari separuh. Selain murid murid dan anggota inti yang memiliki kekuatan tingkat menengah hingga ke bawah, hanya ada sekitar tiga puluh orang yang kekuatannya berada pada tingkat tinggi.
Selesai memperhitungkan kekuatan sisa sisa anak murid Padepokan Wukir Kencana, Iswara Dhatu segera pergi ke Rawa Jingga untuk menemui Nyi Riwut Parijatha, untuk membahas keberlangsungan nasib Padepokan Wukir Kencana serta murid muridnya.
Iswara Dhatu tidak ditemani oleh Kartika Dhatu, karena cucunya itu dia serahi tugas untuk mengawasi dan mengurus Padepokan Wukir Candrasa selama dia belum kembali.
"Iswara Dhatu, apa lagi yang hendak kau inginkan dari keluargaku ?" tanya Nyi Riwut Parijatha.
"Maaf Nyi Riwut Parijatha, aku hanya ingin mengabarkan satu hal dan menanyakan satu hal," jawab Iswara Dhatu.
"Lekas katakan !" kata Nyi Riwut Parijatha lagi.
"Nyi Riwut Parijatha, anakmu telah tewas dalam pertarungan di Padepokan Wukir Candrasa. Pun juga keponakanmu. Kemudian, bagaimana dengan nasib Gunung Pedang dan Padepokan Wukir Candrasa serta murid muridnya ?" kata Iswara Dhatu.
"Iswara Dhatu, terimakasih atas kabarnya. Mengenai kematuan anak dan keponakanku, aku sudah merasakan dan mengetahuinya. Aku sedang berusaha merelakannya, karena aku sudah mengingatkannya sebelumnya. Aku juga sedang berusaha memberikan pengertian kepada suamiku tentang kematian anak kami. Semoga dia bisa menerimanya. Tentang Padepokan Wukir Candrasa, biarlah terkubur bersama sejarah !" jawab Nyi Riwut Parijatha.
"Kau yakin tidak ingin mengurusnya ?" tanya Iswara Dhatu.
"Aku sudah cukup bahagia di sini, di Rawa Jingga ini !" jawab Nyi Riwut Parijatha.
"Bagaimana dengan suamimu ?" tanya Iswara Dhatu lagi.
"Suamiku sedang menyendiri, sedang tidak ingin diganggu !" jawab Nyi Riwut Parijatha.
"Nyi Riwut Parijatha, bagaimana kalau Gunung Pedang, aku yang mengurusnya ? Karena, akan sangat tidak baik kalau Gunung Pedang terutama Padepokan Wukir Candrasa, jatuh di tangan orang yang tidak benar !" tanya Iswara Dhatu.
"Terserah kau, Iswara Dhatu. Tapi aku akan sangat berterimakasih, andaikata kau mau mengurusnya !" jawab Nyi Riwut Parijatha.
Akhirnya, setelah mendapatkan ijin dari Nyi Riwut Parijatha, Iswara Dhatu kembali ke Gunung Pedang.
Setiba di Padepokan Wukir Candrasa, Iswara Dhatu menyuruh Kartika Dhatu cucunya, untuk pulang ke bukit tempat tinggal Trah Keluarga Asmara Dhatu.
Di Padepokan Wukir Kencana, selain masih ada sisa sisa anak murid Ki Dahana yaksa, Iswara Dhatu hanya minta ditemani oleh sepuluh anggota Trah Keluarga Asmara Dhatu yang masing masing sudah memiliki kekuatan pada tingkatan tinggi.
----- * -----
Setelah melakukan pengejaran selama tiga hari terus menerus, akhirnya Puguh tiba di daerah pesisir pantai yang bertebing, bahkan ada beberapa bagian pesisir yang memiliki tebing yang sangat tinggi dan curam.
Sejenak, Puguh berdiri di pinggir tebing yang cukup tinggi. Dari atas, suara deburan ombak yang menghantam dinding tebing, masih terdengar suaranya. Hembusan angin dari arah lautan lepas juga terasa sangat kencang.
Puguh menatap ke arah lautan lepas, mencoba menikmati keindahannya. Namun Puguh tidak bisa sepenuhnya menikmati semua keindahan itu. Pikirannya selalu dipenuhi tentang keselamatan Rengganis.
Begitu teringat Rengganis, Puguh segera melihat ke sekelilingnya. Tiba tiba, sekilas Puguh melihat bayangan tubuh di antara tebing tebing yang lebih tinggi lagi.
"Adik Rengganis ? Jangan jangan bayangan itu tadi adalah adik Rengganis !" kata Puguh dalam hati.
Maka, sambil berlompatan pelan, Puguh naik ke atas deretan tebing yang lebih tinggi lagi dari tempat Puguh berdiri.
Beberapa saat kemudian, Puguh tiba di suatu tempat yang cukup luas dan datar, yang merupakan tempat paling tinggi di deretan tebing pesisir pantai itu.
Diarah pinggir tebing, Puguh melihat seseorang yang berdiri membelakanginya. Rambutnya terlihat acak acakan, pakaiannya terlihat kotor dan sudah banyak yang tidak utuh karena robek. Puguh terkejut sekaligus senang, saat melihat sosok yang dilihatnya itu adalah Rengganis.
"Adik Rengganis !" teriak Puguh.
__________ ◇ __________