
Ki Dwijo dan Puguh terkejut melihat Ki Bhanujiwo terjatuh di depannya dengan kondisi terluka parah, terlebih pada bagian punggungnya.
Hal ini karena, selama Ki Bhanujiwo berlari dan dikejar oleh Ki Bayuseta dan Ki Bajra, beberapa kali mendapatkan serangan jarak jauh yang mengenai punggungnya.
Terakhir, saat sampai di depan Ki Dwijo, Ki Bhanujiwo masih terkena pukulan jarak jauh dari Ki Bayuseta.
Walaupun sudah melindungi punggung dan dadanya dengan tenaga dalam, tetap saja pukulan itu membuat Ki Bhanujiwo memuntahkan darah segar di depan Ki Dwijo dan kemudian jatuh tertelungkup.
Ki Dwijo semakin terkejut saat melihat, yang mengejar dan melukai Ki Bhanujiwo adalah Ki Bajraseta dan seorang temannya yang sepertinya Ki Dwijo pernah bertemu.
"Berhenti !" teriak Ki Dwijo, "Ki Bajraseta ! Ada apa ini ? Kenapa Ki Bhanujiwo terluka parah ?"
Tetapi, kedua orang itu tidak menjawab, seperti orang yang tidak mendengar teriakan Ki Dwijo.
Ki Bayuseta melesat melayang ke arah Ki Dwijo, kemudian melayangkan pukulan.
"Tidak usah banyak bertanya !" sahut Ki Bayuseta sambil menyerang.
Ki Dwijo yang masih berdiri menggunakan tongkat penyangga, segera menghindar. Namun Ki Bayuseta mencecar dengan serangan bertubi tubi, membuat Ki Dwijo harus terus menghidar.
Melihat gurunya pontang panting menghindar, Puguh segera berlari ke arah gurunya. Hanya butuh waktu sesaat, Puguh telah mendekati gurunya dan segera memanggul gurunya.
Puguh yang sekarang, sudah berbeda dengan saat dia pertama kali datang ke tempat tinggal Ki Bhanujiwo.
Sekarang ini, ilmu meringankan tubuh Puguh sudah meningkat pesat. Karena ilmu meringankan tubuh yang Puguh peroleh saat terjebak di dalam lubang batang pohon dulu itu merupakan ilmu meringankan tubuh yang sulit dicari tandingannya.
Selain itu, tenaga dalam Puguh juga meningkat pesat.
Puguh dengan tubuh gurunya di atas panggulannya, bergerak dengan gesit menghindari kejaran dan serangan Ki Bayuseta.
Karena sudah dipanggul oleh Puguh muridnya, Ki Dwijo bisa dengan leluasa menangkis ataupun membalas menyerang. Serangan pukulan tangan kanan Ki Bayuseta dihadapi juga dengan pukulan.
Baaammm !!!
Benturan dua pukulan yang mengandung tenaga dalam, tidak bisa dihindarkan lagi. Ki Bayuseta dan Ki Dwijo sama sama tersurut dua langkah. Namun terlihat, kaki Puguh agak gemetaran.
Ki Dwijo masih berusaha untuk mengajak berbicara. Namun, kedua penyerangnya itu sudah tidak memperdulikan perkataannya.
Ki Dwijo berpikir, hanya akan berhadapan dengan orang yang datang bersama dengan Ki Bajraseta. Namun situasinya berkembang ke arah lain.
"Adi Bajraseta, ayo segera kita selesaikan orang ini !" kata Ki Bayuseta sambil terus menyerang Ki Dwijo, "Ingat ! Nyawa cucumu jadi taruhannya !"
Sesaat, Ki Bajraseta masih terdiam. Namun begitu teringat akan cucunya, dia membulatkan tekat dan kemudian terjun ke pertarungan, ikut menggempur Ki Dwijo.
Di situasi ini, Ki Dwijo merasa kesulitan. Jika menghadapi salah satu lawan saja, Ki Dwijo masih bisa mengimbangi dan mungkin mengalahkannya, walaupun dia harus dipanggul oleh Puguh muridnya.
Tetapi, dalam keadaan harus dipanggul karena kaki yang masih lumpuh, menghadapi dua lawan sekaligus jelas berat bagi Ki Dwijo. Apalagi dalam sekarang ini, perhatian Ki Dwijo terpecah. Selain harus sangat mewaspadai kedua lawannya, juga harus menjaga keselamatan Puguh muridnya. Selain itu, Ki Dwijo juga masih memikirkan keadaan Ki Bhanujiwo yang terluka, karena tadi belum sempat memeriksanya.
