
“Pergi atau tidak? Masalah ini….“ Lin Tian tengah bimbang. Dia terus saja mengamati kartu di tangannya yang bertulis,
KONFERENSI BISNIS CHANGJIANG.
“Konferensi bisnis Changjiang adalah pertemuan nasional direktur besar dunia bisnis terbesar.“ Lin Tian tengah membayangkan bahwa diantara mereka ada dia yang saling duduk menghadap meja bundar sembari menghadap mik yang mesti di tekan dulu jika hendak bicara, dan di lepas kalau sudah di netralkan kembali. Di situ dia merasa canggung kala harus berhadapan dengan para bos yang saling mengenakan jas dasi. Dia merasa bukan apa-apa jika di banding dengan mereka yang memang sudah terbukti kepiawaiannya dalam berbisnis.
“Tapi gayaku sepertinya tidak mirip seperti bos besar,“ ujarnya lagi yang merasa masih tak seperti mereka yang sudah terbiasa mengenakan jas mengkilap. Sedangkan dia hanya berambut awut-awutan serta kaos hijau itu saja dengan jaket Hoodie yang bukan resmi hanya sekedar tak merasa kedinginan saja.
“Tidak… Aku harus meningkatkan diriku,“ ujarnya. Sehingga semakin merasa pusing sendiri jika membayangkan apa yang bakalan terjadi. Bagaimana kalau menjadi omongan orang. Atau tengah menjadi bah bibir yang kurang sedap akibat dirinya seperti itu saja di sebuah rapat para bis besar pemegang banyak saham di perusahaan utama. Tentu dia akan di katakana demikian, serta selanjutnya bakalan semakin risih akibat omongan miring tersebut. Makanya mesti memperbaiki diri dulu.
“Kalau mau untung besar, kalau tidak rugi besar. Sekarang malah berada di tengah. Tidak…“ Gumamnya lagi yang merasa masih biasa saja. Tidak terlampau besar, juga tak terlalu sederhana. Setidaknya hanya merasa sebagai sosok tengah-tengah yang tak terlalu kaya, namun juga tidak bangkrut-bangkrut amat, sehingga oleh sistem tak di kasih dana kembalian untuk kerugian besar itu.
#
Di hari yang di tentukan, di waktu yang sama tepat, akhirnya Lin Tian mendatangi gedung yang dimaksud tersebut. Gedung itu berwarna keemasan di seluruh bagiannya. Sehingga terang yang sama, juga semakin gemilang dalam menyesuaikan dengan ruang yang memang mewah di ruangan tersebut. Bisa di bayangkan bertapa merasa minder nya kalau mesti berpakaian yang seperti hari-hari biasanya serta enggan mengenakan jas berdasi.
“Wah mewah sekali… Aku tidak pernah rapat di tempat seperti ini. “
Lin Tian terus saja mengagumi tempat tersebut.
Dan belum usai rasa kagumnya, tiba-tiba, mak bedunduk, ada dua tangan yang saling memegang bahu kanan kirinya sebelah menyebelah. Sehingga membuatnya semakin terperanjat saja.
Nampak jelas ada dua pria berjas dasi yang mengapitnya.
“Direktur Lin akhirnya kamu dating. Direktur Lin terima kasih atas permainan senam jantungmu itu, sekarang karyawanku itu sudah sangat kompak. Proyek yang dulunya susah didapat akhirnya berhasil,“ ujar Direktur perusahaan tetangga yang sangat senang akan keberhasilan usahanya serta berhasil menang tender akan proyek besar yang membuat semakin banyak keuntungan yang di dapat, dan semua itu akibat senam jantung yang bisa membuat jantungan kala kalah tender. Tapi sangat senang dengan terjun payung yang bukan sebenarnya. Sehingga jantungnya semakin sehat saja.
“Proyek apartemen karyawan baru Tianlin sudah lulus seleksi, sebentar lagi harga tanah di sana pasti akan naik,“ jelasnya semakin senang. Hal ini semakin membuat Lin Tian jantungan. Dia tak menduga akan mendapat kabar yang sangat mencemaskannya itu.
