
“Aku benar-benar bodoh. Aku hanya mengetahui kalau Cao Biluo tidak bisa bermain game dari siaran langsungnya. Aku tidak tahu kalau di luar siaran langsung di begitu hebat,“ kata Lin Tian menyesal akan keputusannya mempekerjakan Cao dalam urusan menentukan begini.
PENTA KILL.
Menangis lah Lin Tian.
“Dua kali penta kill. Apa aku sudah mulai berhalusinasi?“ ujar Lin Tian yang kepalanya seakan berputar saja.
“Penta kill ku keluar.“
“Punyaku juga oke.“
Dua gadis teman Cao sama-sama suka. Tak menyangka kalau permainan mereka sendiri demikian hebat.
“Setelah penta kill tak disangka mereka memanfaatkan skill hidup kembali dan sekali lagi melakukan penta kill.“
“Ini bukannya membunuh pihak lain. Ini malah membunuhku,“ kata lin Tian sekali lagi mengeluh.
“Pertandingan yang begitu sadis ini caranya yang menghancurkan mental musuh. Mengingatkanku pada legenda itu.“
“Legenda? Legenda apa?“ tanya Lin Tian.
“Tim wanita pertama yang sedang naik daun di arena. Team Ladies. Lima orang itu semuanya masih belia dan berparas cantic mereka menarik perhatian banyak fans. Mereka bahkan merebut juara di beberapa pertandingan kecil. Ada seorang konglomerat yang menyukai kecantikan mereka. Dia ingin membuat 5 orang itu menjadi miliknya.“
“Beraninya menolak ku kalian pasti menyesal,“ ujar konglomerat. Tak menyangka, tawaran menggiurkan yang dia ajukan di tolak mentah-mentah sama gadis-gadis kemayu itu. Bisa-bisa dia bakalan mengacaukan rencananya dalam usaha menguasai game-game seru. Jadi dia tak bisa mengatur hasil pertandingan nanti. Ini tentu akan gawat. Mana lima wanita ini demikian tangguh. Dan sulit untuk mengatasinya.
“Kemudian orang itu mendirikan team sendiri untuk mengalahkan team Ladies. Waktu itu team ladies menggunakan penta kill berulang dan membuat konglomerat itu marah besar. Pasti ada orang yang memainkan akun team ladies. Pergi kalian tim palsu. Team ladies palsu. Permainan bagus yang tidak mungkin dilakukan perempuan. Orang tersebut membayar pasukan untuk mencemarkan nama baik 5 gadis tersebut. Para penonton juga mulai ikut-ikutan memaki mereka menyebabkan 3 orang anggota mereka tidak tahan dan mengundurkan diri. “
“Mereka berdua…. Mereka adalah dua orang anggota team ladies yang tersisa itu.“
“Orang itu menyebalkan sekali. Pasukan yang dibangunnya itu juga menyebalkan sekali. Para penonton yang ikut-ikutan apalagi.“
“Menang!“
Namun sayup-sayup dia masih bisa mendengarkan kata-kata yang menyakitkan hati itu. Demikian tak sesuai dengan rencana. Mana mau sistem nanti membayar ganti rugi kalau dirinya sama sekali tidak rugi. Malah dengan kemenangan itu dia di untungkan untuk mendapatkan poin tertinggi serta hadiah kemenangan yang tak seberapa di bandingkan jika dia merugi sebagai bagian dari usaha mendapatkan ganti rugi yang demikian berlimpah dari sistem. Tapi siapa yang tahu kalau semua akal-akalan nya yang demikian terencana. Sehingga kalaupun mereka tahu, maka akan di tolak mentah-mentah hasil yang tak semestinya itu.
25:0
Victory….
“Setiap orang melakukan penta kill. Sudah selesai?“ ujar Lin Tian.
