Pendekar Elang Malam

Pendekar Elang Malam
Pertempuran Dua Pasukan Perang yang Sangat Besar


"Paman berdua, hari ini, pasukan perang Kerajaan Kisma Pura akan menyerang pasukan perang Kerajaan Menara Langit yang hendak menyerbu kotaraja Kerajaan Kisma Pura. Saya mohon, paman berdua bersedia membantu pasukan perang Kerajaan Kisma Pura. Karena, di pihak pasukan perang Kerajaan Menara Langit, memiliki banyak panglima perang yang begitu sakti !" kata Puguh.


"Kalau untuk melawan pasukan perang Kerajaan Menara Langit, dengan senang hati akan kami lakukan. Tetapi, bagaimana dengan Rengganis ?" tanya Aswa Muka.


Kemudian, Puguh berjalan mendekati Rengganis.


"Adik Rengganis, masuklah ke dalam air danau itu. Seraplah getaran kekuatan tumbuhan yang ada di dasar danau. Aku tidak tahu itu butuh waktu berapa lama, tetapi itulah yang dikatakan guru kepadaku !" kata Puguh.


"Baiklah kakang Puguh. Terimakasih sudah memperhatikan Rengganis," jawab Rengganis.


"Maaf, kakang tidak bisa menemani adik Rengganis. Kakang berharap, adik Rengganis bisa segera pulih !" kata Puguh lagi.


Kemudian, setelah memastikan keadaan di danau dan sekitarnya aman, Puguh segera berpamitan untuk kembali ke kotaraja Kerajaan Kisma Pura, untuk ikut berperang mengusir pasukan perang Kerajaan Menara Langit.


Hari menjelang pagi, akhirnya Puguh kembali melesat terbang dengan sangat cepat, berusaha sesegera mungkin bisa bergabung dengan pasukan perang Kerajaan Kisma Pura.


----- * -----


Sementara itu di Istana Kerajaan Kisma Pura. Begitu pagi hari, Pangeran Indra Prana segera menyiapkan seluruh pasukan perangnya.


Dengan teriakan teriakan untuk mengobarkan semangat para prajurit pasukan perangnya, Pangeran Indra Prana dibantu para senopatinya membawa sekitar lima ribu prajurit, menuju ke markas darurat pasukan perang Kerajaan Menara Langit.


Tetapi, dalam hati kecilnya, Pangeran Indra Prana ada sedikit kekhawatiran, karena sampai sekarang belum menerima kabar dari pasukan mata matanya tentang kembalinya Puguh.


Di tengah tengah para prajurit, banyak sekali para pendekar yang bergabung, baik secara terang terangan ataupun secara diam diam. Hal itu semakin menambah besar semangat para prajurit.


Setelah keluar cukup jauh dari perbatasan kotaraja Kerajaan Kisma Pura, akhirnya pasukan perang yang dipimpin Pangeran Indra Prana berhenti di suatu dataran yang cukup luas.


Sesaat kemudian, di seberang dataran luas itu, terlihat banyak sekali pasukan perang Kerajaan Menara Langit yang sudah bersiap siaga untuk berperang.


Di depan para prajurit itu, terlihat tigaa orang yang sangat gagah dengan pakaian panglima perang berwarna keemasan. Sementara di kejauhan, terlihat dua sosok yang juga dengan warna pakaian yang juga keemasan, melayang terbang di belakang barisan prajurit pasukan perang itu.


Mereka bertiga itu adalah Panglima Perang Hapsari, Panglima Perang Anggaraksa, Panglima Perang Gardapati. Getaran kekuatan yang sangat besar, keluar dari tubuh mereka.


Sementara itu di pihak pasukan perang Kerajaan Kisma Pura, beberapa pendekar segera mendekat dan berdiri di samping Pangeran Indra Prana. Diantara para pendekar itu, terlihat juga Ki Dwijo dan Resi Wismaya.


"Kalian semua pasukan asing ! Kembalilah ke negeri kalian, sebelum kalian kami hancurkan !" kata Pangeran Indra Prana, setelah berhenti tidak terlalu jauh dari ketiga panglima perang itu.


"Kami akan pergi, kalau negeri negeri di tanah ini sudah menyatakan takhluk pada kami !" jawab Panglima Perang Gardapati.


"Kalian sudah kami peringatkan ! Jangan katakan kami kejam, kalau kalian semua kehilangan nyawa di sini !" kata Pangeran Indra Prana lagi.


Tidak lama kemudian, terdengar teriakan aba aba untuk maju menyerang dari para senopati pasukan perang Kerajaan Kisma Pura, setelah Pangeran Indra Prana memberikan tanda untuk menyerang.


