
SERIAL 1 MANUSIA BAYANGAN : HARI DI MANA AKU MENJADI BAYANGAN.
Sebuah judul untuk wayang dengan cover yang sangat menyeramkan. Seperti alien yang Nampak gelap dengan mata menyala merah. Sebuah gambar yang mirip dengan robot boneka sebagai tokoh utama.
Nampak di jalanan banyak orang lalu lalang dengan santainya menuju ke lokasi yang jadi tujuan nya.
“Ada apa ini?“ ujar seorang anak berkaca mata tengah memandang sebuah keanehan. “Apa orang lain tidak bisa melihatnya?“
“Eh ini…“ anak itu menemukan alat yang merupakan senjata modern dengan gambar bola kuning sebanyak tujuh buah memenuhi keseluruhan senjata aneh itu.
“Karena ini adalah invasi dimensi.“ Bayangan nya nampak seperti robot boneka setelah memegang senjata sinar tersebut. “Dimensi bayangan gelap mulai menelan kenyataan, sekarang harus ada seseorang yang maju, melawan mereka.“
“Tapi bagaimana caranya aku mengalahkan monster bayangan gelap ini?“ ujarnya terus menatap senjata lazer di tangan nya yang baru saja di temukan.
“Mari ikuti gerakan ku. Teriakan namaku dengan keras!“ ujar bayangan kegelapan sembari bergerak untuk memberi contoh agar di ikuti oleh si anak penemu.
Wus…
“Manusia bayangan berubah,“ ujarnya sembari mengacungkan senjatanya.
Memasuki dimensi bayangan.
Pertarungan di mulai.
Nampak wayang merah tengah memperagakan gerakan sakti nya. Dia terus melawan musuh yang tengah membuat huru-hara di kota sampai api Nampak berkobar di mana-mana. Berikutnya mengeluarkan jurus andalan, dengan tangan di letakkan sejajar dada, lalu tangan kanannya di tekuk kea rah muka.
“Jurus mematikan….“
“Bayangan Zeth Me!“
Berikutnya hanya Nampak sebagai pusaran aneh yang mengiringi dia dalam mengeluarkan jurus mautnya.
“Hari ini aku melindungi dunia lagi,“ ujarnya sangat puas sampai merasa kelelahan setelah apa yang dia perbuat dengan wayang yang sangat heroik itu.
Lin Tian lalu mengacungkan kartu Peternakan Tianlin, dengan kode : 0001, Lin Tian, VIP6.
“Kita mulai dari peternakan Tianlin saja. Kakek dan nenek di sana, pasti pernah menonton wayang kulit. Biar mereka juga memberi penilaian,“ kata Lin Tian langsung menuju ke peternakan yang banyak di temui orang-orang tua yang gemar berkebun. Sebab memang disitu tempat nya mereka biasa menghabiskan waktu. Sehingga kemungkinan bakalan pada suka, karena wayang begitu disukai oleh orang-orang tua yang butuh hiburan serta tuntunan yang bisa mereka dapatkan kala melihat nya.
#
Berikutnya di Peternakan Tianlin…
“Eh aneh, kenapa tidak ada orang? Apa mereka di tarik oleh orang kapitalis lagi?“ ujarnya keheranan dan Nampak lengang sekali. Dimana hanya rumah besar dan kokoh dengan desau angin yang menyelimutinya.
“Mengesalkan sekali, mengesalkan sekali, bisa-bisa nya hari ini aku terlambat bangun. Beraninya kalian mencuri sayuran ku, lihat bagaimana aku mencuri nya kembali bersama bunga nya,“ ujar si nenek mengancam. Mukanya benar-benar serius. Seakan dia tak akan membiarkan apapun terjadi dengan hartanya. Sebagai manusia tentu bakalan berbuat banyak demi keamanan harta milik nya. Sehingga tak akan bisa leluasa orang-orang itu mengambilnya. Kalau perlu bakalan di bikin tembok besar, supaya bisa menghambat si pencuri itu. Sebagaimana tembok raksasa itu di buat, yang bukan untuk mencegah musuh supaya tak bisa masuk, tapi untuk mengurangi resiko biar apa yang berhasil di curi, tak bisa melewati tembok, dan akhirnya bisa diambil kembali. Juga layaknya sebuah bubu, dimana ikan bisa masuk namun tak bisa keluar. Akibat di buat sulit di bagian dalam nya.
