Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 185


Klang.


Pintu di jejak dengan sepatu bagus.


“Lin Tian! Keluar kamu!“ ujar Bos Lintah Darat, lelaki sangar dengan baju putih, jas pink.


“Eh ada apa?“ Lin Tian terkejut. Dia tak paham dengan rasa marah si bos yang sangat baik dengan memberi dana besar pada perusahaan nya.


“Berani nya kamu bertanya? Ada apa dengan Mingchuang Youpin? Kenapa dana nya kosong?“


Kecewa berat rentenir dengan sikap Lin Tian. Dia tunjukkan bukti kalau memang perusahaan itu kosong. Benar-benar seperti yang di katakana sendiri oleh Lin Tian sejak awal. Serta terlampau beda dengan apa yang di beritakan oleh luar negeri bahwa perusahaan yang dia hendak sita dan jadi jaminan hutang besar Lin Tian katanya sangat maju dan berpotensi besar. Nyatanya benar-benar kosong. Ini benar-benar suatu yang sangat sesuai dengan apa yang di katakan oleh Lin Tian di awal perjumpaan dulu. Keterlaluan.


“Bukankah ini adalah pilihan mu sendiri, waktu itu aku juga sudah mengingatkan mu,“ kata Lin Tian sembari menitikkan air mata dengan deras. Dia merasa yakin kalau tidak melakukan kesalahan. Sehingga sangat tenang walau berada dalam ancaman si rentenir itu.


“Aku beritahu kamu, kalau orang yang membantu di belakang ku adalah orang yang tidak bisa kamu ganggu,“ kata rentenir itu membentak. Mukanya merah padam. Tak percaya jika bos perusahaan yang sudah dating dengan tertunduk supaya lekas cair, kali ini justru bersikap seperti itu. Jelas perlu orang di belakang untuk bisa memaksanya agak sopan sedikit.


“Aku tidak percaya. Memangnya kenapa kalau aku mengganggu mu?“ ujar Lin tian yang bersikap terlalu acuh. Sampai-sampai kakinya dia taruh di meja sebagai sikap yang jelas-jelas tak takut, kalau - kalau dia sampai tak di beri pinjaman lagi. Mau makan apa dia.


“Masuk!“ Sembari bertepuk tangan untuk kode, agar pada masuk yang mengawal nya. Seperti biasa, kebanyakan para rentenir sudah tahu dengan resiko yang sangat besar begitu. Asal tak hutang bakalan ada orang belakang. Tentu berakhir menyedihkan. Suatu resiko yang tak sebanding dengan apa yang sudah di terima dan di makan.


“Aku dengar hari ini kita akan memberi pelajaran seseorang, siapa yang bernyali besar,“ ujar seorang preman yang rupanya baru dengar. Tentu saja sikap nya yang sangat kasar bakalan membuat siapa saja yang tukang tunggak hutang akan mengkerut kengerian. Sehingga lagi-lagi tak bakalan memohon-mohon untuk meminta pinjaman walau dengan iming-iming yang begitu menggiurkan. Sudah bonyok kadang rasa malu nya tak tertahan kan lagi. Inilah resikonya berhubungan dengan mereka itu. Bagaimana tidak, sangat perlu uang namun uang yang di dapat tak berakhir manis.


“Siapa yang tidak tunduk, bunuh ia!“ ujar centeng sembari memukul pintu untuk membuat gawangnya retak. Tentu saja itu baru pintu, mungkin sebentar lagi kepala orang yang dapat dibayangkan jika terkena akan merasakan sakit tiada tertahan.


“Kamu punya senjata rahasia aku juga punya,“ kata Lin Tian menggertak sembari menekan tombol rahasia warna merah. Tak semudah itu dia menyerah. Aku lelaki, dia lelaki, gitu barangkali. Jadi mesti ada usaha perlawanan agar tidak mudah terjerumus pada situasi yang lebih genting lagi.


“Eh, ada bala bantuan?”


“Awas!“ para penyerang itu mesti waspada. Memang benar jika bos besar sudah pasti bakalan mempunyai anak buah yang siap menjaga setiap ada masalah. Dan itu kali ini yang tengah mereka hadapi. Mesti siap dan akan bertarung dengan anak buah si bos tukang hutang itu.


“Hehe kejar aku. Kalau berhasil, aku akan membiarkan kalian hehe…“ Lin Tian memutar kursinya untuk kemudian kabur. Benar-benar tak disangka-sangka.


Melihat itu bos rentenir segera menyuruh anak buahnya agar bertindak dengan tegas.


