
Selubung berwarna cokelat transparan yang menyelimuti tubuh Kartika Dhatu, semakin lama semakin bertambah tebal dan pekat.
Sebaliknya, wujud sarung pedang yang terbuat dari kulit kayu hitam itu semakin menipis dan kabur.
Hingga beberapa waktu kemudian, wujud sarung pedang yang digenggam tangan kanan Kartika Dhatu, hilang dan tidak berbekas sama sekali, sedangkan selubung berwarna cokelat yang menyelimuti tubuh Kartika Dhatu menjadi sangat terang.
Setelah wujud sarung pedang itu sirna, selubung warna cokelat itu perlahan masuk ke tubuh Kartika Dhatu. Sebagian dari selubung warna cokelat itu membentuk tali yang melingkar di pinggang Kartika Dhatu.
"Untung saja gadis bodoh itu sempat mengeluarkan senjata selendang hingga aku mengetahuinya !" terdengar suara merdu seorang perempuan, namun tidak terlihat sosoknya.
Sesaat kemudian terdengar suara ledakan yang tidak terlalu keras, saat gundukan tanah dan cukup banyak senjata pedang yang menancap yang menutupi mulut lorong terdorong dan runtuh bertebaran, terkena pukulan seseorang dari dalam. Disusul kemudian dengan keluarnya sesosok tubuh tua, yang langsung melenting dan melesat ke arah Kartika Dhatu yang masih tergeletak di tanah.
"Nduk Kartika Dhatu cucuku !" teriak sosok tubuh tua yang ternyata adalah Iswara Dhatu. Namun Iswara Dhatu hanya berdiri di samping Kartika Dhatu dan tidak berani menyentuh tubuh cucunya.
"Iswara Dhatu ! Jadi gadis bodoh itu cucumu ?" tanya suara merdu perempuan.
"Benar sekali, nenek Asmara Dhatu ! Maafkan aku yang belum sempat mengajaknya untuk mengunjungimu !" jawab Iswara Dhatu sambil menoleh ke sisi kanan.
Samar samar terlihat, di sebelah kanan Iswara Dhatu, berdiri sesosok bayangan transparan. Sosok yang hanya terlihat transparan itu adalah seorang perempuan yang masih tampak muda dan sangat cantik. Apabila diperhatikan dengan lebih lama, wajah perempuan muda itu mirip sekali dengan Kartika Dhatu.
----- * -----
Sebelumnya, saat Kartika Dhatu mengeluarkan hampir seluruh kekuatan tenaga dalamnya untuk melindungi tubuhnya dari serangan, sehingga membuat empat senjata selendang yang melingkar di pinggangnya bergerak keluar ke arah wujud kepala naga hitam yang menggigit kedua tangan dan kakinya.
Sesaat setelah empat senjata selendang Kartika Dhatu keluar, tiba tiba dari arah atas, dengan cara menembus langit langit ruangan tanpa merusak langit langitnya, melesat turun dengan sangat cepatnya, satu bola cahaya berwarna biru sebesar ujung ibu jari, yang langsung masuk ke sarung pedang yang dipegang di tangan kanan Kartika Dhatu, disertai dengan teriakan suara merdu perempuan.
"Bocah ! Ternyata kau ! Kenapa baru kau keluarkan sekarang !"
Dimasuki bola cahaya berwarna biru itu, seketika sarung pedang itu bergetar dengan hebatnya. Disusul kemudian, sarung pedang itu mengeluarkan getaran kekuatan dengan tingkatan yang sangat tinggi.
Getaran kekuatan yang sangat tinggi itu menerobos masuk ke dalam tubuh Kartika Dhatu. Sebagian lagi dari getaran kekuatan itu berubah menjadi selubung berwarna cokelat transparan yang menyelimuti seluruh tubuh Kartika Dhatu.
Saat selubung berwarna cokelat itu sudah terbentuk sempurna, terlihat bola cahaya berwarna biru keluar lagi dari sarung pedang itu dan melesat cepat ke arah mulut lorong tempat Iswara Dhatu duduk bersandar di dinding lorong.
Begitu tiba ditempat Iswara Dhatu duduk, bola cahaya berwarna biru itu berpendar dan berubah menjadi bayangan tubuh transparan, seorang perempuan muda yang sangat cantik.
"Iswara Dhatu ! Kau sangat teledor ! Apa yang kau lakukan pada tumpukan senjata pedang yang kami buat !" kata bayangan tubuh transparan sambil merundukkan tubuhnya ke arah Iswara Dhatu. Dengan cepat bayangan tubuh transparan itu melakukan beberapa kali totokan pada tubuh Iswara Dhatu dengan jari telunjuk kanannya.
