
“Hu… Tenangkan hati. Jangan panik!“ Bai Xiaojie terus saja mondar-mandir hingga merasa kalau ruangan sempit itu benar-benar terasa sesak kala dia melangkah ke sana kemari dengan tanpa henti.
“Bai Xiaojie kamu pasti bisa!“ ujarnya terus saja berbuat sesuatu agar hatinya kuat dan segala yang menjadi kendala bisa di hindari serta apa yang mengganggu pikirannya segera tuntas. Dia lalu teringat pesan Lin Tian, “ Bai Xiaojie kamu diterima menjadi karyawan perusahaan ku.”
“Kak Lin Tian begitu percaya denganku, aku tidak boleh mengecewakannya,“ ujar Bai penuh tekad. Dia akan berbuat sebaik-baiknya dan kali ini mesti melangkah dnegan tegar diantara para pengguna jalan yang melintas di lapangan luas menuju kantor nan tinggi dan penuh harapan itu. Dia harus terus percaya diri, walau apapun yang terjadi. Dan kini sudah banyak orang yang mengantre. Diantara jajaran orang yang tengah melintasi pintu sensor yang hanya bisa di buka dengan kartu saja.
“Mohon antre yang rapi dan tempelkan kartu satu per satu,“ ujar petugas berpakaian rapi sembari menunjukkan cara membuka pintu sensor itu yang seperti membuka pintu di hotel saja yang hanya menggunakan kartu magnetik supaya kodenya saling terkait dan dengan mudah membuka pintu penghalang tersebut.
“Apa yang terjadi? Kartu ini masih baik-baik kemarin. Kenapa rusak pula hari ini?“ ujar para karyawan terkejut melihat pintu itu tak terbuka, dan tuas gagang yang menghalang itu sama sekali tak bisa di gerakkan. Ini yang membuat pada keheranan. Jangan-jangan system yang rusak, atau magnet yang sudah habis karena terus di gesek seperti main dingdong dalam permainan mengasikkan itu
“Minggir, jangan menghalangi jalan orang di belakang!“ ujar karyawan yang lain dengan penuh antusias, seraya mendorong para lemah itu supaya dia berhak mencoba kartu yang katanya lagi pada tidak berfungsi. Tentu lain dengan dirinya yang sudah hafal betul akan kinerja kartu canggih miliknya.
Lalu di tempelkan kartu itu.
Terlihat ada komentar, “Tit.. mohon antre yang rapi dan tempelkan kartu satu per satu.”
“Hah kartuku juga rusak.“
Semua pada panik. Untung sang security langsung tanggap serta memberi ultimatum lewat toa yang berdengung supaya semua tenang. “Semuanya jangan panik, aku sudah menghubungi orang bagian maintenance.“
“Mampus Lah, pasti telat.“ Para karyawan semakin panik. Pasti bakalan di tuduh sebagai orang yang tidak paham akan kinerja yang baik, serta selalu salah dalam memprediksi waktu berangkat.
Sedangkan di belakang sana, Lin Tian hanya mengekeh menyaksikan kepanikan yang di sengaja maupun tidak di sengaja itu.
Sementara lagi asik-asiknya mengekeh, tahu-tahu HP yang sangat mahal miliknya itu berbunyi di kantong baju Hoodie hangat itu.
“Apa?“ Dia langsung terperanjat, tatkala menyaksikan layar HP kecilnya.
“Pagi-pagi sudah mengirim jadwal kerja.“
Terlihat di grup ‘karyawan unggulan grup lintian bagian permainan’. Di situ Qian Duomei terus memberi pesan sound yang bunyinya sangat nyaring.
Yang atas di tekan warna hijau, serta langsung terdengar kata-kata, “Lin Tian, game kita sudah siap masuk ke tahap pengujian beta.“
Lalu di tekan yang kedua, “Asalkan tidak terlalu banyak kesalahan, game ini bisa dirilis dan mendapatkan keuntungan.“
Di chanel lain, Nampak Su Xueqing juga memberi dua pesan.