“Wah Direktur Lin datang kemari, aku baru mau mengundang anda,“ ujar peternak. Dia menyambut kedatangan sang bos dengan ramah. Seperti biasa, senyum tua seorang desa yang sangat ramah sekali.
“Apa ada dengan ibu itu? Apa maksudnya mencuri sayuran?“ tanya Lin Tian sembari memandang ibu-ibu dengan tingkah aneh.
“Itu saran dari netizen, katanya bisa menambahkan permainan mencuri sayuran,“ terang peternak. Ternyata semua itu hanya semacam permainan akibat usulan para netizen yang lumayan baik untuk di teruskan menjadi kegiatan berhadiah. Tapi hal yang aneh tersebut membuat yang tak paham bakalan salah mengira. “Membiarkan para kakek nenek memanfaatkan nya, sebagai permainan olahraga, sekalian meningkatkan loyalitas pengguna.“
“Oh, netizen hebat juga, kenapa tidak terpikirkan oleh ku. Oh iya, tadi kau bilang mau mengundang ku, apa terjadi sesuatu?“ tanya Lin Tian. Jangan-jangan permainan main curi tak lancer, sehingga ada yang di gebukin betulan sampai bonyok, atau kena tendang pantat nya hingga mencelat. Maklum namanya para orang tua, kena keras sedikit saja sudah bisa membahayakan. Barangkali itu yang dimaksud oleh para peternak yang tengah menunggu waktu hendak mengundang kedatangan nya.
“Jangan buru-buru, ayo ikut aku,“ ujar Peternak dengan tenang. Nampaknya dia hendak menunjukkan sesuatu yang sangat penting, namun tak demikian rahasia, walau orang luar jarang yang tahu akan kegiatan di tempat terpencil begitu. Dia langsung mengajak Lin Tian berkeliling di peternakan nya tersebut.
#
Peternakan begitu lengang. Hanya hamparan hijau yang nampak dengan rumah di pusat nya, yang terbatas oleh pagar-pagar kuat. Demikian luas nya tanah milik perusahaan Tianlin yang dikelola oleh para peternak sehingga menjadi sangat maju dan berkembang.
Ada keramaian di arena balap babi. Babi dengan hiasan indah di kepala dan tubuhnya nampak tengah memimpin balap itu. Dia terus berusaha lari sekencang-kencangnya agar bisa mencapai finis dengan hasil maksimal, meskipun sampai ingusnya keluar masuk, dan keringat yang membasahi tubuh.
“Aku mendapat ide dari balapan 4WD yang kau adakan. Dan mengadakan balapan babi 4WD di peternakan,“ ujar nya menjelaskan. Karena memang hanya itu bahan yang ada. Dan justru enjadi suatu acara unik yang terus di kembangkan. Balap babi. Tak ada di luar daerah tersebut. Karena babi meskipun pandai lari, tapi sulit membelok, akibat tak punya leher. Jika balap sapi, tentu sudah sering terdengar. Apalagi lomba kuda. Di mana-mana ada. Nah makanya yang belum ada hanyalah babi-babi itu saja, sementara binatang nya sangat banyak di peternakan tersebut. Dengan bahan yang banyak, maka penyelenggaraan akan bisa memangkas banyak biaya supaya tercipta hiburan yang sangat menarik namun tak menguras kantong. “Para kakek nenek tertarik dan datang kemari, makanya peternakan terlihat sepi.“ Nampak orang-orang tua itu tengah bersuka ria sembari teriak-teriak, bersorak sorai, sembari menjagoi jagoan nya yang tengah berlari sekuat tenaga untuk mencapai garis finis, dengan gambaran yang sangat indah dan hiasan warna-warni termasuk payung di kepala mereka agar kelihatan semakin meriah dan sangat indah tampak nya.
“Bisa begitu?“ ujar Lin Tian.