
Pada malam hari itu juga, Puguh dan Rengganis menemui lagi Pangeran Indra Prana dan Putri Cinde Puspita. Pada kesempatan itu, Puguh menyarankan pada Pangeran Indra Prana dan Putri Cinde Puspita untuk melakukan penyerbuan dengan kekuatan penuh pasukan perang, pada esok paginya.
Mendapatkan saran dari Puguh, Pangeran Indra Prana dan terutama Putri Cinde Puspita sangat bersemangat. Mereka pun memerintahkan kepada seluruh senopatinya untuk mempersiapkan seluruh prajuritnya dan membawa semua peralatan perang yang mereka miliki.
Akhirnya, pagi pagi sekali, gabungan pasukan perang Kerajaan Kisma Pura dan pasukan perang Kerajaan Banjaran Pura, berangkat menuju Istana Kerajaan Banjaran Pura yang diduduki oleh pasukan perang Kerajaan Menara Langit.
Kedatangan dan serbuan gabungan pasukan perang dari dua kerajaan itu sangat mengejutkan Panglima Perang Jaladra. Karena Panglima Perang Jaladra menganggap, gabungan pasukan perang dari kedua kerajaan itu, takut dengan besarnya kekuatan pasukan perang Kerajaan Menara Langit.
Selain itu, Pangeran Langit Barat sudah banyak mengurangi kekuatan pasukan perang dua kerajaan itu, dengan membunuh atau mengambil para pendekar yang kesaktian dan tenaga dalamnya sudah memasuki tingkat sangat tinggi.
"Bangsat ! Kenapa mereka menyerang saat Pangeran Langit Barat dan Ki Naga Kecil sedang bersemedi untuk menyempurnakan ilmu barunya dan tidak bisa diganggu !" kata Panglima Perang Jaladra dengan mengumpat.
"Semuanya bersiap ! Para wakil panglima perang, jaga wilayahnya masing masing ! Jangan sampai lawan bisa masuk ke dalam istana !" teriak Ki Jaladra.
"Pangeran Langit Barat ! Menyerahlah ! Untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu !" kata Pangeran Indra Prana, saat sudah sampai di depan Panglima Perang Jaladra.
"Heehhh he he he he ! Tidak perlu Pangeran Langit Barat ! Cukup aku untuk menghadapi kalian semua !" sahut Panglima Perang Jaladra yang telah menghunus senjata tombak bermata dua di tangan kirinya.
"Kalau begitu, terpaksa kami harus mengusir kalian semua, keluar dari negeri ini !" kata Pangeran Indra Prana lagi.
Sesaat kemudian, Pangeran Indra Prana memberikan aba aba pada para prajuritnya untuk maju menyerang.
Sementara itu, Putri Cinde Puspita segera melesat ke arah Panglima Perang Jaladra. Senjata dwisula di tangan kanannya hanya sedikit bergetar dan mengeluarkan suara dengungan pelan. Namun langsung menyerang pendengaran dan membuat sakit telinga setiap lawannya.
Mendapatkan serangan itu, Panglima Perang Jaladra mendengus pelan. Senjata tombak di tangan kirinya diputar pelan untuk membuat suara menderu dari udara yang tersibak.
Sekejap mata kemudian, kedua senjata saling beradu hingga mengeluarkan suara berdentangan.
Sementara itu, Pangeran Indra Prana masih mengamati jalannya pertempuran dan mengawasi pasukan perangnya.
Di sisi pertarungan yang lain, dua gadis muda tangan kanan Pangeran Langit Barat segera dihadang oleh Rengganis dan Kartika Dhatu.
Kedua gadis muda tangan kanan Pangeran Langit Barat itu bertarung dengan mimik wajah yang serius, karena kali ini mereka berdua mendapatkan lawan yang tidak sembarangan.
Melawan Rengganis dan Kartika Dhatu satu lawan satu, membuat kedua gadis muda tangan kanan Pangeran Langit Barat tidak bisa bertarung berpasangan. Hal itu sedikit banyak mengurangi keistimewaan mereka. Karena ilmu yang mereka kuasai akan berlipat kali kekuatannya jika dimainkan secara berpasangan.
Sementara itu, Iswara Dhatu terlihat sering berpindah pindah tempat dalam bertarung. Kadang menggempur di bagian tengah pertarungan. Jika lawannya sudah tewas atau terpental jauh terkena serangannya, dengan cepat melenting berpindah tempat menyerang sudut pertempuran yang lainnya. Sepertinya ada sedang yang dicari oleh Iswara Dhatu.
Hingga akhirnya, gerakan Iswara Dhatu dihadang oleh seorang pemuda.