“Foto yang dia kirim ini membuatku ingat kembali proyek pria maco. Ada peningkatan yang pesat. Pasti akan ada kesalahan,“ ujarnya seraya terus membaca pesan-pesan singkat dengan huruf yang tidak penuh tersebut dan langsung memprediksi dengan berbekal intuisi yang kira-kira.
“Tunggu, kenapa kamu yang bertanggungjawab game pria maco?“ dia melonjak demi melihat Su yang bertanggungjawab.
“Aku masih ingat kondisi waktu itu,“ ujar Su Xueqing.
“Direktur Su, game pria maco adalah proyek yang paling aku khawatirkan sebelum keluar dari perusahaan ini. Meski kamu bukan karyawan grup Lintian, tapi hubunganmu dengan Direktur Lin, hanya kamu yang bisa mengawasi proyek ini, aku mohon,“ ujar Ma Keji penuh harap.
“Jadi, kebetulan aku sangat tertarik dengan game topeng sakit, makanya menerima proyek ini,“ ujar Su Xueqing menjelaskan.
“Jangan, meski game ini hanya usul sembarangan, tapi topeng sakit ini adalah game yang sesungguhnya. Tidak, aku tidak akan membiarkan proyek ini mendapatkan untung,“ ujar Lin Tian dengan panik. Dia tak mau orang lain ikut campur dengan urusan yang sudah bagus di depan mata itu. Hal ini tentu saja bakalan membuat sistem tersenyum, serta membuat dirinya sangat panik akan kekacauan yang ditimbulkan beberapa langkah ke depan yang sangat menguntungkan tersebut. Apalagi sudah jelas akan Su Xueqing yang sudah sangat piawai dalam berbagai situasi serta mampu menetralkan keadaan berkat kedekatannya dengan dirinya yang memang sangat dekat sekali itu.
“Aku harus mencari cara mengulur waktu. Agar semua orang sudah tidak tertarik dengan topeng lagi,“ ujarnya kemudian sembari berpikir keras akan langkah terbaik yang harus dia jalankan.
“Eit… Bukannya jawaban terbaik ada di depanku,“ ujarnya langsung mendapat ide cemerlang.
Di depan dia ternyata ada si panic Bai Xiaojie. “Gawat, masa hari pertama kerja langsung terlambat. Aku harus bagaimana?“
Diantara rasa panic itu, dia langsung melihat ke satu arah, orang yang begitu percaya dirinya akan mampu merubah keadaan, dan menerima dia dengan baik dalam perusahaan yang besar itu.
“Bai Xiaojie, tidak perlu pergi ke bagian HRD untuk mengurus surat masuk hari ini. Kamu langsung ke bagian utama saja,“ ujar dewa Lin yang sudah memakai hallow saja di kepalanya.
“Tapi, akulah orang yang membuat mereka tidak bisa naik ke atas. Aku….“ Semakin panik saja Bai demi melihat orang yang kepalanya bersinar tersebut. Dia merasa yakin, nasib sialnya itu yang membawa kondisi hari ini menjadi demikian. Tentu tak akan terjadi, jika dia tidak berada di tengah-tengah para karyawan yang sebelumnya baik-baik saja. Namun mengapa sekarang semua menjadi tidak baik-baik saja, ini tentu ada penyebabnya. Dan, dia merasa, dirinyalah yang menjadi biang keladi semua ini.
“Stt, kamu jangan selalu mengatai diri sendiri seperti itu lagi,“ ujar bisikkan Lin Tian yang menghibur. Tidak selayaknya seseorang mesti berbuat seperti itu terus. Ada saat semuanya menanggung sedikit beban, dan tidak harus bergantung pada nasibnya yang buruk. Bisa saja dengan menyalahkan suatu bagian tertentu, kepada orang lain yang justru kali ini tengah melakukannya. Sehingga ada sedikit kelonggaran sikap yang menjadikan sesuatu bisa merubah lebih baik lagi.
“Aku…“
“Kamu adalah orang yang penting bagiku,“ jelas Lin Tian terus memberi harapan. Agar semua tenang. Dan segalanya berjalan sesuai dengan rencana.