Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Tertangkapnya Prabu Girindra Nata


Prabu Girindra Nata yang baru saja berbenturan senjata dengan Panglima Perang Gardapati, segera memutar kembali senjata pedangnya, dengan memanfaatkan pantulan senjata pedangnya untuk menangkis datangnya serangan Panglima Perang Anggaraksa.


Akhirnya kembali terjadi benturan benturan senjata berkali kali yang terjadi dalam kecepatan yang sudah tidak bisa diikuti oleh mata.


Namun, setelah benturan senjata itu berlangsung selama tiga puluh jurus, kedua senopati itu belum juga berhasil menembus pertahanan Prabu Girindra Nata yang sangat rapat, khas tehnik pertahanan ilmu silat keprajuritan.


Melihat hal itu, Panglima Perang Hapsari segera ikut masuk kembali ke dalam pertarungan. Senjata cambuknya meledak ledak dengan ujungnya yang mematuk matuk mengarah dan mengancam titik titik berbahaya pada tubuh Prabu Girindra Nata.


Dikepung dan dicecar dengan tiga serangan yang semuanya sangat berbahaya selama dua puluh jurus, akhirnya secara perlahan, Prabu Girindra Nata terdesak dan mulai menerima beberapa luka di tubuhnya.


Walaupun berhasil membalas dengan memberikan luka pada ketiga lawannya, rentetan totokan dari ujung cambuk serta gagang tombak panjang yang mengenai tubuhnya, membuat Prabu Girindra Nata harus terjatuh dan tidak bisa melakukan perlawanan karena pingsan.


"Cepat bawa masuk ke tenda tahanan. Jaga dengan ketat dan jangan ada seorangpun yang boleh masuk, kecuali para Panglima Perang !" kata Panglima Perang Gardapati yang tetap khawatir apabila ada pendekar yang menyusul Prabu Girindra Nata.


Walaupun datang dengan jumlah pasukan yang besar, disertai oleh para Panglima Perang yang memiliki ilmu kesaktian sangat tinggi, tetapi pasukan perang Kerajaan Menara Langit belum juga melakukan penyerangan ke kotaraja Kerajaan Kisma Pura.


Hal ini dikarenakan, para Panglima Perang yang menyarankan pada Pangeran Langit Barat, belum mengetahui kekuatan dan jumlah para pendekar yang kemungkinannya akan membantu pasukan perang Kerajaan Kisma Pura.


----- * -----


Selama beberapa waktu, suasana menjadi hening, saat Pangeran Indra Prana mengakhiri ceritanya.


"Pangeran Indra Prana, melihat situasi itu, apa yang menjadi rencana Pangeran Indra Prana ?" tanya Puguh.


"Sebenarnya, jika pihak pasukan perang Kerajaan Menara Pura belum juga menyerang, pasukan perang Kerajaan Kisma Pura akan menyerang terlebih dahulu. Tetapi kami masih mencari pendekar yang bisa melawan Pangeran Langit Barat atau para Panglima Perangnya !" jawab Pangeran Indra Prana, "Dan kami sangat beruntung, Pendekar Puguh sudah tiba di sini !"


"Apakah Pangeran Indra Prana sudah yakin, kalau Pangeran Langit Barat ada bersama pasukan perangnya yang di sini ?" tanya Puguh lagi.


"Itulah yang belum kami ketahui, Pendekar Puguh. Saat menantang Ayahanda Prabu Girindra Nata, yang menyampaikan tantangan, salah seorang Panglima Perangnya !" jawab Pangeran Indra Prana.


Jawaban Pangeran Indra Prana itu membuat Puguh sejenak terdiam. Pikiran dan angan angannya, memikirkan banyak hal yang kemungkinan bisa terjadi dengan Pangeran Langit Barat.


"Pangeran Indra Prana, seberapa besar kekuatan pasukan perang yang kita miliki, dan berapa kekuatan pendekar yang kita miliki ?" tanya Puguh lagi.


"Kalau jumlah prajurit, Kerajaan Kisma Pura memiliki pasukan perang yang mampu menghadapi kekuatan pasukan perang Kerajaan Menara Langit. Tetapi, untuk menandingj Pangeran Langit Barat dan para Panglima Perangnya, kita butuh lebih banyak lagi pendekar pendekar yang memiliki tingkat kesaktian sangat tinggi !" jawab Pangeran Indra Prana.


