Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 36


Jalur perlombaan kali ini. Lebih panjang dari jalur balapan yang ada.


“Perlombaan siap di mulai!“


Berangkat dari pusat kota, mendaftar di bagian timur kota, kemudian lanjut sampai finis di titik barat kota.


Sembari melihat peta. Benar, sangat rumit. Maklum lomba ini termasuk lanjutan dari yang tempo dulu. Tentu lebih sulit, serta membuat banyak rintangan. Agar setelah sampai akan ada kebanggaan untuk bisa naik podium. Serta hadiahnya demikian besar. Terutama buat mereka yang suka balapan. Sehingga sembari senang-senang, akan bertambah senang karena mendapat hadiah besar juga.


“Aku sudah pernah dengar tentang balapan kali ini. Lagi pula kalah juga tidak rugi, kalau menang yah untung,“ ujar Lin Tian yang seakan senang dengan apa yang tengah dihadapi kini. Sebab hampir tak ada masalah, namun mendapat keuntungan besar untuk hadiah yang akan didapat nanti.


“Pertandingan kali ini sama dengan tahun lalu. Jalur tidak terbatas, cara juga tidak ada batasan, pemenangnya akan dapat member clubs Shenhao, dan yang kalah, harus menyerahkan aset berharga yang dimilikinya,“ ujar panitia memberitahu aturan – aturannya.


“Eh… kenapa tidak ada yang memberitahuku masalah ini?“ ujar Lin Tian tentang resiko jika menderita kekalahan. Baginya kali ini jelas merupakan persoalan. Sementara yang dia tahu Cuma asal main saja. Makanya dari awal dia sudah berpikiran santai. Ternyata oh ternyata banyak aturan yang menjerat dan membuat panik walau itu belum dimulai.


“Tanpa banyak bicara lagi, apa semuanya sudah siap,“ ujar panutan sembari siap dengan benderanya. Bagaimana lagi, semua terlanjur berada dalam lintasan, serta tinggal pijak gas, maka melesat. Kalah menang sudah biasa. Itu bagi para petualang berpengalaman yang jelas sudah biasa menghadapi pertarungan tahun-an seperti kali ini.


“Saudara aku bergantung padamu. Perusahaanku belum terkenal, tidak bisa diberikan pada orang lain,“ ujar Lin Tian mengandalkan pegawai baru yang belum dia kenal, namun sudah sangat dipahami oleh orang ini mengenai kemungkinan terburuknya. Sehingga kalai ini lawan, bukan hanya anak-anak di luar sana yang memegang kendaraan, dia kali ini bersanding dengan musuh yang tak Nampak. Alias musuh dalam selimut. Kelihatannya membantu namun sebenarnya hendak menggerogoti dari dalam. Ini lah beratnya orang muda seperti Lin Tian. Berhadapan dengan banyak musuh. Yang kelihatan maupun diam-diam begitu. Namun dia masih mengandalkan keuntungan yang selalu berhasil dia capai selama ini.


“Tentu saja. Aku malah ingin melihat tampangmu setelah menyerahkan perusahaan,“ ujar si sopir yang menghendaki kekalahan bos nya.


“Mulai!“


Bendera berkibar dengan kuat dan dihentak kan. Sebagai tanda agar mobil yang menderu-deru itu bisa diinjak gasnya kuat-kuat. Tanda mulai perlombaan.


Mereka langsung saja saling kejar, saling gas. Ibarat kata saling sikut. Kalau kena senggol saja sudah akan fatal kendaraan mewah itu.


Di televisi dan live online juga banyak membicarakan pertandingan ketat itu.


Pertandingan secara live. Perlombaan dimulai dengan menderu nya mobil-mobil mewah dan sangat canggih, guna mencari titik awal demi segera menjangkau garis kemenangan.


“Kita saksikan juara bertahan ratu Yezh sudah memimpin,“ ujar reporter melaporkan kejadian itu buat mengisi suara dalam TV agar semakin mempertegas gambar yang tengah Nampak tersebut. “Ada banyak orang yang ikut perlombaan ini dengan tujuan mengalahkan dia! Tapi sebenarnya aku baru mengetahui kalau sebelumnya dia telah dikalahkan oleh kuda hitam misterius di babak penyisihan. Itu adalah sebuah kendaraan yang sudah dimodifikasi oleh Shenhao.” Laporan terus menyertai sepanjang perjalanan pertandingan itu. Bahkan dipantau dengan pesawat dari udara. Demi rekaman yang maksimal untuk pertandingan tersebut bisa di tonton oleh orang banyak secara detail.