Terkena totokan beberapa kali di dada dan perut, seketika Iswara Dhatu merasakan sangat panas pada tubuhnya.
"Cepat kau bersemedi ! Tahan sekuat mungkin semua rasa sakit yang kau rasakan !" kata bayangan tubuh transparan itu lagi.
Beberapa saat kemudian, Iswara dhatu segera tenggelam dalam semedinya. Tanpa disadari oleh Iswara Dhatu, kekuatan tenaga dalamnya pulih dengan cepat, karena Asmara Dhatu yang menjadi sosok bayangan transparan telah memasukkan sedikit inti kekuatannya ke tubuh Iswara Dhatu.
Semua itu terjadi secara cepat dan hanya beberapa saat sebelum ledakan terjadi.
Sehingga, begitu keempat wujud kepala naga hitam yang menggigit tangan dan kakinya meledak, seluruh tubuh Kartika Dhatu terlindungi.
----- * -----
Selama beberapa waktu, Iswara Dhatu dan bayangan transparan Asmara Dhatu hanya berdiri dan menatap tajam tubuh Kartika Dhatu.
Selama berdiri sambil mengawasi keadaan Kartika Dhatu, Asmara Dhatu bercerita singkat.
Dahulu kala, terjadi Pertempuran Besar antar para pendekar yang berasal dari seluruh kerajaan yang berada di Negeri Jawadwipa. Bahkan banyak sekali pendekar sakti dari negeri seberang yang ikut terlibat dalam Pertempuran Besar.
Pertempuran Besar terjadi, sebenarnya hanya disebabkan oleh persaingan para pendekar yang kesaktiannya sudah mencapai tingkat sangat tinggi, untuk memperebutkan gelar Pendekar Tak Terkalahkan.
Dinamakan Pertempuran Besar, karena pertempuran pada saat itu, banyak sekali pendekar yang menjadi korban, hingga harus tewas ataupun terluka parah selama masa Pertempuran Besar itu.
Setelah sekian lama Pertempuran Besar itu berlangsung, memunculkan sepasang pendekar yang kesaktiannya sangat luar biasa dan berhasil mengalahkan banyak sekali pendekar yang melawannya.
Selain kesaktiannya yang sangat luar biasa, keadaan sepasang pendekar itu juga sangat luar biasa, karena mereka berdua merupakan pasangan suami istri yang berasal dari dua alam yang berbeda. Mereka berdua adalah Ki Naga Laut yang berasal dari bangsa manusia yang menikah dengan Putri Naga Putih yang berasal dari bangsa siluman.
Pernikahan dua makluk yang berasal dari bangsa yang berbeda itu, membuat kesaktian mereka berdua mengalami peningkatan yang sangat pesat dan tidak ada pendekar yang mampu mengalahkan mereka berdua.
Karena merasa tidak terkalahkan, hal itu membuat membuat Ki Naga Laut dan Putri Naga Putih menjadi sombong, kejam dan semena mena. Setiap pendekar yang mereka berdua kalahkan, mereka bunuh dan senjatanya mereka rampas. Hingga kemudian, Ki Naga Besar dan Putri Naga Putih memiliki senjata rampasan yang banyak sekalian.
Hingga suatu saat, Ki Naga Laut dan Putri Naga Putih bertemu dengan sepasang pendekar muda yang sangat sakti. Mereka berdua adalah Pendekar Penunggang Elang dan Asmara Dhatu istrinya.
Pendekar Penunggang Elang dan Asmara Dhatu memang sengaja mencari Ki Naga Laut dan Putri Naga Putih, untuk menghentikan kekejamannya.
Pendekar Penunggang Elang dan Rengganis bertarung melawan Ki Naga. Pertarungan mereka berempat berlangsung hingga dua hari.
Dalam pertarungan itu, Ki Naga Laut dan Putri Naga Putih beberapa kali terbunuh, namun selalu bisa hidup lagi.
Melihat lawannya selalu bisa hidup lagi, Pendekar Penunggang Elang dan Asmara Dhatu berusaha menjauhkan mereka berdua.
Hingga akhirnya Ki Naga Besar dan Putri Naga Putih berhasil dibuat saling.berjauhan. Asmara Dhatu terus memerus memancing Putri Naga Putih untuk menjauh, hingga membuat pertarungan mereka berdua berlangsung di puncak gunung.
---------- ◇ ----------