“Cepat kejar!“


#


Menyusuri lorong. Terus di telusuri dengan petunjuk exit yang juga ada tanda panah penunjuk arah nya.


Para pengejar mengikuti jalur itu.


Ada lagi. Tanda yang sama. Juga berputar menuju arah sama juga. Tanpa kenal lelah mereka terus saja lari sepanjang lorong yang ternyata sangat panjang itu. Atau bisa jadi itu hanya satu lokasi namun terputar terus.


“Huh, ada yang tidak beres,“ ujar para anak buah yang melihat tanda tersebut seakan sama saja. Kalau itu yang sama, berarti mereka telah berlari sepanjang lorong yang sama dengan terus menerus berputar.


“Lorong ini kenapa begitu panjang,“ ujar para lintah darat.


Siap dengan pentungan. Kalau Nampak orang nya bakal langsung kena pukul.


Tongkat diambil dengan tangan misterius dari atap langit langit ruang.


“Eh, mana tongkatku?“ si centeng terkejut. “Siapa yang mengambilnya?“ dengan rasa takut mulai merayap. Dia memang tak yakin jika ada hantu atau sistem misterius yang tengah bekerja membantu Lin Tian. Namun setidaknya bukan kepala dia yang di Tarik paksa.


“Mana aku tahu, kenapa kamu tidak menjaga nya?“ ujar bos marah. Sudah tak kena orang, malahan ada yang hilang. Benar-benar bermasalah langkah mereka kali ini.


Tangan meraba. Dengan lembut tentunya.


“Siapa, siapa yang meraba ku. Nyali mu besar sekali,“ kata Bos semakin marah.


“Aku miris sekali. 996 miris sekali. Miris sekali.“ Wajah berwarna hitam ke ungu-ungu an. Benar-benar sedih. Berbaur dengan rasa marah yang besar.


Pada kaget. Satu sosok yang berposisi terbalik.


Arg…


#


“Haha aku adalah orang berbakat. Untuk mencegah pintu di blokir oleh kelompok - kelompok yang tidak bermoral ini, aku sengaja memindahkan kantor ke sini dan mengumumkan nya di situs web resmi,“ ujar Lin Tian seraya memantau kondisi para penyerang dengan gambar dari lorong tadi yang di salurkan menuju ruang operator. Dari sini dia bekerja melihat orang yang bermasalah itu.


Kantor pusat grup Tianlin.


Rumah hantu Tianlin. Dalam bentuk yang sama. Menandakan kalau kantor nya sama dengan rumah hantu.


“Untuk ruang rahasia kantor di sini, aku sepenuhnya mengutip struktur tata letak dan desain dekorasi perusahaan Tianlin. Menggunakan bahan paling mahal untuk membuat nya,“ kata ahli tata ruang.


“Kerja bagus, karena ini adalah replika yang sempurna, lebih baik mengubahnya menjadi rumah hantu yang nyata, itu disebut pengalaman imersif,” kata Lin Tian. Kemudian dia bicara lewat walkie talkie, pada para pegawai yang sudah dia siapkan. “Mulailah berikan paket menyeramkan untuk orang orang ini,“ ujar Lin Tian.


Argh..


Para penyerang itu mulai ketakutan. Sampai-sampai bertingkah aneh. Si bos sampai matanya memutih. Para anak buah menjerit-jerit. Dengan sosok menakutkan yang mengikuti dari langit-langit lorong dalam posisi terbalik. Kalau bukan kuntilanak, barangkali itu spiderman dengan jaring laba-laba palsunya.


Hingga ketiga nya masuk pada suatu lorong ruang yang penuh dengan mata-mata sistem dengan pengendali dari ruang operator jarak jauh di kantor ruang yang mirip dengan rumah hantu.


Klang.


Pada terkepung.


“Aku salah, aku benar - benar salah,“ jerit mereka yang kebingungan antara benar atau salah. Yang jelas mereka tertangkap. Kini. “Lepaskan kami!“


#


Pada di tangkap. Petugas berseragam. Sembari masuk ke mobil mewah sedan seragam polisi yang satu sama lain sama.


“Lihatlah, aku bilang mereka orang jahat kan,“ kata Lin Tian yang seolah merasa benar terus dengan mengatakan kalau para rentenir yang dia hutang itu benar-benar jahat.


“Kenapa aku merasa, kamu juga bukan orang baik,“ ujar polisi Zhao. Meskipun dia telah di bantu dan berhasil menangkap kawanan penjahat itu.