Bus ajaib. Pelan-pelan. Mencoba mengejar kendaraan yang melaju dengan kencang.


“Apa ini strategi balap lari kura-kura dan kelinci?“ Pada keheranan melihat pertandingan satu ini. Sudah pakai bus, malahan lebih baik balap lambat saja dibandingkan mereka-mereka yang dengan apik mempertontonkan keindahan sebuah balap cepat itu.


“Tenang saja aku sudah memperhitungkan semuanya,“ kata Lin Tian dengan santainya.


“Halo aku ingin melapor! Halo… halo… halo!!!“ Lin Tian mencoba menghubungi seseorang. “Tidak ada layanan, eh….“


‘Kamu sudah memperhitungkan, aku lah yang sudah memperhitungkan. Malam ini tidak ada layanan sinyal di seluruh kota,“ ujar kakak Long Nampak senang. Selangkah lebih maju dia dalam hal mengetahui keadaan kota. Termasuk kabar tentang akan diadakannya pemadaman layanan di seluruh penjuru kota.


“Sepertinya aku terpaksa menggunakan rencana cadangan ‘kecepatan super’“ kata Lin Tian yang terpaksa sekali menggunakan yang seperti itu. Sebab kalau tidak akan gawat. Seluruh property yang dibanggakannya bakalan lenyap dengan segera. Itu tidak baik. Rencana yang tersusun bakalan berantakan. Dan ini merupakan awal dimana dia mesti merencanakan yang sepele ini.


“Ke arah sana!“


Lin Tian menunjuk arah yang aneh. Arah dimana bukan menuju pada titik finis, namun rasanya agak memutar kalau nanti ujung-ujung nya bakalan ke sana. Sebab sangat berbeda jalurnya.


“Eh… tapi jalan ini menuju ke bagian selatan kota,“ ujar Long yang sedikit aneh melihat rencana yang kurang perhitungan dari bos yang ingin dicelakai nya walau diikuti terus ini.


“Benar sekali, kita baru bisa menambah kecepatan dengan memutar jalan dulu,“ ujar Lin Tian mengungkapkan rencana briliannya yang tak terdeteksi orang-orang, musuhnya termasuk orang didekatnya ini. Sehingga bertambah gondok saja dia.


Check poin pertama bagian timur kota. Mereka mulai sampai. Tidak sia-sia kecepatan yang sudah mereka lakukan hanya demi menjangkau titik yang sulit ini. Bukan soal rintangan, namun kecepatan mereka benar-benar membawa keberuntungan hingga detik ini.


“Haha… Lin Tian, si bocah, bus nya terlalu pelan. Pasti tidak mungkin membalikan keadaan,“ senyum bangga dari si bocah gundul.


“Aku menerima cap dulu,“ ujar Jiang Hao si gundul yang beruntung dan pertama mendapat cap sebagai peserta yang berhasil menjangkau chek poin itu. Ini juga berarti kalau kendaraannya terlampau cepat untuk bisa dikejar musuh-musuh mereka.


Namun kegembiraan berikutnya seakan terbungkam.


“Eh salju? Musim panas turun salju.“


Thit thit…


Menoleh. Pada pesawat. Ada pesawat. Pesawat datang, salju juga datang aneh. Musim panas lagi.


Lin Tian kelihatan. Sangat cepat. Bus itu. Kendaraan besar yang aneh kalau mesti berada di arena balapan. Balap yang sangat bergengsi lagi. Kalau Cuma balap keong si mestinya tak akan terlampau mencolok. Ini balapan yang mempertaruhkan segala kekayaan. Sungguh mencengangkan.


“Mudah saja menambah kecepatan dengan menurunkan salju. Beres sudah….“ ujarnya sangat bangga pada akal yang tak pernah habis ini. Maka tinggal menunggu kemenangan di garis finis yang akan datang sebentar lagi.