
Saat siluman harimau itu terhempas di tanah, siluman badak, siluman kuda, siluman kerbau, dua siluman macan kumbang, siluman ular dan siluman siluman yang lain merasakan seperti ada yang menekan tubuhnya dengan hebat. Begitu kuatnya tekanan itu, hingga membuat seluruh binatang siluman itu tidak kuat menahan dan akhirnya jatuh berlutut.
Melihat semua binatang siluman sudah tidak berdaya, perlahan Puguh melayang turun mendekati mereka, sambil kembali memasukkan pedang ke dalam sarungnya.
Sebenarnya diam diam Puguh merasa heran, kenapa semua binatang siluman itu tiba tiba tunduk atau jeri dengan pedang yang dia keluarkan.
"Aku sebenarnya tidak ingin berseteru dengan kalian ! Aku hanya melintasi hutan perbatasan ini untuk pulang ke negeriku. Sekalian mencari berita tentang keberadaan siluman elang ! Apakah ada yang tahu dan mengenal siluman elang hijau ?" kata Puguh.
"Ggrrrhhh ! Anak manusia ! Katakan siapa kalian sebenarnya ! Apakah kau bukan bagian dari mereka ?" sahut siluman harimau.
"Kami berasal dari Kerajaan Banjaran Pura. Mereka siapa yang kau maksud, kami tidak tahu !" jawab Puguh.
Mendengar jawaban Puguh, siluman harimau itu kemudian bercerita.
Jauh sebelum Puguh dan Rengganis datang ke hutan perbatasan, berkali kali hutan itu didatangi sekelompok manusia yang sengaja mencari dan memburu bangsa binatang siluman.
Sekelompok manusia itu terdiri tidak lebih dari sepuluh orang. Dengan berpakaian yang sama, berwarna serba putih dan senjata pedang di pinggangnya.
Setiap sekelompok manusia itu datang, selalu membawa pertanyaan yang sama, menanyakan tentang keberadaan siluman elang.
Sekelompok manusia itu tidak hanya bertanya, tetapi juga menangkap bahkan memusnahkan binatang siluman yang mereka temui dan tidak bisa menunjukkan keberadaan siluman elang. Sudah banyak sekali bangsa binatang siluman yang tiba tiba hilang dan tidak dijumpai lagi keberadaannya di hutan perbatasan itu.
Hingga pada suatu saat, sekelompok manusia itu datang lagi dan sengaja mencari dan memerangi kami, bangsa binatang siluman.
Saat sekelompok manusia itu mengeluarkan senjata pedang mereka, para binatang siluman itu akhirnya merasakan dan mengetahui, saudara saudara mereka yang telah hilang karena ditangkap oleh sekelompok manusia itu, kekuatannya telah diserap oleh sekelompok manusia itu dan dimasukkan ke dalam senjata pedang mereka.
Sampai akhirnya sekelompok manusia itu tiba di bagian pedalaman hutan yang sangat sulit untuk dijangkau bangsa manusia, berupa tebing yang sangat tinggi setinggi sekitar lima puluh meter.
Sekelompok manusia itu berusaha menaiki tebing itu, tetapi selalu gagal. Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya ataupun dengan memanjatnya, saat mencapai setengah dari ketinggian tebing, sekelompok manusia itu selalu dihempas angin kencang yang membuat tubuh mereka terjatuh.
Sekelompok manusia itu beberapa kali mendatangi tempat itu dan berkali kali mencoba menaiki tebing itu tetapi selalu gagal. Hingga akhirnya, salah seorang anggota memberikan saran.
"Ketua muda ! Mungkin kita harus melaporkan pada Pemimpin Besar. Siapa tahu, mereka bersedia untuk mendatangi tempat ini !" kata salah seorang dari kelompok manusia itu.
"Baiklah paman ! Ayo kita sampaikan hal ini pada Pemimpin Besar !" jawab seseorang yang dipanggil dengan Ketua Muda.
Kemudian, pada suatu hari sekelompok manusia itu datang lagi. Kali ini bersama dengan lima orang yang sudah tua, yang mempunyai kedudukan sebagai wakil dari Pemimpin Besar.
Sesampai di depan tebing yang sangat tinggi itu, lima orang yang sudah tua tua itu segera melesat terbang mendekati tebing.
Ketika kelima orang tua itu baru mencapai setengah ketinggian tebing, tiba tiba mereka merasakan datangnya getaran kekuatan yang sangat besar.
Sesaat kemudian, lima orang tua itu melihat bayangan hijau yang sangat besar, meluncur ke arah mereka dengan disertai hembusan angin dan kemudian dengan sangat cepat menerjang mereka berlima.