"Pangeran, bisakah pasukan mata mata yang Pangeran Indra Prana miliki, mencari informasi tentang jumlah Panglima Perang dan yang lainnya yang memiliki kesaktian sangat tinggi, yang saat ini bersama pasukan perang Kerajaan Menara Langit yang berada di sini ?" tanya Puguh.


"Maaf Pendekar Puguh. Sejak kedatangan pasukan perang Kerajaan Menara Langit di pesisir yang masuk wilayah Kerajaan Kaling Pura, kami hanya bisa mendapatkan informasi kalau pasukan perang Kerajaan Menara Langit dipimpin oleh Pangeran Langit Barat dibantu oleh sekitar sepuluh Panglima Perang yang memiliki kesaktian sangat tinggi !" jawab Pangeran Indra Prana.


"Pangeran Indra Prana, berapa banyak, pendekar yang ilmu kesaktiannya sudah sangat tinggi, yang sekiranya mampu melawan dan menahan para Panglima " kembali Puguh bertanya.


Kemudian, Pangeran Indra Prana mencoba menjawab pertanyaan Puguh dengan menyebut beberapa nama tokoh tokoh dunia persilatan yang sudah masuk golongan senior.


"Pangeran Indra Prana ! Coba Pangeran sampaikan pada para pendekar itu, apakah mereka siap, jika kita melakukan serangan pada pasukan perang Kerajaan Menara Langit ? Jika mereka siap dan benar benar mau membantu, segera kita lakukan perencanaan untuk melakukan penyerangan !" kata Puguh memberikan saran.


"Aku memang sangat menantikan kehadiran Pendekar Puguh. Kalau Pendekar Puguh berpendapat lebih baik kita menyerang terlebih dahulu, kita akan segera melakukan penyerangan !" jawab Pangeran Indra Prana.


Akhirnya Puguh berpamitan meninggalkan bangunan sederhana yang dijadikan markas darurat Padepokan Kuwanda Brastha.


Pada Puguh, Pangeran Indra Prana berpesan, untuk memanggil dirinya dengan nama Ki Prana Jiwa. Karena hanya Puguh dan beberapa pendekar yang sangat dia percaya, yang mengetahui kalau dirinya adalah Pangeran Indra Prana.


Sementara itu, setelah bertemu dengan Pangeran Indra Prana atau Ki Prana Jiwa, Puguh selama beberapa waktu, tetap berada di sekitar Istana Kerajaan Kisma Pura, untuk mencari dan menemui guru gurunya, terutama Ki Dwijo dan Resi Wismaya.


Setelah beberapa saat mencari, Puguh berhasil menjumpai kedua gurunya, berada di pinggiran kotaraja, berbaur dengan orang orang atau para pendekar lainnya.


"Guru berdua, apakah guru kenal dengan tokoh persilatan yang bernama Aswa Muka dan Aswa Kudana ?" tanya Puguh pada Ki Dwijo dan Resi Wismaya, setelah mereka berbincang bincang.


"Puguh, kau pernah bertemu dengan mereka berdua ?" Resi Wismaya balik bertanya.


Kemudian, Puguh menceritakan secara singkat pertempuran di wilayah kerajaan Kaling Pura. Dimana dalam pertempuran itu, Puguh bertemu dengan Rengganis yang datang secara tiba tiba bersama dengan Aswa Muka dan Aswa Kudana.


"Ngger Puguh ! Aswa Muka dan Aswa Kudana adalah tokoh persilatan yang sangat aneh. Tidak semua pendekar bisa bertemu dengan mereka berdua, apalagi berbincang dengan mereka berdua.


Karena, Aswa Muka dan dan Aswa Kudana sangat tertutup. Jarang sekali yang bisa mengenalnya.


Pada kesempatan itu, Puguh juga menceritakan keadaan Reng¥ganis yang seluruh permukaan kulit tubuhnya, berubah menjadi hitam legam, akibat dari latihannya.


"Kalau tentang yang dialami oleh Rengganis, memang ada beberapa tehnik latihan penyerapan tenaga dalam yang menimbulkan akibat pada tubuh !" kata Ki Dwijo.


"Ada beberapa tehnik penyembuhan yang bisa dilakukan, tergantung dari apa yang dilatihnya !" sambung Resi Wismaya.


"Guru, sebenarnya Puguh ingin sekali bisa segera menemukan Rengganis dan membantu Rengganis mencarikan obat penawar untuk memulihkan keadaannya !" kata Puguh.


"Setelah kita tahu persis situasi peperangan ini, kita bantu Rengganis !" jawab Ki Dwijo.


Akhirnya, Puguh mengindahkan saran dari kedua gurunya.


---------- ◇ -----------