Demikian juga di pihak pasukan perang Kerajaan Menara Langit. Para wakil panglima perang segera memerintahkan para prajuritnya untuk maju menyerang, setelah para Panglima Perang memberi aba aba menyerang.


Dalam pertempuran itu, para panglima ataupun senopati dan pemimpin pasukan, belum saling ketemu dan bertarung. Karena masih mengawal pasukan perang mereka masing masing.


Di tengah tengah pertarungan para prajuritnya, para wakil panglima perang Kerajaan Menara Langit yang cukup banyak jumlahnya dan tersebar di berbagai sudut, dengan tingkat kesaktiannya yang sudah tinggi, bagaikan mengamuk dan mendapatkan lawan yang jauh dibawahnya, hingga membuat pasukan perang Kerajaan Kisma Pura kocar kacir dan banyak yang tewas. Jerit kematian dan kesakitan pun semakin kencang terdengar.


Melihat hal itu, para pendekar anggota Padepokan Kuwanda Brastha yang berada di antara prajurit pasukan perang Kerajaan Kisma Pura, dengan cepat mendekati para wakil panglima perang itu.


Hingga beberapa saat kemudian, para wakil panglima perang itu segera mendapatkan lawan yang seimbang, setelah banyak pendekar yang berada di tengah tengah para prajurit, menghadangnya.


Pertempuran pun semakin meluas dan semakin sengit, dengan masuknya banyak pendekar ke dalam medan pertempuran.


Perlahan lahan, situasi pertempuran pun berubah. Dengan bantuan para pendekar yang memiliki kekuatan dan kesaktian tingkat tinggi hingga sangat tinggi, pasukan perang Kerajaan Kisma Pura sedikit demi sedikit mulai bisa mendesak pasukan perang Kerajaan Menara Langit.


Bersamaan dengan itu, melihat pasukan perangnya berganti terdesak, membuat para Panglima Perang Kerajaan Menara Langit, tidak bisa lagi menahan diri. Dengan berpencar di beberapa tempat, kehadiran para Panglima Perang Kerajaan Menara Langit, kembali merubah keadaan. Pasukan perang kerajaan Menara Langit kembali bisa mendesak para prajurit Kerajaan Kisma Pura.


Situasi tersebut, membuat Pangeran Indra Prana dan pendekar pendekar yang tidak tergabung dengan Padepokan Kuwanda Brastha segera turun tangan untuk membantu para prajuritnya.


Beberapa saat kemudian, Pangeran Indra Prana berhasil menghadang Panglima Perang Anggaraksa. Akhirnya terjadi duel antara Pangeran Indra Prana melawan Panglima Perang Anggaraksa.


"Menyerahlah Pangeran ! Agar pertempuran ini bisa segara diakhiri !" kata Panglima Perang Anggaraksa.


"Justru kami yang akan mengusir kalian semua !" sahut Pangeran Indra Prana.


Sementara itu, Ki Dwijo bersama dengan Resi Wismaya, menghadapi Panglima Perang Gardapati dan Panglima Perang Hapsari.


Dengan senjata tongkatnya, Ki Dwijo menghadapi serangan senjata golok bergagang panjang yang dimainkan oleh Panglima Perang Gardapati.


Benturan senjata tongkat dengan golok bergagang panjang yang terjadi sangat cepat itu, menimbulkan suara yang keras.


Ctang ! Ctang ! Ctang !


Begitu cepatnya gerakan mereka selama saling menyerang, hingga tanpa terasa lima puluh jurus terlewati.


Tidak jauh dari pertempuran Ki Dwijo melawan Panglima Perang Gardapati, terjadi pertarungan yang tidak kalah sengitnya. Resi Wismaya, dengan senjata tongkatnya, mampu menghalau ujung cambuk Panglima Perang Hapsari.


Panglima Perang Hapsari, yang mengandalkan pertarungan jarak jauh, mencoba mengurung Resi Wismaya dengan lecutan lecutan ujung cambuknya yang terus menerus mengancam titik titik tubuh yang berbahaya pada Resi Wismaya.


Ctar ! Ctar ! Ctar ! Ctar ! Ctar !


Namun, kecepatan gerak Resi Wismaya, membuat setiap patukan ujung cambuk Panglima Perang Hapsari, selalu bertemu dengan ujung tongkat dan selalu berhasil menghalaunya.


Tanpa terasa, hampir sehari penuh, kedua pasukan saling menyerang. Begitu memasuki petang hari, akhirnya kedua pasukan menarik seluruh kekuatan tempurnya.


---------- ◇ ----------