
Di gedung grup Tianlin, Nampak sang boss nya tengah melongo.
“Aku mengerti. Aku hanya sembarangan bicara saja. Topeng sakit untuk membuat semua orang bahagia,“ ujarnya paham, kalau topeng tersebut fungsinya demikian. Dipandangi topeng aneh tersebut. Nampak menyeramkan dan kala memandangnya seakan tengah bersedih, jika dipandang mulutnya, atau pada garis matanya yang memang menunjukkan sikap tak sehat. Sehingga membuat orang yang menatap tersebut akan merasa iba hatinya.
“Hanya aku yang menderita sekarang,“ ujar Lin Tian tersedu-sedu dengan air mata yang deras mengalir. Membayangkan bahwa topeng yang dia pegang, juga merupakan ungkapan batinnya yang tengah menderita.
“Aku Lin Tian mati. Aku akan melompat dari sini. Juga tidak akan memakai topeng ini,“ ujarnya menjerit pedih. Lalu mencampakkan topeng sakit itu. Lalu dia mengambil kaca, dan memandangi wajah sendiri. “Cantik sekali aku. Aih…“
“Tunggu dulu. Mungkin jalan pikiranku salah,“ ujarnya lagi. Merasa kalau apa yang tadi dirasa merupakan pemikiran yang keliru. Segera di amati topeng sakit itu sekali lagi. Dari dalamnya sekarang mulai timbul sebuah ide yang lumayan bisa mengobati rasa sakit dan deritanya untuk di ubah menjadi semacam ide kreatif dalam mengembangkan segala sesuatu. Kali ini semua harus berjalan lancar. Dan membuang derita yang dialami, menjadi satu kesukaan akan diri yang penuh dengan percaya diri, dan memandang seperti dalam cermin, bahwa masih ada sisi cantik dari berbagai penderitaan yang tergambarkan dari cermin tadi.
“Selama ini, grup Tianlin sedang berdiri di puncak tertinggi,“ ujarnya seraya membayangkan bahwa puncak tertinggi grup itu ibarat berada di puncak ketinggian yang sesungguhnya. Dimana pada bagian gunung batu tinggi tadi, bakalan ada angina kencang, nuansa dingin yang mencekam, tetapi di balik itu, akan Nampak sebuah pemandangan nan asri dan menggairahkan serta penuh dengan elemen kecantikan seperti dalam cermin. Yah cermin itu adalah gambaran cakrawala yang diperlihatkan oleh puncak tinggi tadi, untuk membuatnya semakin percaya diri dalam menghadapi penderitaan yang tengah dialami.
“Sampai-sampai semua kesempatan dan kekayaan datang menghancurkan ku.“ Banyak sekali angpau dan uang kepeng yang banyak dan meluncur jatuh menghujani tubuh dari atas. Ternyata kekayaan akan menjadi mala petaka tersendiri. Di Bagian puncak itulah yang pertama kali mengenainya.
“Kalau saingan ku bertambah banyak, aku bisa menghindari persoalan ini,“ ujarnya lagi, seraya berpikiran jika di bawahnya para pesaing tengah bersusah payah untuk mencapai puncak tertinggi, dan merebut apa yang dimiliki seseorang yang tengah berada pada posisi paling atas itu.
“Jadi aku akan mendidik sainganku sendiri,“ ujarnya seraya mengepalkan tangan tanda sangat yakin, jika bakalan berhasil menuntaskan rencananya tersebut.
“Sudah saatnya dia keluar lagi,“ ucapnya seraya terus mengobrak-abrik kertas dan mencari tahu kalau saingannya benar-benar mempunyai rahasia yang bisa di kuak lewat data-data yang ada dalam berkas-berkas dalam tempat tersebut. Sehingga nanti dalam mendidik akan sangat mudah.
Dan tak lama kemudian sudah berhasil menemukan apa yang di cari. Dalam file biru itu Nampak tertulis rencana eliminasi pertama grup Tianlin.
#
Disisi lain, pada sebuah ruangan, di sebuah persidangan, Nampak bangku-bangku yang tersusun rapi, dimana telah banyak yang menempatinya.
Disitu telah mulai sebuah konferensi perusahaan, staff luar biasa grup tianlin ke 2.
Dimana Lin Tian sebagai narasumber tengah berdiri dengan anggun di sebuah mimbar dengan para staff yang memenuhi ruang siding yang sejuk dan menyegarkan tersebut.
“Tampaknya tebakan kami tentang permainan tuan Lin benar,“ ujar Ma Keji.
