
Saat Puguh berusaha menyelinap ke beberapa ruangan di deretan gedung gedung bagian depan untuk mencari keberadaan Rengganis, tiba tiba terdengar lagi suara geraman bercampur dengan suara teriakan yang berasal dari deretan bangunan bagian tengah Padepokan Wukir Kencana.
Ggrrraaawww ! Aarrrccchhh !
Mendengar suara itu, Puguh segera menyelinap diantara gedung gedung untuk menuju ke arah sumber suara geraman tadi.
Ketika sampai di halaman tengah yang luas yang dikelilingi dan diapit oleh gedung gedung di kiri kanannya, Puguh melihat Rengganis yang berdiri di tengah tengah halaman yang luas itu.
Seluruh pakaian Rengganis sudah tidak teratur dengan sobekan di beberapa tempat. Rambut panjang Rengganis terlihat awut awutan dengan sebagian menutupi mukanya yang pucat. Kedua bola matanya mengeluarkan nyala sinar yang berubah ubah. Kadang mengeluarkan sinar putih pekat, kemudian berubah mengeluarkan sinar biru terang, kemudian berubah lagi mengeluarkan sinar hitam kemerahan.
Keadaan itu masih ditambah lagi dengan kedua tangan Rengganis diikat dengan rantai yang masing masing ujung rantainya dipegang oleh empat orang tokoh utama Padepokan Wukir Kencana. Sedangkan kedua kaki Rengganis terikat rantai yang kedua ujungnya tertanam di tanah.
Di atas Rengganis agak ke belakang, terlihat siluet siluman serigala mata biru yang terlihat kesakitan. Terlihat lingkaran nyala merah kehitaman yang melilit di lehernya.
Di belakang Rengganis, berdiri Mahawiku Nuraga yang memegang cambuk hitam yang seluruh permukaannya diselimuti kekuatan sihir. Sementara di depan Rengganis berdiri Bantala Yaksa yang juga memegang cambuk dari akar kayu hitam yang diujungnya diberi batu berwarna hitam pekat yang mengandung kekuatan sihir pemberian Mahawiku Nuraga.
Di belakang Bantala Yaksa, berdiri sosok manusia raksasa Kala Caraka yang seluruh tubuhnya diselimuti oleh kekuatan siluman. Senjata gada terlihat tergenggam di tangan kanannya.
Tepat pada saat Puguh tiba di halaman tengah bangunan Padepokan Wukir Candrasa, pada waktu itu, sedang terjadi proses memisahkan dan mengeluarkan siluman serigala mata biru dari tubuh Rengganis yang dilakukan oleh Mahawiku Nuraga dan dibantu orang orang Padepokan Wukir Kencana.
Bantala Yaksa dan Kala Caraka yang awalnya hanya mau menerima Mahawiku Nuraga menjadi sekutu. Karena kepintaran Mahawiku Nuraga dalam membujuk serta janji akan dibantu untuk meningkatkan kekuatan dengan sihir, akhirnya Bantala Yaksa yang terkenal cerdik, bisa terbujuk diajak bekerja sama untuk melepaskan siluman serigala mata biru.
Apalagi setelah melihat sendiri, kekuatan siluman Kala Caraka bisa meningkat dengan pesat setelah diberi kekuatan sihir oleh Mahawiku Nuraga, membuat Bantala Yaksa semakin percaya pada Mahawiku Nuraga.
Melihat keadaan Rengganis dan semua yang dilakukan orang orang itu pada Rengganis, membuat Puguh tidak tahan lagi dan segera melesat dengan sangat cepat ke arah Mahawiku Nuraga.
"Biksu jahat ! Apa yang kalian semua lakukan ! Hentikan !" teriak Puguh sambil melesat.
Namun, belum sampai di tempat Mahawiku Nuraga, Puguh sudah disambut hantaman senjata gada besar milik Kala Caraka yang menghadangnya.
Melihat senjata gada yang membawa getaran kekuatan yang sangat besar itu, sambil melesat Puguh mencabut senjata pedangnya. Dan sesaat kemudian, terjadi ledakan yang sangat kuat akibat benturan senjata gada dengan senjata pedang di tangan Puguh yang sama sama mengandung tenaga dalam yang sangat besar.
Blaaannnggg !
Dalam benturan senjata itu, tubuh raksasa Kala Caraka terhuyung mundur dua langkah, sedangkan Puguh yang dalam posisi melayang, terlempar kembali ke belakang.
Mereka berdua segera menata kuda kuda mereka kembali. Sesaat kemudian, mereka berdua kembali melesat untuk melakukan serangan.
