Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Hancurnya Tubuh Pangeran Panji


Melihat mereka bertiga terluka, Puguh segera melompat di depan mereka dengan tubuh menghadap ke arah Pangeran Panji.


Baru saja kakinya menapak di tanah, Puguh kembali melihat, tubuh Pangeran Panji berkelebat sangat cepat ke arahnya dengan serangkaian pukulan dan tendangan.


Segera saja Puguh menghadang serangan serangan itu. Sambil meningkatkan aliran tenaga dalamnya, kedua tangan Puguh memapaki setiap pukulan Pangeran Panji, hingga menimbulkan suara benturan yang keras.


Plakkk ! Plakkk ! Plakkk !


Buggg ! Buggg !


Dbammm ! Dbammm !


Lagi lagi tubuh Puguh dan Pangeran Panji terhuyung mundur hingga beberapa langkah.


Setelah kembali memantapkan kuda kudanya, Pangeran Panji segera mencabut senjata pedangnya yang terselip dipinggangnya. Kemudian, dengan gerakan yang sangat cepat, Pangeran Panji melancarkan serangan. Pedangnya berkelebatan menusuk dan menebas ke beberapa titik tubuh Puguh.


Melihat Pangeran Panji sudah mengeluarkan senjatanya, Puguh pun segera meloloskan pedang dari sarungnya. Perlahan, bilah pedangnya mengeluarkan sinar hijau terang yang semakin lama makin bersinar terang.


"Kakang Widura, kakang Darutama dan Mbakyu Arimbi, aku minta tolong, kalian bantu menahan manusia iblis yang satunya," kata Puguh pelan sambil tangannya menunjuk ke arah Putri Mahatariti, sebelum kemudian tubuhnya melesat menghadang arah pergerakan Pangeran Panji.


Mereka bertiga masih terdiam dalam rasa terkejutnya.


Hingga kemudian terdengar suara berdentangan kedua pedang berbenturan, saat Puguh sudah kembali bertarung melawan Pangeran Panji.


Tanggg ! Tanggg ! Tanggg !


Tranggg ! Tranggg !


Tanpa disadari, sudah sekitar seratus jurus mereka beradu senjata yang mengandung tenaga dalam yang sangat tinggi.


Merasa belum bisa mendesak lawannya, Pangeran Panji terus menaikkan tingkat tenaga dalamnya. Hingga saat aliran tenaga dalamnya mencapai tingkat yang sangat tinggi, terjadi perubahan pada tubuh Pangeran Panji.


Tubuh Pangeran Panji perlahan bertambah tinggi hingga satu setengah tinggi tubuhnya yang asli. Wajahnya yang lonjong dengan taring yang tumbuh hingga keluar dari bibirnya. Lidah dan telinganya memanjang. Lengannya pun memanjang dengan kuku jari tangan dan jari kaki yang menebal dan panjang.


Bahkan kemudian muncul sayap di punggungnya. Sayap yang terbentuk dari bulu bulu api merah membara. Kemudian, bilah pedangnya pun juga mengeluarkan api merah membara. Hawa di sekitar tubuh Pangeran Panji terasa panas.


Setelah perubahan wujud tubuhnya sempurna, dengan sedikit menotolkan kaki kanannya, Pangeran Panji segera terbang dan melesat dengan sangat cepat ke arah Puguh.


Sementara itu, Puguh, melihat perubahan yang terjadi pada Pangeran Panji, segera mengalirkan tenaga dalam hingga tingkat yang sangat tinggi dan mengalirkannya ke seluruh tubuhnya.


Beberapa saat kemudian tubuhnya terangkat dan melayang. Bilah pedangnya mengeluarkan sinar hijau yang sangat terang dan juga mengeluarkan hawa yang sangat dingin.


Saat tubuh Pangeran Panji terbang dan melesat ke arahnya, tubuh Puguh pun melesat ke atas memapaki datangnya serangan Pangeran Panji.


Sesaat kemudian, di langit yang menghitam, terlihat kelebatan dua tubuh yang sama sama terbang. Yang dalam penglihatan mereka semua yang berada di bawah, hanya terlihat dua sinar, hijau terang dan merah membara, yang saling menyambar dan saling berbenturan.


Setiap kelebatan tubuh mereka, selalu diiringi suara benturan pedang mereka.


Tanggg ! Tanggg ! Tanggg !


Tranggg ! Tranggg !


Puguh dan Pangeran Panji bertarung semakin lama semakin ke atas. Walaupun bertarung di langit, namun Puguh tetap berusaha memperhatikan pertarungan yang sedang dilakukan oleh Rengganis. Hingga akhirnya, pada suatu kesempatan, Puguh melihat kelebatan bayangan transparan kera raksasa, yang kedua tangannya selalu menyambar asap tipis yang keluar dari tubuh para prajurit Kerajaan Banjaran Pura yang gugur dan butiran sinar merah sebesar ibu jari yang keluar dari tubuh pasukan iblis yang musnah tubuhnya.


Saat Puguh sedang menangkis dan menahan serangan Pangeran Panji, tiba tiba terdengar suara ledakan dan teriakan dari arah pertempuran Rengganis, Senopati Roro Nastiti dan Ki Kebo Ranu melawan Putri Mahatariti, beberapa kali.


Sesaat setelah terdengar suara ledakan dan teriakan itu, Puguh melihat tubuh Rengganis, Senopati Roro Nastiti dan Ki Kebo Ranu terpental cukup jauh dan kemudian jatuh ke tanah.


Melihat mereka bertiga kesulitan untuk berdiri lagi, Puguh pun berteriak memanggil kera raksasa yang tadi sempat dilihatnya.


"Paman kera ! Tolong bantu mereka melawan perempuan iblis itu !" teriak Puguh.


