Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Trah Keluarga Asmara Dhatu


Beberapa jurus kemudian, ketiga gadis muda anggota keluarga Trah Asmara Dhatu itu terjatuh terkena totokan.


"Haahhh ha ha ha ! Mari gadis gadis manis, saatnya kita bersenang senang !" ucap Pendekar Penyebar Cinta dengan senyuman dan pandangan matanya yang penuh nafsu.


Pendekar Penyebar Cinta baru saja hendak melangkah mendekati tiga orang gadis muda yang tidak bisa bergerak itu, saat tiba tiba terdengar suara teriakan perempuan.


"Hentikan langkahmu pendekar cabul !"


Suara teriakan itu belum selesai, ketika tiba tiba dari arah jalan melesat dua orang gadis muda yang berpakaian sama dengan ketiga gadis muda yang terkena totokan itu.


Salah seorang gadis muda yang baru datang itu langsung menyerang Pendekar Penyebar Cinta, sedangkan yang satunya lagi segera membebaskan tiga gadis muda dari totokannya.


"Mbakyu, dialah yang menculik adik Ragil !" kata salah seorang gadis muda setelah terbebas dari totokan.


"Kalian segera pulang, lapor pada ketua muda. Biar kami yang menghadapi dia !" kata salah seorang gadis muda yang baru datang.


Kemudian dengan cepat ketiga gadis muda itu melesat pergi, sedangkan gadis muda yang tadi memberi perintah, segera ikut bergabung menyerang Pendekar Penyebar Cinta.


"Haahhh ha ha ha ! Tidak apa apa, mendapat ganti gadis yang lebih matang !" kata Pendekar Penyebar Cinta sambil tertawa.


"Tutup mulutmu !" teriak kedua gadis itu bersamaan.


Dengan senjata pedangnya, kedua gadis itu berusaha mengurung dan mendesak Pendekar Penyebar Cinta. Namun, mereka berdua tetaplah bukan tandingan dari Pendekar Penyebar Cinta.


Pertarungan baru berjalan dua puluh jurus ketika kedua gadis itu mendapatkan serangan yang membuat pedang mereka terlepas dari genggaman mereka dan menerima sodokan gagang kipas besar pada dadanya yang entah kapan telah dicabut oleh Pendekar Penyebar Cinta dari pinggangnya.


Kemudian, Pendekar Penyebar Cinta melanjutkan serangannya pada kedua gadis yang telah mengalami luka dalam. Karena gerakan kedua gadis itu yang menjadi lambat dengan nafas yang sesak, membuat Pendekar Penyebar Cinta dengan leluasa melayangkan kedua tangannya, menyentuh bagian bagian tubuh yang sensitif dari kedua gadis muda itu. Hal itu membuat kedua gadis itu menghindar sekuat tenaga sambil menjerit jerit karena jijik.


Sementara itu, Rengganis yang bersama sama Puguh menyaksikan pertarungan itu sejak awal, sudah merasa tidak tahan melihat perbuatan Pendekar Penyebar Cinta.


Tubuh Rengganis segera melesat cepat untuk mencegah perbuatan Pendekar Penyebar Cinta yang melecehkan kedua gadis itu.


Melihat ada satu lagi gadis yang melesat ke arahnya, Pendekar Penyebar Cinta mengira, gadis yang melesat ke arahnya itu sama seperti kedua gadis yang telah dikalahkannya, sehingga Pendekar Penyebar Cinta, menangkis serangan itu dengan sedikit meremehkan.


Plaaakkk !


Menangkis pukulan telapak tangan kanan gadis yang baru saja mendekat itu, membuat Pendekar Penyebar Cinta terdorong dan terpelanting hampir jatuh.


Sambil memperkuat lagi kuda kudanya, Pendekar Penyebar Cinta menoleh cepat ke arah Rengganis yang baru saja menyerangnya.


Pendekar Penyebar Cinta sangat terkejut melihat siapa yang menyerangnya. Seorang gadis cantik, dengan kecantikannya yang alami tanpa ada sentuhan bedak ataupun yang lainnya sedikitpun. Seorang gadis yang mempunyai kecepatan dan tenaga dalam yang sangat tinggi sehingga mampu membuatnya terpental mundur.


Begitu melihat wajah Rengganis, seketika mata Pendekar Penyebar Cinta berbinar penuh dengan nafsu.


"Aahhh ! Betapa beruntungnya aku. Kehilangan tiga orang gadis, tetapi mendapatkan ganti seorang bidadari. Dewa memang selalu mengabulkan permohonanku !" kata Pendekar Penyebar Cinta sambil berjalan mendekati Rengganis. Kipas di tangan kanannya mulai dibuka ditutup berulang ulang. Hal itu selalu dilakukan oleh Pendekar Penyebar Cinta jika mulai serius bertarung karena menghadapi lawan yang sangat kuat.


Mimik serius terlihat di wajahnya walaupun mulutnya selalu tersenyum.


Namun langkah Pendekar Penyebar Cinta harus terhenti, saat terdengar suara laki laki dari arah belakangnya.


"Bagaimana kalau Dewa yang datang adalah Dewa yang akan menghukummu !" kata Puguh dari belakang Pendekar Penyebar Cinta.


