
Iblis Bermata Satu sudah mengeluarkan senjatanya, sebuah pedang tipis dan lentur, yang dia lingkarkan di pinggangnya, sejak pertarungannya melawan Ki Dwijo berpindah dan berlangsung di tepi hutan. Hal itu berarti, Iblis Bermata Satu sangat serius menghadapi pertarungannya melawan Ki Dwijo dan menikmatinya.
KI Dwijo dan Iblis Bermata Satu saling silih berganti menyerang. Tubuh mereka berdua berkelebatan sangat cepat. Tidak terlalu keras suara yang ditimbulkan akibat dari benturan senjata mereka. Dan kesiuran angin karena gerakan mereka menggunakan ilmu meringankan tubuh juga tidak terlalu besar.
Namun, setiap benturan senjata pedang tipis dengan tongkat, ataupun bertemunya pukulan dan tendangan mereka, selalu membuat tubuh mereka bergetar dan terdorong mundur ke belakang.
Tak ! Tak ! Tak ! Tak !
Traaakkk ! Traaakkk !
Ki Dwijo dan Iblis Bermata Satu sudah sangat serius, hingga sudah mulai mengeluarkan puncak ilmu mereka.
Pedang tipis Iblis Bermata Satu berkelebatan sangat cepat mengelilingi tubuhnya. Sehingga membuat tubuh Iblis Bermata Satu seperti terbungkus sinar keperakan. Disela sela kelebatan sinar keperakan yang membungkus tubuhnya itu, bilah pedang Iblis Bermata Satu melesat menusuk ataupun menebas ke arah tubuh Ki Dwijo.
Sementara itu, Ki Dwijo memutar tongkatnya dengan kedua tangannya, membuat kedua ujung tongkat sebagai pengganti kedua tangannya. Dengan gerakan yang sangat cepat, kedua ujung tongkat itu digerakkan untuk menotok ataupun menghantam untuk mencari celah pada kelebatan sinar pedang Iblis Bermata Satu. Kecepatannya itulah yang dahulu saat mudanya, membuat Ki Dwijo terkenal dengan julukan Pendekar Tangan Seribu. Apalagi sekarang, Ki Dwijo semakin mengalami peningkatan.
Kalau dahulu, ilmu pukulan tangan kosongnya yang sangat cepat, sekarang, kedua tangannya bisa digantikan oleh kedua ujung tongkatnya, dengan kecepatan yang sangat cepat, bahkan sekarang lebih cepat lagi.
Pada pertarungan Ki Dwijo melawan Iblis Bermata Satu, ratusan jurus telah mereka lewati hingga hari menjelang malam.
Hingga pada suatu saat, secara bersamaan, Iblis Bermata Satu dan Ki Dwijo melenting dengan sangat cepat dan kemudian melakukan serangkaian serangan yang menggunakan tenaga dalam yang sangat tinggi.
Traaannnggg ! Traaannnggg !
Dbaaammm ! Dbaaammm !
Benturan pedang dengan tongkat disusul bertemunya kedua pukulan yang mengandung tenaga dalam yang sangat tinggi, membuat tubuh mereka berdua terpental ke belakang dan terlempar hingga terpisah cukup jauh, ditelan gelapnya malam yang mulai menguasai seluruh hutan itu.
----- * -----
Malam hari di markasnya, di Istana Setra Jenggala, Pangeran Panji sangat murka bercampur panik dan rasa sedih.
Pada peperangan hari ini, pasukannya kehilangan banyak kekuatan. Senopati Lembu Caraka yang terluka parah serta kehilangan banyak darah dan tenaga, akhirnya harus gugur, menghembuskan nafas terakhirnya.
Yang membuat Pangeran Panji bersedih adalah berita yang dibawa oleh pasukan telik sandi, yang mengabarkan tentang tewasnya Senopati Arya Kastara di Keputren.
Selain itu, dari tokoh tokoh pendekar yang membantunya juga ada beberapa yang gugur dan terluka.
Iblis Timur diketemukan tewas di tempat pertarungan, terkena palu Ki Pande hingga dadanya hancur. Sedangkan Iblis Barat, walaupun terluka parah, masih bisa melarikan diri sesaat setelah suara ledakan dari palu Ki Pande yang menghempas tanah.
Sedangkan Iblis Selatan dan Iblis Utara yang melarikan diri, akhirnya bisa menyusul kembali ke markas, Istana Setra Jenggala.
Namun, Iblis Bermata Satu hingga pagi hari berikutnya, belum diketahui kabarnya.
Jumlah prajurit perang pasukan Pangeran Panji, tinggal sekitar empat ribu prajurit.
Sementara itu, suasana yang sama, terjadi di istana Kerajaan Banjaran Pura.
Senopati Wiraga menyusul Senopati Cakrayuda, mendapatkan luka yang sangat parah, sehingga harus mendapatkan perawatan yang serius.
Sedangkan di kalangan tokoh persilatan yang bergabung dan membantu Prabu Pandu Kawiswara, hanya mengalami luka luka.