Wuussshhh !
Kelima orang tua itu segera menghindar.
"Bukankah itu, siluman elang, yang selama ini kita cari ?" kata salah seorang dari orang tua itu.
"Benar kakang ! Pantas mereka semua jatuh terhempas, saat tersambar siluman elang ! Dan pantas juga mereka tidak bisa melihat meluncurnya siluman elang ini, karena ternyata siluman elang ini mempunyai kecepatan yang sangat tinggi !" jawab orang tua yang satunya.
"Ayo kita tangkap siluman elang itu !" kata orang tua yang pertama tadi.
Sesaat kemudian, terjadi luapan getaran kekuatan, saat kelima orang tua itu mengeluarkan tenaga dalamnya sangat besar.
Kemudian, selama beberapa saat kelima orang tua itu menunggu. Begitu terasa lagi datangnya getaran kekuatan yang besar sekali dari siluman elang, kelima orang tua itu segera melesat menyebar ke lima arah. Lalu dengan sangat cepatnya, lima orang tua itu menyerang siluman elang dari lima arah yang berbeda dengan pukulan telapak mereka yang mengandung tenaga dalam yang sangat besar.
Diserang sedemikian rupa, siluman elang itu meliuk liukkan arah luncuran terbangnya, sambil berkali kali sayapnya melakukan gerakan menghantam ataupun sapokan yang menimbulkan hempasan angin yang sangat kuat, sebagai serangan balasan.
Berkali kali juga, tidak dapat dihindarkan, benturan serangan yang mengandung tenaga dalam sangat besar, yang menghasilkan suatw yang sangat keras.
Jdaaammm ! Jdaaammm ! Jdaaammm !
Beberapa kali terlihat, kelima orang tua itu terdorong dengan sangat kuat dan terhempas ke arah tebing.
"Kita tidak mungkin terus terusan mengadu pukulan. Tingkat tenaga dalam siluman elang itu di atas kita ! Kita coba kepung dari atas bawah depan dan kiri kanan !" teriak salah seorang orang tua yang menjadi pemegang komandonya.
"Segera menyebar lagi !" lanjutnya.
Kemudian dengan cepat, keempat orang tua yang lainnya menyebar ke arah yang telah disebutkan, sedangkan orang tua yang memberi aba aba tadi berdiri melayang tepat di depan siluman elang.
Melihat ada salah satu lawannya yang berada tepat di depannya, siluman elang itu melesat dengan sangat cepatnya ke arah lawan yang tepat di depannya, dengan tenaga dalam yang sangat besar.
"Cepat ! Lakukan sekarang !" teriak orang tua yang melayang menghadang arah maju siluman elang itu dengan dorongan kedua telapak tangannya.
Sesaat kemudian, terjadi benturan kedua cakar siluman elang dengan dorongan kedua telapak tangan orang tua yang menghadang tepat di depannya. Benturan dua tenaga dalam yang sangat besar itu menimbulkan suara ledakan yang sangat besar.
Blaaannnggg !
Dalam benturan itu, orang tua yang memberi aba aba itu terdorong ke belakang dengan sangat keras. Tubuhnya terlempar hingga cukup jauh, kemudian meluncur jatuh dan terhempas ke tanah dalam posisi duduk berlutut.
Dbaaammm !
Sesaat kemudian, orang tua yang terjatuh itu terbatuk batuk sambil tangan kanannya menopang tubuh dan tangan kirinya memegang dada, lalu memuntahkan darah segar beberapa kali.
Sementara itu, siluman elang, saat kedua cakarnya membentur serangan orang tua yang melayang di depannya, luncuran tubuhnya saat melesat terbang, terhenti seketika.
Saat tubuh besar siluman elang itu berhenti meluncur, datang empat pukulan yang sangat keras dari arah yang berbeda beda mengenai tengkuknya, dadanya dan sayap kiri dan kanannya.
Jdaaammm ! Jdaaammm !
Jdaaammm ! Jdaaammm !
Terkena empat pukulan keras secara bersamaan, siluman elang itu berteriak sangat keras, kemudian tubuhnya jatuh menimpa pepohonan di bawahnya.
Kraaakkk !!!
Siluman elang itu seluruh tubuhnya bergetar keras menahan luka dalam yang kemudian membuatnya tidak sadarkan diri.
Dalam keadaan pingsan dan terluka parah itulah, sekelompok manusia yang datang ke tebing yang sangat tinggi itu, membawa tubuh besar siluman elang dengan terbang melayang di udara.
__________ ◇ __________