
“Argh…“
Xinba berlari dan menangis.
Orang-orang yang melihat semua pada tidak senang. Mengapa bisa begitu. Mengapa demikian adanya. Benar-benar sesuatu yang memuakkan. Dan mesti di hujat itu.
“Tak disangka, dia adalah orang seperti itu, aku sudah salah menilainya,“ ujar salah satu pemirsa yang langsung menilai dengan kondisi yang seperti demikian.
“Aku tidak akan membeli barangnya lagi,“ kata yang lain yang merasa tak punya uang.
#
“Aku ingin bertanya, berapa harga alat game ini? Kelihatannya sangat bagus.“ Sembari melihat sebuah alat olahraga yang tergeletak begitu saja. Serta di dasarkan pada sebuah tepian jalan.
“Pengalaman bermain yang begitu nyata, entah apa bisa merasakan beberapa aksi juga.“
“Ada yang tidak beres denganmu. Kamu kira peralatan MR yang dikembangkan oleh perusahaan Tianlin kami, digunakan untuk melakukan hal-hal itu,“ ujar Lin Tian memberitahu. Dia merasa tak cocok dengan pemikiran orang yang hendak membeli alat olahraga tanpa memikirkan apa arti semua itu. “Kalau mau melihat juga, aku sendiri yang akan melihat.“
“Lin Tian, tak kusangka semudah ini sudah selesai. Benar-benar hebat sekali,“ ujar Zhou yang merasa permainan mengerikan itu sudah lewat dengan cepat.
“Ini masih jauh dari akhir,“ jelas Lin Tian. Nampaknya ada babak lanjutan yang akan dikerjakan seusai mempecundangi orang tadi. Sebab di belakangnya masih banyak orang-orang yang mesti mempertanggungjawabkan berbagai hal yang berkaitan dengan kejahatan pemalsuan arak nan memabukkan itu.
“Asalkan bosnya masih ada, orang seperti Xinba ini tidak akan berhenti bermunculan,“ ujar Lin Tian yang yakin sekali. Makanya dia berusaha mendapatkan bos perut gendut itu supaya jera dan tak akan mengulangi perbuatan menampung uang bagi diri sendiri serta menipu orang lain dengan minuman palsu.
“Maksudmu adalah….“
“Benar sekali. Aku akan menghabiskan mereka semua,“ kata Lin Tian berusaha semaksimal mungkin hendak menyelesaikan persoalan yang tengah berkembang dengan tuntas tak bersisa.
#
“Ada apa ini sebenarnya? Apa yang terjadi? Bukankah sedang memasarkan, kenapa jadi seperti ini?“ Bos terbelalak keheranan dengan segala yang mengherankan itu. Dia sampai menggebrak meja. Pertanda kemarahan yang memuncak dan sudah tak terbendung lagi. Suatu tontonan yang sangat mengecewakan. Anak buahnya sampai panic di belakangnya. Dia hanya bisa menatap aneh sang bos yang pakaiannya rapi, dan kursi putar yang selalu dia gerak-gerakkan akibat rasa yang tidak nyaman itu. Serta ruangan nyaman yang penuh dengan hiasan itu seakan hanya lalu saja dan tidak sedap untuk menatap peristiwa yang tengah terjadi ini.
“Kakak, apa aku benar-benar sudah di jebak? Dia berkata, kalau kita akan bermain escape room. Siapa sangka kalau itu escape room virtual,“ ujar Xinba antara yakin dan tidak yakin untuk jebakan kali ini. Dan berharap apa yang terjadi hanya kisah biasa saja serta bukan jebak menjebak, akibat tidak kentara begitu.
“Menjebak? Sebodoh apa kamu. Coba pikir dengan baik, bagaimana kamu terjebak?“ ujar Bos sembari menjewer anak buah yang tak mau berpikir itu. Sebab rasa-rasanya hal itu bukan masalah jebak menjebak, namun hanya kisah biasa yang tak perlu dihadapi dengan tangisan atau keluhan yang tidak perlu. Sebab segalanya bakalan jadi hal biasa saja.
“Haha, senang bekerja sama denganmu,“ ujar Xinba sembari tos botol minuman asli dengan Lin Tian yang tengah merencanakan jebakan, supaya biang kakap nya tertangkap. “Aku ingat, waktu itu, aku pergi menemani Lin Tian minum arak dan membicarakan detail proyek. Kemudian….“
Kembali botol berbenturan tanda saling suka dan menyetujui suatu hal yang tengah mereka perbincangkan.
