
“Apa yang terjadi aku tidak salah dengar kan?“
Kesempatan emas. Para penonton pada menggerutu maklum kawan sendiri. Jadi ada keberpihakan.
“Benar sekali aku akan memberi Jiang Hao kesempatan emas,“ kata Lin Tian sebagai juri. Dia benar-benar berbaik hati pada Jiang hao. Seperti yang sudah di dengar saat bertemu dengan ayahnya, kali ini tentu menjadi bagian dari itu. Melindungi Jiang hao, terutama kala menghadapi gempuran keluarga Qian yang sangat piawai kalau soal beginian. Untuk itulah sebisa mungkin dia membela Jiang Hao termasuk dengan memberikan kesempatan emas nya.
“Kurang baik kalau kamu seperti itu. Bagaimana kalau kamu mempertimbangkan lagi,“ ujar juri yang suka mengungkapkan hal yang kurang baik pada peserta agar bisa tampil maksimal, selalu oke dan menjadi sebuah hal yang menyenangkan pemirsa.
“Aku keberatan!“ Ada seseorang yang mengacungkan tangan dari kelompok penonton. Rasa tidak puas tentu saja ada. Makanya dia perlu klarifikasi yang lebih memuaskan hatinya.
“Aku orang pertama yang keberatan!“ ujar Qian Pinzhu. Tentu saja demikian karena dia yang sangat berkepentingan akan hal ini. Kalau kalah sama saja mesti kehilangan keluarga besarnya. Yang mesti diserahkan pada Pinru yang sudah tak ia sukai semenjak kecil. Makanya sebisa mungkin mesti memenangkan pertandingan ini. Lagipula dia sudah keluar banyak biaya. Baik mencari penyanyi bertalenta emas, serta bagaimana dia berusaha meyakinkan juri dengan sedikit tambahan kesukaan. Itu semua dilakukan demi kemenangan pada sebuah pertandingan yang sangat besar ini.
“Oh kenapa?“ tanya Juri Lin Tian yang sedikit kaya jurig.
“Dia sama sekali tidak memiliki bakat menari dan menyanyi. Atas dasar apa memberinya kesempatan emas langsung lolos ke babak final?“
“Ini….“
Lin Tian bingung mencari jawaban yang demikian mengena sampai sampai dia garuk-garuk kepala akibat saking bingung nya.
“Sedangkan peserta Li Tai tadi kenapa tidak diberikan kesempatan ke final juga?”
“Karena…“
“Jangan jangan karena kamu melindungi Jiang Hao. Atau Jiang Hao memiliki hubungan dengan mu…“ pertanyaan bertubi-tubi terus diluncurkan pada juri kontroversial itu. Agar bisa mendapatkan hasil yang tentu saja memuaskan para penonton ini. Masa dating jah-jauh kecewa, kan bertambah tak bagus. Belum lagi kalau bayar. Jika gratis saja mesti memerlukan waktu sekian lamanya menuju ke daerah tersebut. Serta seberapa capek kalau transportasinya agak susah. Tentu untuk keseluruhan penonton yang jumlahnya tak sedikit, bakalan membutuhkan alat yang memang lumayan banyak. Dan tidak sama. Ada yang asik saja, dan ada yang mesti naik kendaraan kacau. Itu membutuhkan pengorbanan yang tak sedikit. Makanya mereka butuh kepuasan. Kalaupun tetap si Jiang yang lolos mesti ada alasan kenapa demikian, dan akan lebih suka lagi jika lawannya yang memang sangat ber talenta itu.
“Ah… aku sudah menemukan. Perusahaan yang mengutus Jiang Hao. Lin tian adalah pemegang saham.“
Sembari menunjukkan data tentang perusahaan itu di HP yang sangat modern. Meskipun pemiliknya asli situ dan buatannya di daerah itu juga, namun domisili bisa di negeri yang sangat maju. Itulah makanya sangat akurat dalam memberi informasi, serta tidak membutuhkan waktu lama.
“Tak disangka benar benar tak disangka. Host siaran langsung nomor satu kita ternyata orang seperti ini,“ ujar MC yang ikut memanas - manasi sesuatu yang sesuai kenyataan. Dimana akan ada perseteruan tambahan sehingga rating akan semakin naik kalau acara ini disukai penonton, baik yang secara langsung dating ke situ atau para pemirsa yang melihat lewat acara live dan lewat rekaman di video internet. Itu semua akan menyorot baik sisi terbaik dari setiap yang masuk ke acara itu, maupun sisi negatif nya.
