
“Kita sudah tahu apa artinya juga,“ ujar Duo kembar itu bersamaan. Memang itu yang telah di pahami. Sehingga game selanjutnya juga telah di mengerti. Pokoknya apa saran dan pemberitaan yang di tangkap sudah ada di benak.
“Artinya adalah menyuruh kita untuk menggunakan cara analisis Marga Lin untuk memecahkan masalah besar ini,“ ujarnya pada Ma Keji yang sangat keji cara berpikirnya, sehingga langsung paham apa-apa yang telah keluar dari pemikiran sang bos canggih itu.
-Kalian kembangkan keunggulan kalian sendiri….
-Jangan terburu-buru….
-Tidak akan ada masalah….
Sembari terus mengingat kata-kata tersebut. Dan membayangkan tengah mengajar dalam suatu ruangan. Dimana membawa stik untuk menunjuk pada sesuatu yang diterangkan. “Keunggulan yang kita miliki. Dari sini bisa dilihat kalau kita adalah saudara kembar bisa diketahui kalau ini adalah game yang menggunakan cara bermain kerja sama.“
“Bebas… Artinya setiap orang bisa menggunakan pemikiran dan idenya sendiri untuk dikembangkan,“ seraya bertindak bebas termasuk berpakaian apa saja yang sangat top kala ini.
“Jangan terburu-buru…“
Teringat pesan itu.
“Untuk ini artinya tidak kelihatan terlalu mencolok. Apa artinya adalah game dengan ritme bermain yang lambat atau permainan memecahkan misteri ataukah…” Ma Keji berusaha berpikir dengan keras. Lalu dia paham, “Tidak, tidak… aku rasa bukan ini. Permainan kerja sama di tambah dengan perkembangan sesuka hati tidak seharusnya menjadi game yang memiliki ritme lambat.“
Lalu ucapnya lagi, “Aku tahu!“
Kedua orang kembar itu memperhatikan dengan seksama apa kira-kira yang di ketahui orang yang sok tahu itu.
“Siapa bilang game kooperatif hanya bisa dimainkan oleh 2 orang saja,“ ujar Ma Keji yang telah tahu itu.
“4 orang? Tidak juga…“ jawab si kembar.
“Bukan, tak terbatas jumlahnya…“ kata Ma Keji.
Dia lalu teringat sebuah game kolosal yang begitu banyak menampilkan para kesatria yang jago-jago. Dengan pimpinan seorang pemimpin dengan muka Lin Tian yang sangat berwibawa. Dan membawa para laskar yang tak terbilang jumlahnya. Semuanya memakai kostum seragam. Dengan dominan warna kuning. Yang melambangkan keagungan dan harga diri, layaknya emas yang begitu bernilai. Juga mengenakan kostum prajurit kuno dengan baju zirah yang sangat kuat. Dan kepala yang menggunakan mahkota aneh, atau penghias rambut sebagai mahkota alaminya, sehingga menambah kewibawaan seseorang yang begitu canggih.
“Game online yang melibatkan banyak orang. Ide bagus,“ semua setuju dengan ide Ma Keji yang demikian keji cara berpikirnya. Langsung tanggap ke sasaran, sesuai dengan arahan yang mulia Direktur Lin yang terhormat. Sehingga pembicaraan itu langsung menunjukkan kalau mereka sangat kompak. Kompak di pecat, namun kompak juga memiliki ide cemerlang.
“Benar sekali. Tapi itu jelas bukan game multiplayer online seperti sister monster atau knife three dan final fantasy 14,“ ujar Ma Keji sembari menolak kalau apa yang di ucapkan adalah tokoh-tokoh tersebut. Yang tentu saja sudah memiliki nama besar. Wanita dengan karakter baju seksi warna ungu yang anggun. Juga putri dengan selendang merah berkibarnya. Dan tangan yang memakai sarung warna emas menyilaukan. Bukan semacam itu yang terpikirkan.
“Jadi seperti apa dong game online dengan banyak pemain. Apa yang berusaha sekuat tenaga hanya untuk satu tujuan. Selain itu tidak terburu-buru?“ Qian Duomei sedikit berpikir sampai membayangkan yang tidak-tidak dengan dagu tertopang di tangannya, topang dagu.