“Hei sudah jelas, Lin Tian ini ingin menegakkan keadilan,“ ujar Bos. “Karena dia juga menjual produk, maka kita buat saja sebuah drama. Cari beberapa orang untuk ke perusahaan mereka, bilang saja produk mereka membunuh orang,“ ujar sang bos dengan terang dan sambal menendang si anak buah yang tak berguna itu.
Langsung saja Xinba lari keluar. Tak ingin sepatu itu membentur tubuhnya lagi. Namun sesampainya di pintu, dia masih ingat sebuah pertanyaan yang mesti diutarakannya. “Bagaimana kalau mereka mau bukti?“
“Bukti? Hehe, sebarkan rumor. Bantah rumor dan patahkan semuanya. Saat membantah rumor, akui saja kesalahanmu. Toh tidak akan mati,“ ujar Bos penuh dengan rancangan yang detail bagaimana cara melawan sebuah ide. Sehingga nanti tinggal melenyapkan musuh. Maka segalanya berjalan dengan baik.
“Bukti, hehe… nanti aku akan ke luar negeri dulu untuk menghindar,“ ujar Bos sembari memegang pigura lukisan abstrak yang penuh dengan imajinasi yang sanggup menimbulkan ide cemerlang. Tentu saja di luar negeri dia akan bebas. Bisa saja dia akan mencari suaka. Atau cukup dengan tinggal dan makan enak sembari mencari hiburan yang tak ada di dalam negeri apalagi sekolah negeri. Segalanya benar-benar bisa di lalui dengan cerdik.
“Aku pindahkan beberapa dana dulu.” Bos kemudian mengotak atik brangkas besi yang sangat kuat dan hanya bisa di buka dengan suatu kode khusus dengan angka password yang tak bisa dihafal siapapun selain dirinya. Dan tak akan bisa di buka walau dengan meledakkannya sekalipun. “Aset luar negeri ini tidak ada orang yang mengetahuinya.“
#
Namun ternyata segalanya berbeda. Dengan adanya banyak CCTV yang terpasang. Membuat gerak-gerik sang bos perut gendut itu di ketahui, tak hanya oleh operator dalam ruangan, namun siarannya di lakukan secara live, jadi semua penonton dan khalayak luas langsung juga mengetahuinya.
Hal ini membuat orang-orang itu penuh tanda tanya. Lalu saling geleng-geleng kepala dan sangat marah dibuatnya.
“Semuanya sudah lihat kan, ini adalah aset luar negeri yang tidak diketahui orang lain. Nomor akun dan password nya sudah aku serahkan ada kalian. Cepat pergilah!“ ujar Lin Tian. Sembari menunjukkan si bos yang dengan kacamata khusus yang tengah memandang nomor password agar tak tersebar ke luar. Namun nyatanya itu adalah kode untuk di salurkan ke seluruh masyarakat.
“Oh oh.“
“Dia sama sekali tidak menyangka, kalau tidak hanya Xinba yang terkena reaksi arak palsu tersebut. Dia sendiri juga terkena ah ah ah.“ Lin Tian tergelak.
“Ternyata sejak awal kamu sudah mempersiapkannya. Seharusnya ini adalah pekerjaan kita berdua,“ ujar Zhou.
“Hehe kerjasama percobaan game kedua selesai,“ ujar Lin Tian sembari melepaskan virtual 3D Reality Glasses.
Bos langsung kebingungan mendapat perlakuan demikian.
“Semua yang ada di internet adalah virtual, aku takut kamu tidak bisa mengendalikannya. Karena air di sini sudah terlalu dalam,“ ujar kakek Lin Tian dengan muka tuanya memberi petuah.
“Ini sebenarnya apa yang terjadi?“ tanya Bos dengan ngerinya. “Aku juga terkena jebakan?“
“Karena sudah melihat, aku harus mengurusnya. Tadi kamu sudah mengakui beberapa pelanggaranmu. Mohon bekerjasama dalam pemeriksaan.“ Polisi Zhou Weiwei menunjukkan HP segala bukti pelanggaran yang sudah berhasil di rekam. Dan membuat Bos menganga tak berdaya.
Pelapor: Lin Tian.
Sementara Lin Tian tertawa lebar mengetahui hal itu. Usahanya benar-benar berhasil. Dan jebakan itu terasa sangat maut buat mereka yang terkena.