Sejenak Pendekar Penyebar Cinta hanya berdiam diri. Namun kemudian membalikkan badan dengan wajah yang sangat jengkel. Pendekar Penyebar Cinta memang sangat jengkel saat ada gangguan ketika mau bersenang senang.


"Cepat enyah dari sini ! Atau terpaksa aku kirim kau ke Dewa Kematian !" bentak Pendekar Penyebar Cinta.


"Kakang, biar aku yang menghadapinya !" teriak Rengganis.


"Adik Rengganis tolong saja mereka !" jawab Puguh sambil menunjuk ke arah dua gadis yang terduduk dengan muka sedikit pucat, "Kakang tidak mau tangannya yang kotor, menyentuh adik Rengganis !"


Mendengar jawaban Puguh, Rengganis terdiam, dan diam diam hatinya merasa bahagia.


"Gadis cantik, tunggu dulu ya. Biar aku bereskan dulu makhluk pengganggu itu !" kata Pendekar Penyebar Cinta sambil menoleh sebentar ke arah Rengganis.


Kemudian, dengan wajah serius, Pendekar Penyebar Cinta mulai bersiap bertarung.


"Aku sudah memberimu kesempatan untuk pergi dari sini. Namun tidak kau pergunakan sebaik baiknya. Jangan katakan aku jahat karena membunuhmu. Karena kau telah mengganggu waktuku bersenang senang !" kata Pendekar Penyebar Cinta. Tiba tiba tubuhnya seperti menghilang, karena begitu cepatnya melesat ke arah Puguh.


Saat tubuhnya hampir mendekati Puguh, tangan kanannya bergerak membuka senjata kipas dan menebaskan ke arah leher Puguh dengan gerakan seperti orang memotong.


Puguh sudah sejak tadi bersiap karena tahu, lawan yang dihadapinya memiliki kemampuan dan tenaga dalam yang sangat tinggi.


Saat Pendekar Penyebar Cinta tiba tiba menggunakan senjata kipasnya untuk menyerang, Puguh pun dengan cepat mencabut pedangnya dan kemudian menangkis senjata kipas itu dengan pedangnya.


Braaakkk ! Braaakkk ! Braaakkk !


Setelah benturan kedua senjata itu, diam diam Pendekar Penyebar Cinta terkejut. Anak muda yang usianya masih di bawahnya itu mempunyai kecepatan dan tenaga dalam yang sangat tinggi, sehingga membuat tangan kanannya bergetar dan terasa kebas.


Ditambah lagi, bilah pedangnya yang tiba tiba mengeluarkan sinar hijau yang sangat terang, membuatnya, dalam sesaat merasa silau.


Tidak ingin berlama lama, Pendekar Penyebar Cinta segera melesat lagi sambil meningkatkan tenaga dalamnya dan kemudian mengurung Puguh dengan serangan serangan menggunakan senjata kipasnya.


Sementara itu, melihat lawannya menyerang dengan bertubi tubi, Puguh segera memutar pedangnya dan kemudian menangkis semua serangan senjata kipas.


Brak ! Brak ! Brak !


Praaakkk !


Pendekar Penyebar Cinta lagi lagi merasa terkejut. Dia merasa belum pernah mendengar nama atau cerita tentang pendekar muda di depannya yang menggunakan senjata pedang hijau dan yang ternyata memiliki kemampuan yang bisa mengimbanginya.


Dengan perasaan jengkel yang semakin bertambah, Pendekar Penyebar Cinta kembali menerjang Puguh dengan serangan serangan yang menggunakan kekuatan dan tenaga dalam tingkat tinggi.


Senjata kipasnya terkadang mengembang untuk melakukan tebasan ataupun sayatan, dan terkadang, dilipat hingga seperti tongkat pendek untuk melakukan totokan totokan.


Sementara itu, Puguh tidak hanya menunggu dan menangkis. Akan tetapi sudah mulai membalas menyerang setiap ada kesempatan.


Kecepatan mereka berdua yang sudah tidak bisa.diikuti dengan mata membuat pertarungan mereka hanya seperti kilatan warna putih berbenturan dengan kilatan warna hijau.


Selain itu, bilah pedang di tangan Puguh yang mengeluarkan sinar hijau sangat terang, membuat tempat itu seperti dipenuhi dengan warna hijau.


Dengan cepat, pertarungan mereka sudah melewati lima puluh jurus. Terlihat, secara perlahan, Puguh mulai bisa menguasai keadaan. Serangan serangan pedangnya mulai mengancam beberapa titik tubuh Pendekar Penyebar Cinta. Bahkan, pada suatu benturan senjata, pedang Puguh sudah memberikan sobekan kecil pada kipas di tangan Pendekar Penyebar Cinta, hingga membuat pendekar cabul itu semakin terdesak.


Sementara itu, Rengganis yang sudah selesai memberikan pertolongan pada kedua gadis yang terluka itu, melihat dengan serius ke arah pertarungan Puguh melawan Pendekar Penyebar Cinta.


Namun, sebenarnya tidak hanya Rengganis yang melihat dengan serius pertarungan itu.


Agak jauh di sebelah kiri Rengganis, ada sepasang mata yang menatap pertarungan itu dengan tajam. Binar binar keheranan, kekaguman dan ketertarikan terlihat jelas pada sepasang mata itu.


__________ ◇ __________