Menjadi Putri Cantik

Menjadi Putri Cantik
Akhir bertemu


Albina masih dalam keadaan panik dan takut , Pangeran Mahkota bisa merasakan apa yang di rasakan olehnya.


" Sudahlah jangan berdebat lagi , Minda bawakan teh hangat untuk Nona Albina ". Ucap Pangeran Mahkota .


Sebelum pergi meninggalkan kamar Putri Andara , Pangeran Mahkota diam - diam menatap Albina meski hanya sebentar .


Gubernur Albiru malah menatap tajam pada Putri Andara .


" Kakak , ini semua bukan salah Putri Andara". Gumam Albina .


" Diamlah , sebaiknya kamu segera pulang ". Titah Gubernur Albiru .


Albina mendengar perkataan dari Gubernur Albiru bahkan mengajaknya juga untuk pergi .


" Kamu pergilah dulu karena aku masih ada sedikit urusan dengannya ". Kata Gubernur Albiru dengan dingin .


" Tenang saja Albina , dia tidak akan berani memukulku karena membuat adiknya dalam bahaya ". Ucap Putri Andara .


Albina pergi meninggalkan kamar Putri Andara , sedangkan Gubernur Albiru masih dengan tenangnya menatap tajam ke arah Putri Andara .


" Ingin sekali ku colok saja matanya , menyebalkan sekali . Tidak bertemu rindu sekalipun bertemu harus seperti ini ". Gumam Putri Andara dalam hati .


" Hebat sungguh hebat , kini wanita yang berada di depanku ini akan menjadi seorang istri dari Dokter ternama ". Ucap Gubernur Albiru yang tak terduga .


" Apa yang kamu katakan ? Mengapa jadi membahas ini ". Heran Putri Andara .


" Selama ini kamu sengaja untuk menariknya untuk segera menikah denganmu , bukan ". Tebak Gubernur Albiru .


Putri Andara tidak mengerti dengan maksut yang di katakan oleh Gubernur Albiru saat ini .


" Apakah selama ini kamu tidak bisa melihat hatiku ". Ungkap Gubernur Albiru yang semakin mendekat ke arah Putri Andara.


" Ehh .. Hentikan !! Sebenarnya kamu ini kenapa sih ". Kata Putri Andara .


" Masih ingin bertanya mengapa aku seperti ini , dengar Andara apakah perhatianku masih belum cukup untuk mengikat hatimu ". Lirih Gubernur Albiru .


" Me -- mengikat hatiku !! ". Kata Putri Andara seraya mengernyitkan dahinya.


Gubernur Albiru mengambil tangan kanan Putri Andara dan meletakannya di dada sebelah kanannya .


" Rasakan debaran ini ketika melihatmu berada di dalam bahaya maka jantung ini akan berdetak tidak karuan seperti halnya perasaanku padamu selama ini ". Gumam Gubernur Albiru.


" Tentu saja aku bukan dokter jadi tidak bisa mendeteksi jantungmu ini ". Ujar Putri Andara .


" Kamu harusnya sadar diri !! Kamu adalah tunangan Indira dan aku pasti akan menikah dengan Dokter Reinhard . Jangan pernah berharap apapun ". Ucap Putri Andara dengan tegas .


Setelah mendengar perkataan itu barulah Gubernur Albiru mengerti jika selama ini dirinya terlalu memaksa Putri Andara .


" Baiklah , jika begitu selamat untukmu ". Ucap Gubernur Albiru lalu pergi begitu saja .


Putri Andara mulai gelisah atas perkataan yang baru saja dia katakan pada Gubernur Albiru.


" Sebenarnya apa yang terjadi dengan perasaanku , mengapa rasanya aku sangat menyesali atas perkataanku tadi . Sepertinya aku sudah ---- ". Gumam Putri Andara yang mulai menyadari jika hatinya memang untuk Gubernur Albiru .


Sepanjang malam pun Putri Andara tidak bisa tidur karena memikirkan hubungannya dengan Gubernur Albiru .


Minda menghampirinya untuk sekedar menenangkan pikiran Putri Andara .


" Putri ? Sudah larut mengapa masih belum tidur ". Kata Minda .


" Malam ini benar - benar membuatku gelisah Minda , aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku sendiri . Setiap kali aku memikirkannya maka perasaan ini semakin dalam ". Lirih Putri Andara sambil memeluk guling .


" Sebaiknya Putri paksakan diri untuk memejamkan mata karena tidak baik begadang ". Nasehat Minda .


Tetap saja meskipun Minda telah menasehatinya namun tidak bisa tertidur , Putri Andara pergi ke balkon untuk melihat pemandangan malam .


Dalam pikirinnya dia teringat saat dimana Gubernur Albiru berulang kali menyelamatkan dirinya .


" Jika hidupku akan menjadi rumit maka aku harus bagaimana , aku sadar jika setiap manusia pasti mengalami kebahagiaan dan kesusahan . Saat ini aku begitu susah dan menyesal telah mengatai Albiru ". Gumam Putri Andara dengan Lirih .


Beberapa bulan kemudian , Putri Indira dan Zalima bahkan Arina di nyatakan bebas dari masa hukumannya.


Bahkan hari ini juga adalah dimana Putri Andara akan bertunangan dengan Dokter Reinhard .


Minda membantu Putri Andara untuk bersiap ke aula utama , namun sebelum pergi malah merintihkan air mata yang tiada hentinya .


" Putri mengapa kamu menangis ". Kata Minda yang terkejut .


" Minda aku , aku tidak mau bertunangan ". Ungkapnya.


" Tapi Putri , bagaimana jika kamu membuat kecewa Raja Erlangga dan Dokter Reinhard yang selama ini sudah baik . Apakah kamu tega ". Kata Minda.


" Tapi aku benar - benar tidak bisa Minda , hatiku tidak rela ". Ujar Putri Andara sembari memegang dadanya yang terasa sakit .


" Putri bukankah kamu sudah memilih jalan ini sendiri bahkan memutuskan untuk menyetujui perjodohan ini. Putri aku mohon jangan seperti ini ". Kata Minda yang meminta Putri Andara untuk tetap tenang dan menerima kenyataan .