“Ada sanggahan apa lagi?“ tanya Lin Tian. Kalau-kalau masih ada. Sehingga bakalan dia jawab sekaligus. Maklum sedari tadi mau bicara sudah itu terus dicecar dengan berbagai pertanyaan yang sangat menyudutkan, sehingga sulit menjawab. Makanya kalau-kalau hal itu masih ada maka dia bicara untuk memastikannya.
“Dari tadi aku ingin bicara. Alasan kenapa Jiang Hao mendapat kesempatan lolos masuk ke babak final adalah karena dia adalah karyawanku,“ ujar Lin Tian dengan santainya. Da kali ini benar-benar bisa menjawab. Makanya sekarang juga akan dikasih alasan mengapa bisa begitu dan membiarkan Jiang Hao yang demikian payah akhirnya bisa diberi kesempatan memenangkan pertarungan tak seimbang itu.
Penonton melongo.
“Hahaha apa - apaan itu? Mengakui kalau dirinya berbuat curang sendiri, tunggu saja hujatan orang – orang,“ ujar Pinzhu. Kayaknya kali ini dia bakalan menang dalam berdebat. Sehingga Lin Tian sudah tak punya muka lagi untuk mempertahankan Jiang Hao sebagai pemenang.
“Selain itu. Semua artis disini adalah karyawanku,“ kata Lin Tian dengan tak disangka-sangka. Bayangkan menggaji satu karyawan saja sudah lumayan mahal, ini seluruhnya. Lagipula kalau demikian maka bisa diperhitungkan seberapa banyak pengeluaran buat perusahaan Lin Tian yang tak pernah kekurangan uang itu.
“Bos…. Sudah merepotkan anda,“ para peserta memberi hormat kepada bos nya. Bagaimanapun mereka karyawan. Yang sudah ditanggung gaji nya oleh sang bos. Makanya sebisa mungkin menyapa sekedar bisa menyenangkan hati pemberi pekerjaan tersebut. Sebab darimana dia mendapat nafkah kalau bukan lewat orang itu. Setidaknya dalam perkara yang sedikit berhubungan dengan uang.
“Bagaimana ya, seluruh peserta acara ini adalah seniman di bawah Pinru Music. Karena perusahaan mitra resmi situs video ini adalah kami,“ Lin Tian terus menjelaskan alasan nya.
“Memangnya kenapa kalau begitu taruhan kita masih berjalan. Cepat kalian juga boleh memberi pendapat, eliminasi Jiang Hao.“
Sambil memberi tanda kalau dia sudah memberi uang. Payah kalau hal demikian tak di ungkap. Sudah banyak mereka mengeluarkan biaya. Dan itu tak sedikit. Ini demi satu kemenangan. Dan itu demi Li Tai si jagoan mereka. Kalau kali ini menang, maka langkah selanjutnya akan bisa di telusur lewat rencana yang sudah matang.
Para juri setuju saja untuk tetap membela lawan Jiang Hao. Sebab memang demikian apa yang mereka lihat. Langsung saja memberi dukungan pada sang lawan Jiang. Setidaknya sesuai pesanan.
“Hahaha 2:1 Jiang Hao tereliminasi,” Qian Pinzhu sangat senang dengan usaha dia. Uang banyak yang diberikan itu sudah berhasil membuat mereka bakalan menang.
“Bagaimana aku harus menjelaskan pada kalian? Bagus kalau kalian tidak mengaku kalah,“ ujar Lin Tian. “Tapi apa kalian benar-benar sudah menang?“
Sembari menunjukkan jempol kanan nya. Keluarga Qian tercengang.
“Ini, ini adalah…“
Pinru mengancam peserta untuk tanda tangan dengan todongan pisau.
“Terima kasih banyak kalian sudah memberikan bakat sebagus ini dia sekarang sudah menjadi milikku.“
“Sesuai peraturan kalian tidak memiliki peserta lagi. Taruhan dimenangkan olehku,“ kata Lin Tian dengan bangga.