Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 310


Nampak Pak Niu keluar. Mereka tetap tak mau menerima. Walau dirinya sudah menunjukkan kepala gundulnya. Segala keahlian. Serta seberapa besar nanti jika dirinya di terima bekerja dalam perusahaan ini pasti akan dapat keuntungan mendadak yang sangat besar sekali.


“Pak Niu grup Tianlin menolakmu itu adaah kerugian mereka,“ ujar Xiaoyang mencoba menghibur orang yang sangat dia banggakan. Walaupun kali ini lagi tertunduk lesu dan botak, namun dia berusaha sekuat mungkin mencoba menjaga perasaan supaya tidak terlanjur jatuh dan luruh.


“Kamu tidak perlu menghiburku lagi. Xiaoyang, kamu pergi coba sana!“ ujarnya menyuruh anak muda itu supaya juga menerima cobaan yang sama dengan dirinya yang sudah terlanjur sangat popular, tapi nyatanya di tolak juga. Barangkali kalau masih muda, tak terlampau terbawa perasaan saat menghadapi kenyataan, bahwa semua itu menyedihkan adanya.


“Sampai jumpa Pak Niu!“ ujar Xiaoyang melambaikan tangan tanda perpisahan. Ternyata hal itu adalah satu pertemuan terakhir sebelum perpisahan yang menyedihkan.


Bahkan dia sampai tertunduk lesu.


Namun berikutnya dia mendongakkan kepalanya, lalu menyeringai licik, sembari berkata, “Hahaha… mampus!“


“Aku sudah mendapatkan informasi dari orang dalam. Kalau grup Tianlin tidak suka orang lembur,“ ujarnya sambil manggut-manggut. Rupanya dia tahu, kalau bersandiwara, dan paham jika lembur yang sangat di sukai oleh banyak perusahaan, ternyata bukan hal itu yang diinginkan, sehingga sudah barang tentu, kalau hal ini yang di tawarkan, dan sebagai sesuatu yang membanggakan niscaya sudah pasti bakalan kena tolak mentah-mentah. Dan dia paham akan hal itu.


Persaingan internal.


“Jadi aku sengaja membuka seminar itu, hanya dengan memengaruhi kalian dengan kata lembur. Persaingan internal dan lainnya saja. Dengan demikian, aku bisa menjatuhkan pesaing lainnya dengan cepat. Haha….“ ujarnya tertawa puas. Dengan demikian, sudah banyak orang berpengaruh yang rontok dengan sendirinya. Jadi sekarang tinggal orang-orang yang bukan berpengaruh, atau setidaknya orang yang setara dengan dirinya, dan paling mengandalkan ketawa saja, sudah akan mampu menduduki posisi penting tadi. Sebab posisi demikian mesti terisi, walaupun tak ada orang yang berkompeten, namun karena dianggap sangat bagus.


“Stt, orang ini terlihat sedikit licik,“ ujar Lin tian sedikit keheranan menyaksikan orang yang demikian. Tertawa sendiri di kehidupan yang gelap ini. Senang dengan orang yang menderita, dn susah jika melihat orang lain senang. Jadi ada sesuatu yang begitu aneh kalau di pikirkan secara mendalam.


“Siapa kamu!“ Bentaknya yang merasa kalau sedari tadi ada yang lagi memperhatikannya. Dia merasa kurang suka jika seseorang dengan berani-beraninya memandang rendah dirinya yang lagi senang dengan kegagalan orang lain sebagai pesaingnya. “Siapa yang menyuruhmu bersuara di sini!“


“Kamu masih berani bilang ada orang dalam, masa aku saja tidak kenal?“ ujar Lin Tian kurang suka jika ada orang dalam yang bermain di belakang dirinya. Sementara dia jelas-jelas sebagai orang yang dalam sekali.


“Cek, orang gila! Sudahlah jangan menghiraukannya lagi. Aku pergi antre dulu.“ Mangkel banget dia dengan orang seperti itu. Masa tidak kenal dengan orang yang dalam. Sementara dia dengan jelas mendengar hal demikian yang sangat nyata, dengan terbukti pada sosok sebelumnya yang sudah gagal karena tidak sesuai dengan ucapan orang dalam tadi.