“Direktur Lin selalu begitu baik dengan kami. Kali ini kami pasti akan membantu apartemen dan perusahaan barumu untung besar,“ ujar direktur perusahaan tetangga yang merasa berhutang budi kepada sang direktur yang sederhana serta selalu merasa rishi kalau mesti berkumpul dengan para bos besar.
Lin Tian semakin panik saja rasanya.
“Lin Tian… Tidak, aku seharusnya memanggilmu Direktur Lin. Tak kusangka, generasi muda sekarang begitu hebat. Kamu memiliki pandangan yang lebih jauh dari semua orang yang duduk di ruang rapat,“ ujar bos besar yang juga menyanjung kehebatannya dalam mengelola perusahaan.
Membuat Lin Tian semakin terharu saja. Di kanan memuji, di kiri begitu juga. Rasanya semakin membuat dia melambung. Dan ini bukan soal penjilat rasanya. Sebab semua serba besar.
“Aku sudah menambah dana investasi rumah hantu. Aku yakin, pasti bisa balik modal dalam dua bulan ini,“ ujarnya sekali lagi membuat Lin Tian sangat khawatir. Kalau benar rumah hantu itu di beri dana besar, pasti aka nada sesuatu tentangnya. Mesti membuat dia terjatuh dan terkapar kalau sudah berurusan dengan keuntungan besar tersebut.
Dengan sekuat tenaga, dia lari menghindar. Telinganya seakan memerah, dan jantungnya terus berdebar kencang. Tak kuat rasanya mendengar sanjungan yang demikian parah.
Bug!
Saking kencangnya membuat dia menabrak seseorang. Maklum segalanya seakan gelap tertutup oleh tangisan dan air mata deras yang terus meleleh.
“Sakit!“
“Aiya…“
Kedua orang bertumbukan itu saling terjengkang dan mengeluh kesakitan.
“Eit, siapa kamu. Lin Tian?“ ujar bos besar yang tertabrak tadi.
“Gawat, ketemu lagi seorang penjilat,“ gumam Lin Tian yang merasa seperti sebelumnya yang langsung main puji. Sementara dirinya tengah menghindari hal itu. Namun jika mengingat anak muda yang begitu perlente demikian, pasti dia bakal memujinya lagi. Dan mesti seberapa kencang lagi kalau hal ini terjadi nanti.
Ternyata anak itu berdiri. Dan langsung dengan beringas berujar, “Kamu adalah Lin Tian, si brengsek itu!“ Dia berujar dengan sangat kuat.
“Kalau bukan kamu menjiplak karyaku, mungkin sekarang aku sudah mengikuti konferensi itu dan menjadi orang sukses!“ ujarnya lagi dengan penuh kemarahan.
“Apa yang terjadi?“ semakin terkejut Lin Tian.
“Aku berjuang mendalami strategi bisnis special. Seperti telepon umum, supermarket kompleks, peternakan pribadi. Tapi kamu malah menjiplak semua ini,“ ujarnya yang merasa yakin jika segala urusan bisnis yang sudah dia susun dengan rapi langsung di ambil begitu saja sama si penjiplak itu.
“Stt, tak kusangka beneran ada orang yang akan menginvestasikan ke benda-benda seperti ini. Benar-benar genius sekali,“ ujar Lin Tian sangat senang. Nyatanya ada orang yang sesuai dengan apa yang sudah dia pikirkan. Dan orang ini ada di depannya yang tengah menubruknya dengan keras.
“Hei, ayo bekerja di perusahaan ku,“ ujar Lin Tian mengulurkan tangan sembari mengangkat anak itu menjadi karyawan nya.
“Kamu menjadi direktur, aku pun bisa pensiun,“ ujarnya senang. Dan langsung mengangkatnya menjadi orang nomor satu. Dan dia bisa pensiun dini. Betapa nikmatnya menjadi pensiunan. Yang bisa duduk santai sembari menerima gaji di tiap bulannya. Walau dana operasional taka da, serta sertifikasi juga hilang, namun rasanya dia masih merasa santai dengan apa yang di peroleh pada tiap bulannya.
“Aku tidak mau,“ ujar anak itu yang masih tersinggung. Karena merasa di kerjain oleh si penabrak serta penjiplak segala yang sudah dia kelola selama ini.
“Hahaha, aku mau orang ini.“
Lin Tian tertawa puas.