
“Lin Tian datang! Dia sudah datang!” Saling memberi tahu kedatangan pemimpin perusahaan Tianlin yang tengah menjadi sorotan dan bakalan di rekam itu.
“Cepat nyalakan kamera! Rekam sisi jeleknya!“ kata bos itu supaya kameramen segera mengambil langkah guna mendapatkan gambar paling menentukan sebagai senjata kala menghadapi tuntutan padanya nanti.
Krak!
Dan pintu terbuka secara menggeret.
“Kamu! Aku akan menggugat mu!“ ujar para penuntut umum yang langsung memberi hardikan mengerikan.
“Kamu harus menerima hukuman atas kejadian ini!“ ujar penuntut itu dengan berang. Dia siap menyerang walau apapun terjadi. Mumpung kala itu bertemu, maka kapan lagi akan menggugat, jika tidak sekarang. Sehingga bakalan bisa tersampaikan apa yang menjadi isi hati serta segala yang menggumpal dalam dada itu.
“Tenang, tenang… kita bicarakan baik-baik,“ ujar petugas berseragam sembari menahannya, supaya tidak main hakim sendiri dan meluapkan emosi tak bertepi.
“Pak, tenang saja. Aku pasti akan memberikan penjelasan padamu. Kalau memang ini salah kami, kami pasti akan bertanggungjawab,“ ujar Lin Tian, direktur perusahaan Tianlin mencoba bicara tenang, supaya orang itu juga bisa bersikap tenang serta tidak sampai terjadi pertumpahan darah, keringat dan air mata diantara orang-orang terdekat di situ.
“Kemari!“ ujar Lin Tian seraya menepuk tangan sebagai kode agar karyawan yang dia inginkan langsung mendekat, seraya membawa berkas yang dia butuhkan sebagai data dalam mengungkapkan kebenaran yang tengah terjadi.
“Berikan catatan pemasukan bahan makanan!“ ujarnya lagi.
Maka mendekat lah petugas peternakan Tianlin itu dengan sigap serta membawa data catatan yang di butuhkan. Dalam suatu map khusus yang keren dengan logo peternakan, moncong pink.
“Cek, pasti ingin membuktikan kalau bahan makanan mereka lolos pemeriksaan. Memang trik lama,“ ujar penuntut gundul yang terus mengarahkan kameranya ke orang yang lagi mereka tuntut. Sehingga akan langsung kelihatan hal mencurigakan yang sudah pasti tak bakal bisa di sembunyikan.
Sementara dalam pemeriksaan yang penuh dengan emosional itu, Lin Tian segera menekan tombol supaya segera tampil tampilan yang menguatkan.
“Dari informasi yang di dapatkan di kasir swalayan Tianlin jam 3.47 menjual sebatang sosis,“ ujar Lin Tian seraya proyektor menampilkan gambar lengkap tentang laporan yang telah terjadi pada waktu tersebut di kasir swalayan. “Kode sosis ini adalah TRA27-05-1034-SUA-109-Q.“
Semua tercengang menyaksikan kecanggihan teknologi tersebut. Yang mengungkapkan secara detail sebuah peristiwa yang terjadi kala itu. Dengan data yang lengkap.
“Sosis juga ada kode sendiri?“ pada bertanya-tanya, mengapa barang sepele begitu juga memiliki kode yang sangat terinci.
“TRA27-05-1034 adalah kode seekor babi yang ada di peternakan Tianlin di kawasan A area 27. Merupakan anak babi ke 1034 yang lahir di bulan Mei,“ jelasnya.
Semua pada fokus dengan keterangan itu. Termasuk orang-orang pengintai yang lagi butuh data untuk saling menjatuhkan. Mereka sendiri tak menyangka, kalau segalanya sudah siap dengan keterangan yang sangat berguna. Sehingga kala ada pemeriksaan begitu, langsung mempunyai jawaban dengan bukti yang komplit.