Setelah pertarungan berjalan hampir dua puluh jurus, Ki Dwijo sedikit demi sedikit mulai terdesak. Walaupun belum terluka, Ki Dwijo merasa harus segera membuat keputusan dan rencana demi keselamatan semua, terutama Puguh.
Tetapi situasi berkembang begitu cepat. Belum sempat memikirkan langkah apa yang akan diambil, Ki Dwijo sudah mulai menerima beberapa pukulan di tubuhnya.
"Ngger Puguh, kita coba bergerak menjauh. Situasinya tidak memungkinkan kita untuk memaksakan diri," kata Ki Dwijo pelan pada Puguh muridnya.
"Baik guru. Kita ke mana ?" tanya Puguh.
"Terus bergerak saja, memanapun. Kita utamakan keselamatan kita dulu," sambung Ki Dwijo.
Kemudian, sambil terus bergerak menghindar, Puguh membawa gurunya untuk berusaha lepas dari kepungan kedua lawannya.
Pertarungan pun semakin menjauh dari air terjun. Beberapa kali, Puguh mulai merasakan ada darah menetes ke kepala dan tubuhnya. Dia yakin, itu pasti darah gurunya yang sudah mulai terluka. Karena berkali kali Puguh menyaksikan, demi melindungi dirinya, gurunya rela menangkis serangan yang mengarah ke tubuhnya, walaupun resikonya, gurunya yang menjadi terkena serangan. Maka sampai sekarang, tubuh Puguh masih utuh belum terluka.
Tanpa disadarinya, mereka bergerak mendekati jurang yang sangat dalam. Puguh baru menyadari saat dirinya hendak menghindar dengan melangkah ke belakang. Karena terpojok, Puguh melakukan lompatan ke kiri atau ke kanan untuk menghindari serangan, karena tugas Puguh hanya berlari. Sedangkan bertahan dan membalas serangan sudah dilakukan oleh gurunya.
Namun, bagaimanapun Puguh dan Ki Dwijo mencoba bertahan, karena selalu diserang dari dua arah dan sekarang berada diposisi yang sulit, di pinggir jurang, membuat gerakan mereka berdua menjadi berkurang kecepatannya.
Hingga suatu saat, dalam posisi terkepung dan tidak ada arah lain untuk menghindar, Puguh dan Ki Dwijo menerima serangan secara bersamaan.
Walaupun Ki Dwijo sudah berusaha untuk menangkis serangan yang mengarah ke tubuh Puguh, akhirnya tetap saja ada serangan yang mengenai tubuh Puguh.
Satu tendangan dari Ki Bajraseta berhasil mengenai perut Puguh.
Buuuggghhh !!!
Bersamaan dengan itu, saat mencoba menangkis serangan yang ke arah tubuh Puguh, pukulan tangan kanan Ki Bayuseta berhasil mendarat di dada Ki Dwijo.
Buuukkk !!!
Terkena pukulan dan tendangan, tubuh Puguh dan Ki Dwijo terlempar ke belakang beberapa langkah.
Namun karena mereka berada tepat di pinggir jurang, tanpa bisa mereka hindari lagi, tubuh Ki Dwijo dan Puguh terlempar ke arah jurang dan akhirnya tubuh mereka berdua terlempar ke arah jurang yang hanya terlihat gelap, tanpa bisa diukur seberapa dalam jurang itu.
"Haaah ha ha ha .... akhirnya mereka terkubur di dasar jurang !" kata Ki Bayuseta sambil tertawa.
Sementara Ki Bajraseta langsung kembali ke air terjun dan mengambil tubuh Ki Bhanujiwo, menyeretnya dan kemudian melemparkannya ke jurang juga.
Setelah melemparkan tubuh Ki Bhanujiwo, Ki Bajraseta menghampiri Ki Bayuseta.
"Kakang Bayuseta, kuharap kalian tidak ingkar janji dengan melepaskan cucuku dan tidak mengejar kejar kami dengan memberi kami tugas tugas yang memuakkan ini !" kata Ki Bajraseta
"Haaah ha ha ha ....adi Bajraseta jangan khawatir, akan aku laporkan, kalau Adi Bajraseta telah memenuhi kewajiban dengan membunuh mereka berdua," jawab Ki Bayuseta.
"Secepatnya akan aku ambil cucuku !" kata Ki Bajraseta.
"Haaah ha ha ha .... Baiklah, ayo kita kembali ke markas !" jawab Ki Bayuseta sambil tubuhnya sudah melesat jauh.
Tiada pilihan lain, akhirnya Ki Bajraseta pergi dari tempat itu.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_