"Nenek tua ! Akulah lawanmu !" kata pemuda itu sambil menyilangkan senjata pedang di depan dadanya.
Iswara Dhatu langsung menggunakan ilmu Tarian Dewi Kematian. Kedua selendangnya melesat dengan sangat cepat mengarah ke titik titik mematikan di tubuh pemuda itu.
Sementara itu, mendapatkan serangan yang bertubi-tubi, pemuda yang merupakan salah satu tangan kanan Pangeran Langit Barat, yang masih bisa sembuh dan bertahan hidup, dari luka lukanya saat menyerbu ke Gunung Pedang, memutar senjata pedangnya untuk sebisa mungkin menangkis serangan Iswara Dhatu.
Di barisan terdepan, di tengah tengah ribuan pasukan yang berperang, Pangeran Indra Prana melesat dengan sangat cepat, masuk ke dalam pertarungan antara Panglima Perang Jaladra melawan Putri Cinde Puspita.
Pangeran Indra Prana yang selalu memperhatikan pertarungan itu, melihat Putri Cinde Puspita sedikit keteter, sehingga memutuskan untuk membantu.
"Putri Cinde Puspita ! Kita hadapi bersama sama !" kata Pangeran Indra Prana.
Mendapatkan tambahan lawan yang tingkat kesaktian dan tenaga dalamnya setingkat dengan gadis yang dilawannya, membuat Panglima Perang Jaladra harus mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengimbangi lawannya.
Sementara itu, setelah melewati seratus jurus pertarungan, Rengganis dan Kartika Dhatu berhasil mengatasi lawan lawannya. Kedua gadis muda yang menjadi tangan kanan Pangeran Langit Barat itu tewas dengan dada tertusuk senjata pedang Rengganis. Sedangkan gadis muda yang satunya lagi tewas dengan leher terjerat senjata selendang Kartika Dhatu.
Beberapa waktu kemudian, dalam peetarungan Iswara Dhatu melawan laki laki muda yang juga menjadi tangan kanan Pangeran Langit Barat. Iswara Dhatu belum berkurang kemampuannya dan menjadi lawan yang tangguh bagi laki laki muda itu.
Setelah waktu melewati siang hari, akhirnya Iswara Dhatu bisa mengalahkan lawannya. Dengan satu senjata selendang berhasil membelit senjata pedang lawannya, satu senjata selendang lainnya berhasil menghujam ke dada lawannya tepat di jantungnya. Laki laki muda itu tewas seketika.
Bersamaan dengan itu, dalam pertempuran yang semakin meluas itu, Puguh membantu bagian bagian dari pasukan perang Pangeran Indra Prana yang terlihat terdesak. Karena diam diam Puguh juga menunggu munculnya Pangeran Langit Barat atau Ki Naga Kecil.
Namun, hingga hari menjelang sore dan peperangan pun sudah dihentikan, Puguh belum bisa menemukan Pangeran Langit Barat ataupun Ki Naga Kecil.
Di Istana Kerajaan Banjaran Pura, Panglima Perang Jaladra sangat berang sekaligus merasa bersalah. Karena kehilangan banyak pendekar andalan.
Sementara itu, di pihak pasukan perang gabungan dari Kerajaan Kisma Pura dan Kerajaan Banjaran Pura tidak ada korban yang berarti.
Akhirnya, peperangan dilanjutkan keesokan harinya.
Panglima Perang Jaladra yang dibantu oleh puluhan wakil panglima perang mati matian mencoba mempertahankan istana kerajaan yang sudah mereka duduki.
Kali ini, Panglima Perang Jaladra harus menghadapi Iswara Dhatu dan Kartika Dhatu.
Namun, karena tingkat kesaktian dan tenaga dalam Iswara Dhatu dan terlebih Kartika Dhatu yang tingkatannya sudah diatas Pangeran Indra Prana, membuat Panglima Perang Jaladra, setelah bertarung sekitar lima puluh jurus, mulai terdesak.
Walaupun sudah mengeluarkan seluruh kemampuannya, dan memutar senjata tombaknya sedemikian rupa cepatnya, namun menghadapi enam senjata selendang yang juga digerakkan dengan sangat cepat, akhirnya, setelah beberapa kali tubuhnya terkena sayatan, tusukan dan tebasan senjata selendang Iswara Dhatu dan Kartika Dhatu, Panglima Perang Jaladra tewas dalam posisi berdiri dan dengan sekujur tubuh penuh luka dan darah.
Menjelang siang hari, seluruh pasukan perang Kerajaan Menara Langit mulai tercerai berai karena kehilangan pemimpinnya, yaitu para wakil panglima perang, yang telah tewas.
---------- ◇ ----------