Pada saat yang bersamaan, karena sedang memperhatikan pertempuran dibawah, satu tebasan pedang Pangeran Panji berhasil membuat luka di dada Puguh.


Srattt !


Puguh pun langsung tersadar dan segera melesat, melayang mundur, sambil menempelkan bilah pedangnya ke dadanya yang terluka cukup panjang.


Tiba tiba terdengar suara menjawab teriakan Puguh.


"Akan kutolong mereka dan akan kutagih bayarannya padamu !"


Sesaat kemudian, muncul tubuh transparan laki laki tua yang semakin lama semakin terlihat nyata.


Beberapa kali Puguh masih melihat pertarungan laki laki tua itu melawan Putri.Mahatariti. Terlihat, kera raksasa yang sedang dalam wujud laki.laki tua itu mampu mengimbangi kemampuan dan tenaga dalam Putri Mahatariti.


Kemampuan mereka nampak seimbang, sehingga beberapa kali mereka saling menyarangkan pukulan dan tendangan.


Setelah sesaat melihat pertarungan itu, akhirnya Puguh bisa fokus pada pertarungannya dan mulai membalas menyerang.mm


Kemudian, terdengar lagi suara dentangan logam beradu berkali kali, setiap pedang Puguh dan pedang Pangeran Panji saling berbenturan.


Tranggg ! Tranggg ! Tranggg ! Tranggg !


Blammm ! Blammm !


Dengan memainkan jurus Jata Candrama, perlahan lahan Puguh mulai bisa mendesak Pangeran Panji. Pedang Puguh beberapa kali berhasil melukai Pangeran Panji, bahkan sempat menebas hingga putus kaki kiri Pangeran Panji.


Namun, dengan cepat luka yang di alami Pangeran Panji, pulih kembali. Bahkan kakinya yang putus pun segera kembali menyambung lagi.


Hal yang dialami Puguh itu, ternyata selalu diperhatikan oleh kera raksasa yang berwujud laki laki tua.


"Hahhh ! Kau belum juga bisa membunuhnya ya !" kata laki laki tua jelmaan kera raksasa sambil menangkis serangan Putri Mahatariti.


Puguh hanya terdiam. Gerakannya dipercepat hingga beberapa kali pedangnya berhasil menghujam ke dada Pangeran Panji. Namun masih saja Pangeran Panji pulih dengan cepat.


"Apa kau ingin aku memberitahumu cara membunuhnya ?" tanya laki laki tua itu.


"Aku akan memberitahukan cara membunuhnya ! Namun kau harus berjanji, untuk memberikan satu permintaanku ! Apakah kau bersedia Puguh ?" tanya laki laki tua itu.


Puguh yang saat itu melihat ke arah pertarungan laki laki tua itu melawan Putri Mahatariti dan baru saja hendak menjawab, tiba tiba melihat hal yang aneh.


Putri Mahatariti tiba tiba berhenti bergerak dan bibirnya bergetar berucap pelan.


"Pu ... Guh ... ?"


Sementara itu, kesempatan itu dimanfaatkan oleh laki laki tua itu untuk melepaskan sebuah pukulan tangan kanan yang dengan keras mengenai dada Putri Mahatariti.


Dbammm !


Terkena pukulan di dadanya, Putri Mahatariti terdorong mundur hingga beberapa langkah dan kemudian jatuh terduduk. Sesaat kemudian, Putri Mahatariti memuntahkan darah hitam dari mulutnya.


Sesaat mata Putri Mahatariti berubah menjadi mata manusia biasa. Putri Mahatariti menatap ke arah laki laki tua itu. Terlihat senyuman sinis menghiasi bibirnya yang masih ada noda darah hitam.


Kemudian, Putri Mahatariti mendongakkan kepala melihat ke arah Puguh yang masih bertarung melawan Pangeran Panji.


"Kau Puguh ya ? Jangan dengarkan dia ! Hatinya lebih jahat daripada iblis itu sendiri !" ucap Putri Mahatariti.


Puguh terkejut mendengar perkataan Putri Mahatariti, yang seperti manusia biasa yang tidak terpengaruh kekuatan iblis.


Namun itu hanya sesaat, mata Putri Mahatariti kembali menghitam seluruhnya, dan kembali bergerak melawan laki laki tua itu.


Tiba tiba, laki laki tua itu berteriak.


"Kau tebas tubuhnya menjadi dua, kanan dan kiri mulai dari kepala hingga ke kaki. Yang sebelah kanan bakar dengan panas tenaga dalammu, dan yang sebelah kiri, hancurkan dengan hawa dingin yang keluar dari pedangmu !" teriak laki laki tua itu.


Saat laki laki tua itu baru saja menutup mulutnya, tubuh Puguh sudah melenting ke atas dan kemudian melesat sangat cepatnya ke arah Pangeran Panji.


Kemudian, dengan kecepatan geraknya, Puguh menebaskan pedangnya secara vertikal ke arah kepala Pangeran Panji.


Plaaasss !


Tanpa bisa menghindar, tubuh Pangeran Panji terbelah menjadi dua sama persis. Kemudian, dengan cepat, telapak tangan kiri Puguh yang sudah dialiri tenaga dalam sangat tinggi menghantam badan sebelah kanan Pangeran Panji.


Blanggg !


Sedangkan pedangnya yang juga sudah dialiri dengan tenaga dalam yang sangat tinggi, memberikan tusukan ke arah dada sebelah kiri badan Pangeran Panji.


Blarrr !


Dua bagian tubuh Pangeran Panji itu meledak dan hancur tanpa meninggalkan sisa. Hanya asap tipis dan butiran sinar merah membara sebesar ibu jari tangan yang keluar dari tubuh Pangeran Panji, yang langsung terserap.masuk ke dalam bilah pedang Puguh.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_