Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini

Menjadi Orang Terkaya Mulai Hari Ini
Episode 255


Di gedung Grup Tianlin yang menjulang itu.


Nampak Cao Biluo sudah tampil keren. Lengkap dengan sepatu boots berhias biru. Topi lebar coklat dan rambut terurai panjang yang di warnai merak dan Nampak anggun dalam kibaran angina sepoi-sepoi.


Juga tengah membawa tas besar coklat penuh dengan perbekalan yang akan di gunakan dalam kegiatan itu nanti.


“Jarang-jarang Lin Tian mengajakku pergi. Dia mengajakku ke luar negeri melakukan perjalanan detak jantung,“ ujar Cao Biluo yang langsung teringat kemarin. “Cao… Cao Biluo, aku membutuhkanmu.“


“Sepertinya, dia ingin berduaan denganku karena malu. Dia bilang, itu adalah proyek baru perusahaan. Bertamasya ke luar negeri, siapapun tidak bisa melihat. Jangan-jangan dia akan memanfaatkan kesempatan untuk…“ sambil membayangkan muka Lin Tian yang menyebalkan itu mendekatinya. Tentu satu hal yang sangat menjijikkan namun membuat terkenang dan begitu di sukai, sehingga akan membuat malu seumur hidup. Makanya sebelum kesampaian lebih baik sekarang saja sembari menutup muka sendiri, agar bayangan tak mengenakkan tersebut akan segera hilang dari khayalannya yang menyebalkan ini.


“Kya, menyebalkan!“ ujar Cao sembari menutup muka akibat membayangkan hal-hal buruk yang sekiranya bakalan terjadi. Dan terus melakukannya supaya bayang-bayang lelaki itu pergi.


Rupanya ada yang lain juga berbuat serupa, supaya segalanya hilang dari pikiran. Dia nampaknya juga sama. Tengah mendapat calling-an dari lelaki pujaan yang selalu membayang tepat di muka kalau saja dia tidak segera menutup mata dan muka agar segera berlalu dari hadapan.


Barulah tersadar saat keduanya bertemu dan saling tatap di tempat yang sama-sama di janjikan oleh si lelaki.


“Cao biluo!“ ujar Polisi Zhou. Sudah ada di situ. Namun hanya berpakaian seksi saja. “Kamu, kamu juga datang? Mana Lin Tian?“


“Polisi Zhou, kebetulan sekali,“ ujar Cao. Namun dalam hati mengutuk. Mengapa ada dia diantara mereka. ‘Aneh… Pertanyaan pertama dia menanyakan Lin Tian. Jangan-jangan dia datang untuk menghalangi kencanku dan Lin Tian.’


“Benar Lin Tian ada janji denganku,“ ujar Zhao. ‘Aneh setiap Cao Biluo melihatku, dia akan selalu memprovokasi ku. Kenapa kali ini baik sekali? Apa dia mencari Lin Tian untuk meminta tolong. Tapi tidak boleh mengganggu perjalanan detak jantung kita.’ Gumam Zhou yang menganggap perjalanan dengan idola itu seakan bukan sebuah detak jantung yang begitu indah.


“Kakak, kalau kekasihmu tahu, kamu membelikan aku ini apa dia tidak marah?“ ujar seseorang di boncengan motor Lin Tian dengan suara kecil, tetapi rupanya cukup di dengar banyak orang karena suara mesin turut juga membuat suara semakin di kencangkan. Agar yang di ajak bicara dalam boncengan yang sama tersebut mendengar.


“Hmm….Enak sekali,“ kata cewek dalam boncengan motor Lin Tian seakan tengah menikmati lollipop yang di pegangnya.


“Kakak, coba ini deh,“ ujarnya yang secara baik hati menawarkan pada Lin Tian yang menyusup ke hidung akibat goncangan kendaraan yang sedikit ngebut.


“Ah kakak. Kalau kekasihmu tahu kita makan satu lollipop berdua, apa dia tidak akan cemburu?“ ujarnya lagi menanyakan hal aneh seakan tahu kalau ada dua cewek yang tengah menunggu kehadiran sang idola itu.


Belum lagi usai rasa berdebar di jantung lin tian, tahu-tahu si gadis centil itu sudah melingkarkan dua tangannya ke pelukan si pemegang kendali motor.