“Selain itu, di babak terakhir, musuh langsung menyerah tidak melanjutkan pertandingan lagi. Permainan mental dari Team Ladies boleh juga.“
“Lin Tian! Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk mewujudkan impian,“ ujar Cao Biluo dengan sangat senang nya. Bagaimana tidak senang. Menang. Apalagi kemenangan yang bukan main-main. Sebuah kebanggan tersendiri. Selain membantu Lin Tian yang dia kagumi, juga di tonton banyak kalangan yang sangat membutuhkan kemenangan untuk mengangkat harga diri serta permainan gemilang yang sulit di katakana dengan kata-kata akan kesukaannya.setelah ini tentu namanya akan semakin popular. Dan lawan-lawan bakalan semakin berat. Tentu tantangan juga akan semakin menantang. Di saat semua penuh percaya diri. Dan kebanggaan yang membuncah. Pasti kemenangan demi kemenangan bakalan bisa di menangkan. Dan itu sebuah kebanggaan khusus yang lain yang semakin membanggakan saja.
“Terima kasih Bos,“ kata yang lain nya. Yang juga merasakan hal serupa. Kebanggaan. Bisa membantu orang yang mereka kagumi. Serta bisa saling ber bela rasa dengan sesama teman yang satu aliran dalam menggemari game menantang tersebut. Bahkan bisa melanjutkan hobi lama yang tertunda gara-gara campur tangan sang konglomerat yang tega-teganya memecah belah persatuan mereka menjadi bagian-bagian tak berguna karena permainan hebat kelompok itu sudah tak utuh lagi. Benar-benar di pecah. Devide et impera. Itu ibaratnya. Ketika terpecah maka sudah taka da kekuatan lagi yang sanggup melawan. Maka sang konglomerat yang akhirnya menguasai keadaan untuk kemudian permainan lanjutan bisa di kendalikan olehnya. Sehingga team mana yang dia kehendaki itu yang bakalan memenangkan permainan menghebohkan tersebut.
“Huh… ini….” Lin Tian cemberut. Namun dia kemudian berkata… “ Sama-sama…“
“Cepat traktir kami makan!“ ujar Cao Biluo seakan ingin mengembalikan tenaga yang hilang. “Aku lapar sekali aku mau makanan yang paling enak!“
Ting.
“Tidak masalah perusahaan akan mentraktir kalian. Makan sampai puas,“ kata Lin Tian mentraktir. Anak-anak sekarang memang begitu. Sangat cepat berpikir. Dan mampu menguasai keadaan, namun yang menjengkelkan berani-beraninya main palak. Meminta makanan dengan sesuka nya. Bagaimanapun perusahaan nya yang nanti bakalan kekurangan dana ini.
“Awalnya hanya bersiap merugi tapi malah membuat 5 orang ini menemukan tujuan. Walaupun hasilnya tidak terlalu bagus. Tapi… Begini juga boleh.“ Lin Tian senyum. Ternyata di balik mendapatkan satu keuntungan yang sudah tergambar di depan mata, namun terpatahkan, dan di sisi lain masih ada hal menggembirakan yang masih dapat dia nikmati. Dengan membiarkan mereka berlaku sesukanya. Dan itu menunjukkan kualitas yang terpendam dari sosok-sosok yang tengah menghindari keinginan sang konglomerat yang berusaha memaksakan keinginan nya. Mereka tak bisa. Sebagai Ladies yang pandai namun tak berada di bawah pengaruh golongan tertentu. Maka sewajarnya jika ada yang mencoba memaksa akan mereka hindari. Kemudian menjadikan dia lepas. Walau tak selamanya hal tersebut berakhir baik. Terkadang suatu kegetiran juga. Dimana sang konglomerat yang berkuasa, untuk kemudian terus mencoba membelah persatuan itu agar menjadi keping - keping yang mudah di patah kan. Inilah yang akhirnya terjadi buat kelompok kuat mereka.
“Lapor bos! Musuh di pertandingan kali ini, ada 2 orang anggota ladies, di dalam team itu,“ ujar mata-mata anak buah konglomerat yang keheranan akan kekuatan musuh dan kali ini sudah paham bahwa team itu adalah bekas anggota Ladies yang memang sangat kuat dan handal dalam bertanding.
“Masih berani keluar? Lihat saja bagaimana aku membereskan kalian!“ ujar Konglomerat marah, sangat marah, menyaksikan orang yang sudah di pecah dahulu itu kini eksis kembali, bahkan sudah berhasil memenangkan pertandingan.