“Lalu setiap tusuk bambu yang ada di sosis juga ada kode untuk melacaknya. Asalkan muncul masalah keamanan makanan kami akan mengaktifkan sensor yang ada di dalam tusuk bambu,“ kata Lin Tian menjelaskan tusuk yang sangat unik tadi ternyata mempunyai banyak fungsi yang berhubungan dengan kualitas makanan yang di jual, sehingga tidak seperti kabar yang beredar luas kalau makanan itu kurang baik, maka dengan alat tersebut, semua bisa terbantahkan. Bahkan bisa langsung memberikan kesimpulan yang nyata bahwa semua keburukan yang terjadi bukan dari perusahaan tersebut, namun dari luar yang sengaja di buat berdasar produk mereka. Inilah yang menambah keterangan yang meyakinkan jika semua itu bukan dari perusahaan mereka yang sudah teliti.
“Dia menghabiskan begitu banyak uang hanya demi hal yang membosankan seperti ini?“ ujar para pencari data itu sangat keheranan, namun dengan demikian sudah taka da materi lagi untuk menjatuhkan orang ini yang telah membuat kecewa pelapornya.
“Ia sudah gila!“
Ambulan itu menuju rumah sakit.
Dimana dalam rumah sakit tadi ada si sakit.
“Apa yang harus aku lakukan lagi? Ada sensor di dalam tusuk bambu, dia memang benar-benar bukan orang normal!“ penuntut umum itu semakin pusing memegang kepala gundulnya yang sudah seperti pocong saja. Tak tahu mesti bagaimana lagi dalam menjatuhkan lawan yang sudah gila dengan biaya yang besar begitu serta tidak memikirkan seberapa besar keuntungan yang di dapat hanya demi membuat produk mereka super canggih juga demi keamanan bersama serta tidak membuat konsumennya menderita sakit yang di akibatkan oleh produk mereka yang di buat sembarangan.
“Hei, apakah kamu sudah menyiarkan semua rekaman tadi?“ tanya pemimpin yang kebingungan mau bagaimana lagi.
“Hah, iya aku kira,“ ujar anak buah yang juga kebingungan karena apa yang di butuhkan kurang maksimal demi sosis murah namun sangat lengkap data petunjuk pada batangnya itu.
“Gawat. Kali ini pasti akan ada banyak orang yang memuji grup Tianlin. Kita akan dalam masalah,“ ujar rambut merah yang sudah yakin kalau data yang mereka kumpulkan sangat kurang untuk menyeret orang-orang bermasalah itu ke meja persidangan.
“Pertama. Kita harus menghalalkan segala cara untuk menutup mulut siswa SMP itu. Kalau dia sembarangan berbicara maka kita akan di penjara,“ ujarnya lagi sembari membayangkan jika hal tersebut sangat kurang bagus dampaknya bagi perjuangan mereka. “Lalu kita jangan sampai melibatkan masalah ini dengan Jibao.“
“Kakak sepupuku adalah polisi, aku akan menyuruhnya pergi mengambil bukti di swalayan sekolah sekarang. Setidaknya bisa memfitnah grup Tianlin. Aku tetap di sini memikirkan cara. Kamu terus mengikuti perkembangan masalah ini,“ ujarnya mengatur strategi paling brilian supaya segera bisa mendapat kesempatan mendapat titik lemah dari perusahaan besar yang tengah mereka incar ini.
“Kamu ingin biaya kompensasi sebesar berapa?“ tanya Lin Tian dalam suatu ruangan yang kala itu tengah di hadap oleh seseorang yang sangat mencurigakan.
“Jibao, Jibao ku,“ rintih anak SMP yang tengah bicara sembarangan. Dia terus bicara sembarangan.
“Eit, oh ya kita boleh langsung menyuruh Jibao datang menjenguk murid SMP ini. Jibao akan di cap menyayangi penggemar, lalu juga bisa menutup mulut murid SMP ini,“ ujar rambut merah langsung mempunyai ide demi kelanjutan langkah kerja mereka yang sudah kepalang basah.
“Hehe, aku punya nomor agensi Jibao, sekarang adalah waktunya untuk mempertaruhkan segalanya,“ Dia langsung memegang ponsel dan membuka nomor tersebut.