Dan sesaat kemudian…


“Hehe, lagi- lagi ada yang di tolak. Aku pasti akan di terima hari ini,“ ucapnya yakin. Serta senang dengan melihat seseorang yang tengah mengusap air mata. Jadi mungkin sama dengan pak Niu yang juga sangat sedih sampai kepalanya botak begitu.


#


“Halo pak, namaku… Namaku Yang… Yang… Yang Wei,“ ujar Xiaoyang dengan tergagap, terbata-bata, takut kalau-kalau, kalau-kalau di tolak mentah-mentah. Mengingat siapa dia, serta sudah popular menjadi orang yang licik, yang suka menyingkirkan pesaingnya dengan berbagai usaha yang bisa di bilang kurang kerjaan. Namun begitulah, di masa yang sulit dan paceklik begini. Kerja benar-benar sangat sulit, sehingga mesti sikut sana sikut sini, dan mencari peluang di antara lokasi sulit yang sangat menyakitkan begitu.


“Hehe.. Kita berjumpa lagi,“ ujar Lin Tian terkekeh melihat Xiaoyang. Dia rupanya ikutan latah dengan tertawa senang seakan juga tengah berhasil menyingkirkan para pesaingnya yang sudah menangis sesenggukan.


Hal demikian membuat Yang Wei sangat panic. Tak menyangka orang yang tidak pantas di singkirkan itu, nyatanya justru berjumpa di masa-masa yang menentukan begini.


“Maaf, maaf ya tadi. Aku tidak tahu anda adalah penguji,“ ujarnya berusaha memperbaiki diri. Siapa tahu ada orang dalam lain yang mendengar, maka bakalan berbahaya terhadap dirinya, serta akan semakin kesulitan nanti untuk mendapat peluang sebagus kali ini. “Sekarang hanya bisa mencari alasan. Nanti baru kita selesaikan masalah ini.“


“Aku bukan penguji. Aku Lin Tian. Grup Tianlin adalah milikku,“ ujar Lin Tian sembari menunjukkan photo jati dirinya yang sangat besar serta bakalan tak bisa di masukkan kantong. Namun membuat orang yang di ajaknya bicara bakalan langsung paham mengenai siapa yang memiliki Grup Tianlin itu.


“Hmm, anggap saja aku lagi sial, sampai jumpa,“ ujarnya dengan lesu. Seakan sia-sia semua perjuangan yang sudah dia lakukan, terutama dalam menyingkirkan para pesaingnya. Ibarat perang, hal ini benar-benar suatu yang tak bagus, dimana dia telah menyingkirkan banyak jendral pilihan, namun sekarang harus berurusan dengan si pemilik yang lupa dia singkirkan sebelumnya. Bahkan tak menyangka akan mendengar apa yang sudah dia lakukan selama ini, tentang berbagai usaha yang sudah dia pergunakan pada orang hebat sebelumnya.


“Tunggu!“ panggil si pemilik grup itu.


Sambal menyodorkan suatu Kontrak kerja, Lin Tian berkata, “Selamat, kamu di terima.“


Hal ini langsung membuat Yang Wei tercengang. Dia tak menyangka akan hal itu. Ternyata masih ada kebaikan yang dia terima hari itu. Terutama di antara mereka-mereka yang sudah sampai mengeluarkan air mata, nyatanya kali ini dia mendapat kabar yang menggembirakan.


“Aku percaya dengan kemampuanmu. Ke depannya, kamu adalah manajer baru grup Tianlin,“ ujar Lin Tian memberi harapan yang sangat nikmat untuk di dengar.


“Aku sudah di terima. Apakah Lin Tian ini seorang masokis? Suka dimarahi orang lain?“ ujarnya yang lalu menebak-nebak.


“Apa kamu tahu ada sebuah area pabrik perangkat lunak di bagian utara universitas? Bisnis baru kita berada di sana. Kita akan membuka salon di area pabrik perangkat lunak,“ ujar Lin Tian.


“Salon? Betul kalau hanya memotong botak pasti akan menarik banyak pelanggan,“ ujar Xiaoyang yang sangat senang dengan kepala botak.


“Tidak, salon kita hanya membuat gaya rambut anak punk,“ ujar Lin Tian.