"Ggrrrhhh ! Anak manusia ! Aku bunuh kau !" teriak Kala Caraka sambil menghantamkan senjata gadanya ke tubuh Puguh.
Puguh yang tidak ingin membuang buang waktu, melihat keadaan Rengganis yang tersiksa, segera melepaskan tenaga dalamnya hingga jumlah yang cukup besar. Senjata pedangnya yang mengeluarkan sinar hijau terang, menghadang meluncurnya senjata gada ke arah tubuhnya.
Dbammm ! Dbammm ! Dbammm !
Blaaammm !
Dalam setiap benturan senjata itu, tubuh mereka berdua sama sama terdorong ke belakang, tetapi dengan cepat mereka kembali melesat untuk melakukan serangan.
Dengan cepat lima puluh jurus terlewati. Kala Caraka semakin geram. Hingga sekian kalinya, senjata gadanya belum bisa membuat manusia yang menjadi lawannya itu terdesak. Bahkan diam diam, tangan kanannya semakin lama semakin merasakan bergetar hingga ke pangkal bahu.
Tiba tiba tubuh raksasa Kala Caraka sedikit melenting dan melesat ke arah Puguh. Begitu mendapatkan jarak serang, dengan cepat senjata gadanya menghantam dari arah kanan, disusul dengan melesatnya pukulan tangan kirinya.
Pada jarak yang sudah begitu dekat, Puguh merasakan, getaran kekuatan dari tangan kiri Kala Caraka terasa lebih besar daripada serangan gada di tangan kanannya.
Melihat hal itu, sambil meningkatkan aliran tenaga dalamnya hingga jumlah yang sangat besar, Puguh segera merubah arah senjata pedangnya untuk menghadang serangan pukulan tangan kiri Kala Caraka. Bersamaan dengan itu, dalam pikirannya, Puguh berteriak, "Jubah hijau, keluarlah !"
Dalam waktu yang sangat singkat, tangkisan senjata pedang Puguh berhasil membuat luka panjang menyilang di lengan kiri Kala Caraka.
Sraaattt !
Disusul kemudian, hantaman senjata gada Kala Caraka tepat mengenai Punggung Puguh.
Jdaaammm !
Terkena hantaman senjata gada, tubuh Puguh terlempar hingga beberapa depa, kemudian berhenti dalam keadaan melayang dengan jubah hijau tua yang berkibar, yang telah melindungi punggungnya dari hantaman senjata gada.
Sementara itu, terlihat sedikit ceceran darah di sebelah kiri Kala Caraka. Keluarnya darah yang berwarna hijau kehitaman dari lengan kirinya, sejenak membuat Kala Caraka terkejut namun sekaligus geram.
Dengan mata yang menatap penuh kemarahan ke arah Puguh, Kala Caraka membersihkan dan menghentikan aliran darah dengan menjilat tiga kali luka di lengan kirinya.
Kemudian, dengan mendengus keras, Kala Caraka kembali melenting lalu melesat dengan sangat cepat ke arah Puguh untuk melakukan serangan yang lebih kuat lagi.
Pada waktu yang bersamaan, melihat hal itu, Puguh langsung menyadari siapa lawannya.
"Ternyata dia tidak hanya manusia raksasa, namun juga berdarah setengah siluman ! Dia satu orang dengan dua kekuatan sekaligus !" gumam Puguh pelan.
"Siluman elang ! Ayo kita hentikan dia !" kata Puguh dalam pikirannya.
Sesaat kemudian, dari sinar hijau terang di bilah pedang Puguh, keluar dengan cepat sebentuk siluet berwujud siluman burung elang yang sangat besar, yang melayang di atas Puguh.
Kkrrraaakkk !
Sesaat kemudian, dengan posisi sedikit di depan, Puguh dan siluman elang secara bersamaan melesat ke arah Kala Caraka yang juga sudah melesat menyerang.
Sesaat kemudian, di atas halaman tengah bangunan Padepokan Wukir Candrasa terdengar suara ledakan berkali kali, yang disebabkan oleh benturan senjata pedang dengan senjata gada, ataupun bertemunya cakaran dan hempasan sayap siluman elang dengan senjata gada.
Blang ! Blang ! Blang !
Crakkk ! Crakkk !
Dbammm ! Dbammm !
Suara suara ledakan itu diikuti dengan hembusan angin yang cukup besar yang menerbangkan debu debu dan dedaunan kering yang ada di sekitarnya.
__________ ◇ __________