“Benar sekali,“ ujar staff lainnya. “Konferensi ini menandakan kalau dia sangat puas.“
Lalu pada tersenyum melanjutkan tebakannya yang penuh nuansa menyenangkan, karena selain mereka sudah di undang masuk ke ruang siding yang sangat nyaman ini, juga akibat terkumpulnya banyak staff dalam suatu ruangan untuk memberikan penghargaan bagi mereka.
“Em, perhatian semuanya. Konferensi penghargaan resmi di mulai,“ ujar Lin Tian dengan suara keras. Apalagi sound system nya sangat mantap. Sehingga menyejukkan telinga. Tak ada suara berdenging sama sekali yang menandakan ada masalah tentang kabel atau aliran listrik yang terganggu. Kali ini benar-benar nyaman di telinga terutama bagi para staff yang tengah menunggu datangnya banyak penghargaan yang akan diterima.
“Konferensi penghargaan kali ini berbeda dengan sebelumnya. Karyawan yang unggul tidak akan lagi di rotasi internal dan promosi,“ jelas Lin Tian dengan gamblangnya.
“Para penghianat! Sudah waktunya aku membereskan kalian,” ujar Lin Tian yang seakan menjadi hakim keadilan dengan pedang bermata duanya yang siap menusuk buat siapa saja yang berani berkhianat terhadap perusahaan. Inilah yang sangat menakutkan buat semuanya. Jangan-jangan mereka yang bakal kena. Dan bisa jadi bakalan mengenai mereka yang tertuduh itu. Makanya sebuah ketakutan tentu dirasakan bagaikan terikat dengan kuat di leher, dana rah bidik yang sudah di tandai di punggung dengan lingkaran sasaran yang sangat jelas, maka mau tak mau pedang mata dua itu dengan mudahnya menembus daerah tersebut. Hingga menghentikan petualangannya dalam melakukan berbagai aktifitas dalam tempat itu.
“Tidak rotasi dan promosi, kalau begitu, apa akan ada hadiah? Hal apa lagi yang lebih bagus dari dua hal tersebut?“ ujar Qian Duoduo keheranan.
“Aku mengerti. Satu-satunya yang lebih bagus dari dua hal tersebut adalah hal yang lebih berhubungan dengan masa depan,“ ujar Ma Keji masih berpikiran positif pada direkturnya yang sangat dia kagumi itu.
“Yaitu….“ ujar Lin Tian. Dia menerima uluran kopi aroma melati yang sangat nikmat dari sang murid teladan. “Diangkat sebagai murid Direktur Lin.“
“Lebih baik mengajarkan orang cara menjadi nelayan daripada langsung memberi ikan. Mempelajari keahlian Direktur Lin adalah hal yang paling bahagia di muka bumi ini,“ gumam yang lain sembari membayangkan masih memakai pakaian bagus dengan jas hitam dan dasi merah marun yang serasi.
“Qian, orang ini sedikit tidak normal,“ ujar gadis kepang dua, yang tak nyaman saat melihat orang itu tersenyum-senyum sendiri seakan tengah asik dengan khayalannya yang terlampau melambung jauh.
“Hehe, ini karena Lin Tian terlalu kuat. Dia memiliki pemuja garis keras juga, normal lah,“ jelas Qian Duomei yang sedikit membela Ma Keji yang jelas-jelas tengah membaur dengan lamunannya itu.
“Selanjutnya yang aku sebut namanya, Aku akan memberikan kalian dana impian untuk membantu usaha kalian,” ujar Lin Tian lagi. ‘Tentu saja kamu bisa lepas dari Tianlin grup.’
“Ma Keji,“ ujarnya seraya menunjuk. Yang di tunjuk tentu saja gelagapan. “Iya kamu!“
“Dia sangat lincah dan bisa menjalankan banyak proyek. Bayangannya nampak dimana-mana. Dia telah memberikan kontribusi besar bagi perusahaan,“ ujarnya seraya menepuk-nepuk pundak Ma Keji yang sudah berdiri di sampingnya. ‘Tapi membuatku mendapatkan untung. Huh!’
“Ini… ini adalah peralatan kerjamu. Sudah aku bersihkan semuanya,“ ujar Lin Tian seraya membereskan peralatan kerjanya, termasuk bingkai poto sang bos yang menjadi panutan, makanya selalu di pajang.
Lalu mendorongnya dengan keras.
Disaat masih kebingungan.
Terus dan terus.
Shoo….
Barulah sesampai di luar gedung kantor, ditinggal lari sekencang-kencangnya.
Arg….
“Direktur Lin…“
Ma Keji hanya bisa menjerit histeris.