Ki Pande dan Ki Tanggul Alas tidak terlalu banyak mengalami luka, sehingga bisa segera pulih. Sedangkan Ki Bhanujiwo dan Ki Kebo Ranu juga hanya mengalami luka ringan.
Namun, kabar tentang Ki Dwijo belum mereka dapatkan. Mendengar hal ini, Puguh meminta ijin pada malam itu juga untuk pergi mencari Ki Dwijo gurunya.
----- * -----
Pada hari ke tiga, Prabu Pandu Kawiswara mengutus pasukan telik sandinya untuk mencari informasi tentang keadaan Pangeran Panji dan kekuatan pasukan perangnya.
Walaupun tetap menyiapkan pasukan perang, namun hanya diperintah untuk bersiaga dan belum diberangkatkan kembali ke medan perang.
Sementara itu sebelumnya, Puguh yang pergi ke hutan dekat berlangsungnya pertempuran, selama semalam suntuk, Puguh mencari keberadaan Ki Dwijo gurunya.
Begitu menjelang pagi, barulah Puguh menemukan Ki Dwijo yang bersandar pada akar pohon yang mencuat ke permukaan, setelah sebelumnya, Puguh menemukan Iblis Bermata Satu yang juga terluka sangat parah. Karena tidak tega, akhirnya Puguh menyalurkan tenaga dalamnya hingga Iblis Bermata Satu sadar sepenuhnya. Dan memberikan ramuan obat pada Iblis Bermata Satu, agar luka lukanya tidak membahayakan nyawanya.
Keadaan Ki Dwijo terlihat sangat payah dan menderita beberapa luka sayatan di lengan, dada dan beberapa bagian tubuh yang lainnya.
Puguh segera mendekati dan melihat, ternyata Ki Dwijo masih hidup. Puguh pun dengan cepat memberikan pertolongan dengan menyalurkan tenaga dalamnya melalui punggung Ki Dwijo. Tidak lupa, Puguh memberikan ramuan obat yang dia bawa.
Setelah keadaan Ki Dwijo sudah tidak membahayakan lagi, Puguh segera memanggul tubuh Ki Dwijo, dan kemudian melesat dengan sangat cepatnya, menuju ke istana Banjaran Pura.
Puguh tiba di istana, saat Prabu Pandu Kawiswara menyuruh prajurit telik sandi untuk mencari tahu, keadaan pasukan perang Pangeran Panji.
Sementara di tengah hutan, di istana Setra Jenggala, Pangeran Panji tidak memerintahkan pasukan perangnya untuk ke medan pertempuran. Karena merasa, kekuatan pasukan perangnya banyak berkurang dan belum mempunyai senopati pengganti. Sedangkan untuk menggantungkan harapan pada para pendekar yang membantunya, Pangeran Panji belum merasa yakin, mengingat sifat pendekar yang cenderung tidak mau diatur dan tidak mau terikat pada aturan apapun.
Selain itu, Pangeran Panji juga menuruti saran dari gurunya, Ki Kama Catra. Untuk menunda pertempuran dulu, guna menyusun kekuatan lagi, sambil menunggu latihan gurunya yang hampir selesai. Saat ini, guru Pangeran Panji, Ki Kama Catra sedang menciptakan ilmu baru yang sedikit lagi sempurna.
Keadaan pasukan perang Pangeran Panji bisa terbaca dan diketahui oleh pasukan telik sandi Kerajaan Banjaran Pura.
Setelah waktu menjelang sore, pasukan telik sandi itu kembali ke kerajaan dan melaporkan semua yang dilihat dan diketahuinya. Dan juga kabar burung tentang guru Pangeran Panji yang sedang melatih ilmu baru ciptaannya dan sudah dalam tahap menyempurnakan.
Mendengar laporan pasukan telik sandi, Prabu Pandu Kawiswara melakukan pertemuan dengan Senopati Cakrayuda yang sudah sembuh, serta para pendekar semua yang berada di istana Kerajaan Banjaran Pura, kecuali Ki Dwijo yang masih belum pulih dari menderita luka.
Pada kesempatan itu, Ki Bhanujiwo memberikan saran, agar Prabu Pandu Kawiswara mengirim pasukan perang dengan kekuatan penuh, untuk segera menyelesaikan perang saudara ini. Selagi kekuatan perang Pangeran Panji masih lemah dan Ki Kama Catra guru dari Pangeran Panji belum sempurna ilmu barunya.
Saran dari Ki Bhanujiwo itu didukung oleh para tokoh pendekar yang hadir dalam pertemuan itu. Para pendekar itu juga berjanji akan membantu Kerajaan Banjaran Pura sepenuhnya, dalam serangan itu.
Mendengar saran dan janji para tokoh pendekar itu, Prabu Pandu Kawiswara pun memutuskan, besok pagi akan mengirim pasukan perang dengan kekuatan penuh dan dipimpin oleh Senopati Cakrayuda dan disertai oleh semua pendekar yang hadir di pertemuan itu.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_