“Kakak, kamu. kalau kekasihmu tahu kamu membonceng aku, apa dia tidak akan memukulmu?“ tanyanya lagi yang seakan takut jika hal demikian terjadi terhadap seseorang yang dengan baik hati memboncengnya, tetapi kali ini Nampak mengkerut ketakutan begitu.


Namun berikutnya cewek pembonceng terkejut. Kala melihat ada dua orang seram di depannya. Dan Lin Tian entah kenapa, nampak lesu. Seakan tak bergairah. Padahal sudah ditanya apa semua tak marah kalau melakukan sebelumnya. Tapi dia begitu, Nampak tak bergairah. Barangkali ada yang salah.


“Apanya yang menyayangi. Kamu sudah membuatku nyaris mati!“ ujar Lin Tian menjelaskan. Dia lalu melontarkan wanita yang ada dalam gendongannya. Dengan sekali banting, maka terlontarkan cewek tersebut.


“Huh, kamu tidak menemaniku bermain!“ ujar wanita tersebut yang dengan santainya melenting di udara, kemudian salto, jungkir balik dan hinggap dengan ringannya menggunakan kaki kecil yang sangat lentur itu.


Hal ini membuat semua yang melihat Nampak bengong. Tak tahu harus berkata apa. Ternyata dia bukan orang sembarangan.


“Dia?“


Kedua wanita seram teman dekat sekali Lin Tian itu terkejut bukan main. Dan hanya bisa ternganga lebar.


“Perkenalkan, Lolita itu adalah sepupu jauhku Lin Lingi. Sabuk hitam judo, anggota tim senam propinsi.“ Sudah sabuk hitam. Anggota senam provinsi lagi. Tentu bukan main-main. Hanya tinggal sabuk hitamnya ‘DAN’ apa. Satu, dua atau lima. Semua itu tentu akan semakin menambah kemampuannya dalam ilmu bela diri yang demikian mumpuni.


“Ayo kita bersiap pergi ke perjalanan detak jantung,“ ujar lin Tian mengajak semua. Biar tidak ada kecemburuan sosial diantara sesama teman dekat atau dekat sekali.


“Kita semua pergi?“ ujar para wanita itu seakan tak percaya. Ada cowok yang demikian playboy namun masih ingat mereka yang sama-sama wanita cantik dan bahenol ini.


“Benar, kalau tidak?“ ujar Lin Tian.


Benar saja, beberapa waktu berikutnya sudah nampak sebuah alat angkut yang telah biasa di pergunakan oleh cowok playboy ini.


Bus kuning emas yang sangat besar dan demikian mewah. Pantas untuk pacaran di malam minggu secara berduaan saja.


“Perjalanan kali ini dijamin akan membuat kalian tidak bisa menahan debaran jantung kalian!“ ujar Lin Tian dengan cerianya. Satu kendaraan bisa berisi banyak wanita.


“Beraninya menyuruhku jadi supir bus! Lin Tian, kali ini kalau sampai tidak seru, aku akan membuat perhitungan denganmu!“ ujar Su Xueqing yang mangkel banget menjadi supir untuk membawa cewek saingannya dalam kendaraan yang sama. Kan bisa menyewa supir sendiri supaya nyaman perjalanannya. Namun dasar lelaki brengsek, barangkali saja memanfaatkan tenaga teman sehingga mengurangi tenaga kerja yang harus di gaji secara mandiri, dimana perusahaan tak boleh mengambil pemasukan apapun dari pungutan pada orang lain supaya tidak ada kasus dari atasan ke bawahan yang berimbas pada ditegurnya nanti.


“Tak hanya membawa sepupu dan wanita ini, tapi juga mengajak Su Xueqing?“ kedua wanita yang lebih dulu ketemu itu sungguh sangat mangkel.


“Huh, lelaki brengsek!“ umpat Cao Biluo dan Zhou dengan marahnya sembari mencari tempat duduk untuk menghempaskan pantat sebagai tanda kalau sangat mangkel.


“Hehe adik, hebat juga kamu,“ ujar si cewek memberi aplaus pada Lin Tian.


“Apanya, kenapa lagi aku?“ ujar Lin Tian kebingungan sembari garuk-garuk kepala.