“Aku ingat, pamanku pernah berkata sebuah hal. Yang membuat aku mengingatnya….“ Kenang Ma Keji akan paman kesayangannya itu.
“Waktu itu komputer masih menjadi barang langka dan mahal. Mereka harus patungan beberapa orang, baru bisa bermain 1 jam.“ Padahal menyewa rental komputer kan bisa. Pura-pura mau mengetik makalah, namun di pakai buat main game semalaman. Jadi bayarnya murah. Atau cukup dengan main dingdong itu jelas hanya butuh recehan yang di buang orang di tepi jalan. Sudah mantap.
Namun tidak demikian, setelah uang terkumpul, baru menyewa komputer pada si tukang penjaganya yang sangat ramah. Saat main itu, satu layar buat berempat. Karena koin yang terkumpul hanya cukup untuk menyewa satu saja.
“Kenapa kamu main asal-asalan?“ ujar kaos ungu mangkel dengan temannya yang kacau.
“Di sini, sini, aiya… pukul yang ini!“ ujar si perkasa sembari meremas pundak temannya akibat gemes melihat permainan satu rekan, tetapi permainannya asal-asalan itu.
Akibat permainannya kacau itulah, maka si kaos ungu merebut seraya mendorong kepala paman.
“Aku saja!“ lalu di raihnya mouse yang sangat jadul itu, dan berusaha melanjutkan permainan dengan karakter yang sama tetapi berusaha memenangkan pertarungan yang seru dan mendebarkan tersebut.
“Semuanya awalnya bergiliran main. Setiap orang mendapat jatah beberapa menit.“
“Aku masih mau main aku belum kalah!“ kata temannya paman seraya mempertahankan mouse yang lagi asik-asiknya tersebut dan dalam posisi menguntungkan buat jagoannya. Namun rekannya menyeret supaya bergantian, karena sudah terlampau lama memegang kendali mouse yang sangat canggih itu. Apalagi bawahnya bersinar, jarang-jarang di masa itu ada benda yang bersinar. “Tapi, selalu ada beberapa orang yang tidak ingin bergantian. Orang ini dikucilkan dan diberi julukan, ‘Penjajah komputer’.“
“Lambat laun semakin banyak penjajah komputer, semuanya tidak ingin mengalah.” Karena memang sangat mengasyikkan itulah. Maklum jiwa muda. Yang serba ingin menyenangkan diri sendiri. Tak perduli kalau itu hasil mengumpulkan koin bersama.
“Dalam waktu satu jam cepat berlalu hanya untuk bergulat.“ Jadi ada dua perkelahian, di dalam layar, serta di dalam warnet tersebut.
“Aku ada ide,” ujar paman. “Di saat itulah pamanku mendapatkan ide.“
“Kooperatif…“ Itu.
“Game yang membutuhkan kerjasama.“ Bayarnya kerjasama, mainnya juga kerjasama. “Setiap orang mengontrol satu tombol, sehingga semua orang bisa bermain.“ Tidak perduli kalau sikunya mengenai pipi yang lainnya yang penting bisa main tunjuk pada tombol yang satu itu terus. Asal harus menendang, tombol itu yang mesti di pencet. Atau mau belok kiri, maka tombol arah kiri itu yang mesti kerja. Yang penting main bersama, tak perduli, saling mepet atau berhimpitan.
“Ini adalah ide awal game kerja sama,” jelas Ma Keji menutup kisah keji-nya.
“Ceritanya cukup indah, tapi kalau semua memiliki pemikiran yang tidak sama, bukankah susah untuk melaksanakannya?” ujar Qian Duomei yang membayangkan kalau satu kena sikut, yang lain mesti jongok, akhirnya tak fokus, sehingga permainan jadi kacau dan kalah terus. Walau terus di mulai lagi.
“Jangan terburu-buru, apa kamu lupa dengan hal ini,“ ujar Ma Keji mengingatkan pesan sang Bos.
“Ternyata begitu… ternyata begitu,“ ujar si kembar berbarengan. “Semua menciptakan bersama, menulis bersama, menyelesaikan resiko permainan bersama. Semua orang berusaha demi tujuan akhir.“
“Memikirkan saja sangat bersemangat…“ Mereka saling menumpangkan tangan.
Dan berteriak bersama, “Lin Tian raja game!“